Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Pendarahan


__ADS_3

Malam semakin larut, wajah itu terlihat lemah. Selang terpasang di mulutnya. Hikaru mulai tersenyum, membelai wajah kekasihnya."Syukurlah kamu masih hidup..." kata-kata darinya mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.


Jemari tangannya terangkat, membelai pelan perut rata wanita di hadapannya. Setetes air matanya tiba-tiba mengalir."Hany..." panggilnya dalam senyuman, tepatnya berusaha tersenyum. Dirinya akan menjadi seorang ayah.


Namun seorang pria yang masih takut hingga sekarang. Ketakutan akan kehilangan tempat ternyaman baginya.


"Aku akan melindungi kalian, membeli apapun untuk kalian..." kata-kata dari mulutnya penuh senyuman, tepatnya berusaha tersenyum.


Pria yang terisak...


***


Akan ada hari dimana seseorang terbangun dari mimpinya. Itulah yang dirasakan Hany, kala pagi menyingsing. Tubuhnya tidak dapat bergerak dengan sempurna. Matanya menelisik mengamati ruangan yang ditempatinya.


Hingga samar-samar terdengar seseorang berteriak, pasien sudah sadar. Dirinya hanya dapat terdiam. Tidak mengerti dengan situasi saat ini, bergerak pun rasanya sulit."Dimana Hikaru...?" tanya Hany pada seorang perawat wanita.


"Ketua tidak berada di tempat..." kata-kata yang keluar dari dua orang petugas medis yang saling melirik.


"Ketua?" Hany mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Salah seorang dari mereka mengangguk. Sedangkan Hany hanya terdiam tidak dapat berucap lebih banyak. Tubuhnya terasa sakit, jika terlalu banyak bicara.


Sebuah istilah yang tidak dimengertinya. Hingga di hari ketiga, Hikaru tidak menemuinya sama sekali. Seorang dokter berjalan mendorong kursi rodanya.


"Aku sudah tidak apa-apa. Dimana Hikaru?" lagi-lagi kata-kata itu yang diucapkan Hany.


Sang dokter hanya terdiam, kemudian menghela napas kasar.


"Aku ganti pertanyaannya, ini dimana dan apa yang dimaksud dengan ketua?" tanyanya kembali.


"Ketua pimpinan kelompok pembunuh bayaran. Tolong gugurkan kandunganmu," Andres tiba-tiba datang menyela pembicaraan mereka.


"Ketua kelompok pembunuh bayaran?" tanya Hany memastikan.

__ADS_1


Andres mengangguk."Iya, ketua kelompok pembunuh bayaran. Itulah Hikaru..."


Hany tertunduk mulai memikirkan segalanya. Senjata api yang pernah terjatuh dari saku Hikaru ketika mereka hendak berhubungan. Senjata api yang dikatakannya sebagai mainan keponakannya yang tertinggal. Tembakan yang membidik kekasihnya, ini bukan merupakan sebuah kebetulan.


"Apa Hikaru selamat?" kata-kata aneh dari bibirnya yang bergetar. Mencemaskan pemuda keji itu? Untuk apa? Hany-lah yang terluka saat ini. Bukan seorang Hikaru.


"Dia masih hidup, jangan mencintainya lagi. Dia hanya menganggapmu sebagai mainan dan sekarang dia sudah bosan. Karena itu jaga kandunganmu baik-baik jika tidak mungkin suatu saat nanti kami akan mengeluarkannya secara paksa..." kata-kata ancaman dari bibir Andres.


Hany hanya dapat tertunduk sejenak, mengepalkan tangannya. Dirinya sudah muak, jika semua perasaan ini adalah kebohongan."Aku ingin pulang... ibu aku ingin pulang..." racauannya.


"Tetaplah tinggal disini," hanya itu kata-kata dari bibir Andres berjalan meninggalkan Hany.


Hany masih terisak tertunduk diam. Isakan tangisannya semakin lirih terdengar. Tidak menyadari seorang pemuda menatap segalanya dari lantai dua.


Tidak mengetahui yang mana kawan dan yang mana lawan. Tangan Hikaru mengepal, akan melakukan apapun untuk istri dan calon anaknya.


***


Pakaian terbaik, vitamin dengan harga termahal, makanan menggugah selera, segalanya ada di villa ini. Tidak pernah ada yang kurang. Irisan daging mulai dipotongnya, wanita yang makan seorang diri. Mulai menatap ke arah depan, fatamorgana kekasihnya terlihat. Pria baik hati yang selalu, makan bersamanya kini tidak ada lagi.


Tapi angan tinggal angan jika mengetahui akan seperti ini. Lebih baik dirinya tidak jatuh cinta, tidak pergi bekerja ke luar negeri.


"Hikaru," panggilnya, berusaha menggerakkan kursi rodanya.


"Kembalilah ke kamarmu..." pemuda itu berucap dengan nada dingin. Merangkul seorang wanita rupawan.


"Sayang dia siapa?" tanya wanita penghibur yang disewa Hikaru.


"Dia? Hanya sampah bekas pakai yang sudah bosan untukku lihat," jawaban dari Hikaru, membawa sang wanita ke kamar terbesar di villa tersebut.


Air mata Hany menetes, tidak apa, ini hari pertamanya bicara dengan Hikaru.


Hingga pada pertemuan kedua. Pria itu memangku wanita lainnya, bahkan menyuapinya dengan anggur di hadapan seorang klien.

__ADS_1


Terdiam tanpa ekspresi, wanita hamil itu mulai berjalan mendekat."Hikaru, aku ingin kembali. Karena aku adalah sampah, tolong buang aku. Aku ingin kembali hidup normal,"


Hikaru terdiam, jemari tangannya mengepal. Hany tidak boleh meninggalkannya. Hanya Hany hanya milikinya."Jaga dia! Jangan biarkan dia melarikan diri!"


"Ka...kamu sudah tidak mencintaiku!! Jadi biarkan aku pulang!!" teriaknya dalam tangisan.


Dua orang pengawal datang menghampirinya. Menarik Hany paksa untuk mengikuti mereka. "Aku ingin pulang, aku membencimu!! Tidak seharusnya aku menolak anak pengusaha tas!! Aku sudah buta, karena jatuh cinta padamu!!" teriakan dari mulut Hany.


Membenci? Apa ini akhirnya? Hikaru hanya terdiam tanpa ekspresi. Kini Hany telah membencinya, apa lagi yang dirinya cari.


Sebuah piringan tembikar yang telah pecah tidak akan dapat disatukan kembali. Hany akan mengerti, kala dirinya menemukan titik aman maka dirinya akan melamar Hany. Benar-benar menikahinya...


Malam semakin menjelang sudah 4 minggu dirinya berada di sangkar emas, terbangun membuka matanya. Kala alunan suara musik terdengar di lantai satu, pertanda sebuah pesta diadakan.


Hanya orang-orang kelas atas yang hadir. Kekasihnya terlihat rupawan disana, mengenakan setelan tuxedo didampingi wanita cantik berambut pirang. Tertawa dengan beberapa orang berpakaian rapi entah apa yang mereka bicarakan. Hingga kala puncak acara, Hikaru mengumumkan sang wanita berambut pirang adalah kekasih yang akan dinikahinya. Bahkan mencium bibir sang wanita di hadapan umum, mendapatkan tepukan tangan dari semua orang. Terkecuali Hany...


Air matanya telah kering, mengapa dirinya dikurung hingga saat ini? Entahlah, tapi satu hal yang pasti terlalu menyakitkan dianggap sampah oleh ayah dari janin yang dikandungnya.


Wanita yang perlahan berjalan, menelusuri lorong. Membuka ruangan alat-alat medis, jemari tangannya mengepal, meraih sekantong darah. Keputusan inilah yang seharusnya diambilnya.


Hany mulai melangkah menuju kamarnya. Menahan rasa jijik, melumuri pahanya dan seprei kasur dengan darah, seolah-olah mengalami pendarahan hebat usai keguguran.


Kartu Debit yang diberikan pelayan juga dirinya ambil."Tolong... sakit..." teriaknya.


Para pengawal segera memasuki kamar, memanggil dokter melalui walking talking-nya. Benar-benar terlihat bagaikan pendarahan hebat, sedangkan peralatan medis berupa USG tidak tersedia di sana.


Suara ambulance terdengar, Hany dibawa pergi dengan penjagaan seadanya mengingat pesta yang tengah berlangsung di villa.


Hal yang terjadi setelahnya? Dirinya menyuap seorang perawat dengan memberikan kartu debitnya. Melarikan diri, menggunakan pakaian petugas kebersihan. Meninggalkan sebuah kenangan penuh senyuman untuk Hikaru.


***


Seorang pemuda terdiam tugasnya hari ini usai, melonggarkan dasinya. Merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Tuan..." seorang pengawal tertunduk memberi hormat."Nona yang anda bawa mengalami pendarahan. Sudah kami bawa ke rumah sakit..."


Bersambung


__ADS_2