Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Rion


__ADS_3

Hari yang baru, sinar matahari tropis yang hangat melewati jendela dengan tirai yang terbuka. Suara alat makan beradu terdengar, tidak ada begitu banyak pembicaraan.


Hingga Sazi menghentikan aktivitas makannya sejenak."Ibu, boleh aku bekerja?"


Dini terdiam, melirik ke arah Andres selaku psikolog yang menangani Sazi. Pemuda yang menghentikan aktivitas makannya sembari tersenyum mengangguk. Bagaikan memberikan instruksi Sazi sudah siap menjalani kehidupan normal.


"Boleh, nanti ibu akan menghubungi CEO, agar memberi kordinasi bagian HRD memberikan jabatan padamu," ucapnya tersenyum, mengusap pucuk kepala putrinya.


"Dia hanya memiliki gelar S1 seni rupa. Ijasah yang bisa digunakan hanya ijasah SMU. Paling cuma ditempatkan menjadi office girl..." sindir Alexa, sembari menikmati sarapannya.


"Bibi, bagaimana jika Sazi menjadi asistenku saja. Dia dapat belajar pelan-pelan tentang perusahaan..." kata-kata dari mulut Dave membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya.


Mampus, perselingkuhan antara asisten dan bosnya akan terjadi. Setelah ini Hikaru akan mencincangku... batin Andres, tersedak mendengar kata-kata Dave.


Tangan Alexa mengepal, hubungannya dengan Dave memang tidak seperti dulu. Sudah cukup bosan dengan Dave yang merupakan hanya boneka kedua orang tuanya.


Tapi suaminya berani kembali menyukai Sazi? Tidak, dirinya tidak boleh kalah.


"Dave, aku bisa mencarikan asisten yang kompeten untukmu, aku mempunyai banyak kandidat yang sesuai." ucap Alexa.


"Kita adalah keluarga, Sazi adalah sepupumu. Kamu tidak mempercayaiku?" tanya Dave tersenyum, membalik kata-kata Alexa 4 tahun ini.


Sazi yang duduk di samping Andres berbisik pada pemuda itu, sambil memakan potongan buah."Grandong sedang memprovokasi nyi Blorong untuk bertarung..."


"Grandong? Apa itu tokoh elien jahat di Avenger?" tanyanya kembali makan, sembari mengamati situasi.


Sazi menghela napas kasar. Inilah yang terjadi ketika adat budaya tradisional tergerus citra barat. Tapi Andres memang dari Spanyol bukan?


***


Alexa berusaha tersenyum."Sazi berbeda dia mantan istrimu..."


Kali ini Dini mulai angkat bicara, Sazi adalah aset berharganya. Tidak akan diberikannya pada Dave."Alexa benar, Sazi harus menata hidupnya sendiri. Aku juga berencana mengatur perjodohan Sazi, dengan anak pengusaha lain. Tapi ini baru rencana. Sazi, kamu mau kan sayang?" tanya Dini pada putri sambungnya.


"A...aku sudah menikah..." jawaban dari Sazi membuat semua orang seketika terdiam sejenak. Menikah? Dengan siapa? Apa Andres?

__ADS_1


"Menikah? Kamu jangan bercanda. Tidak mungkin ada pria yang bersedia menikahimu..." kata-kata dari mulut Dini, penuh kekecewaan.


Sazi tertunduk memilin jemarinya, berkata dengan jujur. Berharap saat ketahuan oleh Rion, suaminya tidak akan murka."Aku menikah dengan teman SMU-ku namanya Rion..." jawaban dari mulutnya, membuat Dave menghela napas lega.


"Sazi, Rion sudah meninggal dalam kecelakaan bis 12 tahun yang lalu. Apa kamu mengalami delusi?" tanya Dave menatap iba.


Sazi menggeleng, berkata jujur, berharap ucapannya akan dianggap angin lalu sebagai wanita dalam pemulihan pasca depresinya. Agar memiliki alasan pada Rion nantinya, dirinya mengatakan sudah menikah. Tapi, tidak ada yang percaya dirinya telah menikahi si roti bantet."Hanya Rion yang menyayangiku. Karena itu aku menikah dengannya..." air mata penuh drama itu mengalir.


Seakan-akan dirinya memang mengalami delusi menikah dengan sahabat SMU-nya, Rion si roti bantet yang telah mengalami kecelakaan 12 tahun lalu."Hanya dia yang peduli. Dia yang menjagaku, memelukku setiap malam dan..."


"Sazi, lihat aku, Rion sudah mati, karena kecelakaan..." ucap Dave menyakinkan.


"Siapa Rion?" tanya Dini memastikan.


"Dia teman Sazi ketika SMU. Sempat mengejarnya tanpa melihat cermin, pria gemuk yang memiliki ayah seorang kuli angkut di pasar. Dia memang memperlakukan Sazi dengan baik, tapi umurnya tidak panjang. Rion meninggal ketika kami SMU..." Dave menghela napas kasar, cukup lega baginya makhluk itu sudah meninggal 12 tahun lalu.


Si bantet yang selalu mengejar Sazi. Mungkin jika Rion masih hidup, akan membawa Sazi yang depresi dari rumah sakit jiwa. Kemudian memanfaatkan segala kesempatan untuk menikahinya. Mengingat pemuda gemuk yang bermata tajam, selalu mengintai bagaikan burung elang. Mencari celah memisahkan dirinya dan Sazi.


"Rion tidak mati..." air mata Sazi mengalir membasahi pipinya, mengepalkan tangannya.


Andres menghela napas kasar, haruskah dirinya terlibat dalam situasi lebay ini? Pria yang mulai bangkit."Jangan menangis, ayo kita ke taman belakang. Kita bicara berdua..." ucapnya bagaikan hendak memberikan konseling.


Dini menghela napas lega, hanya perlu menyembuhkan Sazi sepenuhnya. Matanya menatap tajam pada Alexa dan Dave."Sebaiknya kalian jangan menunda untuk memiliki keturunan..."


Alexa mengenyitkan keningnya mulai bangkit, meraih tas dan kunci mobilnya."Aku dikelilingi oleh orang-orang mandul. Ibu sambungku mandul dan suamiku juga mandul..." sindirnya, tidak mengetahui dirinya-lah yang kesulitan untuk mengandung. Rahasia yang ditutup rapat-rapat oleh Frederick, bahkan tidak mengatakannya pada Alexa. Tidak ingin Dave meninggalkan putrinya.


Dini dan Dave hanya terdiam menatap kepergian Alexa, kembali melanjutkan sarapan mereka. Sedangkan Fredric? Entah berada di ranjang perempuan mana pagi ini.


***


Prang...


Suara pecahan kaca terdengar, air mata seorang pemuda mengalir mengepalkan tangannya. Merindukan istrinya? Tentu saja, mencari tau travel mana yang digunakan Sazi untuk berlibur, hendak menghubungi hotel tempat Sazi menginap.


Tapi hasilnya nihil, Sazi tidak berada di Afrika Selatan. Handphone Andres juga tidak dapat dihubungi.

__ADS_1


Rion terdiam menatap kamarnya yang sepi, dirinya harus tetap tinggal di Spanyol untuk satu atau dua bulan ini.


Sazi sudah mengingat segalanya? Semua terbersit di fikirannya. Kala Hikaru meretas jaringan telekomunikasi, melacak data penerbangan Sazi dan Andres. Sazi kembali ke negara asal mereka, tanpa mengatakan apapun padanya. Mungkin istrinya memang lebih mencintai Dave setelah ingatannya kembali.


Hikaru berjalan memasuki kamar Rion membawa beberapa map. Diikuti dengan seorang pelayan yang membawakan sup hangat dan air putih.


Rion tersenyum lirih."Setelah semua ini dia tetap tidak mencintaiku..." gumamnya dengan air mata tertahan di pelupuk matanya.


"Fokuslah bekerja..." hanya itu kata-kata dari Hikaru meletakkan mapnya. Tidak pandai menghibur majikannya.


Rion mengangguk, duduk di tepi tempat tidur hanya mengenakan piyama. Mulai membuka beberapa map sembari meneteskan air mata, menahan sesak di dadanya. Semangkuk sup yang diletakkan pelayan tidak disentuhnya. Hanya fokus bekerja, tanpa tujuan.


Pria yang kehilangan arah, melakukan pekerjaannya dengan kepala dingin. Wajahnya nampak pucat, bibirnya memutih, pria yang kini tengah demam tinggi. Hanya dapat menghibur dirinya dengan setumpuk berkas, tidak mengindahkan kata-kata Hikaru dan dokter yang sempat memintanya beristirahat total.


Rion perlahan tersenyum."Kirimkan sejumlah uang ke rekening Sazi untuk bekalnya disana. Setelah perjanjian bisnis ini berakhir, ratakan rumah ini. Aku ingin membuat taman bunga yang indah..."


"Jaga kesehatanmu, makanlah! Mungkin Sazi akan kembali. Atau sebaliknya kita menyusulnya, aku akan mengajari Andres bagaimana seharusnya mencegah..." kata-kata Hikaru yang terlihat tanpa senyumannya disela.


Rion menggeleng, tidak ingin merasakan sakit lagi."Setelah ini, kita tinggalkan Spanyol. Aku ingin pergi ke tempat lain, tempat tenang, yang sulit untuk ditemukan..."


Bersambung


...Bongkahan es? Mungkin hanya itulah arti hidupku......


...Tidak terbersit, betapa menyakitkan kala cahaya matahari, menyengat tubuhku yang meleleh perlahan......


...Melindungimu di tengah terpaan badai salju. Sebuah biji tanaman kecil yang tidak pernah bahagia dalam pelukan sebongkah es......


...Mungkin itulah dirimu biji tanaman kecil, hingga sinar matahari yang meninggalkanmu, menginginkanmu kembali......


...Menghancurkanku yang menemanimu kala musim dingin menerpa......


...Yang dirindukan benih kecil, hanya sinar matahari, bukalah sang bongkahan es......


...Karena aku hanya bongkahan es yang bodoh, memelukmu hingga akhir, musim dingin......

__ADS_1


...Kini aku melepaskanmu, demi senyumanmu......


Rion...


__ADS_2