Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Bukan Tipe


__ADS_3

Angin menerpa rambutnya, motor Hurley Davidson melaju membelah jalanan. Pipi wanita itu menyandar di punggungnya, memeluknya erat dari belakang. Wajah Rion tersenyum, sudah dua tahun mereka tinggal di Spanyol.


Bukan untuk berlibur, namun untuk bekerja dan meraih cita-cita. Beberapa gedung besar berasitektur Eropa dilewati mereka.


"Aku mencintaimu..." suara teriakan dari Rion, kalimat yang tertuju pada kekasihnya yang telah berganti dari mengenakan gaun yang elegan menjadi celana jeans dan jaket kulit.


"Diam! Aku malu..." gumam Sazi tetap mendekap erat tubuh Rion, suaminya.


Sedangkan sebuah mobil kini melaju mengikuti mereka. Belinda dan Andres berada di dalamnya. Wanita itu sedikit melirik ke arah Andres."Kenapa kamu tidak pernah mengatakan mencintaiku?" tanyanya iri.


"Ka...ka...kamu bukan tipeku," ucap Andres gelagapan. Memang benar-benar sial baginya, mengapa partner kerjanya adalah Belinda? Kenapa tidak dengan wanita lainnya saja?


Selalu canggung saat bertemu dengan wanita cantik dengan tubuh menggoda itu, menelan ludahnya berkali-kali. Playboy? Itulah sifat Andres, tapi jika sudah berhadapan dengan Belinda...


Sulit bernapas, bagaikan sesak, entah perasaan apa yang mengekang dirinya hingga sering salah tingkah.


"Tetap fokus awasi mereka," komat-kamit mulut Belinda ingin mengomel, namun tertahan, berusaha fokus dan tetap tersenyum.


Tugas dari Hikaru? Tidak ada rincian sama sekali. Hanya saja menjaga dua orang di depan mobil mereka ini tetap hidup, maka gaji mereka setiap bulannya juga akan mengalir.


***


Hingga motor Hurley Davidson itu terhenti di depan rumah yang tidak begitu besar. Barulah tugas mereka hari ini usai.


Pasangan yang mulai masuk ke dalam rumah mereka, setelah turun dari motor. Rion menutup pintu rumah, bersamaan dengan Sazi yang menarik tangannya, memeluk tubuhnya erat. Wanita yang kini meraih tengkuk suaminya yang lebih tinggi darinya.


Menciumnya agresif, sepasang lidah yang bermain-main, dua bibir saling memangut. Seolah-olah menghilangkan rasa dingin di tubuh mereka.


Dirinya benar-benar terbuai, jas putih yang dikenan Rion kini jatuh tergeletak di lantai. Beriringan dengan dasi yang dikenakannya. Hingga suara ikat pinggang yang terjatuh di karpet terdengar.


Wanita yang juga sama hausnya akan kasih sayang, melepaskan jaket kulitnya. Belaian lidah yang semakin liar saja.


"Ssshhh..." suara dari mulut Sazi menonggakan kepalanya, memejamkan matanya sesaat, merasakan Rion yang membuat tanda keunguan di lehernya, gemas.


Napas pemuda itu sudah tidak teratur sedari tadi. Tangan nakalnya bergerak dengan ragu hendak menyentuh...


"Jangan ragu, aku ingin anak darimu," pinta Sazi, menarik tangan suaminya agar memegang dadanya.


Rion mengenyitkan keningnya, segera mundur sekitar tiga langkah. Kata-kata yang selalu membuatnya tersadar, syukurlah Sazi selalu mengatakan kata-kata itu setiap kali dirinya hampir khilaf.


Ini tidak boleh dilakukan olehnya jika dirinya memang mencintai Sazi. Menunggu ingatannya kembali adalah jalan satu-satunya.


"Kamu tidak menginginkanku? Apa kamu mencintai wanita lain?" tanya sang anak kucing pada serigala kelaparan.

__ADS_1


Dengan cepat Rion menggeleng."Aku sudah mengatakan aku mempunyai alasan, jadi..."


"Alasan!? Menungguku lulus kuliah!? Aku sudah lulus!! Menunggu karierku naik!? Aku merasa sudah cukup baik sekarang!! Katakan saja kalau kamu tidak mencintaiku dari awal..." bentak Sazi, dengan air mata tertahan.


"Aku mencintaimu...aku hanya..." kata-kata Rion disela.


"Tidurlah dengan wanita lain! Suruh dia mengandung anakmu! Aku hanya istri pajangan!" teriak Sazi, memasuki kamar mereka, membanting pintu dengan kencang.


Rion tertunduk diam, sudah di duga olehnya ini semua akan terjadi suatu hari nanti. Sazi akan membencinya. Apa dirinya harus bersedia berhubungan badan tanpa adanya ikatan?


Tidak, tidak boleh...air matanya mengalir, segera di seka olehnya. Kembali mengambil kunci motornya, serta syal dan jaket tebal yang tergantung, melajukan kendaraannya pergi entah kemana.


Sementara Sazi masih menangis di dalam kamar, bersembunyi di balik selimut. Meringkuk seorang diri, sudah dua tahun dirinya menikah, sebuah lelucon, sampai saat ini dirinya masih perawan.


Apa Rion tidak mencintainya, hingga tidak menginginkan anak darinya? Apa ada wanita lain diantara mereka. Entahlah, namun hari ini dirinya lelah. Suaminya lagi-lagi mengingkari janji. Menunggu lulus kuliah? Dirinya sudah lulus melalui percepatan dengan hasil memuaskan. Namun, bagaikan tidak ada gunanya.


"Apa aku hanya pajangan!?" gumamnya, tidak henti-hentinya menitikkan air matanya. Belum dapat menemukan alasan Rion tidak ingin menyentuhnya sama sekali."Apa dia tidak mencintaiku?"


Jemari tangannya mengepal, Rion baik padanya, tidak mungkin tidak mencintai dirinya. Jika dirinya terus seperti ini, mungkin kasih sayang Rion padanya akan berkurang atau menghilang. Tidak pernah ada yang mencintainya dan menghargainya seperti Rion, terkecuali almarhum Herry.


Hingga suara ketukan pintu terdengar, dengan cepat Sazi keluar dari selimut, membukanya. Tujuannya? Tentu saja untuk meminta maaf pada Rion. Berharap itu adalah Rion yang berusaha menghiburnya.


Namun bukan sosok Rion yang terlihat, Hikaru berdiri disana membawa kantung belanjaan, berisikan sebotol red wine.


"Dimana Rion?" tanyanya dengan mata menelisik, masih setia tersenyum lebar namun terasa ganjil.


"Kalian bertengkar!?" Hikaru kembali bertanya, sedangkan Sazi mengangguk membenarkan.


"Tolong cari dia... aku ingin meminta maaf padanya..." pinta Sazi lirih dengan air mata yang mulai mengalir.


"Dia pergi sendiri?" pemuda itu kembali bertanya, sedangkan Sazi kembali mengangguk.


"Tunggu di rumah! Jangan kemana-mana sampai Belinda tiba! Tidak... bersembunyi di sini saja..." gumam Hikaru menarik Sazi ke dalam gudang.


Gudang tua yang cukup berdebu. Apa sebenarnya yang terjadi? Hikaru yang membeli minuman untuk merayakan pelelangan pertama lukisan Sazi, bertemu dengan beberapa orang anggota kelompok penumbuh bayaran yang menyamar. Mereka berkeliaran di sekitar kota tersebut. Mungkin sedikit jejak keberadaan Rion sudah ditemukan.


"Tapi..." ucap Sazi ragu.


"Dengar, bersembunyilah! Apapun yang terjadi jangan keluar. Aku akan menghubungi Belinda dan Andres, jika ada yang mengetuk pintu atau menekan bel. Jangan bukakan! Nyawa Rion sekarang dalam bahaya! Tetap diam disini!" instruksi dari pria itu, pada Sazi, yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa Rion tidak akan apa-apa?" tanyanya gemetaran.


"Jika kamu bersembunyi dengan baik, aku akan dapat membawanya pulang. Bertemu denganmu..." Hikaru menghela, napasnya memberikan kunci gudang pada Sazi."Kunci dari dalam, buka pintunya, hanya jika ada suara Belinda dan Andres. Mengerti!?"

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, bersamaan dengan Hikaru yang keluar, Sazi segera mengunci pintu gudang. Ketakutan seorang diri, di ruangan dengan penerangan minim.


Apa yang sebenarnya terjadi pada Rion? Entahlah, namun Hikaru yang biasanya tenang terlihat cemas.


Nyawa Rion dalam bahaya? Apa dirinya akan kehilangan Rion seperti kehilangan Herry?


Sazi meringkuk seorang diri dengan air mata mengalir menyesali pertengkarannya. Hanya berhubungan badan, mengapa hal itu begitu penting? Yang terpenting Rion tetap berada di sisinya. Hanya itu, kini dirinya menyadari segalanya...


***


Toko hewan peliharaan...


"Apa ini jinak? Aku ingin yang berwarna putih," ucapnya memilih dua ekor anak kelinci.


Apa Sazi kesepian? Mungkin dengan hewan peliharaan, rasa kesepiannya akan sedikit terobati.


Memberikan keturunan? Dirinya juga menginginkan itu, anak manis yang memanggilnya papa. Sesuatu yang belum dapat dilakukannya.


Pemuda yang tersenyum, sembari memberi makan kelinci.


Bug...


Seorang pria menumpahkan minuman pada syalnya. Sesuatu yang tidak lazim, seharusnya mengotori jas yang digunakannya, mengapa syal yang seharusnya terlalu tinggi.


Kali ini Rion yang terlarut dalam fikirannya akan pertengkaran dengan Sazi tidak waspada.


"Maaf..." ucap sang pria.


Rion menghela napas kasar, melepaskan syalnya yang kotor. Tanda lahir kecil di belakang lehernya terlihat.


Pria itu tersenyum... Jackpot... batinnya menemukan target pembunuhan dengan imbalan tertinggi. Matanya menelisik, mencari cara dan tempat untuk melakukan eksekusi tanpa jejak.


Bersambung


...Hanya melakukan yang terbaik, itulah yang dapat dikerjakan tangan ini. Hanya berusaha tersenyum, itulah yang dapat dilakukan bibir ini......


...Menyakitkan? Tentu saja aku mengerti, aku ingin menyentuhmu. Ingin memiliki keturunan darimu, seperti pasangan lainnya......


...Tapi taukah kamu? Aku tidak ingin menyakitimu. Tidak ada yang tau akan usia......


...Karena itu, aku akan berusaha membahagiakanmu......


...Aku ingin mati lebih dulu dari pada dirimu, karena aku, tidak ingin merasakan sakit saat merindukanmu......

__ADS_1


...Walau hanya katak yang berpura-pura bagaikan pangeran. Tolong cintai aku, sebelum mata ini tertutup, di usia yang tidak aku ketahui ujungnya......


Rion...


__ADS_2