Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Sama Saja


__ADS_3

🍀🍀🍀🍀 Bocil menyingkir! Mengandung konten dewasa, walaupun tidak fulgar 🍀🍀🍀🍀


Hany menghela napas kasar, mengambil bantal dan selimut untuk tidur di lantai. Hingga gerakan tangannya terhenti, mendengar kata-kata Hikaru.


"Apa ini trikmu untuk berhubungan tanpa diketahui anak kita?" tanya Hikaru menatap curiga.


"Maksudnya?" Hany mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Jika diatas sini, Hiruma akan terbangun kalau ranjang berdecit sedikit saja. Mungkin di lantai memang tempat yang lebih baik..." sinisnya tidak tahu malu."Kita akan melakukannya di lantai? Kamu yang memimpin permainan atau aku yang memimpin?"


Hany spontan mengangguk, membenarkan dengan fikiran mesum pemuda di hadapannya. Sejenak kemudian dengan cepat menggeleng, tidak ingin sang pemuda menyemai bibitnya lagi."Tidak mau! Lebih baik kamu pergi atau aku lapor pak RT..."


Hikaru masih saja berbaring,"Aku tidak bodoh budaya di sini lebih menguntungkan untukku. Kalau tertangkap tidur bersama, maka kita akan dipaksa untuk menikah,"


Hany menunduk, yang dikatakan Hikaru benar. Lantai bukan tempat yang aman baginya, pria itu akan lebih bebas lagi berbuat semaunya. Mungkin akan mencetak anak kedua, dapat dibayangkan olehnya melarikan diri dalam keadaan hamil dan harus menuntun Hiruma yang hampir berusia 5 tahun. Itu tidak boleh terjadi, dirinya tidak bisa tidur di lantai.


Melapor pak RT sama dengan dinikahkan. Dirinya tidak ingin menjadi istri si br*ngsek. Karena itu dengan terpaksa Hany membaringkan tubuhnya di samping Hikaru.


Posisi saat ini Hiruma berada di pojok dekat tembok, Hikaru di bagian tengah, sedangkan Hany berbaring di samping Hikaru.


"Kurang luas," Hikaru menghela napas kasar, tidak dapat bergerak sama sekali di atas ranjang kapuk yang sempit.


"Ingin luas? Sebaiknya kembali ke tempatmu berasal, ranjang di kamarmu berukuran king size. Aku yakin para selirmu sedang menunggumu di atas ranjang..." sinis Hany.


Semua masih terbayang di benaknya, kala memiliki kekasih tukang antar makanan. Pemuda yang selalu tersenyum padanya, mengantarkan makanan ke apartemen sempit tempatnya tinggal.


Hidup bagai Cinderella? Itu bukanlah impiannya. Hanya jatuh cinta pada sang kurir. Hingga dirinya memberikan kesuciannya setelah satu tahun menjalani hubungan kasih. Memintanya untuk menikah? Itu sudah pernah diutarakannya.


Namun berbagai alasan diucapkan pacarnya yang sederhana, datang hanya saat jam makan siang dan malam dengan helm merahnya. Pemuda unik yang tersenyum padanya.


Dan beginilah kenyataannya. Pemuda itu adalah ketua kelompok pembunuh bayaran yang entah memiliki berapa banyak selir.


Menyebalkan? Menjijikkan? Ingin rasanya Hany mengumpat kala dirinya luka parah akibat melindungi Hikaru sang tukang antar makanan. Mengalami luka tembakan dari dada menembus ke punggungnya, saat dirinya tengah mengandung beberapa minggu.


Si br*ngsek yang merangkul dan mencium wanita lain saat dirinya berusaha menemuinya. Mengalihkan pandangannya, seolah tidak mengenalnya, kala dirinya didorong menggunakan kursi roda.


Mengurungnya dengan penjagaan ketat, tidak membiarkan dirinya keluar dari villa selangkah pun. Sementara Hikaru bersenang-senang dengan wanita lain.


Sungguh, si br*ngsek ini, entah ada angin apa berani menyusulnya setelah lebih dari lima tahun.


"Ada alasan kenapa dulu aku mengacuhkan mu, dan memintamu untuk menunggu. Tapi memang lebih baik saat itu kamu melarikan diri... maaf sudah mengurungmu..." kata-kata hangat dari Hikaru memeluk tubuh Hany dari belakang.


Merindukannya? Tentu saja, menghirup aroma tubuh Hany dalam setiap tarikan napas. Orang yang membuatnya putus asa hingga meninggalkan segalanya.

__ADS_1


Sedangkan Hany menghela napas berkali-kali. Memikirkan strategi untuk kabur besok. Mungkin dirinya memang harus pergi ke perkebunan kelapa sawit.


Atau pulang kampung dengan anak pak lurah. Menikah di kampung saja dengan anak pak lurah, sang perjaka tua. Hiruma mungkin akan beradaptasi dengan mudah.


Sudah saatnya anaknya yang dapat mengalahkan orang-orang bertubuh lebih besar di arena judo, turun ke kampung. Berhenti bermain gadget, atau bermain game.


Dirinya akan menikah dengan anak pak lurah. Tidak akan takluk oleh si br*ngsek.


"Hany," bisik Hikaru, sensual di telinganya, menghembuskan napas menggoda di lehernya.


Tangannya merayap, memijat pelan area sensitif bagian atas wanita itu."Kita akan menikah. Setelah tujuanku tercapai, kamu tidak akan terluka lagi..."


"Hentikan, nanti Hiruma bangun...dia..." kata-kata, Hany terhenti pemuda itu telah bergerak, mengunci pergerakan tubuhnya. Tepat berada di atas tubuhnya.


"Diam dan nikmati...aku merindukanmu, kamu juga kan? Jangan munafik... karena inilah kamu belum menikah hingga sekarang," bisiknya lagi dengan deru napas tidak teratur.


Hany ingin melawan, namun ciuman memabukkan bersarang di bibirnya. Membuat dirinya membuka mulutnya, perlahan menerima sentuhannya begitu saja. Pacar pertama yang dirindukannya, pria berwajah rupawan yang selalu menemuinya di apartemen atau toko furniture dengan helm merah, berisikan cap brand salah satu toko makanan.


Pemuda yang menjalani hubungan kasih dengannya selama 2 tahun.


"Hikaru hentikan..." pintanya kala dirinya yang terbakar napsu melupakan segalanya. Tidak terasa membiarkan helai demi helai pakaiannya dilepaskan hingga tak bersisa.


Tubuh yang sama-sama tidak terhalang sehelai benangpun. Pakaian yang berserakan di lantai."Kamu tidak menginginkannya?" tanya Hikaru.


Hanya sekali, tidak akan hamil. Setelah ini dirinya akan kembali pergi, tidak ingin bertemu Hikaru lagi. "Aku...akh.." suara pekikannya tertahan oleh jemari pemuda itu.


Pemuda yang bagaikan merasakan kenikmatan serupa kala tubuh mereka telah disatukannya. Dua orang yang menjaga suara mereka tidak banyak keluar, mengingat seorang anak yang tengah tertidur nyenyak.


Hal yang dilakukannya? Berciuman menikmati segalanya. Menjaga bibir mereka tetap bungkam kala tubuh mereka berguncang. Melepaskan kerinduan mereka.


Dirinya benar-benar dijebak oleh Hikaru. Tidur di lantai pria itu akan lebih ganas lagi. Di tempat tidur ternyata sama saja.


"Aku hampir mati karena putus asa, tidak menemukan jalan untuk bersama denganmu..." bisiknya di telinga Hany.


Ini sungguh sulit ditolak oleh wanita yang bukan berstatus janda, seorang gadis pun bukan. Tampan, bertubuh proposional, memiliki senyuman yang menaklukkannya, di tambah lagi perasaan cinta dari hubungan yang dulu berjalan dua tahun.


Dirinya tidak dapat menolak sama sekali, mengeratkan pelukannya, kala merasakan sesuatu mengalir ke inti tubuhnya dalam penyatuan.


Wanita yang masih tetap pada rencananya semula. Pergi dari pemuda rupawan yang tengah mengatur napasnya."Kita akan menikah, aku akan melindungimu..."


"Tidak mau. Pulanglah, kembali ke tempatmu berasal..." ucap Hany acuh mengatur napasnya yang tidak teratur.


"Masih keras kepala juga?" Hikaru mengenyitkan keningnya. Seakan tidak lelah, kembali mengguncang tubuh itu.

__ADS_1


"Kamu tidak lelah?" ucap Hany bingung harus bagaimana. Pemuda ini akan menyemai bibitnya lebih dari sekali? Bagaimana jika dirinya hamil lagi?


"Hentikan ya...akh..." pekiknya tertahan, menikmati segalanya. Bahkan kala pemuda itu membalik posisinya, memangku dirinya. Membiarkan Hany bergerak liar.


Dua kata dalam benak Hany, 'Untung cinta.' Jika tidak, disentuh pun dirinya enggan. Tapi Hany memang merindukannya. Hanya malam ini saja, menonggakan kepalanya menikmati segalanya. Membiarkan tubuhnya diombang-ambing oleh sang pemuda, yang tengah memangkunya dalam penyatuan. Menikmati area sensitif bagian atasnya yang bergerak tidak tentu arah di hadapan wajah rupawannya.


Ini benar-benar nikmat, melupakan segalanya. Sebuah dosa yang membuat mereka memiliki Hiruma. Dan kini mengulangi dosa lainnya.


Hany meremat rambut Hikaru, bingung harus bagaimana mengungkapkan rasa yang menghampirinya.


***


Pagi menjelang, Hany membuka matanya menatap tempat tidur yang kosong tanpa kehadiran Hikaru dan Hiruma. Wanita yang hanya masih berbalut selimut itu terlihat panik. Apa si br*ngsek dewasa membawa si br*ngsek kecil pergi?


Dengan cepat, membersihkan dirinya memakai pakaian rapi. Air matanya mengalir dalam kepanikan, sungguh si br*ngsek kurang ajar. Dengan otak sadisnya tega memisahkan ibu dari anaknya. Seharusnya dirinya berusaha pergi tadi malam saja, membawa Hiruma melarikan diri, tidak melakukan berkali-kali dengannya.


Hany yang hendak pergi mencari keberadaan Hikaru membuka pintu depan kamar kostnya.


Hingga perasaan lega terasa...


Kedua makhluk br*ngsek itu benar-benar terlihat masih di sana. Menurunkan banyak belanjaan dari mobil.


"Kamu sudah bangun?" tanya Hikaru tersenyum.


"Ibu, ayah pulang tadi pagi. Membangunkanku pukul 5. Membawaku berbelanja keperluan rumah dan mainan," kata-kata yang keluar dari bibir putranya.


Hany mengenyitkan keningnya. Dua orang yang memang mungkin alarm otaknya ter set pukul 5 pagi. Dapat bangun selalu tepat waktu.


"Dari mana kamu yakin orang ini ayahmu?" tanya Hany pada putranya.


"Ibu membiarkannya menginap, dia ayahku kan? Kami mirip..." tanya Hiruma masih sedikit ragu.


"Aku ayahmu, kita pindah ke tempat yang lebih luas. Memindahkanmu ke sekolah bertaraf internasional..." ucapnya tersenyum.


Beberapa ibu-ibu yang lewat mulai berbisik-bisik membicarakan wanita yang berstatus singgel parents itu.


Mencurigai itu adalah ayah Hiruma, bahkan ada juga yang mengira Hany menjadi istri simpanan pengusaha kaya.


Bisik-bisik ibu-ibu yang masih dapat didengar olehnya.


Mungkin akan lebih baik menjadi istri simpanan pengusaha. Dari pada istri sah si br*ngsek. Apa si br*ngsek benar-benar akan menikahinya? Dirinya tidak peduli.


Yang jelas, setelah ini harus melarikan diri bersama Hiruma, sebelum dirinya tergoda untuk kembali berhubungan. Tidak ingin dipenjara dalam villa diawasi banyak orang-orang bersenjata. Menatap pria yang dicintainya berciuman dengan wanita lain.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2