
Semua barang-barangnya telah dikemasi, paspor, visa, segalanya telah diurus Rion.
Kala dibawa ke rumah sakit jiwa, segala surat-surat penting milik Sazi diberikan Dini pada pihak rumah sakit, seolah tidak peduli lagi dengan putri sambungnya. Bagaikan hama penggagu yang tidak ingin melekat pada dirinya. Sungguh miris bukan?
Rion tersenyum, merapikan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Sazi dalam pesawat. Hanya sebuah villa kecil yang dimilikinya di negara ini, tidak ingin meninggalkan terlalu banyak jejak, sebelum dirinya memiliki uang dan kekuasaan yang cukup untuk melawan Gerald.
Pihak rumah sakit sempat bertanya, jika ada pihak keluarga Sazi yang datang, apa yang harus mereka katakan.
Rion memberi jawaban mudah saat itu, meminta pihak rumah sakit menghapus data pasien atas nama Sazi. Seolah-olah Sazi tidak pernah ada dan dirawat di sana.
Pemuda yang memakai headset mendengarkan musik melalui MP3 handphonenya. Menyelipkan salah satu ujungnya pada telinga Sazi. Kemudian mendorong sedikit kepalanya, agar wanita itu menyandar pada bahunya.
Tersenyum dalam kebahagiaannya, menggenggam jemari tangan Sazi yang tidak mengatakan sepatah katapun."Tidurlah, ada aku disini. Aku mencintaimu..." ucapnya, mencium punggung tangannya.
Perlahan wanita itu memejamkan matanya, tidak merasakan apapun, hanya terdiam mencari tempat yang nyaman.
***
Pernikahan yang telah berjalan selama 2 setengah tahun. Acara pernikahan yang diadakan besar-besaran, segera setelah perceraiannya dengan Sazi. Jenuh? Itulah fase yang terasa.
Selama 7 tahun menjalani hubungan di belakang Sazi. Hanya untuk memenuhi kebutuhan biologisnya saja. Dan apa dirinya kini bahagia? Tidak, tidak ada kebahagiaan di sana.
Tinggal selama hampir 24 jam dengan Alexa membuat Dave mengetahui segala sifatnya. Merindukan Sazi? Entah kenapa perasaan itu disimpan olehnya, tertutup egonya. Merindukan seorang wanita yang keji baginya, seorang wanita yang selalu merundung Alexa.
Menjadi tidak waras, itu pantas untuk Sazi. Benar-benar pantas, itulah keyakinannya, menutup perasaan rindu dan bersalahnya.
Sebuah pesawat melintasi langit biru ditatapnya dari kaca besar gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Menyandarkan dirinya pada kursi putar miliknya.
Prang...
Suara pecahan kotak alat tulis dari fiberglass terdengar. Seorang cleaning service tidak sengaja memecahkan hadiah terakhir yang diberikan Sazi.
"Maaf..." ucap sang cleaning service, berusaha membereskannya dengan cepat.
Mata Dave melirik pecahan fiberglass yang jatuh berserakan. Bagaimana kabarnya? Apa dia sudah sehat? Banyak yang ada di benaknya saat itu. Namun semua perasaannya ditepis, Sazi bukan wanita yang dicintainya, Alexa-lah yang dipilihnya.
__ADS_1
Wanita yang dapat memuaskannya di tempat tidur. Sekaligus wanita sempurna tanpa celah, itulah seorang Alexa, cantik, pintar, memiliki kedudukan tinggi di perusahaan. Benar-benar istri yang sempurna.
Tapi apakah benar demikian? Alexa belakangan ini sering bekerja lembur. Hingga terkadang pergi ke luar kota.
Pemuda rupawan itu hanya terdiam, entah apa yang ada di fikirannya saat ini. Ada firasat aneh, seakan ada hal berharga yang akan benar-benar menghilang dari hidupnya.
***
Hari ini dirinya menghadiri sebuah perjamuan besar dari keluarga pengusaha ternama. Alexa tengah berbicara dengan beberapa orang rekan bisnisnya. Sedangkan Dave berjalan menjauh, mendekati meja hendak mengambil minuman.
Hingga salah seorang klien sekaligus sahabatnya yang berasal dari luar kota menepuk pundaknya. Mickey itulah namanya, pemuda yang tinggal di kota lain yang cukup jauh.
"Dave, kamu juga diundang?" tanya Mickey tersenyum.
"Iya, kamu datang bersama siapa?" Mata Dave menelisik, mencari keberadaan wanita yang datang bersama rekan bisnisnya.
"Pacarku, itu dia, dia pemalu..." jawaban Mickey tersenyum, menunjuk ke arah pojok ruangan seorang gadis yang duduk canggung dengan pakaian formal tertutup, bagaikan seorang sekretaris."Kalau kamu?"
Dave tersenyum bangga, menatap ke arah Alexa, istri cantiknya."Wanita dengan gaun hitam berpadu merah tua, dia istriku namanya Alexa. Jabatannya saat ini direktur perusahaan terkemuka..."
Dave mengangguk, membenarkan...
"Wanita sakau itu menjadi direktur!? Perusahaan yang menerimanya mungkin sudah tidak punya kandidat lain..." Mickey tertawa kencang memegangi perutnya.
"Sakau?" Dave memastikan pendengarannya.
"Maaf sebelumnya, karena menertawakan istrimu. Tapi kamu ingin aku jujur atau bungkam agar tidak ditinju olehmu?" tanya Mickey yang memang berjiwa bebas, tidak suka ikut campur urusan orang lain. Namun, dirinya cukup akrab dengan Dave yang pernah menemaninya seminar beberapa minggu di kota lain.
"Apa maksudnya?" tanya Dave.
"Terkadang cinta itu buta, karena buta jadi tidak bisa melihat hingga memukul orang sembarangan. Berjanji dulu kamu tidak akan memukuliku, maka aku akan bicara, selepas kamu percaya atau tidak," ucap Mickey, menghela napasnya berkali-kali.
"Katakan saja, aku berjanji tidak akan memukulmu. Apa kamu iri melihat istriku?" sindir Dave tersenyum padanya.
"Iri? Bukan itu yang ingin aku katakan. Ada tahi lalat di dekat dada sebelah kiri istrimu..." jawaban dari Mickey terlihat santai.
__ADS_1
Kesal? Tentu saja, apa Mickey adalah orang yang dulu melecehkan Alexa? Kerah pakaian Mickey ditariknya."Kamu yang melecehkan Alexa dulu?" bentaknya.
"Tenang, kamu sudah berjanji tidak akan memukulku kan?" ucapnya tersenyum, menepis tangan Dave.
Dave terdiam menurunkan tangannya. Menatap ke arah pemuda di hadapannya, mencoba untuk meredam amarahnya, mendengarkan kata-katanya.
"Aku satu SMU dengan Alexa sebelum dia di drop out dari sekolah. Sekaligus salah satu pelanggan pengguna jasanya. Dulu aku masih SMU jadi uang jajanku tidak begitu banyak..." Mickey menghela napas kasar, menatap ke arah kekasihnya.
"Jangan ceritakan ini pada pacarku. Ketika SMU, aku lumayan nakal ingin mencoba hal-hal baru. Hingga salah satu temanku, ingin patungan denganku, menyewa satu orang wanita, teman sekelas kami..."
"Wanita yang berasal dari kalangan menengah keatas, anak dari seorang pengusaha yang perusahaannya hampir pailit. Katanya dia sudah biasa menyewanya, aku yang masih nakal ingin mencoba hal-hal baru. Akhirnya bersedia patungan berdua dengan temanku. Pengalaman pertama yang menyenangkan, berbagi satu wanita..." gumamnya.
Tangan Dave mengepal, bagaikan sudah mengetahui arah pembicaraan Mickey. Tapi tetap diam dan mendengarkan hal yang dikatakannya.
"Pertama kali mencoba, aku menjadi ketagihan. Menyisihkan uang jajanku selama dua minggu untuk menyewa satu malam dengannya. Dia seorang pecandu narkotika dahulu. Jadi saat ayahnya yang hampir pailit membatasi uang untuknya, wanita itu memutar otak, menjual tubuhnya,"
"Permainannya sangat memabukkan, bersedia melakukan apapun, hanya untuk uang lebih, membeli kokain (sejenis narkotika). Termasuk memainkan mulutnya. Dialah Alexa Prameswari..." lanjut Mickey tertawa kecil, meminum sedikit minumannya.
"Tapi Alexa sendiri mengatakan dia dilecehkan," Dave menatap tajam ke arah Mikey, tidak percaya begitu saja.
"Dan kamu percaya pada kata-kata Alexa? Tau kenapa Alexa di drop out dari sekolah? Bukan karena ketahuan menjual tubuh atau menggunakan kokain. Tapi karena menyebarkan berita bohong tentang siswi terpopuler di sekolah, bahkan dengan sengaja menaruh narkotika di tasnya. Siswi yang menangis ketakutan, hingga seorang guru memeriksa rekaman CCTV ruangan kelas,"
"CCTV yang sebenarnya di pasang oleh kelompok mahasiswa untuk penelitian sosial di beberapa kelas secara acak. Tentang berapa siswa yang akan mencontek saat ujian dan cara apa saja yang digunakan. Tidak ada satu orangpun yang tau akan keberadaan kamera CCTV, berukuran kecil, kecuali wali kelas dan kepala sekolah. Berkat rekaman CCTV semuanya terbongkar, Alexa yang meletakkan narkotika dalam tas siswi itu, hanya karena iri..." jelas Mickey.
Dave terdiam sesaat, berita bohong? Apa Sazi juga mengalaminya? Entahlah, matanya menatap ke arah Alexa. Mengepalkan tangannya, perasaan cinta yang awalnya menggebu-gebu sudah sedikit pudar termakan waktu. Merasa merindukan senyuman Sazi yang peduli dengannya, memperhatikan dan selalu berusaha untuk membuatnya tersenyum.
Mickey melanjutkan kata-katanya, menghela napas kasar."Mungkin dia sudah direhabilitasi oleh keluarganya. Tapi untuk memegang jabatan direktur perusahaan bagi siswa dengan nilai terendah sepertinya, apa mungkin bertahan?"
"A...apa maksudmu?" Dave menatap ke arah Mickey.
Pemuda itu, memijit pelipisnya sendiri, memang tidak baik ikut campur urusan keluarga orang lain."Jika dia benar-benar korban pelecehan, cobalah ingat kembali saat pertama kamu melakukan dengannya. Apa dia gugup? Ketakutan? Canggung? Atau agresif, tanpa malu dan segan-segan di tempat tidur..."
"Aku mengatakan ini sebagai sahabat. Jaga istrimu baik-baik. Memilih pasangan hidup berbeda dengan memilih pacar untuk hanya sekedar bersenang-senang di tempat tidur..." ucap Mickey menepuk pundak Dave.
Bersambung
__ADS_1