Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Pabrik


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, besok merupakan hari keberangkatan mereka ke Spanyol. Pada akhirnya pesanan baju laknat Sazi sampai juga. Takut? Pada awalnya, menerima paket dengan tangan gemetar, hingga dirinya mulai berjalan menuju kamarnya.


"Tunggu..." kata-kata dari Fino menghentikan langkahnya.


Sazi berbalik, masih membawa paket yang terbungkus rapi.


"Kamu sudah berhasil tidur dengan Rion?" tanya sang ayah mertua penasaran.


Dengan cepat Sazi menggeleng."Aku takut, Rion mengatakan malam pertama itu menyakitkan. Akan ada banyak luka memar di bagian leher, belum lagi darah yang..." Wanita itu menghentikan kata-katanya, berdidik ngeri, membayangkan pertumpahan darah yang terjadi dalam penyatuan, proses perkembangbiakan manusia.


Fino memijit pelipisnya sendiri, putranya terlalu mulia, wanita di hadapannya terlalu polos, dan Hikaru kurang keras mempengaruhi Rion berbuat dosa terindah, untuk menghadirkan lusinan cucu di masa tuanya yang sepi.


"Kamu pernah menonton video dewasa?" tanyanya pada Sazi, dan ajaibnya wanita itu menggeleng, mengingat pergaulannya yang memang teramat sangat bersih. Hanya mengenal Dave, Rion dan Alexa.


Fino menghela napas kasar."Mana phoncellmu?" tanyanya menadahkan tangan.


Dengan polosnya Sazi memberikan phoncellnya pada sang ayah mertua yang mulai duduk di sofa. Terlihat tengah mengirim beberapa video dewasa koleksinya.


Koleksinya? Walaupun tidak pernah menginginkan wanita lain selain Margaretha, mungkin sesuatu yang wajar jika Fino sedikit nakal. Membayangkan Margaretha dalam imajinasi liarnya saat di kamar mandi, saat ... sudahlah... memang mungkin sebuah garis keturunan ayah dan anak ini benar-benar budak cinta sejati.


"Tonton video ini satu persatu! Malam pertama pada awalnya akan menyakitkan, tapi hingga di bagian akhirnya tidak akan menyakitkan lagi. Bahkan dapat membuatmu menggodanya untuk melakukan lagi," kata-kata dari mulut Fino, yang bagaikan tidak peduli dengan dirinya yang menjerumuskan putranya saat ini.


Yang terpenting bagi seorang kakek adalah cucunya. Menunggu Sazi ingat kemudian pulih sepenuhnya? Butuh waktu berapa lama, satu tahun? Dua tahun? Mungkin dirinya sudah mati saat itu. Atau Sazi tidak akan sembuh sama sekali saat ingatannya kembali sepenuhnya. Jika tidak sembuh, maka harapannya untuk memiliki cucu akan kandas. Ingin rasanya si katak tua mengumpat pada putranya si anak katak yang tidak bisa mencintai wanita lain,'Dasar bucin!!'


"Tapi Rion..." kata-kata Sazi yang terlalu mempercayai suaminya disela.


"Dia berbohong padamu, jangan percaya sepenuhnya pada kata-katanya. Jika yang dikatakannya kebenaran, berhubungan badan tidak akan diberi julukan kenikmatan duniawi, tapi siksa dunia..." Kali ini Fino mengatakan kata-kata yang masuk akal pada Sazi.


Wanita yang hanya diam tertegun, menatap ke arah ayah mertuanya yang mengirimkan video dewasa pada sang anak kucing polos. Bagaikan memberikan video bagaimana menyenangkannya dimakan oleh serigala.


"Dengar! Ayah akan ikut pergi ke Spanyol dengan kalian, khusus untuk menyiapkan hidangan yang akan membuat suamimu tidak dapat menolakmu. Membuatnya betah, tahan lama tidak akan puas hingga pagi." Sungguh ayah laknat tidak memikirkan putranya, hanya memikirkan dan mencintai cucu manis yang membawa sekotak krayon dan buku gambar.


Jiwa seorang kakek yang ingin menyelamatkan cucunya. Bagaikan sang cucu kini telah didekap monster jahat, bernama Rion.

__ADS_1


Sazi hanya mengangguk, masih ragu, namun yang dikatakan ayah mertuanya mungkin lebih sesuai dengan logika. Ada beberapa wanita kalangan atas yang bahkan menyewa gigolo hanya untuk melakukan hubungan badan. Tidak mungkin terasa begitu menyakitkan, jika membuat ketagihan bukan?


***


Hingga malam sebelum keberangkatan, koper serta semuanya telah dikemas olehnya. Tidur dalam dekapan Rion di tempat tidurnya. Sazi perlahan membuka matanya. Menyingkirkan tangan suaminya yang mendekap tubuhnya. Mulai duduk di tepi tempat tidur.


Video yang diberikan Fino diputarnya, tanda di leher bukan karena pukulan seperti yang dibayangkannya, tapi karena sesapan. Dan menyusui? Sang wanita bahkan menjambak pelan rambut sang pria, itu berarti tidak menyakitkan bukan?


Wajahnya memerah, melirik ke arah Rion, tiba-tiba ingin mempraktekkan hal yang ada dalam video. Namun, dalam adegan video dewasa, sang pemeran wanita memang masih perawan, terlihat kesakitan."Tidak jadi..." gumamnya menjauhkan phoncellnya, tapi suara kesakitan itu berubah perlahan. Hingga Sazi kembali meraih handphonenya, menonton video dewasa dengan durasi cukup panjang itu.


Hingga, beberapa belas menit kemudian, suara bariton seorang pria terdengar."Sedang apa?" tanya Rion meraih handphone Sazi.


"Kembalikan!!" ucap Sazi benar-benar malu, ketahuan menonton video laknat.


Pemuda itu menatap layar phoncell, terlihat kesal, kemudian menghapus semua video dengan cepat."Jangan menonton video seperti ini lagi, jangan melihat tubuh pria lain..." ucapnya posesif.


"Kamu mengatakan malam pertama menyakitkan tapi dalam video tidak terlihat begitu menyakitkan. Apa kamu tidak mencintaiku?" tanya Sazi memelas, dengan mata berkaca-kaca.


Lagi-lagi seperti ini, anak kucing yang benar-benar manja. Meminta untuk diterkam olehnya, benar-benar memelas di hadapannya seakan berkata, kamu tidak lapar? Apa dagingku tidak enak? Aku juga lapar, boleh aku menggigitmu sedikit? Hanya gigitan pelan.


Atau posisinya terbalik, haruskah dirinya memuaskan napsunya, pada Sazi? Maka dirinya sama saja dengan penipu, penjahat keji yang memanfaatkan wanita yang dicintainya. Budak cinta yang pada dasarnya tetap saja budak cinta.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, karena itu kamu harus fokus memikirkan kuliahmu. Bagaimana jika kamu hamil? Maka kuliahmu akan terganggu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menanam benih anak kita di sini..." kata-kata semanis gula, bercampur dusta keluar dari mulut Rion, mengusap pelan perut Sazi yang rata.


"Tapi, orang yang saling mencintai biasanya..." kata-kata Sazi terpotong, Rion tiba-tiba mengecup bibirnya, membelai rambutnya.


"Aku mencintaimu, kita tidak sempat pacaran terlalu lama. Jadi bagaimana ini diawali sebagai kekasih yang tinggal bersama. Menikmati hari, hanya kita berdua. Hingga tiba saatnya nanti aku akan, menanam benihku disini?" tanyanya, menatap mata Sazi.


Tegang? Begitulah situasi Rion saat ini sebenarnya. Tangannya gemetar, tapi bibirnya berusaha tersenyum. Menolak sang anak kucing yang memelas.


"Tapi..." kata-kata Sazi disela kembali.


Rion menggeleng,"Tidak akan ada wanita lain diantara kita,"

__ADS_1


Pipi wanita itu ditangkupnya menghentikan pembicaraan dengan sebuah ciuman. Bergerak perlahan mencari celah memasuki bibirnya. Kekasih? Mungkin itulah status mereka saat ini dimata Rion. Namun berbeda dengan Sazi, suami-istri? Itulah status mereka saat ini.


"Aku mencintaimu," ucap Rion tersenyum, kembali melanjutkan ciumannya.


Tangan Sazi diam-diam mengepal, sudah menjadi tekad baginya untuk menyerahkan diri pada Rion. Spanyol? Mungkin tempat itu akan menjadi tempat dirinya menyerahkan diri pada suaminya.


***


Pagi ini mereka berangkat dari salah satu bandara di Malaysia. Menaiki pesawat penumpang, kelas ekonomi. Mengapa bukan kelas bisnis atau sekalian jet pribadi saja? Tentu saja karena sifat setiap orang berbeda.


Ada beberapa pengusaha yang berasal dari kalangan bawah yang lebih menghargai uang. Bukan karena pelit, tapi mereka mengetahui bagaimana sulitnya mengumpulkan recehan. Hingga ketika memasuki perekonomian kelas ataspun mereka akan lebih menghargai uang.


Mengetahui mana aset bergerak dan tidak. Aset bergerak? Ketika sebuah mobil dibeli dengan tujuan hanya dipergunakan secara pribadi tidak untuk menghasilkan uang maka akan termasuk aset tidak bergerak. Namun, jika disewakan atau dipergunakan untuk kepentingan bisnis, maka akan menjadi aset bergerak. Itulah pebisnis sejati, mencari setiap peluang untuk menjalankan usahanya.


Cuaca yang cukup dingin, hujan salju terjadi saat mereka baru akan keluar dari area bandara. Mobil besar pembersih salju melintas, tidak ada pohon yang memiliki daun, semua hanya tertutup salju.


Mata Sazi menelisik, terdiam menatap pemandangan yang dilaluinya. Banyak terdapat bangunan besar, dengan arsitektur ala Eropa. Hingga dua mobil taksi itu berhenti di depan sebuah rumah kecil pinggiran kota. Rumah yang memiliki perapian untuk menghangatkan diri.


Semua hidangan telah tertata rapi di lemari pendingin, termasuk red wine dengan angka tahun 1990. Berharap putranya akan mabuk, mencabik-cabik tubuh wanita yang dicintainya, membuat Sazi mengandung benihnya.


Setelah memasak berbagai hidangan laut, tepat saat tengah hari, Fino kembali menarik kopernya. Tanpa beristirahat sedikitpun, berjalan meninggalkan rumah kecil itu penuh senyuman, berharap akan mendapatkan kabar baik.


"Ayah kenapa langsung pulang? Bukannya baru sampai beberapa jam, beristirahat dulu, fisik ayah lemah dari dulu..." pinta Rion kala Fino telah berada di dalam taksi, hendak kembali.


Fino menggeleng, tersenyum padanya."Ayah akan tidur di perjalanan nanti, saat perjalanan kemari ayah juga tidur di pesawat. Selain itu cuaca di sini mencapai minus 5 derajat celsius. Ayah akan mati membeku jika tetap bertahan di sini. Karena itu, ayah akan kembali ke Malaysia..." jawaban dari Fino, yang sejatinya tidak ingin mengganggu proses pembuatan cucunya.


Sebuah pabrik yang tidak akan bekerja jika dirinya berada di sini...


Rion tersenyum pada ayahnya."Aku hanya disini selama dua tahun, mengembangkan bisnis. Dan menjaga Sazi yang akan mencari gelar master of art. Setelah ini kita akan bersama..." ucap sang anak katak.


Katak tua menggenggam jemari tangan putranya, kemudian tersenyum."Ayah merindukanmu ibumu. Apa kita bisa menghapus ingatan ibumu, agar aku dapat berbulan madu ke Belanda?"


Rion mengenyitkan keningnya, menatap jenuh."Dasar bucin! Cepat kembali sana!!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2