
Alexa tertunduk diam sejenak, kemudian berdiri penuh keangkuhan."Aku akan membalasmu. Merebut kembali semua yang kamu miliki..."
"Merebut semuanya memerlukan modal. Rion tidak akan tertarik pada wanita yang memiliki bekas luka di wajahnya," gumam Sazi tersenyum, menatap ke arah Alexa. Bekas luka yang tertutup makeup tebalnya.
"Ayahku masih menjadi pemilik..." kata-kata Alexa disela.
"Pemilik? Tim pengacaraku mungkin sudah sampai ke pengadilan. Memiliki suami anak sultan memang harus dimanfaatkan dengan baik, semuanya terdiri dari pengacara ternama. Salinan surat wasiat sudah ditemukan, ada dalam lukisan almarhum ayahku. Apa kamu masih mempunyai uang untuk operasi plastik..." Sazi menghentikan kata-katanya sejenak. Perlahan membelai pipi Alexa,"Make up? Apa kamu akan memiliki uang untuk membeli makeup? Mungkin kamu dapat menggunakan bedak bayi..."
Dengan cepat Alexa menepis tangan Sazi menatap tajam kearahnya. Kesal? Tentu saja, mengapa segalanya harus dimiliki wanita ini? Dirinya perlu berusaha keras untuk memiliki segalanya, sedangkan wanita ini sudah kaya sejak dilahirkan.
"Aku...aku membencimu!!" teriaknya.
Namun, yang terjadi berbeda. Setetes air mata Sazi mengalir."Aku tidak memiliki saudara, dulu aku menganggapmu seperti saudaraku. Tapi sekarang tidak lagi. Mengapa? Karena kamu hanya menganggapku seperti musuh. Kita tidak memiliki hubungan darah. Ayahmu adalah anak angkat dari kakekku. Adik tanpa ikatan darah yang disayangi oleh ayahku,"
"Untuk itu, aku akan belajar dari kesalahan ayahku. Agar tidak mencintai orang yang tidak mencintaiku. Semua fasilitas milikmu akan dicabut, mungkin sidang singkat yang memakan waktu seminggu akan menyelesaikan segalanya..." lanjut Sazi, melangkah meninggalkan Alexa diikuti Andres.
Mata Alexa menelisik, menatap ke arah Leony yang menuruni panggung mendapatkan bidikan kamera dari wartawan. Benar, mungkin Leony dapat membantunya. Walau bagaimanapun dia adik kandung Rion. Wanita yang memiliki akses untuk selalu dekat dengan kakaknya.
Dengan cepat Alexa mengikuti Leony, hingga berakhir menuju parkiran, melalui area belakang yang lebih sepi.
"Nona Leony..." panggilnya.
Wanita itu menoleh menghentikan langkahnya, membiarkan Alexa mendekat."Kenapa mengikutiku?"
"Aku, aku ingin kita bekerjasama. Aku dapat mengembalikan statusmu, dengan menikah dengan kakakmu. Jadi..." kata-kata Alexa disela.
"Kamu ingin menjadi penghangat ranjang si gemuk jelek? Kemudian mengemis padanya untuk membuatku kembali memiliki segalanya!?" geramnya tersenyum dengan wajah angkuh.
Gemuk jelek? Matanya tidak salah kan... batin Alexa, menghela napas berkali-kali. Memang perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi makhluk hidup penindas satu ini. Tapi dirinya memang hanya dapat tersenyum mengepalkan tangannya. Menunggu saat yang tepat setelah menjadi istri Rion untuk mendepak wanita kurang ajar ini.
"Kamu ingin menyingkirkanku setelah merebut status nyonya rumah kan?" kata-kata dari Leony menghela napas kasar.
Dan dengan polosnya Alexa bertanya,"Kamu bisa membaca fikiran?" ucapnya refleks menutup mulut menyadari dirinya salah bicara.
"Tidak, tapi kamu bisa mengkhianati saudaramu. Kenapa aku tidak, setelah menempati status nyonya rumah, aku tidak berguna lagi. Dan kamu akan membuangku. Sebaiknya sadar dirilah! Statusmu lebih rendah dari keluargaku..." sindir Leony.
__ADS_1
Alexa mengenyitkan keningnya. Ini tidak seperti sinetron stripping yang selalu ditontonnya. Dimana setiap tokoh protagonis akan menang, antagonis akan mengumpulkan kekuatan untuk bekerjasama menyiksa tokoh antagonis. Melawan protagonis sekuat tenaga seperti persatuan orang jahat yang membuat Advanger-nya sendiri.
Mungkin bagaikan sinetron striping yang lebih dari 1000 episode dimana ujung dan pangkalnya? Entahlah...
Yang jelas kesombongan Leony tidak dapat diajak bekerjasama. Andai saja wanita ini, mengemis meminta maaf pada Rion, kemudian membawa dirinya masuk ke dalam rumah. Alexa akan dapat menjebak Rion dengan mudah. Membalikkan situasi dimana dirinya dapat mengalahkan Sazi kembali. Memiliki Rion dengan status istri kedua.
Tapi begitulah, kerjasama mereka tidak sesolid tim tarik tambang 17 Agustus.
Namun, Leony yang hendak membuka pintu mobilnya, menghentikan gerakannya."Kamu punya uang? Aku perlu sekitar seratus juta. Aku pinjam..." ucapnya menadahkan tangan.
"Aku tidak..." kata-kata darinya gugup. Alexa juga tidak yakin rekeningnya sudah dibekukan atau belum.
"Jika punya, aku akan memasukkanmu ke rumah utama dengan status pelayan," tawaran dari Leony, menatap wanita tidak tau malu, yang tidak masuk akal baginya.
"A... akan aku coba..." jawaban dari Alexa gugup.
***
Leony masih terdiam di mobilnya menunggu Alexa yang tengah berada di bank. Hingga akhirnya Alexa masuk kembali ke mobil."Rekening bankku dibekukan..." ucapnya.
Dirinya saat ini membutuhkan uang cash untuk menjamin hidupnya hari ini sebelum acara pernikahannya dengan Mark. Gerald? Ayahnya entah kemana, tidak dapat dihubungi. Menemui ayahnya? Mungkin itulah selanjutnya yang akan dilakukannya.
"Tapi kesepakatan..." kata-kata Alexa disela.
"Tidak ada kesepakatan, jika ingin memanfaatkan wanita untuk menjerat kakakku, lebih baik aku menyewa wanita penghibur," kata-kata menusuk dari Leony membuat Alexa segera turun dari mobil.
Dengan cepat pedal gas diinjaknya meninggalkan Alexa yang mengumpat kesal.
***
Di tempat lainnya...
Pakaian masih berceceran di lantai, tempat tidur yang benar-benar kacau. Seorang wanita perlahan membuka matanya, dari jendela kamar hotel terlihat hari sudah gelap.
Kamar luas itu diperhatikannya baik-baik. Bagaikan pesugihan dengan siluman rubah keji yang memiliki 9 ekor, uang berceceran di tempat tidurnya. Hany mengenyitkan keningnya, membaca catatan di atas meja.
__ADS_1
'Kamu selalu meributkan tentang uang. Jadi aku memberikan banyak uang cash. Jangan gunakan untuk melarikan diri. Karena kemanapun kamu pergi tetap akan tertangkap.' itulah isi catatan yang terletak di atas meja.
"Dia pikir aku wanita bayaran!? Lain kali aku tidak akan mau lagi tidur dengannya!!" teriakan Hany penuh umpatan. Memegangi pinggangnya yang sakit. Perlahan meraih jubah mandi berjalan menuju kamar mandi.
Hikaru benar-benar menepati kata-katanya. Set make up berikut peralatan kulit berada di atas meja. Bahkan pakaian dalam dan minidress, tidak lupa dengan sepatu tidak berhak. Mengingat betapa cerobohnya Hany, yang mudah terjatuh. Suatu kesenangan bagi Hikaru menatap tingkat bodohnya yang aneh. Tidak takut, tidak memandang status, rela mengorbankan hidup untuknya. Satu-satunya wanita yang dapat dipercayai oleh seorang Hikaru.
Perlahan Hany menggunakannya, hanya riasan tipis dengan minidress biru dongker yang kontras dengan kulit putihnya. Membawa tas berisikan semua hal yang dibelikan kekasihnya. Bahkan dalam tas terdapat sebungkus pembalut, mengingat besok siklus bulanan Hany akan datang.
Pria yang benar-benar detail. Bersikap manis hanya padanya. Kisah cinta yang indah bagi Hany. Jika saja Hikaru hanya tukang antar makanan. Namun, pada kenyataannya, itulah pria yang dicintainya. Pemuda pintar dan tangguh yang mengerikan.
Bagaikan dua bilah koin, Hikaru sang tukang antar makanan yang tersenyum cerah dan sang ketua pembunuh bayaran.
Yang jelas Hany mengetahui saat ini, dirinya diam-diam diawasi orang-orang Hikaru. Merasa diikuti, tapi tidak ada satu orangpun. Wanita cantik yang berubah dari pelayan menjadi si nona high quality.
Hingga dirinya berjalan cepat menelusuri jalan raya usai meninggalkan hotel, bertemu nasib sial lainnya.
Sebuah motor matic berhenti di dekatnya."Kamu Hany kan? Kenapa jalan malam-malam sendirian!? Mau aku antar?" tanya anak pak lurah, sang perjaka tua.
Hany mengamati keadaan sekitarnya. Beberapa orang bersembunyi mengintainya, dirinya benar-benar merasa kesal sekaligus tidak nyaman saat ini. Hingga satu jalan diambilnya."Aku di tinggalkan oleh pria br*ngesek. Bisa antar aku pulang?" tanya Hany.
Anak pak lurah menelan ludahnya. Sudah lama memang, dirinya ingin mendekati wanita tercantik di wilayah tempat tinggalnya tersebut. Wanita yang dapat membuat, ibu-ibu waspada agar suaminya tidak tergoda untuk menghangatkan ranjang janda bukan, gadis juga bukan. Namun, dirinya tidak memiliki keberanian, hingga pernah meminta bantuan ibunya untuk mendekati Hany.
Kini Hany ada di hadapannya, dengan wajah yang lebih rupawan dari biasanya."A...aku antar," jawabnya gugup, memberikan helm yang baru digunakannya beberapa jam lalu untuk mengantar sang ibu ke arisan keluarga.
Hany meraihnya, ingin segera menjemput Hiruma. Kemudian melarikan diri dari Hikaru menggunakan pesawat jet.
Pesawat jet? Berapa harga sewa pesawat jet? Apa dengan uang yang diberikan Hikaru akan cukup?
Tapi masa bodoh, dirinya mulai menaiki motor. Meminta sang anak pak lurah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Melewati gang gelap, kemudian beberapa jalan tikus. Hingga pengawal yang tidak begitu memiliki keahlian itu kehilangan jejak.
Tidak begitu memiliki keahlian? Tentu saja, orang-orang dengan kemampuan lebih tinggi kini tengah menjaga Rion.
Tangan sang pengawal yang baru turun dari mobil gemetaran, menghubungi Hikaru. Ketakutan akan kemarahan mantan ketuanya.
"Ke...ketua istri anda melarikan diri dengan pria lain..." ucapnya segera setelah panggilannya diangkat.
__ADS_1
Bersambung