Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Ikan Emas


__ADS_3

Ginjal dan jantung? tangan Alexa gemetar, melepaskan jambakannya dari rambut Hany. Tentu dirinya masih ingat, ketika hampir dilempar dari balkon kamar hotel yang ditempati Grim.


Wanita yang mundur satu langkah, naluri bertahan hidup yang kuat dimilikinya. Tapi tidak dengan Leony, kesombongan tingkat tinggi hanya itulah yang dimilikinya.


"Jantung dan ginjal? Aku akan mengampunimu jika kamu mengelap sepatuku yang basah karena red wine menggunakan lidahmu," kata-kata yang keluar dari mulut Leony. Tidak memandang tinggi rendah.


Beberapa bodyguard yang menjaganya sudah bersiap-siap menyerang atau mengusir Hikaru dan Hany.


"Aku punya sebuah cerita, seekor anak singa sombong menganggap dirinya paling hebat di padang rumput, memangsa berbagai hewan. Hingga dirinya bosan, menemukan anak sungai yang dangkal. Sang anak singa yang sombong melukai seekor ikan mas kecil. Kemudian berteriak dirinya lah yang paling berkuasa di lautan dan daratan," ucap Hikaru tersenyum.


"Kamu tau akhirnya?" lanjut pria itu masih menampakkan senyuman ganjilnya.


"Aku tidak tau, dan tidak peduli. Yang jelas jilat sepatuku, jika ingin dia keluar dari pesta ini tanpa terluka..." kata-kata acuh dari mulut Leony.


"Akhirnya predator yang bersembunyi di dalam laut keluar. Naik ke daratan karena ikan mas kecilnya dilukai..." senyuman memuakkan itu keluar, melirik ke arah Hany bagaikan memberikan instruksi untuk bersembunyi.


Wanita yang telah mengenal Hikaru dalam waktu lama segera merangkak, bersembunyi di belakang sound sistem. Mengambil beberapa jenis makanan sebelumnya, untuk mengganjal perutnya.


"Dari bentuk tubuhmu, kamu hamil di luar nikah kan? IQ yang tinggi, sayang sekali SQ dan EQ yang rendah. Singa kecil yang malang ..." gumamnya, membuat Leony mengepalkan tangannya.


"Usir dan pukuli dia...." perintah Leony pada para bodyguard.


Hanya sekitar 10 orang, pria yang bahkan tidak memasang kuda-kuda nya. Sekitar tiga orang mendekat, dirinya tidak menggunakan senjata sama sekali. Menghindari pukulan, menendang perut orang pertama, kemudian memukul bagian tengkuknya.


Benar-benar pengamalan bertarung yang berada. Mungkin bagaikan monster laut dengan pasukan singa? Bukan, mungkin lebih tepatnya monster laut dengan ulat pucuk daun teh pilihan. Yang merangkak tidak kenal lelah menuju pucuk. Tapi sayangnya mereka tertelan bayangan sang monster yang entah ada angin apa naik ke perkebunan teh yang damai.


Monster besar yang memporak-porandakan perkebunan teh. Membuat sang ulat tidak sadarkan diri tanpa perlawanan.


Pria yang efisien? Itulah Hikaru benar-benar menyimpan tenaganya. Tangan salah seorang dari mereka di yang hendak menyerangnya, diraih kemudian dibanting. Ini bukan perkelahian, yang berujung pada pengeroyokan. Namun merekalah yang dihabisi oleh seekor monster kali ini.


Mendekat dalam jarak satu meter? Maka cidera minimal yang akan dialami.


Beberapa orang hendak menyerang lagi. Kali ini menggunakan senjata api. Orang-orang berteriak mulai ketakutan. Baru dua orang bukan? Tinggal 8 lagi.


Dor...


Suara tembakan terdengar, tembakan yang dihindarinya. Bergerak lebih cepat meraih senjata. Menggunakan gagangnya, memukul tengkuk salah satu dari bodyguard.


Benar-benar jumlah tenaga yang tepat, tidak ada yang mati hanya cindera dan tidak sadarkan diri. Satu orang lagi menodong kepala Hikaru dengan senjata apinya, entah kenapa aura membunuh yang kuat, tangannya gemetar kala pemuda itu melihatnya penuh senyuman. Menendang tangan sang bodyguard hingga senjata terjatuh. Dengan sekali gerakan mematahkan lehernya. Namun, benar-benar tidak sampai mati.


Lima orang, tinggal lima orang lagi. Pemuda itu mulai bosan meraih kursi besi, dengan senjata api yang dipungutnya. Situasi yang tidak kondusif, tapi satu lawan lima?


Ulat daun teh itu masih antusias akan menang walaupun tangan mereka gemetaran saat ini.


Dor...dor...dor...dor...dor...


Lima kali tembakan dan semua hampir menggores wajah mereka. Nyaris saja, dua orang melarikan diri ketakutan. Sedangkan tiga lainnya duduk di lantai dengan kaki lemas, meletakkan senjata mereka ke lantai. Sambil mengangkat tangan tanda menyerah.


Hikaru melangkah, menendang tiga senjata api menjauh dari pemiliknya. Mendekat ke arah Leony.


"Mau apa kamu? A....aku akan melaporkan ini pada polisi..." ucapnya mundur menatap ke arah Hikaru.


"Itulah intinya kenapa ke 10 orang ini masih bernapas. Ini tempat umum..." bisiknya mendekat. Memojokkan Leony ke dinding.


Tangannya merogoh sakunya, mengeluarkan benda kecil bulat berwarna putih. Mencekoki Leony dengan cepat kemudian memasukkan minuman ke bibirnya.

__ADS_1


"Uhupkk...huk..." wanita hamil itu terbatuk-batuk."Apa yang kamu masukan ke mulutku?"


"Hanya untuk memastikan anakmu terlahir cacat..." senyuman menyungging di bibirnya. Meraih pisau steak. Tidak ada satupun tamu undangan yang berani mendekatinya.


Leony menitikkan air matanya, memasukan jarinya berusaha mengeluarkan benda bulat berwarna putih yang masuk ke mulutnya. Membuat dirinya muntah adalah tujuannya. Namun, percuma mungkin benda putih bulat itu sudah tertelan jauh ke lambungnya.


Cacat? Mark tidak akan dapat menerima jika anaknya terlahir cacat. Dirinya masih berusaha keras untuk muntah. Seakan rasa malunya di hadapan umum menghilang.


Sedangkan Hikaru berjalan mendekat, meraih pisau steak mendekati Alexa.


"Ja... jangan..." ucap Alexa ketakutan.


Namun...


Srash....


Helaian rambutnya dipotong pendek. Pria rupawan mengerikan yang berjalan mendekati kekasihnya.


Sementara Sazi berdiri di belakang tamu undangan menyaksikan segalanya."Aku tidak pernah melihat Hikaru berkelahi. Apa ini benar-benar berkelahi? Dia bahkan belum terlihat lelah. Bagaimana pacarnya menghadapinya di ranjang?" gumamnya, bersembunyi. Tidak ingin ketahuan, ini adalah rencananya dari awal.


Pria berwajah rupawan itu, meraih jari seorang wanita yang bersembunyi di balik sound sistem. Benar-benar adegan romantis bukan? Pria yang menyelamatkan wanitanya dari pembullyan.


Namun, microphone yang hidup membuat segalanya hancur berantakan.


"Egghhkk...." suara sendawa Hany membuat semua orang menipiskan bibir menahan tawanya.


Hikaru hanya menarik tangan kekasihnya. Tertunduk, bukan malu. Namun, menyembunyikan senyumannya, ingin rasanya tertawa berguling-guling di tempat tidur. Menertawakan Hany.


Pasangan yang meninggalkan ballroom, menelusuri lorong yang sepi.


Bukan pengantar makanan sederhana, tersenyum hangat yang mencintainya."Kenapa kamu tidak pernah mempercayai atau iba pada orang lain?"


Hikaru terdiam sejenak, menghela napas kasar. Kemudian tersenyum cerah seperti biasanya."Ayahku tidak jelas siapa, ibuku wanita malam yang kecanduan narkotika. Menjualku untuk menjadi budak dari usia tiga tahun,"


"Tapi ada dua orang yang aku percayai, orang yang terlalu bodoh (Hany) dan orang yang terlalu pintar (Rion)," lanjutnya.


"Aku orang yang pintar? Aku memang terlahir pintar. Makanya dapat menghasilkan 5 ratus dolar semalam..." ucap Hany tersenyum, menunjukkan lima lembar uang yang diberikan Sazi.


Hikaru memijit pelipisnya sendiri, merebut uang di tangan Hany kemudian meletakkan di sakunya sendiri.


"Itu uangku!!" bentak Hany, hendak merebut.


"Aku akan membelikanmu semua keperluan. Makanan, pakaian, makeup, rumah, mobil, supir pribadi, bahkan pakaian dalam, dan pembalutmu. Aku akan memilihkannya sendiri..." ucap Hikaru memicingkan matanya.


"Aku ingin menjadi wanita mandiri, punya uang sendiri. Tidak ingin bergantung darimu..." Hany masih tidak dapat terima.


"Kamu tidak ingat 6 tahun lalu? Aku memberikan kartu debit padamu. Tapi kamu gunakan untuk menyuap petugas rumah sakit, melarikan diri dari penjagaan..." kesalnya berusaha tersenyum.


"Kamu mengurungku seperti burung dalam sangkar emas. Tidak akan ada wanita yang tahan terkurung dalam villa dengan pria yang berselingkuh! Gundikmu sangat banyak! Mintalah anak dari mereka!" komat-kamit Hany bersungut-sungut.


Namun tengkuknya tiba-tiba ditarik, pemuda itu membungkam bibirnya. Menjelajahi setiap isi di dalamnya. Wanita yang ketika marah begitu menggemaskan di matanya. Mengapa mencintai Hany? Entahlah, tidak dapat memikirkan alasan untuk mencintainya, kejujuran yang indah dari wanita bodoh membuatnya dapat selalu tersenyum.


Lidah saling membelit bermain-main. Jujur saja, Hany benar-benar merasa aneh. Hikaru tidak pernah menyentuhnya saat dirinya pertama kali dikurung dalam villa.


Setiap hari berganti wanita yang dibawanya ke kamar utama. Dirinya hanya terdiam menangis menatap segalanya dari kursi roda, mengingat dirinya usai menjalani operasi pengangkatan proyektil. Serta janin kecil yang berkembang di perutnya.

__ADS_1


Para wanita yang membencinya entah kenapa. Mereka yang setiap malam menemani Hikaru, bahkan bawahan Hikaru membelikan pakaian mahal untuk mereka sekedar menemani Hikaru ke pesta. Tapi dirinya yang dikurung tanpa alasan, malah bagaikan saingan terberat mereka.


Hingga hari itu tiba, Hany melihat dengan mata kepalanya sendiri Hikaru berciuman dengan salah satu wanita penghuni villa. Namun, penghuni villa berupa gundik, bukan penghuni villa kramat bagaikan nyai siluman atau nyai Kunti.


Mereka berciuman di tengah pesta yang diadakan kelompok pembunuh bayaran. Bahkan Hikaru menyatakan dengan lantang wanita itulah yang dicintainya.


Saat itulah Hany menyerah untuk menunggu cinta dari sang tukang antar makanan. Berpura-pura mengalami perdarahan, hingga penjaga membawanya ke rumah sakit. Melarikan diri ketika menemukan kesempatan.


Dirinya benar-benar sudah cukup terluka...


Namun, setelah sekian tahun orang ini kembali lagi. Dirinya tidak ingin bersamanya lagi, tidak mencintai Hikaru lagi. Tapi apa benar?


"Aku ingin..." bisik Hikaru di telinganya.


"A...aku tidak..." kata-katanya terhenti kala Hikaru mengecup lehernya."Disini...ra...ramai," gumamnya.


Tring...


Suara kunci terdengar, Hikaru menunjukkannya penuh senyuman. Benar-benar picik, keluar dari toilet wanita, pemuda itu malah memesan kamar.


"Kamu memesan kamar?" tanya Hany dijawab dengan anggukan tidak bersalah oleh Hikaru.


"Kita masih punya waktu satu setengah jam, sebelum acara yang tertunda di mulai kembali. Melakukannya dengan cepat satu jam sudah cukup, 20 menit berikutnya membersihkan diri. Lalu aku harus kembali bekerja menjaga kaisar yang akan datang merebut tahtanya." jawaban darinya. Benar-benar perencanaan yang matang.


Menarik Hany menuju kamar yang disewanya. Dengan bodohnya Hany mengikutinya. Untung cinta... batinnya.


Hikaru mengenyitkan keningnya,"Kalau tidak cintapun aku akan tetap memaksamu untuk mencintaiku..."


"Kamu bisa membaca fikiran?" tanya Hany.


Hikaru menggeleng."Itu tertulis jelas di wajahmu..."


Hingga sampai di kamar mereka. Tidak membiarkan Hany bicara. Pintu di tutupnya, menyambar bibir Hany.


Helai demi helai pakaian mereka teronggok. Melakukannya, dengan Hany menyadar di pintu. Menonggakkan kepalanya, menerima semua perlakuan Hikaru. Bahkan melanjutkan segalanya hingga ke ranjang.


***


Benar-benar tepat waktu, 38 menit kemudian serangan bringas telah usai. Pasangan itu menatap langit-langit kamar.


"Kamu tidak memberikan obat penawar? Menjadikan janin yang belum lahir cacat hanya karena kesalahan ibunya itu tidak baik..." ucapnya, memeluk tubuh Hikaru di balik selimut. Pertanyaan yang tertuju pada perbuatannya pada Leony.


"Aku tidak mungkin kebetulan membawa racun. Ini bukan film, aku hanya memberinya permen milik Hiruma yang tertinggal di sakuku," Hikaru memiringkan tubuhnya, memeluk Hany lebih erat."Dengar, tidak pernah ada gundik. Aku tidak meniduri mereka. Aku hanya pernah menidurimu..."


"Apa maksudnya...Aghh..." kata-kata Hany terhenti. Tubuh mereka kembali menyatu, tubuhnya bergerak gelisah dikendalikan sang pemuda menguncangnya mencari kepuasan.


"Agghh....hah.... hah... Hany," panggil Hikaru meracau menonggakkan kepalanya. Sesekali menautkan bibirnya dalam penyatuan.


***


Di tempat lain...


Seorang pemuda, memakai setelan jasnya. Serta jam tangan bermerek di kenakannya. Bau parfum pria yang maskulin menyengat, dirinya mulai melangkah. Meraih earphone, menghubungi bawahannya mengatur kesiapan kedatangannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2