
Rion menelan ludahnya berkali-kali. Cantik? Tentu saja, ditambah dengan pakaian tipis yang digunakannya. Entah karena suhu penghangat ruangan, atau karena apa, yang jelas udara dingin tidak terasa. Aliran darah yang cepat membuat tubuhnya menghangat.
Tegang? Bimbang? Begitulah perasaannya saat ini. Menyembuhkan disfungsi ereksi? Benar-benar kata-kata gila yang membuatnya ketakutan. Takut tidak dapat menahan diri, hingga melakukannya dengan wanita yang belum resmi dinikahinya.
Takut berbuat dosa? Tidak sepenuhnya, untuk Sazi, satu perbuatan dosa mungkin tidaklah mengapa baginya. Namun, bukan itu yang ditakutkannya. Takut wanita itu masih mencintai Dave kala ingatannya kembali. Takut Sazi mengalami depresi, karena dirinya yang mengambil mahkota berharganya sebagai seorang wanita.
Mencintai dirinya? Memang benar, namun wanita ini sejatinya lebih mencintai Dave. Jika saja Sazi mengetahui mereka bukanlah suami istri. Mungkin rasa sakit karena kebohongannya akan memperburuk kondisinya.
Tidak, dirinya tidak boleh melakukan ini...
Sazi menutupi belahan dadanya yang hanya tertutup pakaian tipis, menggunakan tangan. Malu? Dirinya benar-benar malu saat ini. Tapi Rion telah menjadi suami yang baik, mendukungnya dengan sepenuh hati, memberinya kasih sayang. Mungkin hanya dengan ini dirinya dapat berterimakasih, memberikan keturunan agar dapat mengikat hati suaminya.
Wanita yang putus asa? Itulah dirinya, mengingat selama 7 tahun tidak pernah ada yang mengasihinya. Ingatan selama 7 tahun masih terbersit jelas. Mungkin hanya ingatan, tentang pengkhianatan dan pernikahannya saja yang menghilang atau terasa samar.
Rion menyayanginya, kasih sayang yang bahkan melebihi Dini, ibu kandung yang masih diyakininya. Perlahan merayap di atas tubuh Rion, memberanikan diri bertindak bagaikan wanita bayaran profesional.
Tali pakaian tidur berbentuk kimono yang dikenakan Rion ditariknya. Tubuh dengan otot-otot yang proposional itu terlihat. Wanita yang bingung harus apa. Masih berada di atas tubuh Rion. Jemarinya, menyentuh otot-otot dadanya, berjalan menurun ke otot perutnya.
Pemuda yang mengeluarkan keringat dingin, memejamkan matanya sejenak. Darahnya berdesir hebat, jantungnya berdegup cepat, merasakan jemari itu semakin menurun.
Sazi menelan ludahnya, ketakutan? Tegang? Itulah perasaannya saat ini. Berusaha bertindak senormal mungkin sebagai wanita penggoda.
Hingga tangannya sampai pada pusar suaminya. Terus menurun menuju boxer...
"Hentikan..." Rion memegang tangannya."Jangan lakukan, maaf aku tidak bisa..."
Kata-kata suaminya membuatnya tertegun, mata itu ditatapnya. Apa Rion tidak mencintainya? Mengapa menolak dirinya? Apa tidak ingin seorang anak darinya?
"Kenapa?" tanyanya dengan air mata menggenang tertahan di pelupuk matanya.
Rion terdiam sejenak, menarik Sazi ke dalam pelukannya, air matanya mengalir, mendekap erat tubuh wanita yang dicintainya."Aku mencintaimu, kamu harus percaya..." pintanya putus asa, tidak dapat menjelaskan segalanya.
__ADS_1
"A...aku ingin anak darimu. Apa kamu tidak ingin memiliki anak dariku?" tanyanya mulai terisak. Takut pemuda ini tidak mencintainya, takut kehilangan rasa kasihnya.
"Aku ingin anak darimu, tapi tidak sekarang. Percayalah...aku memiliki alasan..." ucap Rion berusaha tersenyum dengan nada suara bergetar, membelai pelan rambutnya, masih memeluk tubuhnya.
Saat ingatanmu kembali, rasa cintamu padanya juga akan kembali sepenuhnya... batinnya, mengurai pelukannya sesaat, menghapus air mata Sazi.
"Aku mencintaimu..." kata-kata dari mulut Rion.
Sazi menggeleng."Kamu tidak mencintaiku, karena itu tidak ingin anak dariku. Kamu akan meninggalkanku..."
"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu," kata-kata darinya membuat Sazi terdiam sesaat.
"Buktikan..." pinta wanita itu.
"Perasaanku padamu, tidak harus ditujukan dengan hubungan badan. Akan tiba saatnya nanti, aku akan menjelaskan segalanya. Aku berjanji..." ucap Rion mengecup bibirnya singkat.
Sazi memegang erat sprei tempat tidur. Dirinya ditolak setelah kesekian kalinya, banyak hal yang ada di benaknya, meragukan perasaan Rion padanya. Kesungguhan pemuda ini untuk mencintainya.
"Boleh aku menciummu?" tanya Rion menatap matanya.
Sazi mengangguk, mulai memejamkan matanya. Dua pasang bola mata yang terpejam sempurna. Bukan lagi ciuman yang dipenuhi dengan napsu. Hanya perasaan kasih yang mengalir, mengalungkan tangannya ragu, di leher suaminya.
Hanya saling memangut penuh kasih. Hingga diakhiri dengan beberapa kecupan...
"Boleh kita melakukannya, agar aku yakin, kamu tidak akan meninggalkanku. Benar-benar menginginkan anak dariku..." pinta wanita itu kembali.
Rion menggeleng, kemudian tersenyum."Lulus lah kuliah dengan cepat, kembangkan galery-mu, jadilah pelukis terkenal. Aku akan mendukung dan tetap menyayangimu..." bisiknya kembali menarik Sazi ke dalam pelukannya.
Istri yang ragu akan perasaan suaminya? Begitulah dirinya saat ini. Namun, dirinya mencintai Rion, hanya Rion. Itulah yang diyakininya.
***
__ADS_1
2 tahun kemudian...
Hari ini tetap sama dirinya terbangun seorang diri di tempat tidur. Pelayan telah menyiapkan air hangat untuknya. Tidak memiliki keturunan? Entah apa yang terjadi, keluarganya sudah mendesaknya untuk memiliki anak dari Alexa.
Namun kenyataannya? Istrinya bahkan hampir tidak pernah pulang. Dave mulai menyesap kopi hangat yang terhidang di mejanya, menyalakan laptopnya. Lebih fokus dan menyibukkan diri pada pekerjaannya.
Tujuannya? Memiliki kekuasaan yang cukup, untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, berhenti menjadi boneka bagi kedua orang tuanya. Seorang suami yang tidak dapat bercerai dengan istrinya.
Kebohongan Alexa? Semua telah diketahui olehnya. Hingga dirinya terlalu enggan berhubungan badan dengan istrinya satu tahun ini. Memasukkan obat tidur dalam minuman Alexa menjadi pilihannya.
Dan bodohnya dirinya merindukan Sazi, wanita yang telah dicampakkannya. Apa uang warisannya sudah habis? Seharusnya sudah lama habis jika untuk biaya perawatannya di rumah sakit jiwa. Mungkin Sazi tengah berkeliaran di jalanan, tertunduk menangis seorang diri, tertidur di emperan toko atau taman. Dengan tubuh yang berbau pesing.
Ini kesalahannya, dirinya sudah berusaha memperbaikinya diam-diam mencari keberadaannya. Bahkan pergi ke rumah sakit, setiap kali mayat orang tidak dikenal ditemukan.
Tidak berharap itu Sazi. Namun, jikapun itu Sazi, dirinya ingin meminta maaf padanya. Menyakiti hati seseorang yang tulus padanya. Terjerat dalam permainan cinta yang dibuatnya sendiri. Benar-benar sebuah kebodohan baginya. Perhatian kecil yang baginya norak, kini dirindukannya. Bahkan orang tuanya pun tidak pernah memberikan perhatian serupa.
Perlahan Dave melangkah usai membersihkan diri, mempersiapkan dirinya pergi bekerja, membawa tasnya, melirik ke arah Fredric.
Mertua yang terlalu santai, tidak heran dulu bisnisnya hancur. Memang cukup beruntung, perusahaan milik almarhum Herry memiliki CEO yang kompeten. CEO yang tidak memiliki alasan untuk dipecat hingga saat ini, para pemegang saham yang lebih berpihak pada sang CEO, daripada Fredric selaku pemegang saham terbesar.
Perusahaan yang tidak mundur maupun berkembang. Banyak yang terjadi dua tahun ini, dari mulai pernikahan Dini dengan Fredric. Hingga, segala hal busuk di rumah ini mulai membuka matanya.
Pada akhirnya semua puzzle yang tersusun samar diketahuinya. Pernah mendengar pembicaraan Fredric dengan pengacara yang mengurus surat wasiat Herry.
Surat wasiat yang telah dirubah, pemilik warisan almarhum Herry hanya putri tunggalnya, Sazi. Kecemasan sang pengacara tentang surat wasiat rangkap dua yang entah ada dimana saat ini.
Dimana sebenarnya salinan surat wasiat asli tersebut? Entahlah...
Mungkin, tempat yang sejatinya selalu dekat dengan putrinya. Tempat yang menyatukan Valentina, Herry dan Sazi...
Bersambung
__ADS_1