Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Mouse


__ADS_3

Mimpi yang benar-benar indah, matanya yang tertutup terasa silau. Malas untuk bangun? Tentu saja, ini adalah hari minggu. Sazi mengeratkan pelukannya pada bantal guling yang seharusnya tidak sixpack.


Mimpi mesumnya masih teringat jelas di benaknya. Menenggelamkan dirinya pada bantal guling yang seharusnya terasa bantet. Aroma yang benar-benar nyaman dari bantal guling. Aroma... seperti aroma parfum pria...


"Tunggu, parfum pria?" gumamnya menyadari bantal gulingnya terasa tidak bantet. Matanya terbuka dengan cepat. Wajah rupawan yang semalam dalam mimpi mesumnya terlihat.


Pemuda yang tertidur nyenyak, dengan wajahnya masih nampak pucat. Mata terpejam, diterpa sinar matahari. Sazi segera menarik tangannya yang menyusup ke dalam sweater yang dikenakan Rion. Tangan sialan yang menyentuh otot-otot perut dan dada suaminya.


Sazi mulai duduk, tertawa kecil."Aku pasti masih bermimpi..." asumsinya.


Sejenak kemudian matanya sedikit melirik, ini adalah mimpi, mimpi gilanya. Suaminya saat ini masih berada di Spanyol. Jadi, bukankah dirinya bebas berbuat apapun, jika ini hanya mimpi?


Bibirnya mencium setiap sudut wajah Rion, pemuda yang mulai merasa tidak nyaman, perlahan membuka matanya.


"Sttt..." desis wanita itu, menyentuh bibir suaminya yang hendak bicara dengan jari telunjuknya.


Rion terdiam menelan ludahnya, menatap ke arah Sazi yang duduk di atas perutnya, menindihnya dengan wajah yang sejajar."Kamu sangat menyebalkan, dapat terlalu lama mempermainkanku di ranjang setiap malam. Bagaimana jika kamu yang aku goda kali ini? Ini hanya mimpi, jadi aku dapat berbuat apa saja padamu..."


Kata-kata sensual darinya, meraih syal yang ada di laci bawah tempat tidur, mengikat tangan Rion. Menolak? Saat seperti ini, pemuda itu hanya dapat menahan senyumnya, sembari pasrah menerima apapun, merelakan segalanya.


Bibir pemuda itu dipangutnya, merasakan sensasi yang berbeda, masih juga belum sadar ini bukanlah mimpi. Bahkan wanita ini mengigit bagian bawah bibir Rion karena gemas.


"Baby... panggil aku sugar momy walaupun kita seumuran..." bisik Sazi, di telinga Rion.


Pemuda itu menghela napas kasar, dirinya ingin, benar-benar ingin. Tapi sayang sekali tenaganya sudah terkuras habis, akibat demam tinggi selama 15 hari. Jika dipaksakan pun, mungkin dirinya yang masih merasa pusing akan tidak sadarkan diri saat berhubungan badan dengan istrinya.


Karena itu...


"Kenapa tidak jadi ke Afrika Selatan?" tanya Rion mengenyitkan keningnya, menatap tajam.


"Aaa...asli!!" teriak Sazi refleks melompat dari atas tubuh suaminya, baru menyadari ini bukan mimpi mesumnya. Bahkan menjauh melompat turun dari tempat tidur, mundur sekitar tiga langkah.

__ADS_1


Aku mengikat tangan suamiku, naik ke atas tubuhnya. Bahkan menyuruhnya memanggil Sugar Momy!! Aku malu... batinnya ingin rasanya bersembunyi di lubang semut atau mengubur dirinya hidup-hidup.


"Kenapa berhenti sayang!?" tanya Rion memaksakan dirinya tersenyum, melepaskan ikatan tangannya sendiri.


"Aku... Rion aku..." ucapnya gugup.


"Semalaman kamu mengigau, seperti sedang melakukannya denganku. Apa kamu sering memimpikannya?" Rion menatap ke arah istrinya.


Sazi mengangguk jujur, sejenak kemudian menggeleng dengan cepat, benar-benar memalukan baginya. Mungkin lumayan manusiawi, dua tahun dirinya selalu ingin disentuh oleh suaminya. Tapi setelah satu minggu disentuh setiap malam, wanita itu mulai kecanduan. Berpisah? Mimpi yang kadang-kadang datang, memimpikan suami yang berada jauh darinya.


"Maaf, membuatmu kecewa. Aku tidak sedang tidak enak badan..." pemuda yang tersenyum dengan bibir putih mengering.


"Tidak enak badan?" tanya Sazi mulai mendekat, baru menyadari wajah suaminya yang pucat pasi, dengan rambut dan wajah mengeluarkan keringat dingin. Pertanda suhu di tubuhnya sudah menurun.


"Bodoh! Kalau sakit tidak usah menyusul ke sini!!" bentak Sazi, kembali mendekati tempat tidur, memeriksa suhu kening suaminya, menggunakan tangannya. Tidak menyadari dirinya yang bersalah dalam hal ini.


"Aku memang bodoh..." Rion hanya tersenyum padanya."Boleh aku bersembunyi di kamarmu, sebelum Hikaru datang mencariku nanti?"


"Kenapa? Kamu tidak datang bersama Hikaru?" tanya Sazi, menuangkan air putih dalam gelas, membantu Rion meminumnya.


***


Seorang pria menyalakan rokoknya, mulutnya mulai mengeluarkan asap."Dia tidak ada?" tanyanya, setelah pintu kamar kost dibuka.


"Tidak..." jawaban dari anak buah seorang pria yang masih menghisap rokoknya.


"Bereskan," perintahnya, berjalan masuk ke dalam tempat kost yang di tempati Rion.


Dor...


"Aggkh..."

__ADS_1


"Tolong...to... to...tolong..."


Suara beberapa tembakan terdengar, diselingi suara teriakan dari beberapa orang yang mungkin dibunuh menggunakan belati. Tujuannya? Tentu saja menghilangkan saksi mata yang melihat mereka, menggeledah kamar Rion.


Darah berada di setiap kamar, orang-orang yang menggunakan sarung tangan karet mengambil benda berharga tanpa bermaksud menjualnya. Hanya agar terlihat bagaikan aksi perampokan, tidak ingin jejak perkumpulan mereka diendus kepolisian daerah, atau lebih buruk lagi kepolisian internasional.


Tembok, lantai, semua terkena cipratan darah dari orang-orang yang tidak mengetahui apapun. Mata korban yang sebagian besar masih terbuka, dengan tubuh berlumuran darah segar, jiwa-jiwa yang terlihat dipenuhi dendam, menjelang kematiannya.


Pria yang masih menghisap rokoknya itu, menggeledah semua tempat. Mencari petunjuk tentang kemana tujuan sasaran dengan bayaran tertinggi.


Informasi keberadaan Rion yang mereka dapatkan? Sejatinya dari meretas data kependudukan, kala pemuda itu menunjukkan kartu identitasnya pada ketua RT setempat. Data yang masuk sebagai penduduk pendatang.


Wajah Rion saat ini? Mereka tidak mengetahui sama sekali. Hanya dari kartu identitas lama, kala pemuda itu masih SMU dan tahi lalat di lehernya.


Kamar kost kosong, tidak ada apapun di dalamnya, bahkan sehelai pakaian pun. Pria ber-IQ tinggi yang bergerak dengan rapi, membeli pakaian murah, berganti di toilet umum, setelah membuang pakaiannya.


Siapa sangka akan sesulit ini hanya untuk melacak seekor tikus tanpa perlindungan...


"Sial..." umpat sang pria, melempar tempat tidur spon. Dirinya bagaikan kalah langkah.


Ini lebih sulit dari pada membunuh politisi atau orang kaya dengan penjagaan ketat. Berpindah-pindah bagaikan hantu, tidak terlihat, tanpa jejak sedikitpun.


Benar-benar sial, lebih mudah jika pemuda itu bersembunyi di kantor polisi. Mereka dapat menyamar sebagai polisi atau masuk sebagai tahanan. Menyuntikkan racun berdosis tinggi untuk membunuhnya.


Tapi kini? Keberadaan b*debah itu entah ada dimana. Pantas mendapatkan gelar, sasaran dengan bayaran tertinggi.


Pria yang tengah menghisap rokoknya, menghela napas berusaha untuk bersabar. Puntung rokok dihisap sekali lagi olehnya, dibuang dalam tempat sampah yang berisikan dedaunan kering olehnya.


Tempat sampah yang perlahan terbakar, ditinggalkan olehnya dan kelompoknya. Jenius yang pandai bersembunyi, bagaikan pemain catur ulung, itulah Rion.


"Cek data penerbangan, pemesanan tiket melalui online, dan retas rekaman CCTV di area beberapa minimarket, tangkap pemuda yang memiliki tahi lalat di area lehernya. Dia tidak akan bisa hidup tanpa makanan dan minuman..." perintahnya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


Bagaikan membuat sangkar yang tidak akan dapat dilewati Rion. Memasang umpan berupa makanan hangat, bagi seekor tikus kecil yang terkurung, kelaparan.


Bersambung


__ADS_2