
Pukul 03.15 Andres masih duduk, terdiam dan menunggu. Semua masih terasa sulit untuknya melupakan Belinda. Mungkin sekitar 3 atau 4 jam lagi matahari akan terbit. Jemari tangannya mulai bergerak, hendak menghubungi organisasi yang dulunya dipimpin oleh Hikaru.
Menyebrang ke sisi gelap yang sulit...
"Apa ini T41? Aku Andres, apa tawaran untuk kembali masih berlaku? Aku..." kata-katanya melalui sambungan telefon tiba-tiba terhenti, menonggakkan kepalanya menatap pada seorang wanita yang terlihat terengah-engah.
Prang...
Handphone direbut sang wanita, dilempar, hancur berantakan."Kamu idiot!? Susah payah kita keluar dari organisasi dengan mengikuti Hikaru! Kamu ingin membangun rumah, dan memiliki anak. Hidup tenang dengan..."
Andres bangkit dari tempat duduknya, memeluk tubuh wanita itu erat."Aku mencintaimu!! Aku sudah gila! Karena melanggar janji pada ibu!!" teriaknya.
"Kamu juga berjanji menikahiku saat ibumu kembali dari Inggris. Apa kamu lupa? Kamu juga berhutang janji padaku," jawaban dari Belinda membalas pelukannya.
"Ibu...aku jahat... maaf..." gumam Andres, mendekap erat tubuh Belinda lebih erat.
Maaf... tidak dapat mencintainya selayaknya seorang kakak... batinnya.
Pasangan itu melonggarkan pelukannya, saling menatap beberapa saat."Aku adalah kakak yang mencintai adiknya," kata-kata dari bibir Andres menatap ke arah bibir Belinda.
"Aku adalah wanita yang mencintai Andres..." Belinda tersenyum, menarik tengkuk Andres. Dua pasang mata yang terpejam perlahan, menyatukan bibir mereka. Menyerah untuk belajar mencintai orang lain.
Bibir yang bertaut cukup dalam, lidah yang bermain dalam kerinduan mereka. Hingga akhirnya terlepas berakhir dengan beberapa kecupan."Menikahlah denganku, aku akan mencintaimu. Bukan mencintai seperti seorang kakak. Mencintaimu seperti Andres yang dulu. Bukan play boy tanggung penggoda setiap wanita. Tapi Andres yang hanya mengingikanmu,"
Ibu terimakasih sudah menghadirkan Andres ke dunia ini. Maaf, aku tidak dapat menjadikannya seperti kakakku. Aku harap ibu mengerti, tolong maafkan kami... batin Belinda, mengingat sosok ibu sambung yang selalu mencemaskannya.
Belinda mengangguk, kemudian tersenyum."Kita akan menikah,"
***
Tapi tunggu dulu, apa yang sebenarnya terjadi? Apa setelah melakukannya dengan Jameson, Belinda segera menemui Andres?
__ADS_1
Rambut pendek sebahu? Wanita itu terus berusaha memuaskan Jameson. Menggunakan seluruh tubuhnya, bukan hanya sekali tapi beberapa kali membuat pemuda itu, meracau menemukan titik kepuasannya.
Bukankah Belinda masih perawan? Walaupun ketika masa remajanya sering melakukan adegan panas dengan Andres. Tapi, pemuda yang berjanji menikahinya itu, tidak pernah benar-benar merenggut keperawanannya.
Belinda yang dalam pengaruh obat seharusnya tidak seliar ini, seharusnya merasa kesakitan, saat berhubungan untuk pertama kalinya dengan Jameson. Bukan langsung meracau memimpin permainan.
Ada alasan mengapa wanita berdarah Spanyol itu pergi ke toilet setelah meminum cocktail. Dirinya yang sudah terbiasa meminum minuman keras, mengendus aroma aneh. Sudah mendapatkan peringatan dari kaisar yang memprediksi segalanya. Rion tidak akan mengorbankan poinnya begitu saja.
Semua telah diatur Hikaru dan Rion dari awal. Hingga dirinya menahan minuman dalam mulutnya. Berjalan ke toilet bahkan memasukkan jari telunjuknya ke dalam kerongkongannya. Agar dapat memuntahkan semua minuman.
Menghubungi wanita bayaran pinggir jalan yang sudah disewa Hikaru. Dirinya kemudian membasuh wajahnya berkali-kali memastikan tidak akan terkena pengaruh obat bercampur alkohol sama sekali.
Sesuai rencana, hanya perlu berpura-pura terjerat. Dirinya kembali bertemu dengan Jameson setelah berdebat dengan Andres.
Tapi benar-benar naas, nasib wanita berambut panjang bergelombang itu. Jameson menciumnya di lift, mencium dengan liar penuh napsu.
Satu nasib baik didapatkannya, wanita bayaran berambut lurus pendek, berusia paruh baya, yang disewa Hikaru, memasuki lift yang sama dengannya. Wanita tersebut, membuat ciuman liar yang dilakukan Jameson pada Belinda di lift terhenti.
Aku ingin muntah... batin Belinda, entah kenapa cukup sulit untuk berciuman dengan orang yang tidak dicintainya.
Bentuk tubuh? Sedikit lebih berisi, mungkin hanya bagian dada yang memiliki ukuran sama. Tapi percayalah, beberapa orang yang mabuk berat, tidak akan menyadari perbedaannya.
Sementara Belinda masih terdiam di ruangan tersebut. Menatap sepasang insan tengah menghangatkan malam. Meracau mencengkram sprei yang berantakan. Bayangkan samar terlihat dari cahaya lampu gedung lain dari jendela. Bayangan dua orang yang tengah berganti posisi beberapa kali.
Belinda mengenyitkan keningnya, dalam kegelapan duduk di sofa. Menghela napas kasar.
Service yang memuaskan, berapa sebenarnya wanita ini di bayar... batin Belinda menatap sang wanita yang menggunakan seluruh tubuhnya, bahkan mulut hanya untuk menyenangkan Jameson.
Tidak melihat secara jelas, namun dari bayangan hitam akibat cahaya redup dari jendela, itulah yang terjadi.
Jemari tangannya meraih phonecell, berjalan ke belakang sofa, menghindari terlihatnya cahaya phoncell androidnya dalam kegelapan, penuh rasa penasaran. Mulai duduk di lantai mengirim pesan pada Hikaru.
__ADS_1
'Berapa harga wanita full service?' itulah isi pesan yang dikirimnya.
Tidak lama kemudian pesan balasan dari Hikaru masuk ke handphonenya.
'250.000 rupiah per malam. Tapi aku memberinya 1.000.000. Kenapa? Apa servicenya tidak memuaskan? Aku hanya sembarang menyewanya di daerah prostitusi,'
Belinda menghela napas kasar, inilah adegan ranjang sesungguhnya. Dirinya masih dapat mendengar suara racauan Jameson. Apa Jameson tau ubur-ubur seperti apa yang ada di atas tubuhnya? Menggerayanginya? Entahlah...
Wanita dengan makeup murah, berwarna putih pucat, merah pipi yang juga merah menyala, serta lipstik tebal murah. Ditambah dengan alis yang dicukur habis kemudian dilukis sendiri. Itulah tante cantik, paruh baya, yang tengah memuaskan sang anak muda.
Belinda lagi-lagi menghela napasnya. Entah kapan Andres akan melakukan padanya. Seharusnya tadi dirinya tidak menolak. Tapi misi adalah misi, Jameson lebih penting. Walaupun ingin rasanya Belinda tertawa, berjingkrak kegirangan mendengar kata-kata menyerah dari bibir Andres.
Satu pesan lagi masuk. Belinda membacanya dengan seksama. Pesan yang bertuliskan Andres menunggunya di gereja.
"Arrgh...Belinda...ya benar begitu... kamu pintar sayang...argh..." suara-suara yang terdengar jelas dari bibir Jameson yang dalam keadaan setengah mabuk. Tidak menyadari Belinda kembali mengintip dari belakang sofa.
Gadis yang pergi mengendap-endap, meninggalkan ruangan. Dirinya hanya harus menjemput sang wanita bayaran tepat waktu nanti. Mungkin sekitar pukul 5 atau 6 pagi.
***
Pagi yang begitu dingin, kini gaun telah dikenakannya. Hanya beberapa orang yang tinggal di gereja yang hadir. Janji untuk menjadi sepasang suami-istri diucapkannya.
Matanya sedikit melirik ke arah Andres, usai melempar buket bunga. Buket yang ditangkap beberapa pekerja yang bertugas membersihkan gereja.
Wajah pria yang tertunduk penuh rasa bersalah. Bersalah di hari pernikahannya.
"Kamu menepati janji padaku. Sekaligus menaati separuh janjimu pada ibumu," gumam Belinda, membuat Andres menatap ke arahnya.
"Apa menurutmu ibu tidak akan marah? Aku sudah berbuat banyak kesalahan padanya," ucap Andres.
Belinda berjinjit sedikit berbisik pada pria yang telah resmi menjadi suaminya."Ibu tidak akan marah. Karena ini lebih baik, daripada kita memilih tidak menikah seumur hidup. Berikan hadiah cucu padanya, maka dia akan tersenyum..."
__ADS_1
"Dasar!" Andres tersenyum, mengacak-acak rambut Belinda gemas.
Bersambung