
ππππMaaf, kalau jarang balas komentar, aku panas dari kemarin. Happy Readingππππ
Air mata Andres mengalir, namun wajahnya tersenyum. Berjalan seorang diri menatap halaman hotel yang asri. Menonggakkan kepalanya, tepat di bawah sebuah pohon yang rindang. Sinar matahari yang menembus pepohonan membuatnya silau.
Janji itu masih dipegang olehnya. Janji terakhir pada ibu kandungnya. Sebuah perjanjian bodoh, yang membuat hatinya terasa sakit.
Mengapa demikian?
Ini dimulai ketika masa remajanya yang mendebarkan. Tinggal terpisah dengan ibunya yang lebih memilih tinggal di Inggris.
Seorang ibu yang tidak mengetahui profesi putranya. Dirinya yang masih remaja tergiur dengan lingkungan sekitarnya. Memiliki teman di senior high school (SMU), yang berasal dari keluarga pembunuh bayaran.
Teman yang melatihnya untuk belajar menembak, dan berkelahi. Memberikan bayaran yang sepadan, mengikuti kelompok yang diketuai oleh Hikaru.
Tapi ada kalanya dirinya salah mengambil strategi. Ada dalam bahaya, kala telah terkepung pihak kepolisian. Hanya dapat bersembunyi di dalam hutan, dengan luka tembakan di lengannya. Remaja berusia 17 tahun yang terluka parah.
Tangannya gemetar bersembunyi di bawah tanah cekung. Mendengar suara *njing pelacak.
Dor...dor ...dor...
Saat itulah dirinya bertemu dengan tipe idealnya. Seorang wanita yang dikirim Hikaru untuk menyelamatkannya.
Wanita yang menarik tangannya, berusaha membawanya melarikan diri. Cantik... batin Andres, berusaha mengimbangi langkah sang wanita. Yang sesekali menengok ke belakang saling beradu tembak dengan anggota kepolisian.
***
Mobil Jeep melaju melewati gelapnya malam, diatas sungai kecil. Menghilangkan jejak bebauan mereka. Melewati hutan yang cukup rindang."Namamu siapa?" tanya Belinda, masih fokus untuk menyetir di tempat yang cukup ekstrim.
"Andres..." ucap Andres tertegun dalam kegugupannya.
"Setelah keluar dari hutan aku akan mengobatimu. Ada gudang pondok kayu kecil di dekat sini..." Belinda tersenyum, menghela napas kasar. Hanya menjalankan perintah Hikaru untuk menyelamatkannya.
***
Tapi sepasang remaja berusia 17 tahun kini tengah duduk di hadapan perapian. Menghangatkan diri, dalam pondok kayu. Luka di tangan Andres diobati Belinda perlahan.
"Aku..."
"Aku..."
Satu kata yang terucap bersamaan, dari dua orang yang terlihat gugup. Mengapa seperti ini? Entahlah...
"Aku hanya menjalankan tugas untuk menyelamatkanmu. Lain kali jangan ceroboh..." tegur Belinda penuh senyuman pada remaja di hadapannya.
Andres mengangguk, matanya menatap Belinda sejenak. Jantungnya berdegup cepat, kala wanita yang bagaikan sudah terlatih itu mengobatinya. Wanita yang dengan piawai menyuntikkan obat bius lokal, mencongkel proyektil peluru, kemudian menjahitnya kembali, menggunakan peralatan yang telah steril.
"Kamu bersekolah dimana?" tanya Andres tertarik dengannya.
"Aku putus sekolah, ayahku melarikan diri ke Inggris. Meninggalkan hutang yang cukup besar, jadi jika tidak menjadi pembunuh bayaran, hanya sebagai wanita panggilan jalan yang bisa diambil untuk hidup. Aku memilih menjadi pembunuh bayaran..." jawabannya tersenyum, setelah balutan luka usai dibenahinya.
__ADS_1
Dua orang remaja yang berbakat yang diam, tertunduk kemudian tersenyum. Memendam rasa sukanya pada sosok rupawan di hadapannya.
Waktu demi waktu berlalu, mungkin telah setahun mereka menjalankan tugasnya sebagai kelompok kecil dua orang. Belinda yang memang telah mengikuti Hikaru dari usia 15 tahun mengajari Andres yang seumuran dengannya banyak hal.
Hanya mereka berdua...
Dor...
Suara baku tembak terdengar, kali ini mereka berhadapan langsung dengan kelompok mafia. Usai membunuh salah satu petinggi kelompok mereka.
Melarikan diri bersembunyi, setelah mengirim sinyal pertolongan pada Hikaru. Andres diam tertegun sejenak, apa ini akhir hidupnya? Jika ini akhir hidupnya, dirinya ingin melewatinya bersama orang yang dicintainya."Aku menyukaimu..." ucapnya pada Belinda yang tengah mengamati situasi. Membuat wanita itu tertegun sejenak.
"Menyukaiku?" tanyanya menyakinkan pendengarannya.
"Andres mengangguk, aku mencintaimu..." kata-kata dari Andres penuh kesungguhan.
Belinda tersenyum, kemudian memeluknya menemukan hal yang dapat dikatakan sebagai keluarga. Pasangan yang tersenyum, saling mengecup sekilas dengan senjata api masih berada di tangan mereka.
"Kita akan hidup..." bisik Belinda tersenyum. Dua orang yang saling memunggungi, mulai menembakan senjata api mereka di balik tumpukan kotak kayu gudang Cargo.
Sepasang kekasih, yang tersenyum, dengan darah yang mengotori pakaian mereka. Ingin hidup bersama, itu sudah cukup untuk mereka.
***
Berhubungan di luar nikah? Mungkin itu sudah biasa di luar negeri. Dua orang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka, saling mencumbu. Namun, lebih memilih tidak melakukan permainan inti.
Mengapa? Mungkin akan terasa spesial jika dilakukan setelah pernikahan. Saling menikmati tubuh, menonggakan kepalanya merasakan kepuasan dalam setiap sentuhan.
Setelah sang ibu menikah, dirinya juga akan melamar Belinda secara resmi, menikahinya, barulah memulai permainan utama yang selalu tertahan, memberi benihnya pada rahim wanita yang dicintainya.
Sepasang kekasih masih saling memeluk dalam selimut putih tebal tanpa busana. Saling memeluk, apa ini salah? Entahlah, hanya bermain untuk menuntaskan h*srat mereka. Tanpa menyemai benih, menjaga sesuatu yang spesial di malam pertama mereka.
"Setelah pernikahan ibuku, kita akan menikah..." ucapnya membelai rambut Belinda.
Belinda hanya mengangguk kemudian tersenyum.
Andres meraih kotak cincin di atas meja, cincin aneh yang dipesannya secara khusus. Hanya untuk jari kelingking mereka."Ini janjiku, aku akan menikahimu..." ucapnya menyematkan di jari Belinda. Cincin yang juga di sematkan Belinda di jari kelingking Andres.
Sepasang jari kelingking yang saling membelit. Dengan dua orang yang tersenyum.
Perlahan mata mereka tertutup, dengan bibir yang mendekat. Mulai menyatu dalam sebuah ciuman panas. Mungkin beberapa hari lagi, dirinya dapat bersama Belinda secara resmi. Memilikinya seutuhnya...
***
Tapi apa benar? Sepasang duda dan janda tertawa memperkenalkan anak-anak mereka yang kelak akan menjadi saudara. Andres hanya tertunduk, menatap ibunya yang tersenyum bahagia.
Mengapa bisa seperti ini? Andres mengepalkan tangannya.
"Aku bukan putrimu!" tegas Belinda meninggalkan ayahnya, dengan air mata yang mengalir. Hutang yang menumpuk, ditinggalkan seorang diri di Spanyol, dan kini hanya karena cinta ayahnya dirinya harus melepaskan Andres.
__ADS_1
Mereka akan menjadi kakak beradik tidak sedarah? Ini tidak dapat diterima olehnya. Air matanya mengalir meninggalkan acara pertemuan keluarga. Menatap Andres yang hanya diam, tidak berniat mempertahankan hubungan mereka. Atau menjelaskan semua pada ibunya.
***
Dari sanalah semuanya dimulai, usai pernikahan ayah Belinda dan ibu Andres."Kalian kakak beradik, harus akur..." kata-kata dari ibunya dengan senyuman ramah.
Tidak pernah rasanya Andres menatap ibunya sebahagia ini. Bibirnya selalu tercekat kala ingin mengungkapkan hubungan dan perasaannya dengan Belinda.
Hingga hari tragis itu tiba, ayah Belinda yang telah resmi menikah dengan ibu Andres, bunuh diri akibat terlibat hutang judi yang cukup besar.
Belinda tidak menangis sama sekali menatap pemakaman ayahnya. Yang ada di fikirannya, hanya hubungannya dengan Andres dan hutang baru yang lebih besar yang harus dilunasinya.
Kejam bukan? Seorang anak durhaka? Sejatinya tidak, dirinya sudah cukup bersabar menghadapi ayahnya yang pemabuk dan kerap bermain judi, serta kasar padanya.
Belinda hanya heran dan terdiam, menatap ibu Andres yang menangis di depan peti. Menangisi sang pria br*ngsek, dirinya tetap harus melunasi hutang seorang diri.
Beberapa hari berlalu, Belinda tidak pernah pulang. Menjalankan semua misi dari Hikaru, sedangkan Andres merawat ibunya dengan kondisi kesehatan yang memburuk.
Tangan yang membesarkannya itu nampak tidak bertenaga setelah kematian ayah Belinda yang kini telah menjadi ayah sambungnya.
Belum juga mengatakan tentang hubungannya dengan Belinda. Masih menjalani cinta diam-diam, tidak ingin sang ibu merasa dilukai.
Hingga napas ibunya mulai sesak, memanggil Andres. Pesan terakhirnya? Menjaga Belinda yang menjalani kehidupan yang sulit, layaknya adik kandung sedarahnya.
Pesan terakhir yang benar-benar menyakitkan. Adik kandung sedarah? Dirinya dan Belinda tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Mengapa ibunya sekejam ini?
Namun, hanya itu pesan terakhir dari wanita yang bertaruh nyawa membesarkannya. Menyayangi Belinda layaknya saudara sedarah.
Pesan yang mungkin hanya bermaksud agar ada yang menjaga putri sambungnya. Namun pesan terakhir yang juga membuat Andres mengakhiri hubungan kasih yang berjalan diam-diam.
Menjaga hati, untuk menikahi wanita lain, selain Belinda ...
Namun, rasa sakit itu masih ada hingga kini. Belinda yang mengejarnya dengan sabar, walaupun entah berapa kali ditolak dan dikecewakan. Bahkan ada kalanya menatapnya berciuman dengan wanita lain. Hal yang dilakukannya hanya untuk menyadarkan Belinda. Hanya hubungan kakak beradik yang tersisa diantara mereka...
Tapi rasa sakit yang kembali menyerang kala Belinda mengatakan menyerah untuk mencintainya. Akan mencari pria lain yang dapat membahagiakannya.
"Ibu..." gumam Andres masih dalam lamunannya, mengingat hal yang terjadi. Air matanya mengalir."Ibu sakit..." lirihnya sebagai seorang pria yang terpaksa harus menjadikan wanita yang dicintainya layaknya adik kandung sedarah.
Cincin di jari kelingkingnya masih terpasang. Mungkin sebagai pertanda, dirinya masih mencintai Belinda. Ingin menikahinya seperti janji mereka dulu. Tapi yang tersisa hanya rasa sakit kala mengenang pesan terakhir almarhum ibunya.
Bersambung
...Sesuatu yang dapat terkikis? Itu bukan perasaanku......
...Namun, ketika air laut menghapus perasaanmu. Menggerus tanda hati di pasir yang kamu buat......
...Saat itulah rasa sakit akan menghujam di dada ini. Karena, hati ini masih tetap sama......
...Ada untuk mencintaimu......
__ADS_1
Andres...