Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Meminta Ijin


__ADS_3

Malam semakin menjelang, Sazi tiba-tiba membangunkan Rion yang telah tertidur lelap."Aku ingin mengulang pernikahan kita, apa bisa?" tanyanya tiba-tiba.


"Mengulang?" Rion mengenyitkan keningnya, mengingat peringatan dari bawahan Hikaru yang menyembuhkan Sazi. Mengalami hal serupa di masa lalunya mungkin akan mengembalikan ingatannya.


Berjalan di altar? Apa itu akan mengingatkannya tentang Dave?


Sazi mengangguk."Aku tidak mengingat jelas tentang pernikahan kita. Jadi janji yang kita ucapkan seperti tidak sakral. Boleh kita mengulangnya?" pintanya dengan tangan gemetar.


Takut Rion akan menolaknya, pemuda yang terlalu sempurna untuk menikah dengan janda tidak tersentuh sepertinya. Seorang wanita yang mendapatkan gugatan hanya dalam waktu 24 jam setelah pernikahannya.


Namun, tanpa diduga pemuda itu mengangguk memberanikan dirinya. Menanggung semua resiko jika ingatan Sazi kembali. Pertengkaran yang masih terbayang dalam benaknya hanya karena dirinya tidak pernah bersedia menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami.


"Tapi berjanjilah, tetap cintai aku apapun yang terjadi..." pinta Rion tersenyum dengan rambut yang acak-acakan, masih mengenakan setelan piamanya.


"Aku berjanji..." ucap Sazi penuh senyuman.


Setidaknya sebelum dirinya pergi kembali. Sazi ingin memberikan mahkotanya pada pemuda yang dicintainya. Jika bisa ingin untuk mengandung benihnya.


Kembali ke negara tempat mereka berasal? Itulah yang akan dilakukannya, membalas dendam dan menyelidiki tentang Valentina seorang diri. Mengingat dari kata-kata Hikaru, nyawa Rion, akan selalu ada dalam bahaya. Tidak ingin menambah beban pemuda yang menjaganya dengan sabar.


"Aku mencintaimu..." ucap Sazi lagi, menangis lirih memeluk erat tubuh Rion.


"Jangan menangis, kamu ingin anak dariku? Setelah kita mengulang janji pernikahan, aku akan memberikannya padamu..." kata-kata dari mulut Rion penuh senyuman.


Sazi mengangguk, mengurai pelukannya sesaat."Satu minggu setelah pernikahan, aku harus pergi mencari inspirasi baru untuk melukis. Bisa kamu menungguku disini bersama Hikaru?" dustanya yang sejatinya ingin kembali tanpa sepengetahuan Rion.


Rion mengangguk, kemudian tersenyum."Boleh aku menciummu?" tanyanya.


Sazi tidak menjawab memejamkan matanya, memulai ciumannya dengan Rion. Pria yang dicintainya, sepasang lidah yang menyapa saling bertaut. Sepasang mulut yang terlihat rakus, serakah dengan rasa kasih yang mengalir.


Sekarang Sazi mengerti, mengapa Rion selama ini menghindarinya. Pria yang berhati-hati menjaganya, bagaikan porselin yang rapuh.


***


Bukan sebuah pernikahan yang mewah, dirinya sudah memesan dua tiket dengan tujuan Afrika Selatan dan Indonesia, untuk jadwal penerbangan satu minggu dari saat ini. Memesan tiket dengan tujuan Afrika Selatan, untuk menyempurnakan kebohongannya pada Rion. Dirinya ingin kembali, mungkin beberapa bulan, untuk membalas semua perbuatan orang-orang yang menyakitinya. Sekaligus, mengunjungi makam ibu kandungnya.


Vallentina? Entah dimana makam sang ibu yang melahirkannya.

__ADS_1


Hingga pintu besar di hadapannya terbuka, wanita yang berjalan tanpa kain tipis menutupi wajahnya. Menatap Rion yang berdiri di altar. Pemuda yang terlihat benar-benar tegang, sedangkan Sazi hanya dapat menipiskan bibir menahan tawanya.


Apakah memang setampan ini rupa asli si roti bantet? Entahlah, dirinya mencintai perhatian dan kasih sayangnya, bukan rupa fisiknya.


Aura yang berbeda dengan pernikahan pertamanya dengan Dave. Dirinya yang memaksakan diri melupakan Rion pemuda yang hanya singgah sebentar di hidupnya. Dikabarkan meninggal di masa SMU-nya.


Hanya untuk bahagia bersama Dave, cinta pertamanya. Sahabat yang berada di masa kecilnya, bagaikan peri yang dulu selalu memperhatikan dan mengetahui apapun yang diinginkannya. Entah kenapa Dave terasa berbeda dengan sang anak yang ditemuinya di usia lima tahun.


Dave terlihat lebih acuh dan tidak memperhatikannya. Namun tetaplah cinta pertamanya, anggapan kasih sayang sejati tidak akan berubah, ternyata salah. Yang ada di fikiran Dave saat mengucapkan sumpah pernikahan padanya adalah Alexa.


Entah ada dimana Dave, cinta pertamanya yang membuatnya menagis di pinggir sungai, hingga mengadu pada Herry.


Namun kini dirinya yakin, perasaannya pada Dave telah menghilang. Hanya tertuju pada Rion yang mencintainya dengan tulus, merawatnya sakit maupun sehat, dalam keadaan susah maupun senang.


Hingga janji itu terucap di depan beberapa orang kenalan mereka. Saling menatap menyematkan cincin di jari manisnya.


"Aku mencintaimu..." bisik Rion mencium bibirnya di depan semua orang.


Buket bunga dilemparkan Sazi asal, hingga mendarat pada seorang pemuda yang mengenyitkan keningnya dengan ekspresi wajah tersenyum, namun tetap saja terlihat ganjil. Dialah Hikaru...


Senang? Tentu saja, mungkin sebuah pertanda dirinya akan segera bertemu dengan kekasihnya.


***


Mobil pengantin yang melaju melewati jembatan yang cukup panjang. Air jernih terlihat di sungainya. Hari ini cukup hangat, hanya ada beberapa bongkahan es yang belum mencair. Awal musim semi? Mungkin itulah yang mengawali pernikahan mereka.


"Kamu bahagia?" tanya Rion yang berada di kursi pengemudi.


"Aku bahagia!!" teriakan Sazi, berdiri sejak di dalam mobil dengan bagian atap terbuka.


Wanita yang tersenyum, telah menyusun rencana untuk pergi. Kembali ke statusnya sebagai putri Herry adalah tujuannya, untuk mempermudah mencari bukti dan informasi tentang Valentina nantinya.


Aneh bukan? Saat Rion bukan suami yang sebenarnya, dirinya mengakuinya sebagai suami. Namun setelah ini, dirinya tidak boleh mengakui telah menikah lagi, menjadi seorang wanita yang kembali dari desa dengan keadaan yang telah sehat secara mental. Itulah rencananya, tidak ingin melibatkan suaminya, mengingat nyawa Rion yang juga terancam.


Pemuda yang tersenyum dalam kebahagiaannya. Berharap Sazi tidak akan pernah mengingat hal-hal pahit dalam hidupnya.


***

__ADS_1


Pada akhirnya mobil terhenti di depan rumah mereka. Rumah dengan perapian yang hangat, hari ini Hikaru mungkin tidak akan pulang, memberi kesempatan pada mereka untuk lebih leluasa bersama.


Pintu ditutup oleh Rion, pemuda yang melepaskan tuxedo putih yang dikenakannya. Kucing manja kecil ini sudah lama menggodanya, memohon dengan mata penuh rasa iba untuk dimakan.


Kini dirinya tidak akan menahan diri. Mengapa? Karena sudah terlanjur menikah, jika ingatan Sazi kembali, pasti juga tidak keberatan bukan?


"Aku menginginkanmu," bisik Rion mendekap tubuh pengantin wanitanya, tidak sabaran.


"Tunggu, aku harus mandi dan menghapus riasanku," jawab Sazi, menyesap pelan telinga pemuda itu.


Jantung Rion berdegup cepat, darahnya berdesir. Benar-benar sial! Hanya dengan disentuh seperti ini dirinya bagaikan telah menggila.


Menatap punggung Sazi yang mulai memasuki kamar hendak membersihkan diri.


Sedangkan dirinya bergerak dengan cepat mengambil jubah mandinya, berjalan menuju kamar mandi di dekat ruang tamu.


Bernyanyi seorang diri membersihkan tubuhnya di tengah derasnya air shower. Pantulan tubuh atletisnya terlihat di depan cermin di hadapannya.


Pemuda yang mulai berlatih, dengan kata-katanya nanti di atas ranjang.


"Aku ingin sekarang..."


"Sazi aku mencintaimu, boleh aku membuka pakaianmu?"


"Sazi, boleh aku menciummu lagi?"


"Boleh aku memegang dadamu?"


Rion menggaruk-garuk kepalanya sendiri yang tidak gatal. Berlatih meminta ijin lebih banyak lagi. Tidak menyadari kala napsu telah menguasainya, dirinya tidak akan mengingat untuk meminta ijin lagi.


"Boleh aku mulai berproduksi?"


"Boleh aku memasukkannya?"


"Aaggh...aku harus bilang apa nanti!?" teriaknya belum dapat merangkai kata-kata.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2