
Selimut masih menutupi tubuh mereka, suara tempat tidur berderit terdengar pelan. Bergerak seirama seiiring dengan sepasang insan yang tengah menikmati penyatuan mereka.
Vas kaca dengan pajangan sekuntum mawar biru berada di mejanya.
Hanya samar, tertutup kain tipis sebagai tirai tempat tidur semua terjadi.
"Sa... Sazi..."panggil Rion tidak menemukan jawaban. Wanita yang menonggakkan kepalanya, menikmati apapun yang dilakukan suaminya.
Wanita yang hanya mengerang gelisah, sesekali berpegangan pada sprei atau mencakar lengan kokok suaminya.
"Ri...ri... Rion...akh..." pada akhirnya nama itu disebutkannya juga, kala tidak dapat menahan segalanya.
Hingga rasa hangat itu membuat tubuh sepasang suami istri bergetar menikmati akhir penyatuan. Cairan yang menyatu, terasa nyaman, menemukan titik kepuasan sementara.
Menikmatinya? Sangat, dengan orang yang benar-benar mencintainya. Menikmati aliran tubuh bagian bawahnya, yang menyatu.
Lega? Ini bukan perasaan lega, namun perasaan nyaman sekaligus gelisah. Kegelisahan yang indah, menikmati setiap rasa kala cairan tubuh mereka bertemu.
Deru nafas memburu, usai merasakan kehangatan malam ini.
"Rion..." ucap Sazi ragu, kala telah berhasil mengatur napasnya. Memeluk suaminya di balik selimut.
"Em?" ucap Rion seakan bertanya, mengecup bibir Sazi berkali-kali dalam senyuman.
"Kenapa kamu selalu ada dalam bahaya?" tanyanya ragu.
"Karena dari dilahirkan, aku adalah cucu dari konglomerat yang tampan," jawaban narsis penuh tawa dari suaminya.
Plak...
"Aku tidak bercanda!!" Wanita itu memukul pelan lengan suaminya.
"Aku juga tidak bercanda. Kamu ingat mobil yang pernah menjemputku saat SMU? Orang yang memanggilku tuan muda, itu adalah supir keluarga ibuku," jawaban dari Rion memeluk tubuh istrinya gemas.
Sazi menonggakkan kepalanya, membulatkan matanya."Keluarga ibumu seperti apa?" tanyanya.
"Kekayaan kakekku mungkin empat kali lipat dari yang aku miliki saat ini..." Rion menghela napas kasar sembari tersenyum, bermanja-manja menghirup aroma tubuh istrinya.
__ADS_1
"Empat kali lipat?" gumam Sazi tertawa kecil, warisan almarhum ayahnya bahkan tidak sebanding dengan yang dimiliki suaminya kini. Tapi empat kali lipat? Sekaya apa?
Rion mengangguk."Kenapa? Kamu merasa seperti Cinderella yang menikahi pangeran?"
Sazi mengenyitkan keningnya."Tidak percaya, jika kamu dari keluarga kaya, maka tidak akan pernah terlambat membayar uang sekolah. Mungkin kamu akan sekolah di luar negeri, kalaupun sekolah di dalam negeri sudah pasti sekolah bertaraf internasional. Ini apa? Saat SMU kamu selalu mencari gratisan. Bantet..." cibirnya.
"Bantet? Tapi saat SMU kamu tidak menolak setiap berciuman. Masih juga mencibir..." Rion menggeleng-gelengkan kepalanya heran."Katakan kamu mencintaiku sejak kapan? Apa setelah ingatanmu hilang dan menganggapku suamimu?"
"A...aku..." Sazi tertunduk gugup, malu untuk menjawabnya.
"Kapan!?" bentak Rion tiba-tiba, membuat istrinya terkejut.
"Saat kepalamu berdarah!!" jawaban jujur, spontan dari Sazi cepat. Menutup mulutnya sendiri, merasa salah bicara.
"Saat kepala berdarah..." Rion mulai menipiskan bibir menahan tawanya."Kenapa menyukai dan menolakku?"
Sazi tertunduk malu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya."Kamu menggunakan lemak bantetmu melindungiku dari balok kayu, jadi aku kagum. Mulai menyukaimu, tapi kamu bodoh dan bantet, ditambah lagi aku sudah bertunangan dengan Dave. Aku tidak menyukai perselingkuhan jadi..."
"Kita berciuman, itu bukan perselingkuhan? Kamu sudah berselingkuh dari Dave saat SMU. Dasar wanita tidak setia..." cibir suaminya, mendekapnya semakin erat dalam pelukan.
"Rion, jangan mati seperti ayahku," pinta Sazi tiba-tiba.
Pria yang licin bagaikan belut, ber-IQ tinggi, sulit untuk ditangkap. Itulah dirinya, memiliki Hikaru sebagai asistennya. Hampir tanpa celah... hampir...
Namun, satu celah besar akan tetap ada. Sazi dan calon anaknya...
"Aku mencintaimu. Jika anak kita laki-laki tolong berikan nama yang mirip dengan namaku. Tapi jika perempuan aku ingin kamu berikan nama menyerupai namamu," pinta Rion.
"Kamu ayahnya, seharusnya kamu yang memberinya nama," cibir Sazi penuh senyuman.
Rion berusaha tersenyum, mengecup bibir istrinya.
Jika bisa aku ingin memberinya nama. Tapi seekor katak yang menghadapi ular besar? Aku sudah memikirkannya. Tidak ada jalan sama sekali, semua buntu. Aku hanya akan berakhir mati bersama Gerald...
***
Mengganti kendaraan dengan bus? Itulah yang dilakukannya, dirinya sudah sampai di terminal saat ini. Kepala putranya menyender di pahanya. Dalam bus antar pulau yang menuju ke perkebunan kelapa sawit.
__ADS_1
Mencintai Hikaru? Tentu saja, air matanya mengalir, sama seperti 6 tahun lalu. Segera diseka olehnya. Mengapa bisa sesakit ini? Entahlah, mengapa kekasihnya yang manis berprofesi sebagai pengantar makanan harus seperti ini. Pria tidak tau malu yang mengejarnya, bergurau setiap saat dalam senyuman.
Menyatakan cinta di depan semua karyawan toko. Hingga membuatnya malu, pria yang menginap di apartemennya kala hujan salju turun. Membuatnya terhanyut perasaan hingga menyerahkan kesuciannya setelah satu tahun menjalani hubungan kasih. Di tahun ke dua, Hikaru yang hendak menemuinya di apartemen, menjadi sasaran penembakan. Saat itulah Hany menjadikan tubuhnya sebagai perisai.
Hikaru yang menangis menatapnya berlumuran darah tidak ada lagi. Setelah dirinya sadar dalam sebuah villa, dokter pribadi yang memberinya selamat atas kehamilannya. Mencari Hikaru? Dirinya di jaga ketat, jika berpapasan dalam villa pun, Hikaru bersikap seolah-olah tidak mengenalnya.
Melewatinya, merangkul wanita lain, membawa ke kamarnya. Memohon untuk pergi? Dirinya sudah memohon, menangis setiap malam bagaikan burung dalam sangkar emas.
Pakaian, makanan, semua yang terbaik didapatkannya. Kecuali kasih sayang, entah dimana tukang antar makanan berhelm merah yang mencintainya.
Hanya tersisa Hikaru, ketua pembunuh bayaran yang mengurungnya tanpa alasan. Membuat Hany mencari jalan untuk melarikan diri. Tidak tahan lagi, memiliki segalanya. Namun, terkurung dan tertekan, melihat pria yang dicintainya berciuman dengan wanita lain saat pesta yang diadakan di villa.
Dirinya sudah jenuh, hingga berpura-pura mengalami pendarahan. Melarikan diri dari UGD rumah sakit.
Dan inilah Hany sekarang, melepaskan Hikaru sepenuhnya...
"Aku mencintaimu... kenapa kamu pergi? Apa kamu menemui selingkuhanmu?" tanya seorang pemuda membuat perhatian semua orang terlalih pada Hany dalam bus di terminal yang tengah menunggu penumpang.
"Se... selingkuh?" seketika wajah wanita itu pucat pasi.
"Kamu bahkan membawa putra kita? Kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Hikaru, membuat orang-orang mulai berbisik-bisik mencibir Hany.
"Kamu yang punya banyak wanita lain!!" bentak Hany membuat Hiruma terbangun.
"Aku bekerja sebagai tukang ojek. Tentu saja harus membonceng penumpang pria maupun wanita. Kamu pergi dan cemburu karena itu?" Hikaru menahan malunya, membuat alasan asal-asalan. Tidak mungkin dirinya membuat keributan di terminal bukan?
Jadi jalan ini yang dipilihnya. Menjadi sama seperti 8 tahun lalu. Pria tidak tahu malu yang setiap hari menemui kekasihnya, pegawai toko mebel.
"Bukan itu! Kamu..." kata-kata Hany terpotong.
"Hiruma, tutup matamu!" perintah Hikaru, Hiruma menurut segera menutup matanya.
Bersamaan dengan bibir Hany yang dibungkam dalam ciuman oleh Hikaru. Wanita yang mulai memejamkan matanya. Mengapa dirinya selalu kalah melawan pria ini?
Karena kamu bodoh... batin Hikaru dalam senyumannya, menahan tengkuk Hany. Diiringi dengan tepukan tangan para penumpang menyaksikan perdebatan suami istri yang berakhir dengan ciuman panas.
Maaf salah, bukan perdebatan suami istri, tapi jenderal gila dengan wanita aneh.
__ADS_1
Bersambung