
🍀🍀🍀🍀 Kalau ada typo nanti aku edit. Masih di tempat kerja 🍀🍀🍀🍀
Rion menghela napas kasar, menenangkan dirinya. Melepas blazer pria sepanjang lutut yang dikenakannya. Memakaikan pada adiknya yang masih terlihat ketakutan."Aku Rion, kamu melupakanku? Mau permen lollipop rasa strawberry?" tanyanya.
Queen membulatkan matanya menatap ke arah sang kakak yang dikabarkan meninggal 12 tahun yang lalu."Kak Rion?" gumamnya, memeluk sang kakak. Air matanya mengalir, menemukan tempat perlindungan untuk dirinya dan Desi.
"Kakak... syukurlah kakak pulang!! Syukurlah kakak masih hidup!! Kamu pasti kesulitan berenang menelusuri sungai sampai lemakmu menghilang..." gumamnya masih memeluk erat tubuh Rion.
Rion melonggarkan pelukannya, mengancingkan satu persatu blazer selutut yang dikenakannya pada adiknya. Wajah Queen memerah tertunduk malu."Aku bisa sendiri..."
"Jangan menjual dirimu hanya untuk uang. Kamu bisa lebih baik dari itu..." gumam Rion menyentuh kepala adiknya.
Queen menatap ke arah kakaknya, usai mengenakan kancing blazer dengan sempurna. Jantungnya berdegup cepat, menelan ludahnya sendiri. Perlakuan yang sama dengan 12 tahun lalu, namun wajah yang berbeda. Benar-benar menyerupai lukisan kakeknya kala muda.
Seorang pria yang memakai setelan kemeja hitam dasi berwarna silver. Tersenyum hangat menatapnya. Cinta pertama? Mungkin itulah sang kakak baginya dulu. Masih hingga sekarang, saudara tiri satu ibu itulah mereka. Namun, tinggal terpisah selama bertahun-tahun, membuat Queen menganggap istilah kakak hanya sebagai sekedar status omong kosong.
"Kakak..." ucapnya menghela napas, tersipu malu. Matanya sedikit melirik pada jemari Rion. Alat pengaman rasa strawberry masih berada di sana. Dengan secepat kilat, Queen meraihnya, melempar ke tempat sampah.
Aku malu benar-benar malu, kak Rion melihatku tidak memakai pakaian? Bagaimana ini? Bahkan aku memberikan alat pengaman rasa strawberry? Aku sudah gila... batin Queen, ingin rasanya mengambil skop, menggali lubang, mengubur dirinya hidup-hidup. Tidak ingin keluar lagi.
"Kenapa dilempar?" Rion menipiskan bibir menahan tawanya.
"Aku malu!! Aku mengira kakak adalah Ben yang diet..." jawaban jujur dari adiknya.
"Kamu benar-benar melupakanku." Rion meraih sesuatu dari sakunya, kemudian menyerahkannya pada Queen,"Lolipop rasa strawberry, dulu kamu menyukainya,"
Queen tersenyum, rasa nyaman setiap dekat dengan kakak gendutnya masih terasa jelas. Menatap sang kakak yang duduk di sofa dengan tenang. Sifat yang sama dengan rupa berbeda, namun cara bicara juga berbeda terdengar lebih pintar dan dewasa.
Aku ingin menikah dengan kakak... isi fikiran busuk sang adik mulai ikut duduk, menyender pada bahu kakaknya.
Brak...
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat seorang pria berkebangsaan asing memakai setelan jas hitam. Menyeret timbunan lemak, maaf salah menyeret Ben. Menjatuhkannya tepat di hadapan Rion.
__ADS_1
Mata Ben menelisik, menatap ke arah Queen yang menyender pada bahu Rion. Memakai blazer pria sepanjang lutut. Gaun wanita yang lumayan terbuka juga teronggok di lantai.
Apa pria yang kini duduk di sofa sudah melecehkan Queen?
"Apa kamu baik-baik saja ...?" tanya Ben dengan wajah dan pakaian yang basah. Tersungkur di lantai, dengan pergerakan yang masih dikunci Hikaru.
Queen mengangguk, memeluk lengan Rion bermanja-manja padanya. Inilah anak kucing yang diam-diam mencintai kakaknya.
"Jika dia sudah bersedia berbohong, telah melecehkan Queen hari ini. Lepaskan dia! Kenapa masih membawanya kemari?" Rion menghela napas kasar. Tidak nyaman rasanya dengan adiknya yang melekat pada lengannya saat ini.
"Masalahnya dia menyukai Queen..." kata-kata yang keluar dari mulut Hikaru. Masih mengunci pergerakan Ben.
Rion yang sudah mulai risih, mendorong kepala adiknya. Kemudian berjalan mendekati Ben, berjongkok di hadapan pria yang sekitar 10 atau 11 tahun lebih tua dari adiknya itu.
"Kakak gemuk menyukai Queen?" tanya Rion pada Ben, dengan tangan meraih pisau buah berukuran kecil, mendekatkan pada pipi tembem bagaikan bakpao.
"Aku menyukainya, kalian berjanji tidak akan melecehkannya. Bunuh aku saja, jangan membunuhnya, dia masih terlalu muda..." jawaban dari Ben mengepalkan tangannya ketakutan.
"Kenapa menyukai Queen?" tanya Rion semakin penasaran saja.
"Aku menolongmu, karena mengira kamu adalah kakakku. Tapi ternyata bukan..." Queen tersenyum tidak berdosa, kembali mendekati Rion.
"Semenjak itu kamu menjadi fans-nya Queen? Dan selalu ingin bertemu di hotel dengannya?" tanya Rion mulai merasa iba.
Ben mengangguk."Mantan pacarku menyebar luaskan isu, agar mendongkrak popularitasnya, menampilkan dirinya sebagai korban kekerasan. Hingga dirinya dapat diundang berbagai stasiun televisi sebagai korban penganiayaan anak konglomerat. Menjadi bintang film, bahkan ceritanya dibuatkan FTV kisah nyata..."
Queen menghela napas kasar ikut iba juga pada akhirnya."Maaf aku sudah salah paham..." ucapnya, masih menempel pada Rion.
"Apa kamu dilecehkan olehnya?" tanya Ben cemas.
"Sebaiknya cepat pergi, ikuti kata-katanya. Katakan kamu sudah melecehkanku..." kata-kata yang keluar dari mulut Queen.
Namun, Ben benar-benar salah paham, menyangka Queen hanya ingin mengorbankan dirinya untuk Ben. Pria yang benar-benar terharu."Lepaskan Queen, biar aku saja yang tinggal..." ucapnya dengan nada suara bergetar. Bagaikan Romeo, yang mati untuk Juliette.
__ADS_1
Rion lagi-lagi menghela napasnya. Drama rumit yang lumayan aneh."Lepas!" ucapnya mendorong kepala Queen yang kembali menyender pada bahunya.
"Aku kakak Queen. Namaku Rion, kamu menyukai adikku?" tanya Rion pada pria di hadapannya.
Ben tertegun diam, kemudian mengangguk."Aku menyukainya..."
"Kakak, aku..." kata-kata Queen disela.
"Berusahalah mengenalnya, berteman dengannya. Dia mungkin orang yang baik, hanya saja kamu tidak pernah memberinya kesempatan. Berikan dia kesempatan..." ucap Rion pada adiknya.
Queen terdiam sejenak, menghela napas kasar."Kakak sendiri tidak pernah diberi kesempatan oleh orang yang kakak sukai saat SMU kan? Dia mencintai tunangannya! Dia mencintai orang lain! Jika tidak cinta untuk apa dipaksa..."
Rion menunjukkan jemarinya, jari manis dengan cincin yang melingkar."Aku menikahinya. Dia berusaha mengenalku lebih baik. Pada akhirnya dia mencintaiku. Kamu mungkin juga dapat mencintai pria ini, jika sudah mengenalnya. Bertemanlah dulu, tidak akan ada yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian..."
Ben mulai bangkit, tertunduk diam sejenak. Mantan kekasihnya hanya mencintai uangnya saja. Apa Queen juga akan berpura-pura menerimanya nanti demi uang?
"Kita ulangi saja, aku Queen...kita berteman..." ucap Queen mengulurkan tangannya, dengan bibir yang tersenyum.
"Ben..." Ben membalas senyumannya, menjabat tangannya, tidak melompat ke dalam pelukannya. Kemudian meninggalkannya jika sudah mendapatkan cukup banyak uang. Gadis kecil ini hanya ingin berteman.
Sejenak kemudian jabatan tangan itu terlepas...
"Jadi kakak sudah menikah?" tanya Queen memastikan.
Rion mengangguk,"Aku sudah menikah, dengan wanita yang aku kejar ketika SMU,"
"Queen...aku akan berusaha agar kamu menyukaiku. Menjadi pria yang sesuai dengan tipemu..." tekad Ben.
"Tidak mau! Memang kamu bisa menjadi pria penyayang, budak cinta sejati seperti kakakku!? Tidak kan!?" bentak Queen, menunjuk-nunjuk timbunan lemak di perut Ben.
"Aku akan jadi seperti kakakmu!!" Ben menghela napas kasar tidak yakin. Pria dengan penampilan yang sempurna, cara bicara yang tenang. Apa dirinya bisa?
"Itu tidak penting, yang terpenting tujuan kedatangan kami. Menyingkirkan Gerald, mencincang dan menguburkannya. Kemudian mengambil kembali semua aset Rion..." kata-kata dari mulut sang jenderal, menginginkan dengan segera mengangkat kaisarnya.
__ADS_1
"Aku seperti sapi perah..." gumam Rion menatap asistennya yang materialistis.
Bersambung