Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Nanti


__ADS_3

Sazi menghela napas kasar. Gigi adalah ibu mertuanya? Hal itu masih belum diterima akal sehatnya. Tidak mengetahui apapun? Tentu saja, dirinya jarang kembali ke apartemen. Hanya mengirimkan tugas dan uang transfer-an pada kartu ATM yang diberikannya pada Gigi.


Sazi juga tidak yakin apa yang akan dilakukannya nanti pada perusahaan milik almarhum ayahnya. Yang terpenting saat ini baginya adalah mengembalikan segalanya sebagimana mestinya.


Rion memang belum mengatakan apapun, dirinya pertama kali mengetahui mengenai Gigi saat di ballroom hotel. Namun, mungkin inilah yang namanya sebuah ikatan, air akan mengalir ke laut, bagaimanapun caranya. Berapapun waktu yang diperlukannya.


Gerbang besar rumah terbuka, dua orang penjaga yang disiapkan Hikaru memeriksa mobil dengan menyeluruh. Meraih kartu identitas yang ditujukan Andres, menatap wajah Andres kemudian mengembalikan kartu identitasnya.


Mobil kembali melaju, menuju rumah besar yang berada di ujung jalan halaman yang luas.


"Apa ini istana presiden?" tanya Sazi mengenyitkan keningnya. Wanita yang baru mengetahui betapa kayanya keluarga si bantet. Jika sekaya ini, walaupun jelek ketika SMU, mungkin para primadona sekolah akan mengejar sang crazy rich.


Tapi tidak dibayangkan olehnya, Rion bahkan sering terlambat membayar uang sekolah. Memakan roti bantet yang entah matang atau tidak. Roti gagal yang entah didapatkannya dari mana.


Pakaian ukuran XXL dengan warna sedikit pudar dipakainya saat ke bioskop, mungkin itulah pakaian terbaik miliknya. Siapa sangka Rion adalah anak dari keluarga konglomerat.


Rasa syukur ada dalam hati Sazi. Syukurlah Rion menjadi miskin, gemuk, bodoh dan jelek di masa SMU. Jika tidak, dapat dipastikan dirinya akan terinjak-injak rombongan penggemar idola sekolah.


Hanya rasa syukur yang tersisa dari putri bangsawan yang mencintai katak.


"Kamu merasa seperti Cinderella?" tanya Andres, membuka pintu, menatap bangunan bergaya Eropa di hadapannya.


"Bukan, aku merasa Rion adalah pangeran katak..." jawaban dari Sazi, menghela napas kasar memikirkan entah akan ada berapa pelakor nanti."Dan sekarang aku mengandung kecebongnya..."


"Dasar kecebong..." gumam Andres yang merindukan Belinda, wanita yang tengah berada di balkon kamar Rion, duduk memantau situasi rumah melalui laptopnya.


***


Canggung? Begitulah situasi saat ini, beberapa jenis makanan diletakkan oleh suaminya di piringnya. Matanya sedikit melirik ke arah Margaretha, wanita kelas atas yang terlihat anggun. Mengiris daging menggunakan pisau steaknya. Wanita yang memiliki aura kelas atas mendominasi. Benar-benar seorang nona muda sejak dilahirkan. Sosok Gigi bagaikan menghilang, menjadi dua kata yang membuatnya benar-benar tegang 'ibu mertua.'


"Ini untukmu, dagingnya keras," ucap Margaretha mengganti piringnya, usai mengiriskan daging steak untuk Fino.

__ADS_1


Semuanya diam tertegun, termasuk Rion yang terbatuk-batuk menyemburkan air dari mulutnya. Bahkan Margaretha kini menyuapi Fino.


"Apa!? Kalian iri?" tanya Fino dengan mulut penuh.


Benar-benar katak tua sejati yang membuat semua orang iri padanya. Pria yang benar-benar menikmati akhir penantian hidupnya.


"Maaf..." Silvia tertunduk, wanita renta yang menatap kebahagiaan yang sempat dihalanginya.


"Kalau ingin minta maaf makan yang banyak dulu!!" Fino tertawa lepas, menyuapi Sivia. Jika dahulu menatap perilaku Fino, Silvia akan merasa kesal, mengganggapnya tidak sopan. Namun tidak dengan saat ini, Gerald yang mengiris daging, makan dengan tenang. Seorang menantu idamannya, menyakiti putrinya setiap hari. Dirinya hanya terdiam dalam egonya, mengatakan melayani kehendak suami merupakan hal yang biasa pada Margaretha.


Gerald pria yang dahulu sempurna dimatanya. Kini tidak lagi, Margaretha tidak pernah bahagia dengan pria rupawan yang pintar. Cukup bahagia dengan pria biasa yang lemah namun memiliki hati yang baik.


Setetes air matanya mengalir segera diseka olehnya. Menatap ke arah Margaretha yang tengah menyuapi Fino, seorang pria yang terlihat memiliki wajah pucat.


***


Tidak canggung lagi? Mungkin itulah yang terjadi. Keluarga yang menghabiskan waktu bersama mereka di ruang keluarga sejenak usai makan malam.


Hingga suara mobil terdengar...


Seorang wanita melangkah dengan cepat melirik hina ke arah Rion. Pergi mencari Gerald? Itulah yang akan dilakukan Leony. Dirinya ada di pihak yang benar, itulah keyakinannya.


"Mau pergi atau tinggal?" kata-kata dari Rion membuat langkahnya terhenti.


"Puas mempermalukanku? Kalian hanya benalu yang memakan uangku! Perusahaan tidak akan berjalan tanpa aku dan ayah! Kamu seharusnya sadar diri sebagai anak luar yang mengikuti ayahmu!!" bentaknya pada Rion.


"Aku hanya memberimu tumpangan untuk tinggal dan itu tidak gratis. Kamu harus menjadi pelayan jika ingin gaji dan makanan," kata-kata penuh senyuman dari bibir Rion.


Puh...


Leony mengepalkan tangan, meludahi kakaknya."Ayahku, Mark dan kakakku Jameson akan membalasmu. Membuat perusahaanmu pailit dan..."

__ADS_1


Rion meraih tissue basah di sakunya, mengelap ludah yang mengotori pipinya."Kamu fikir ini dunia imajiner dimana ada CEO tampan, dingin dan kaya menikahimu? Membelamu dariku, kakak tirimu yang jahat? Kemudian mengembalikan kedudukan ayahmu lalu membuatku jatuh miskin!?"


"Ayahku akan membalas..." kata-kata Leony terhenti.


Rion menadahkan tangannya."Kunci mobil..." ucapnya, tidak tau malu.


"Ini mobil hasil dari kerja kerasku. Ini milikku dan..." kata-kata Leony kembali terpotong.


"Kamu mewarisi wajah Gerald yang maskulin. Pantas saja melakukan beberapa kali operasi plastik, dan perawatan total seminggu dua kali. Aku sudah mengaudit semuanya dalam perjalanan kemari. Uang yang kamu habiskan lebih besar daripada gajimu sebagai CEO. Mobil itu juga dibeli sebagai mobil dinas CEO. Bahkan kamu berhutang 23.467.890 padaku," ucap Rion pada Leony yang membulatkan matanya. Benar-benar makhluk perhitungan, si gemuk jelek yang tiba-tiba menjadi cerdas.


"Aku tidak berhutang padamu!!" kata-kata dari Leony gelagapan. Mengembalikan kunci mobilnya pada Rion.


"Pergilah, semua yang ada di rumah ini adalah milikku. Aku mengusirmu, dengan pembagian warisan setelah gaun yang melekat di tubumu..." kata-kata manis dari mulut sang kakak kembali duduk di sofa sembari memakan kripik singkong dari singkong berkualitas yang diiris tipis, digoreng dengan suhu tertentu. Kripik singkong Kusuka yang sudah habis setengahnya.


"Mark dan ayahku akan mengusirmu!! Membuatmu jatuh miskin dan..." kata-kata Leony kembali disela.


"Pintu rumah ini akan selalu terbuka lebar untuk menerima pelayan baru..." ucap Rion.


"Sialan!!" Leony membanting sebuah asbak kemudian hendak meninggalkan ruang tamu.


"Villa mewah pinggir tebing, disanalah Gerald berada..." Rion menghela napas kasar.


"Apa tujuanmu mengatakan ini padaku!?" tanya Leony yang masih ada di pintu depan rumah.


"Tidak ada..." hanya itulah jawaban dari Rion menatap kepergian adiknya.


Membuka mata Leony? Itulah tujuan Rion yang sebenarnya. Gerald? Mark? Tidak satupun dari mereka yang mampu hidup dengan satu wanita.


Membiarkan pernikahan Mark dengan Leony nantinya. Pernikahan yang mungkin dapat menjadi pembelajaran untuk menjalani hidup nantinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2