
Berjalan dengan cepat usai mendapatkan kunci dari resepsionis hotel. Menaiki lift menunju lantai tiga.
"Kenapa kamu ikut?" tanya Frederic pada Dave.
"Biarkan saja, agar dia yakin untuk tidak memikirkan wanita lain, selain Alexa," sindir Dini.
Dave mengepalkan tangannya, walau bagaimanapun Sazi hanya mencintainya. Dari dulu hingga saat ini, wanita itu hanya belum memaafkannya. Perhatian yang didapatkannya melebihi kedua orang tuanya, perhatian yang dulu dianggapnya norak, sekarang ingin dirasakannya kembali.
Grimm? Orang yang tidak dapat ditangani olehnya. Namun, jika Sazi dapat terlepas maka...
Aku akan membawamu melarikan diri ke tempat yang tenang... batinnya.
Pada akhirnya pintu kamar 307 terlihat juga. Dave mengepalkan tangannya, sudah mengetahui situasi yang mungkin akan terjadi. Sakit? Tentu saja, apa begitu perasaan Sazi saat dirinya bersama Alexa di malam pernikahan mereka? Benar, mungkin begitulah perasaannya.
Pintu terbuka pada akhirnya. Menampakkan Grimm yang masih tertidur di balik selimut putih tebalnya. Sedangkan Sazi duduk meringkuk, dengan tubuh yang ditutupi sehelai selimut yang sama dengan Grimm. Wanita yang menangis terisak. Sekujur tubuh bagian atasnya dipenuhi tanda keunguan.
Air matanya mengalir terus-menerus."Ibu..." lirihnya menatap ke arah Dini.
"Sazi..." Dini berjalan, menghampiri putrinya yang rapuh, mendekapnya erat. Bagaikan turut merasakan perasaannya.
Sementara Grimm baru mulai membuka matanya, melihat semuanya hanya memegangi kepalanya yang bagaikan masih terasa sakit. Tidak terkejut, cemas, atau bisa dibilang tanpa ekspresi sama sekali.
"Apa yang kamu lakukan pada putriku!? Kamu harus bertanggung jawab!!" suara bentakan Frederic terdengar, menatap mesin ATM berjalan di hadapannya.
"Apa yang aku lakukan?" Grimm menatap sinis, tertawa kecil."Aku hanya menidurinya. Ini biasa dalam dunia bisnis, wanita menjadi bahan transaksi. Jadi apa yang kamu inginkan?" tanyanya pada Frederick, meraih segelas air putih di atas meja samping tempat tidur. Kemudian meminumnya.
"Br*ngsek!! Kamu berani-beraninya..." kata-kata umpatan Dave yang berjalan mendekat ke arah Grimm terhenti.
"Perusahaan milik keluargamu melakukan kerjasama denganku di Eropa. Ingin memukulku? Maka aku dapat membatalkan kontrak sepihak. Mencari perusahaan lain yang lebih kompeten," ancaman Grimm, tersenyum ke arahnya.
Tangan Dave lemas, dirinya tidak dapat membiarkan perusahaan yang dibangun ayahnya merugi begitu saja. Matanya menatap ke arah Sazi yang masih menangis dalam pelukan Dini. Maaf... batinnya.
Grimm menghela napas kasar, masih sama seperti dulu. Dave hanya pria egois yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri. Jika saja Sazi setuju untuk pergi dengannya ketika SMU semua tidak akan terjadi.
Sudah dikatakan oleh Rion, dirinya akan selalu mengintai mencari celah untuk merebut Sazi dari Dave. Mengapa? Apa tidak ada wanita lain yang lebih cantik?
Bukan itu alasannya, namun hanya Sazi yang membuatnya tertarik, hingga ke batasan berbuat bodoh. Menghisap racun ular yang bercampur darah di kakinya ketika kecil, bahkan kembali mengantarkan nyawanya sendiri hanya untuk menyusulnya saat ini.
__ADS_1
Masih teringat jelas di benaknya. Wanita yang berusaha melindunginya dari pembullyan. Wanita yang dapat membuatnya menggerakkan tubuhnya untuk menjadi perisai, menerima pukulan. Benar-benar perbuatan bodoh, menjadikan tubuhnya sebagai perisai untuk melindungi Sazi ketika SMU. Tapi itulah cinta bagi Rion sebuah pembodohan yang indah.
Punggung Sazi ditatapnya, dirinya masih ingin bermanja-manja. Bagaimana ini?
"Jadi proyek mana yang kamu inginkan?" tanya Grimm pada Frederic.
"Aku ingin kamu bertanggung jawab, menikahi putriku!!" bentak Dini padanya.
Grimm menggeleng, kemudian kembali tersenyum."Jika dia hamil aku setuju untuk menikahinya. Jika tidak, mungkin seratus juta sudah cukup, untuk menyewa semalaman, perawan berusia 30 tahun..." sinisnya.
Hanya 100 juta untuk membeli perawan berusia 30 tahun? Rion br*ngsek, mulutmu benar-benar pedas... batin Sazi menahan kekesalannya, masih berusaha menangis bagaikan trauma, setelah semalaman, berganti posisi, beberapa kali dengan dirinya yang diatas. Bahkan sempat-sempatnya berinsiatif, melakukan dengan posisi Rion memangkunya.
Sungguh wanita yang mengalami trauma akibat dilecehkan. Wanita yang benar-benar agresif semalaman.
"Aku akan melaporkan ini pada kepolisian!!" bentak Dini.
Namun pria itu masih saja tetap tenang."Maka, pihak kepolisian akan memeriksa rekaman CCTV hotel dan tempat pesta. Kita lihat, siapa yang akan pertama diadili," ucap Grimm.
"Aku berbalik hati karena menyukai tubuhnya, walaupun salah satu dari kalian menjebakku. Tapi aku menikmatinya semalam. Bagaimana jika begini saja, jika dia hamil aku akan menikahinya dan menjadi menantu kalian. Tapi jika tidak, dia hanya akan menjadi bahan transaksi untuk kesepakatan bisnis. Uang kompensasi yang lebih besar dari 100 juta juga akan aku kirimkan," tawaran Grimm, tersenyum menatap bagian belakang tubuh Sazi yang tidak tertutup sempurna oleh selimut. Hanya tubuh bagian depannya yang tertutup sempurna.
"Tidak bisa seperti itu!! Aku..." bentakan Dini tertahan.
Sedangkan Dave, mengepalkan tangannya tidak terima."Paman! Bibi! Kalian tidak iba pada Sazi!! Orang ini hanya ingin mempermainkan Sazi saja!! Jangan membuat kesepakatan dengan iblis sepertinya!" bentaknya.
Dini berfikir sejenak, jika melapor maka dirinya akan mendekam di penjara. Mungkin juga kerjasama bisnis yang sempat terjalin akan terputus. Pertimbangan yang sama dengan Fredric saat ini.
"Sazi...kamu baik-baik disini ya? Turuti semua keinginannya. Dia bukan orang jahat..." ucap Dini membelai rambut putrinya.
"Ibu aku takut!! Aku ingin pulang!!" Sazi mengetatkan pelukannya pada Dini.
Aku ingin pulang, Rion tidak akan melepaskanku seharian ini... batinnya tidak sadar diri, akan mulai agresif mengimbangi suaminya jika semua sudah dimulai.
"Bibi!" Dave kembali membentak, tidak dapat menahan amarahnya.
"Jangan mengurusi Sazi!! Dia putriku!! Urusi saja pernikahanmu dengan Alexa! Mungkin saja salah satu dari kalian mandul!" bentak Dini, menatap tajam pada Dave.
Dave menghela napas kasar, mengepalkan tangannya. Dirinya tidak dapat bergerak dengan leluasa, bagaimana pun, Grimm bukanlah orang yang mudah ditangani.
__ADS_1
Pemuda yang saat ini masih duduk di tempat tidur, dengan punggung yang menyandar pada sandaran ranjang. Meminum air putih dengan tenang, bagaikan ini bukanlah masalah besar untuknya. Benar-benar sulit ditebak dan mengerikan, seharusnya Grimm yang saat ini terperangkap. Namun, sejatinya merekalah yang bagaikan terperangkap.
Dave terdiam tidak tahan lagi melihat ketidak berdayaannya. Pria yang memilih melangkah pergi. "Sazi aku akan mencari cara menyelamatkanmu..." kata-kata darinya, pergi tanpa berbalik sama sekali.
Grimm mengenyitkan keningnya berusaha tersenyum...
Dia fikir dia keren dengan sok menjadi pahlawan... batin Rion menghela napas kasar, menahan rasa cemburunya. Takut istrinya akan tergoda, dengan kata-kata Dave.
"Tunggu apa lagi, kita sudah sepakat untuk menjual putrimu. Jadi pergi sekarang juga, uang dan kesepakatan bisnis bicarakan denganku nanti malam..." ucapnya menatap ke arah Fredric.
"Ibu..." panggil Sazi masih menangis, memegang pakaian Dini erat. Bagaikan ketakutan pada sosok Grimm.
"Sazi anak yang baik kan? Dia akan menikahimu jika kamu menuruti keinginannya, ini juga untuk masa depanmu dan perusahaan milik ayahmu..." kata-kata manis dari mulut Dini, menghapus air mata Sazi.
Sazi hendak meraih pakaiannya, yang berceceran di tempat tidur. Namun, Grimm memeluknya dari belakang, masih dengan posisi kedua orang itu berada duduk di atas tempat tidur, berselimutkan selimut yang sama."Kamu dengar sendiri kan? Kamu milikku, hanya mainan ranjangku. Kecuali kamu mengandung, dan berharaplah aku tidak akan berubah fikiran untuk bertanggung jawab..." bisiknya, tersenyum dengan tawa kecil, tapi dapat terdengar oleh Frederic dan Dini.
Frederic melangkah pergi, diikuti Dini yang terhenti sejenak. Mendengar tangisan Sazi yang bagaikan ketakutan...
Untuk pertama kalinya, Dini merasakan Sazi bagaikan putrinya. Merasa bersalah? Tentu saja, jemari tangannya mengepal. Dirinya tidak memiliki seorang anak, walaupun membenci Sazi, anak itu tumbuh bersamanya. Kasih sayang yang dulu ditepisnya...
"Sazi maaf..." ucap Dini keluar tanpa berbalik dengan setetes air mata yang mengalir, menutup pintu kamar hotel.
Sazi mengenyitkan keningnya, melepaskan pelukan Rion. Sambil menghapus air mata buayanya."Seratus juta? Keperawananku yang dulu kamu ambil hanya senilai seratus juta?"
"Jangan marah, aku hanya mencari di situs prostitusi online kemarin. Berapa harga untuk wanita bayaran yang masih perawan. Agar lebih mudah berbicara menghadapi mereka..." ucap Rion bermanja-manja, kembali memeluk Sazi.
"Tapi seratus juta..." gumam Sazi masih geram.
"Jangan membandingkan dirimu dengan wanita bayaran. Aku hanya asal bicara, nilai Sazi tidak pernah akan terhitung bagiku," lagi-lagi kata-kata dari mulut manis berlumuri gula itu melumpuhkannya.
Jantungnya berdegup cepat, hingga pasrah begitu saja. Kala Rion kembali memangut bibirnya, merasakan kembali sentuhan hangat di pagi yang dingin.
Bersambung
...Harga sebuah cinta? Cinta memiliki nilai tertentu untuk dapat menghilang......
...Seratus juta? Dua ratus juta? Bahkan dengan hitungan Euro......
__ADS_1
...Taukah nilai dirimu? Nilai dirimu adalah nyawaku......
Rion...