Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Fatamorgana


__ADS_3

Gudang yang gelap dengan penerangan minim. Hanya lampu remang-remang yang terlihat. Awalnya Sazi terdiam, menunggu kedatangan Belinda dan Andres sesuai instruksi Hikaru.


Hingga suara tangisan seorang wanita terdengar. Apa ada orang lain di gudang ini selain dirinya? Perlahan Sazi bangkit melangkah seorang diri, hingga sebuah kain putih yang menutupi lukisan terlihat. Jemarinya gemetar, menarik kain itu perlahan.


Sebuah lukisan cat minyak terlihat, dirinya, Herry dan seorang wanita yang mirip dengannya. Tapi siapa?


Kepalanya mulai terasa sakit, suara tangisan itu kembali terdengar dengan jelas. Perlahan tangannya lemas menatap ke arah seorang wanita yang meringkuk seorang diri di pojok ruangan. Wanita yang memeluk lukisan dengan tatapan kosong.


Benar...itu adalah dirinya, ingatan samar yang mulai terbuka. Air matanya mengalir,"Agghh..." teriaknya seorang diri lirih, menjambak rambutnya sendiri.


Tangannya masih gemetar meraba lukisan itu perlahan. Kemudian memeluknya erat, bagaikan kembali ke masa 5 tahun lalu. Air matanya tidak dapat terbendung, lubang di hatinya seakan terbuka.


"Nnggg... itu Rion..." tangisannya tidak dapat menerima kenyataan. Ingatan mempelai pria yang berjalan di altar terbayang di benaknya ingatan yang tumpang tindih.


Hingga bagaikan sebuah kabut yang menelan rupa Rion. Bukan Rion, namun Dave yang berada di altar bersamanya.


"Agghh..." hanya menangis dan berteriak seorang diri yang dapat dilakukannya. Takluk akan rasa sakitnya, berlutut di lantai."Itu Rion..." pintanya lirih.


Namun, ingatan yang semakin jelas terpampang nyata. Kala dirinya membuka gaun pengantin, membersihkan dirinya, menunggu kedatangan Dave di kamar pengantin. Pengantin pria yang tidak datang selama berjam-jam.


Dirinya bagaikan kembali memasuki pintu rasa sakitnya. Menatap dirinya sendiri lima tahun lalu, yang berusaha melupakan Rion agar dapat bahagia bersama Dave.


Bau semerbak tercium dari tubuhnya, hanya sabun dan lotion murah. Mengingat penghasilannya sebagai pelukis yang tidak tetap.


Ini adalah malam pertamanya dengan Dave. Wanita yang menatap wajahnya di cermin, gadis yang jarang merias diri.


Jantungnya berdegup cepat, tegang dalam malam pertamanya. Wanita bodoh yang ingin melupakan almarhum Rion, berharap Dave menjadi cinta pertama dan terakhirnya.


Sazi yang terdiam menyaksikan ingatannya, hanya dapat menangis menutup mulutnya sendiri. Terisak dengan air mata tidak terkendali."Jangan bersamanya, jangan melupakan Rion..." pintanya menatap fatamorgana ingatan lamanya.


Tapi tubuh yang tidak tersentuh itu berjalan meninggalkan kamar, mencari keberadaan Dave. Diikuti dirinya, yang berusaha menghentikan. Entah kenapa alur ingatan yang bagaikan akan menemukan ujung yang menyakitkan.


Hingga, bayangan dirinya itu, terhenti di depan kamar Alexa.


"Alexa... Alexa...sayang...ssshh...." suara Dave terdengar samar dari dalam kamar sepupunya.


Tangan wanita itu gemetar, akan menyaksikan rasa sakit yang menghujam dadanya.


Air matanya mengalir tanpa dapat ditahan olehnya. Hingga, meraih hendel pintu kamar Alexa, hendak membukanya.


"Berhenti! Jangan buka pintunya, jangan menggagu sepupumu..." suara Dini terdengar, dibelakang wanita itu juga berdiri seorang pria paruh baya. Pengacara perusahaan milik almarhum Herry.

__ADS_1


"Ibu, tapi Dave dan Alexa! Mereka..."


Plak...


Satu tamparan mendarat di pipi Sazi, tamparan yang benar-benar keras. Membuatnya tertegun tidak dapat mengeluarkan kata-kata...


"Aku bukan ibumu. Jangan memanggilku dengan sebutan ibu lagi. Ibumu sudah membusuk di tanah, dimakan cacing! Aku tidak memiliki anak sepertimu yang hanya seorang benalu," Dini tersenyum sinis padanya.


Ibu yang mencintainya, tidak mengakuinya? Bahkan menamparnya? Itulah ingatan paling pahit dalam dirinya.


"Bukan ibuku?" Sazi, memastikan pendengarannya, berucap dengan suara bergetar. Sama dengan dirinya yang menatap fatamorgana ingatan masa lalunya, Dini bukan ibunya? Wanita yang selalu diagungkannya, bukalah ibunya?


Bahkan menampar dirinya hanya untuk kebahagiaan Alexa?


"Sazi, aku disini untuk membicarakan surat wasiat peninggalan ayahmu. Kamu tidak memiliki hak apapun atas peninggalannya," sang pengacara memulai pembicaraannya.


"A...apa maksudnya? Ibu apa kita akan kehilangan rumah dan perusahaan?" tanya Sazi dengan mata memerah, air mata yang mengalir tidak dapat ditahannya. Menyakinkan dirinya sendiri, Dini akan tetap ada bersamanya.


"Aku bukan ibumu. Ibumu seorang wanita penghibur bernama Vallentina, yang menggoda ayahmu. Kamu hanya anak diluar nikah. Berterimakasih lah karena aku sudah bersedia membesarkanmu..." dusta Dini, menatap ke arah anak sambungnya.


Sazi mundur selangkah, kakinya gemetaran bagaikan kehilangan pijakannya. Bukan ibunya? Bahkan ibunya seorang wanita penghibur?


"Ayahmu, mewariskan perusahaannya untuk pamanmu. Mengingat almarhum kakek dan nenekmu tidak membagi warisannya secara adil. Alexa mendapatkan saham yang ditanam Herry di beberapa bidang di negara lain. Sementara istrinya Dini, mewarisi aset lainnya, berupa rumah, tanah, beberapa villa dan resort..." ucap sang pengacara.


Perlahan pintu kamar Alexa terbuka, Sazi disana dalam keadaan kacau. Air matanya berurai tiada henti. Perlahan perhatian wanita itu teralih, pada pasangan yang baru keluar. Dengan banyak tanda keunguan di leher mereka.


Sazi mengepalkan tangannya, tidak dapat menerima ini, dirinya sudah mencoba untuk setia pada Dave, menyayangi Alexa layaknya saudara kandungnya. Mengakat tangannya hendak menampar Alexa.


Namun...


Plak...


Tangannya ditahan Dave, wajah Sazi di tampar sang pemuda. Belum menghilang rasa tamparan dari Dini, kini Dave yang membuat pipinya memerah, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah.


"Kalian, tidak mencintaiku?" tanyanya mulai tertawa, melangkah mundur.


"Aku dan Alexa saling mencintai, dari pertemuan pertama kami. Kamulah yang menghalangi kami untuk bersama. Kamu adalah orang ketiga. Aku tidak menyukai wanita munafik sepertimu..." kata-kata menusuk keluar dari mulut Dave, bagaikan menghujam dirinya.


Di dunia ini memang tidak ada yang mencintainya."Kalian tidak mencintaiku!?" tanya Sazi lagi berlutut, tertunduk, menyakitkan ini sungguh menyakitkan. Semua orang mengkhianatinya dari awal.


"Aku tidak mencintaimu, sampai kapanpun tidak akan pernah. Perlakuanmu pada Alexa, aku tidak akan memaafkannya..." jawaban dari Dave menatap tajam.

__ADS_1


"Aaa....aaa..." Sazi berteriak nyaring terlihat histeris."Ayah... Rion..." teriaknya mengingat orang-orang yang benar-benar menyayanginya telah tiada.


Sazi memeluk fatamorgana dirinya yang menangis berlutut seorang diri. Menangis bersama fatamorgana ingatannya tentang dirinya sendiri.


Hal yang sebenarnya terjadi? Sazi memeluk lukisan keluarganya, menitikkan air matanya tiada henti. Rion bukanlah suaminya... dirinya tidak pernah memiliki siapapun...


Bayangan akan ingatan dirinya yang berada di rumah sakit jiwa terbersit jelas. Kala Dave, menunjukkan surat gugatan cerai. Kala beberapa perawat yang mengurusnya bingung dengan biaya perawatannya yang telah melampaui uang warisan yang tidak seberapa.


Hingga saat Rion tiba, menggenggam jemari tangannya, mengurusnya tanpa ragu sedikitpun. Terkadang menangis menatapnya, menyuapinya makan, bahkan membersihkan kotorannya. Pria yang mencintainya dengan sabar...


"Rion bukan suamiku..." gumamnya, tertunduk dalam penyesalan. Dirinya tidak pantas sama sekali untuk Rion. Bukalah seorang nona muda lagi, hanya pasien rumah sakit jiwa yang tidak memiliki ingatan.


"Aku mencintaimu..." gumamnya, tertunduk seorang diri, mengingat perasaannya ketika SMU. Hingga menjalani kehidupan selama dua tahun dengannya di Spanyol.


Sejenak kemudian Sazi menghapus air matanya. Mengalihkan fikirannya, tentang Valentina, ibu kandungnya yang dikatakan hanya sebagai wanita penghibur oleh Dini.


Apa benar? Tidak, itu tidak benar, dirinya pernah melihat dokumen pernikahan Dini dengan Herry. Tanggal yang tertera sekitar satu tahun setelah dirinya lahir. Awalnya Sazi menganggap dirinya mungkin anak di luar nikah antara Herry dan Dini.


Tapi sekarang semua lebih masuk akal, dari awal ibunya hanya Valentina, wanita yang telah lama meninggal. Dini hanya ibu sambungnya.


Air matanya dihapus olehnya, jemarinya meraba lukisan kedua orang tuanya."Apa surga itu indah?" tanyanya berusaha tersenyum.


Menyakitkan? Tentu saja, namun penghinaan terhadap ibu yang melahirkannya tidak dapat diterima olehnya. Dirinya harus menunduk bertahun-tahun di hadapan Alexa. Kesetiaannya pada Dave dibayar dengan sebuah pengkhianatan.


Mungkin ini salahnya, seharusnya dirinya mengikuti rencana gila Rion ketika SMU untuk kawin lari.


Wajah yang kini tersenyum dipenuhi dendam, semua yang ada di rumah itu adalah milik almarhum ayahnya. Kerja keras sang ayah selama bertahun-tahun. Ibunya yang dihina sebagai wanita bayaran? Semua tidak dapat diterima olehnya.


Orang-orang di rumah itu yang dapat hidup tenang, memakan jeri payah ayahnya...


***


Hingga tidak disadarinya pintu gudang mulai terbuka, didobrak oleh Hikaru. Mengingat Sazi yang tidak menjawab panggilan mereka dari luar. Rion berada di sana, menghampirinya, memeluk tubuhnya erat, menghapus air matanya, berusaha tersenyum.


"Apa kamu ketakutan?" tanyanya mengecup kening Sazi.


Sazi menggeleng, memeluk Rion lebih erat."Aku mencintaimu..." ucapnya lirih.


Tidak ingin berpisah? Namun, inilah yang terbaik, dirinya harus pergi. Kembali pulang, untuk mengambil semua milik kedua orang tuanya, sekaligus menyelidiki kebenaran tentang Valentina. Mengunjungi makam ibu kandungnya yang entah berada dimana.


Rion tersenyum, mengeratkan pelukannya."Aku juga..." ucapnya, tidak menyadari segalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2