
Rion tersenyum, mendekati sang sekretaris, memainkan rambutnya ikalnya yang cukup panjang, menggunakan jemari tangannya."Cantik..." ucapnya.
Hikaru berusaha keras untuk tidak tertawa, entah kenapa di hadapan Rion dirinya lebih bebas menjadi diri sendiri. Bagaikan seorang kakak pada adiknya, menganiaya? Menyindir? Saling melindungi? Itulah dua orang pemuda dengan watak bersebrangan.
Belinda mengenyitkan keningnya, berusaha untuk tersenyum."Tuan aku menderita penyakit menular, jika anda bermaksud berhubungan badan denganku..."
Tanpa diduga olehnya, Rion tertawa."Pantas saja Hikaru merekomendasikanmu, aku mencari sektretaris yang profesional sepertimu,"
"Hikaru, berikan dia rincian tugasnya. Aku akan ke mobil duluan, untuk bekerja. Omong-ngomong kalian cukup serasi, sama-sama kaku," lanjut Rion, memasuki mobil, masih tertawa lepas. Lebih memilih membaca beberapa dokumen dari perusahaan lainnya di dalam mobil.
Sementara kedua orang itu berdiri menghela napas kasar."Maaf ketua..." sang wanita menunduk.
"Jangan panggil aku ketua lagi. Panggil aku Hikaru mulai sekarang. Selain itu, kita tidak serasi!" tegasnya, dengan senyuman yang menghilang.
"Benar, apa ketua... maksudku Hikaru sudah menemukan nona?" tanya Belinda.
Hikaru menggeleng, tersenyum lirih."Dia masih membenciku, hingga menyembunyikan diri,"
"Ada informasi, nona pernah terlihat di negara tempat majikan anda berasal." ucap Belinda membuat Hikaru menatap ke arahnya.
"Dia ada disana?" tanyanya tersenyum dengan air mata menggenang, merindukan satu-satunya wanita yang menarik perhatiannya. Mengandung buah hati mereka, bagaimana kabarnya? Apa anaknya lahir dengan selamat?
Jemari tangan Hikaru mengepal, dirinya tidak dapat mencari kekasihnya saat ini. Tanpa memiliki kekuasaan yang cukup dan posisi yang stabil. Jika tidak, mungkin hal yang sama akan terjadi kembali. Wanita yang memiliki luka tembakan di dadanya, hanya karena melindungi dirinya.
"Biarkan, jangan mencari informasi tentangnya. Tugasmu saat ini membantuku melindungi Rion, orang yang baru masuk ke dalam mobil..." ucapnya, menghapus air mata yang hampir menetes, kembali tersenyum ganjil seperti biasanya.
"Tapi, nona akan salah sangka, jika anda tidak menjelaskan. Mengira anda memiliki hubungan dengan wanita lain. Anak anda juga..." kata-kata Belinda terhenti, Hikaru menyelanya.
"Itu lebih baik, setidaknya tidak akan ada orang yang mengincar mereka. Hanya sampai aku memiliki kekuasaan finansial yang cukup, aku akan meminta Rion, membantuku. Agar aku dapat melindungi mereka..." jawaban darinya menahan rasa sakit yang dipendamnya.
Hal yang membuat ketua kelompok pembunuh bayaran sepertinya memutuskan untuk keluar tanpa kekuasaan dan finansial yang cukup. Hal yang sama membuatnya putus asa hingga ingin mengakhiri hidupnya dulu, menembak kepalanya sendiri menggunakan peluru.
Kekasihnya harus melahirkan tanpa kehadiran dirinya. Anak yang bahkan tidak diketahui namanya. Wanita yang mengira Hikaru berkhianat, hingga pergi meninggalkannya segera setelah luka tembakan wanita itu, pulih. Pergi dalam keadaan hamil, membawa buah hati mereka dalam perutnya.
Keputusan yang diambilnya mungkin salah? Tapi mungkin juga benar, sekali memasuki lembah hitam akan sulit untuk keluar. Kecuali memiliki kekuasaan yang cukup. Jika dipaksakan pun hidup bersama wanita yang dicintainya, tetap saja hanya akan berakhir melihat mayat wanita yang itu dan anaknya yang bergelimpangan darah segar.
Menjadi sandra untuk mengendalikan dirinya, itulah yang akan terjadi pada wanita yang dicintainya dan putranya, jika menemuinya saat ini, memaksakan diri untuk bersama.
"Dimana Andres? Apa kalian sudah menikah?" tanyanya menghela napas kasar, mengalihkan pembicaraan.
"Dia menjadi mahasiswa jurusan IT, menggoda para mahasiswi cantik. Hubungan kami tidak pernah berkembang, dia selalu menghindariku. Hikaru, apa kurangnya aku dibandingkan dengan mahasiswi-mahasiswi genit..." tanya Belinda menunduk.
"Kamu terlalu sempurna untuknya. Hingga membuatnya bersembunyi darimu," jawaban dari Hikaru, kembali memasuki kursi penumpang bagian depan.
***
__ADS_1
Hari sudah mulai sore, tender kerjasama dialihkan dengan perusahaan lain. Bertindak profesional? Itulah yang dilakukan pengumpul uang ini.
Mobil baru yang dipesan Hikaru juga baru sampai. Tanpa basa-basi Rion segera memakainya, hendak menjemput sang pujaan hati.
Sazi yang memang berkata akan berkeliling kampus mencari objek lukisannya. Bangunan ala Eropa dengan arsitektur megah menjadi tema pilihannya kali ini. Persis seperti bangunan kampusnya dan beberapa gedung di sekitar kampusnya.
Kali ini Belinda tidak mengikuti mereka, hanya Hikaru yang mengantar Rion. Pemuda yang duduk dengan tenang di kursi pengemudi saat ini, sedangkan Rion sendiri berada di kursi penumpang bagian belakang, membaca kontrak dengan lebih teliti lagi.
Mobil yang perlahan memasuki area parkir kampus...
Mata Rion menelisik, mencari keberadaan Sazi, berjalan diikuti oleh Hikaru, segera setelah turun dari mobilnya. Hikaru masih setia tersenyum lebar, namun terasa ganjil.
Satu persatu ruangan mereka lewati hingga sosok itu terlihat di area belakang sekolah. Seorang wanita yang duduk dengan buku sketsanya. Sapuan tangannya menggunakan pensil terlihat pelan. Bahkan lekukan ranting pepohonan yang tertutup salju terlihat jelas dalam sketsanya.
Benar-benar terlihat indah...
Sang anak katak mengepalkan tangannya, berjalan mendekati Sazi. Sedangkan Hikaru menghentikan langkahnya, menatap dari jauh, mungkin wanita itulah sebuah kebahagiaan di diri Rion, pemuda yang terlihat kesepian.
Merindukan kekasihnya? Tentu saja, setelah Rion memiliki status yang cukup tinggi, dirinya akan berlutut meminta maaf pada kekasihnya. Membawanya tinggal bersamanya, dirinya akan menjalani kehidupan yang normal, sebagai asisten pemuda ini.
Membuat Rion tersenyum mungkin sesuatu yang baik. Hingga...
"Ini untukmu..." seorang pemuda berdarah Spanyol membuat langkah Rion terhenti. Pemuda rupawan yang menyodorkan kopi hangat pada Sazi.
"Terimakasih," Sazi meraihnya dari tangan Andres, kemudian meminumnya, tanpa menyadari keberadaan suaminya.
Hikaru mengenyitkan keningnya dengan senyuman yang memudar. Berjalan mendekat ke arah Sazi dan Andres.
"Ke... ketua..." sang playboy tanggung itu terlihat gelagapan. Menatap ke beradaan Hikaru di hadapannya.
Sedangkan mata Sazi menelisik, mencari keberadaan Rion yang biasanya selalu berdampingan dengan Hikaru. Dengan cepat menutup buku sketsanya, berlari mendekati Rion yang masih terlihat. Mendekap erat tubuhnya dari belakang.
"Kamu datang untuk menjemputku?" tanya Sazi yang mulai kembali manja.
Pemuda itu mengangguk, kemudian tersenyum, berbalik menghadapnya,"Aku datang untuk menjemputmu. Apa menyenangkan didekati pria Spanyol?" tanya Rion berubah ekspresi menjadi marah.
Emosinya benar-benar labil kala telah berhadapan dengan Sazi. Sejenak rendah diri takut wanita ini dimiliki pria lain, sejenak lagi bahagia mengingat Sazi yang memeluknya. Sedetik kemudian merasa cemburu, protektif, dan kesal, mengingat hal yang baru saja dilihatnya.
Dengan cepat Sazi menggeleng, menggengam jemari tangan Rion."Kamu yang paling tampan..." ucapnya memelas.
Anak kucing ini bertambah manja saja, bertambah manis ketika memelas. Dengan cepat sang serigala menariknya ke dalam mobil, membuka pintu penumpang bagian belakang, kemudian masuk bersama dengannya.
Pintu segera dikuncinya, tempat parkir yang cukup sepi. Cemburu? Tentu saja, Rion menikmati bibir itu dengan serakah, perasaan ingin memiliki mendominasi dalam dirinya. Lidahnya bermain agresif dalam mulut Sazi.
Tangannya menjalar kemana-mana, melepaskan syal yang dipakainya dan wanita di hadapannya. Tidak peduli pada apapun lagi, yang jelas wanita ini harus dimiliki sepenuhnya oleh dirinya. Ciuman yang turun ke area leher, memberikan rasa hangat yang nyaman.
__ADS_1
"Agh... Rion..." suara manjanya terdengar membuat pemuda itu semakin menggila. Seakan Sazi sudah mengetahui kemana ujung titik kecemburuan pemuda ini. Pemuda yang mulai menyesap pelan lehernya, terkadang memainkan lidahnya di sana. Darahnya berdesir, hanya begini saja sudah membuatnya menginginkan lebih.
Anak dari Rion? Itulah yang diinginkannya, menginginkan anak yang akan mengikat suaminya agar terus mencintainya. Menginginkan anak manis yang akan mereka miliki.
Sazi membuka resleting pakaian hangatnya, serta beberapa kancing kemejanya sendiri."Aku sudah siap..." ucapnya pasrah.
Kata-kata yang membuat Rion mengenyitkan keningnya dengan kesadaran yang kembali. Apa yang sudah dilakukannya? Tapi memang tidak dipungkiri, ingin rasanya menyalurkan keinginan tubuhnya, hanya untuk sebuah penyatuan.
"Rion..." Sazi menarik dasi suaminya yang hendak bangkit dari tubuhnya."Aku ingin anak darimu ..."
"A...aku... ini di dalam mobil, bagaimana jika ada yang mengintip," alasan dari sang anak katak.
"Di dekat sini ada hotel, kita ke hotel saja..." ucap Sazi antusias.
"Aku tidak bisa!! A...aku menderita disfungsi ereksi," dustanya, membohongi Sazi bahwa dirinya tidak dapat berhubungan layaknya suami-istri.
"Apa benar-benar tidak bisa berdiri?" tanya wanita itu iba pada suaminya.
"Iya..." ucap Rion tersenyum, namun menangis dalam hatinya. Kenapa harus beralasan disfungsi ereksi? Dirinya bahkan sudah siap tempur saat ini. Pria sejati yang memiliki keinginan tinggi untuk memuaskan Sazi, itulah dirinya. Mungkin saat berhubungan nanti pantang berhenti, sampai wanita ini tidur akibat kelelahan. Tapi disfungsi ereksi... tidak dapat berfungsi sama sekali?
Wanita itu mendekatinya memeluk tubuhnya erat. Bahkan mencium lehernya, membuat Rion menelan ludahnya, mengeluarkan keringat dingin.
"Boleh aku mencoba menyentuhnya nanti malam? Aku ingin mencoba, siapa tau aku dapat menyembuhkanmu. Jika tidak bisa pun, aku akan tetap mencintai dan setia padamu..." ucap sang kucing kecil, memelas, meminta dirinya untuk dimakan.
Mampus... satu kata dalam benak Rion membayangkan inti tubuhnya disentuh bahkan dimainkan di atas ranjang.
***
Sedangkan di tempat lain...
Hikaru tengah berada di gudang belakang kampus, menendang tubuh Andres."Berdiri!" perintahnya saat Andres tersungkur di lantai.
"Maaf! Aku tidak tau!" ucapnya bangkit, menurut, hanya diam tidak berani melawan di hadapan Hikaru.
"Tidak tau?" geramnya dengan senyuman yang telah menghilang sedari tadi.
"Iya, aku mengaku salah ketua!! Aku yang menggodanya duluan!!" teriak Andreas, memegang celana panjang yang dikenakan Hikaru.
"Apa kamu memiliki perasaan padanya?" tanya Hikaru.
Dengan cepat Andres menggeleng."Aku hanya iseng saja!!"
"Tugasmu menjaganya, tapi jika playboy sepertimu, sekali saja ketahuan menggodanya..." kata-kata Hikaru disela.
"Aku tidak akan menggodanya!!" ucap Andres cepat, berteriak, ketakutan.
__ADS_1
Bersambung