Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Satu Spesies


__ADS_3

Hikaru mengenyitkan keningnya. Samar-samar Rion mendengar semuanya. Kekasihnya melarikan diri dengan pria lain? Pria mana yang mempunyai begitu banyak nyawa sehingga berani melarikan kekasih dari seorang Hikaru? Entahlah...


Mungkin pria itu titisan Rambo, ayam merah milik kakek-kakek berpeci putih tentangga sebelah.


"Pergilah..." ucap Rion membaca beberapa dokumen yang menumpuk.


Hikaru menghela napas, kemudian menggeleng."Nyawamu lebih berharga, tanpamu aku hanya akan berakhir mati karena memiliki kekuasaan finansial yang kecil. Wanita itu akan dapat tertangkap, nanti saja..."


"Ingat Andres?" tanya Rion membuka kacamata bacanya. Bibirnya tersenyum mulai memprovokasi.


"Aku tidak ingat dan tidak dengar!" jawaban dari Hikaru memberikan tumpukan besar dokumen lainnya.


"Benar?" Rion mengenyitkan keningnya. Dengan cepat Hikaru memasang wajah tanpa ekspresinya.


"Benar! Ini adalah waktu yang paling berbahaya. Jika aku tidak berada di sampingmu maka..." kata-kata Hikaru disela.


"Kulit mulusnya dikecup terutama di bagian leher, lalu turun ke bawah ..." kata-kata Rion terhenti menunggu reaksi Hikaru. Tapi seperti patung batu, pria itu masih berdiri tegak bagaikan terumbu karang."Pakaian mereka berceceran, kemudian melakukan..."


"Dia akan datang bulan pagi ini, tidak dapat berhubungan dengan pria lain," jawaban tanpa celah dari bibir Hikaru.


"Tapi, itu kan masih besok. Lagi pula..." kata-kata Rion kembali disela.


"Dia sudah kehabisan tenaga. Aku yang menghabiskan tenaganya. Mungkin pinggangnya sedang sakit saat ini," lagi-lagi Hikaru tidak goyah sama sekali.


Rion memijit pelipisnya sendiri memikirkan cara agar asisten tersayangnya menampakan wajah bucinnya. Sekali saja ...


"Tau apa yang terjadi pada Dave?" tanya Rion padanya.


"Maksudnya?" Hikaru mengenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Aku dulu miskin, gemuk, bodoh dan jelek seperti bundalan lemak yang menggelinding. Tapi saat SMU Sazi sudah mulai jatuh cinta padaku. Kamu tau alasannya?" tanya Rion memicingkan matanya.


Hikaru hanya diam, meraih dokumen satu persatu dari mesin printer.


"Karena aku gigih, mendekati Sazi setiap memiliki kesempatan. Sedikit saja Dave terlalu sibuk, atau memalingkan wajah, maka aku akan ada diantara mereka. Menghiburnya, menggenggam tangannya..." ucap Rion melirik lagi ke arah Hikaru. Tangan pemuda itu terlihat meremas kertas di tangannya. Menahan rasa takutnya dengan wajah tanpa ekspresi.


Ini berhasil, takut akan perasaan Hany yang berubah, lebih mengerikan daripada takut akan sentuhan kulit. Tidak dicintai lagi? Hikaru tidak menginginkannya, Hany hanya boleh mencintainya, Hany adalah miliknya. Egonya benar-benar terasa saat ini.


"Dave tidak pernah membuat Sazi nyaman. Tidak pernah berada di samping Sazi, membuatku dengan leluasa berada diantara mereka. Berciuman dengan Sazi? Aku yang mengambil ciuman pertamanya. Yang agresif dan rela berkorban adalah pemenang. Bukan yang pintar, tampan, dan kaya..." kata-kata dari deburan ombak, berusaha menggerakkan terumbu karang.


Namun sang terumbu karang tak bergeming, terdiam membantu dengan keyakinan Hany hanya dapat mencintainya. Rion kini hanya ingin menggoyahkan keyakinannya saja. Dirinya hanya perlu mengcopy beberapa dokumen. Sembari melindungi majikannya beberapa hari ini.


"Ini hanya peringatan, perempuan murahan menggoda pria dengan tubuhnya, bahkan rela menanggalkan semua pakaiannya. Tapi perebut istri orang menggoda wanita dengan perhatiannya, membuatnya luluh perlahan, merebut hatinya hingga tidak mencintai pasangannya lagi. Itulah yang aku lakukan untuk merebut Sazi, pengalaman sebagai perebut tunangan orang..." mantra komat-kamit diucapkan bisu Tong guna membuat kepala Sun Gokong sakit, membuatnya takluk untuk menyerah.


Hikaru terlihat gemetar kali ini, berusaha meraih dokumen berjalan ke meja kerja di rumah besar milik Margaretha.


Masih bisa bertahan!? Akan aku tunjukkan kamu yang berpura-pura menjadi monster raksasa, sebenarnya hanya katak, sama sepertiku... komat-kamit kata-kata dalam hati Rion bagaikan mantra. Dirinya benar-benar ingin melihat Hikaru salah tingkah, ketakutan akan kehilangan kekasihnya, bertindak normal seperti katak dewasa pada umumnya. Maaf, salah maksudnya pria pada umumnya.


Hikaru terdiam membayangkan segalanya. Seorang guru honorer? Tukang bakso? Atau mungkin tukang siomay disambut oleh Hany. Dipeluknya sama seperti Hany yang memeluk Hikaru yang dulu kala menjadi tukang antar makanan. Memakan makanan kemasan satu berdua dengan Hany yang menyuapi, tapi bedanya bukan dirinya yang ada di samping Hany. Namun guru honorer, mungkin tukang parkir yang ada di samping kekasihnya saat ini.


Hiruma yang perlahan luluh dengan suapan sekotak makanan enak mulai memanggil papa pada pria asing.


Tidak dapat menerima segalanya dengan dalil lain, akhirnya Hikaru bangkit."Kamu benar!!Mungkin Hany diculik oleh pimpinan kelompok pembunuh bayaran lain!!"


Rion menipiskan bibir menahan tawanya. Menatap ke arah Hikaru yang segera mengambil kunci mobil. Pemuda yang berjalan meninggalkan perpustakaan.


"Jangan melakukannya sekali!!" teriak Rion membuat langkah Hikaru terhenti.


"Melakukan apa!? Aku hanya ingin menyelamatkannya saja!!" tegas Hikaru, terlihat gelagapan.

__ADS_1


"Maksudku jangan hanya sekali menembak mereka, jika mereka memang benar menculik pacarmu!!" kata-kata ambigu dari Rion. Yang ada di otaknya, sesungguhnya memberi wejangan, jangan melakukan adegan dewasa hanya sekali. Namun, berkali-kali.


"Aku pergi, penjagaan akan aku perketat. Untuk sementara jangan keluar rumah..." perintah sang asisten, memicingkan matanya menatap Rion yang menipiskan bibir bagaikan benar-benar kesulitan menahan tawanya."Aku melakukan ini benar-benar karena khawatir Hany diculik oleh musuhku!" dustanya.


Rion mengangguk,"Pergilah..."


Masa bodoh, entah apa yang difikiran Rion tentangnya. Hikaru segera pergi meninggalkan rumah besar kediaman milik Margaretha.


Sejenak Rion terdiam, sedetik, dua detik, tiga detik."Ha....ha...ha....dia ternyata satu spesies denganku..." gumamnya tertawa jatuh berguling-guling di sofa memegangi perutnya.


Tidak pernah menyangka Hikaru dapat menjadi seperti ini. Melanggar prinsip untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya hanya karena seorang wanita. Sejenak tawanya terhenti, mengingat pria itu sempat hampir bunuh diri di pertemuan pertama mereka, hanya karena kekasih yang ingin dilindunginya melarikan diri dalam keadaan hamil entah kemana.


Dua orang yang sempat berbincang tentang segala hal yang terjadi di hidup mereka. Apa arti kekasihnya bagi Hikaru? Tempat ternyaman baginya untuk bersembunyi dari dunia yang begitu mengerikan baginya. Tidak dapat mempercayai hati manusia. Kecuali kekasihnya yang lugu, kekasih yang selalu dibohongi olehnya. Namun selalu menganggukkan kepala mempercayai kata-katanya. Bahkan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai untuk melindungi Hikaru yang dibidik sniper.


Bahkan orang tuanya sendiri menjualnya. Tapi kekasihnya merelakan nyawanya hanya untuknya. Hikaru yang putus asa menyadari dirinya menyakiti Hany dengan mengurungnya di villa. Namun, ini harus dilakukannya, membawa wanita lain secara acak. Agar informasi tentang Hany tidak diketahui musuhnya.


Mengetahui Hany hamil? Dirinya bahagia, ingin menikahinya. Namun, itu hanya akan berakhir dengan kematian Hany pada akhirnya. Karena itu dirinya juga terluka menatap Hany tertunduk duduk di atas kursi roda sesekali menghapus air matanya. Air mata yang mengalir karena dirinya yang merangkul wanita lain ke villa. Membawanya ke kamar, seakan mereka semua gundiknya.


Hal yang terjadi setelahnya? Sang wanita tidur di sofa. Sedangkan dirinya hanya terpaku menatap langit-langit kamar, merindukan senyuman kekasihnya yang selalu menangis setiap berpapasan dengan dirinya di villa.


Ini kesalahannya, karena itulah menjadi rasa sakit yang bertahun-tahun menghantui dirinya. Membuatnya keluar dari organisasi, walaupun nyawanya terancam oleh musuh dan petinggi kelompoknya.


Hidup menggelandang tanpa kekuatan finansial, hanya membawa beberapa pucuk senjata api. Mempertahankan hidupnya, sembari mencari keberadaan Hany dan anaknya yang mungkin sudah lahir.


Ada kalanya dirinya putus asa, menodongkan senjatanya ke kepalanya. Bosan akan hidup ini ingin mengakhiri segalanya. Saat itulah Rion muncul.


***


Rion mengambil beberapa dokumen kembali mengerjakan pekerjaannya. Beberapa pengawal masih berjaga di balkon. Pria yang hanya tersenyum, menghela napas kasar mengingat tentang asisten anehnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2