Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Fans Fanatik


__ADS_3

Angin menerpa wajahnya, Queen terdiam sendiri menatap ke arah jalan raya. Matanya sedikit melirik ke arah sang adik yang duduk di sampingnya."Apa masih sakit?" tanya Queen usai mengantar sang adik ke rumah sakit.


Desi menggeleng, mengepalkan tangannya tertunduk."Aku ada syuting iklan, turunkan aku di depan stasiun TV," pintanya.


"Em..." Queen hanya mengangguk mengiyakan.


"Kakak, bisa kakak tidak menemui kak Ben?" tanya Desi ragu, dengan air mata yang mengalir.


Queen menggeleng, ikut menangis terisak, ketakutan dan jijik yang bercampur menjadi satu. Tidak ingin bertemu sosok Ben, namun ini tetap harus dilakukannya."Ini agar ibu dan nenek tidak perlu bersembunyi lagi. Semuanya akan baik-baik saja..."


"Kak Rion sudah mati, tidak ada informasi tentang kakak! Tidak ada harapan lagi..." gumam Desi masih tertunduk dalam tangisannya.


"Ada, kita pasti dapat pergi, melarikan diri ke daerah pelosok nanti bersama nenek dan ibu," Queen menyakinkan, walaupun dalam hatinya ini tetap akan terjadi.


Mengapa ayah mereka dapat seperti ini? Entahlah, dari mana asal kebencian sang ayah. Ingin memiliki dan menguasai segalanya.


***


Beberapa jam berlalu, Desi telah diturunkan di depan stasiun televisi. Gaun indah melekat di tubuh Queen, riasan yang tidak begitu tebal terkesan natural, rambut hitam kecoklatan tertata rapi. Benar-benar cantik, namun wajah itu tidak tersenyum sama sekali.


Menemui Ben? Apa yang akan dilakukan pria berusia 33 tahun itu padanya? Jemari tangan Queen gemetar, perasaannya campur aduk antara jijik dan takut.


Pria yang diberitakan memiliki banyak skandal dengan selebriti cantik. Bertubuh gemuk, terkenal sebagai playboy. Namun, fans fanatik dari Queen.


"Ibu..." tangis Queen lirih, dirinya selalu menolak untuk bertemu dengan Ben. Dan kini? Dirinya harus benar-benar bertemu dengan pria yang selalu membawa posternya duduk di kursi VVIP di setiap konsernya. Menakai kaos bergambar wajahnya bagaikan pemilu.


Bukan hanya itu, dirinya pernah melelang pakaian untuk acara amal. Ben-lah penawar dengan harga tertinggi.


Fans fanatik? Apa yang akan dilakukan Ben si gemuk playboy saat bertemu nanti?


Tempat janji temu, merupakan hotel berbintang. Bukan di sebuah restauran, melainkan makan malam dalam kamar. Dahulu dirinya juga pernah diundang bertemu, makan malam dalam kamar hotel oleh Ben. Namun dirinya menolak dengan tegas.


Sekarang tidak dapat menolak lagi, demi keselamatan ibu dan neneknya. Queen benar-benar tegang, sudah menyiapkan obat kontrasepsi, dan pengaman bagi pria di dalam tasnya, bagaikan wanita bayaran profesional. Dirinya benar-benar dijual.


Rasa tegang membuatnya merasa lumayan lapar. Gadis itu meraih sebungkus sneakers, memakannya. Tidak ingin rasa lapar yang menderu membuatnya berubah sensitif dan emosional.


Membuka botol minuman teh kemasan, dari pucuk daun teh pilihan yang diolah dengan suhu sempurna. Teh pucuk harum, akhirnya tandas seperempat botol. Barulah Queen merasa sudah sedikit tegar dan tenang.


Ting...


Pintu lift terbuka, gadis itu melangkah dengan cepat. Pria yang lebih tua belasan tahun darinya? Dirinya benar-benar takut, namun walaupun lebih tua dan bertubuh gemuk. Wajah Ben memang tidak buruk, kulit putih ala anak orang kaya. Tapi playboy? Mempermainkan wanita di ranjang? Berita itu bahkan tersebar di infotainment.


Ben berbuat kekerasan pada mantan kekasihnya. Bahkan, mantan kekasihnya mengatakan Ben sering menyewa wanita bayaran, berselingkuh dengan beberapa selebriti, kerap memukuli dan memaksanya berhubungan. Tapi mungkin karena kekuatan uang, dengan ajaibnya Ben tidak pernah ditahan pihak kepolisian, hanya pernah melakukan pemeriksaan.

__ADS_1


Kali ini dirinya yang akan menjadi korban. Queen membuka pintu perlahan, dirinya ingin melarikan diri. Namun, ini semua demi ibu dan neneknya.


Gadis itu hanya berharap tidak akan ada cambuk atau borgol di dalam sana. Seperti video-video dewasa yang memperagakan adegan kekerasan.


Pintu akhirnya terbuka lebar. Queen memejamkan matanya sejenak ketakutan. Hingga perlahan suara alat musik terdengar, dirinya membuka matanya.


Suara permainan biola yang indah. Seorang pemuda rupawan berdiri di dekat jendela. Apa itu Ben?


Mata tajam pemuda itu melirik ke arahnya kemudian tersenyum. Menghentikan pemain biolanya."Queen..." panggilnya.


Kenapa Ben bisa menjadi setampan ini? Dirinya tidak salah bukan? Tapi wajah pemuda ini bagaikan familiar baginya.


Hanya dua kata, masa bodoh, dirinya hanya perlu menyenangkan Ben. Maka ibu dan neneknya dapat hidup dengan tenang.


"Apa kamu sudah menunggu lama?" tanyanya pada sang pemuda rupawan.


Rion meletakkan biolanya, tersenyum pada adiknya."Tidak terlalu lama..."


Queen menghela napas kasar."Maaf aku tidak pernah dan belum berpengalaman (berhubungan bagaikan suami istri),"


"Tidak apa-apa kamu bisa belajar pelan-pelan, nanti aku akan mengajarimu," kata-kata dari Rion penuh senyuman, bermaksud ingin mengajarkan adiknya bagaimana menghadapi Gerald dan membantu dirinya, mengatur perusahaan nantinya.


"Jika semuanya aku lakukan (berhubungan), maka masalah perusahaan dapat diatasi?" tanya Queen menatap pemuda itu mulai duduk, meminum minuman dingin di atas meja.


Sungguh pemandangan yang menyegarkan, lebih rupawan dari selebriti idola. Tidak diminta pun, mungkin akan banyak wanita yang bersedia melemparkan diri ke ranjangnya. Tapi apa benar dalam waktu satu bulan Ben dapat berubah?


Queen menelan ludahnya, hanya sekali berhubungan tanpa cinta. Maka ibu dan neneknya akan selamat.


Dirinya berjalan mendekati sang pemuda rupawan. Membuka dressnya, menatap pemuda yang berdiam tidak bergeming di hadapannya.


Queen meraih sesuatu di tasnya, sebuah kotak kecil berisikan pengaman. Memberikannya pada jemari tangan sang pemuda.


Tubuhnya saat ini hanya tertutup kain kecil berbentuk segitiga. Menutupi bagian bawah tubuhnya, gaun yang teronggok di lantai memiliki kup tersendiri. Hingga dirinya tidak perlu mengenakan pakaian dalam bagian atas.


Mendekati sang pemuda rupawan, menarik dasinya. Cukup lama saling menatap, perlahan memonyongkan bibirnya, menahan malu dan tangisannya dalam hati. Yang terpenting adalah ibu dan neneknya dapat hidup.


Walaupun rupawan, dan ada perasaan nyaman tersendiri. Tapi melakukannya tanpa cinta? Ini sangat sulit untuknya.


Matanya terpejam, bibirnya benar-benar monyong bagaikan bebek. Gadis yang bahkan tidak pernah berciuman.


Hingga...


"Sakit... sakit...aduh..." telinga Queen dijewer oleh sang pemuda rupawan.

__ADS_1


"Kamu memberiku pengaman? Bahkan yang rasa strawberry?" geram Rion menatap kelakuan adiknya.


Queen menghela napas kasar, mungkin ini gaya kekerasan baru dalam berhubungan. Dirinya hanya perlu menyenangkan pria dihadapannya.


Tangannya gemetar menahan rasa sakit di telinganya. Berusaha kembali meraih dasi Rion.


"A...aku sudah siap..." ucap Queen mulai menangis, malu dan terasa menyulitkan.


Rion kembali menghela napas."Perhatikan wajahku baik-baik. Kamu tidak mengenaliku?"


Queen memincingkan matanya, menatap wajah itu dengan seksama. Benar-benar mirip, kemiripan identik mencapai 100%.


"Ha... hantu!! Kakek jangan dekat-dekat!!" Queen mundur hingga membentur pintu. Lukisan seseorang yang selalu ada di beberapa sudut rumahnya. Orang yang tidak pernah ditemuinya. Almarhum kakeknya...


Rion memijit pelipisnya sendiri, melirik ke arah adiknya yang bahkan tidak mengenalinya sedikit pun. Wanita yang hanya mengenakan kain kecil berbentuk segitiga, berjongkok ketakutan. Entah berapa IQ adiknya yang memiliki wajah cantik serta bakat menyanyi.


***


Sementara itu di toilet kamar tersebut...


Byur...


Beberapa gelembung udara keluar dari mulutnya.


"Hah...hah...hah..." Ben menghirup udara dengan serakah.


Hikaru tersenyum padanya."Pergi dan katakan kamu sudah mengencani Queen..." ancamannya.


"Tidak, kalian akan meniduri Queen kan? Aku menyukainya!! Akan melindunginya!!" kata-kata tegas dari Ben, sang fans fanatik.


Benar-benar keras kepala, membunuhnya pun tidak dapat dilakukan Hikaru. Karena akan memunculkan petunjuk tentang pergerakan Rion.


Hanya mengisi penuh bathtub, kemudian menenggelamkan kepala Ben yang dapat dilakukannya.


"Kamu yang ingin melecehkannya kan? Seperti informasi yang aku dapatkan. Bermain-main diatas tubuh wanita..." geram Hikaru.


Ben menggeleng."Aku benar-benar menyukai Queen. Itu hanya berita bohong dari mantan pacar yang ingin memerasku!! Lihat bajuku ada gambar Queen...aku menyukainya!!"


"Jadi buat apa menyewa kamar?" tanya Hikaru lagi.


"Dia artis, kalau makan malam di restauran hotel banyak yang akan meminta berfoto. Kalian yang berniat buruk pada Queen kan!? Memanfaatkan namaku untuk menidurinya!!" bentak Ben bagaikan pembela kebenaran dan keadilan.


Hikaru terdiam sesaat mengenyitkan keningnya. Melakukan pengujian terakhir,"Aku memberimu pilihan, kami akan meniduri Queen secara bergiliran, kemudian membunuhnya. Atau dapat di tukar dengan nyawamu..."

__ADS_1


Ben mengepalkan tangannya."Bunuh aku saja. Bebaskan Queen." ucapnya ragu ketakutan.


Bersambung


__ADS_2