
Hidup bebas yang bahagia, inilah yang dirindukannya. Tepat pada hari keempat sebelum waktu yang dijanjikan oleh suaminya untuk pulang. Beberapa lukisan telah dibuatnya, dari berbagai aliran yang dipelajarinya. Abstrak, kontemporer, kubisme, realis, bahkan lukisan tradisi yang memerlukan waktu beberapa hari untuk menyelesaikannya.
Lukisan yang mulai ditutup mengunakan kain olehnya, merenggangkan otot-ototnya penuh senyuman. Sudah sepuluh hari dirinya tinggal dengan mertuanya, namun jarang berbicara secara langsung dengan Fino.
Hingga pada akhirnya wanita itu mengunjungi salah satu outlet milik mertuanya. Berbagai hidangan yang dipesannya disajikan pelayan, tempat yang terletak di depan area sebuah kampus tersebut. Fino berada di sana, tengah berbicara dengan suppliernya.
Sazi terdiam sejenak, banyak hal yang tidak diingatnya entah kenapa. Namun, menatap beberapa mahasiswa berada di sana menikmati makanan mereka membuat dirinya teringat pada masa kuliahnya.
Bibirnya tersenyum simpul, masa-masa yang tidak mudah baginya. Ibunya sendiri tidak ingin mengeluarkan uang warisan almarhum Herry dengan alasan tidak ingin membiayai kuliahnya yang tidak berguna. Tidak berguna? Apa salahnya mengambil jurusan seni?
Sedangkan Alexa dibiayai untuk kuliah di luar negeri dengan fasilitas yang lengkap, hanya karena mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Sazi diam tertegun sesaat, kepalanya sedikit terasa sakit.
Hingga...
"Makanlah..." Fino tiba-tiba duduk di hadapannya.
Wanita itu mengangguk, sakit kepala yang tiba-tiba menghilang, tersenyum ke arahnya. Perlahan kembali makan dengan lahap, masa lalu yang dilupakannya, kini dirinya menemukan kebahagiaan bersama Rion dan Fino.
Beberapa saat wanita itu meminum minumannya, memberanikan dirinya bertanya tentang kecurigaannya selama ini. Apa Rion yang dinikahinya adalah sahabatnya yang dikabarkan kecelakaan 10 tahun yang lalu? Tangannya mengepal dengan ragu dirinya berucap,"Paman, apa Rion pernah gemuk di masa SMU-nya?"
"Kenapa bertanya begitu? Apa dia mirip dengan temanmu yang sudah meninggal?" tanya Fino meraih minuman dingin miliknya, sembari tersenyum simpul.
Sazi mengangguk, mengingat dengan rasa nyaman yang didapatkannya. Sesaat kemudian menggeleng, mengingat wajah Rion kala SMU. Pernah membayangkan sosok itu dalam rupa yang lebih baik. Tapi tidak seperti ini dalam imajinasinya ketika Rion sahabatnya yang sudah meninggal lebih menata penampilannya.
Rion suaminya, mungkin dapat menggoda wanita manapun dengan tatapan mata tajamnya. Berpenampilan santai bagaikan selebriti yang diidolakan para remaja. Memakai pakaian resmi, terlihat dewasa dan berkharisma, apa ini benar-benar Rion si pemakan roti bantet? Tidak mungkin kan? Namun rasa nyaman yang benar-benar sama.
__ADS_1
"Kamu menyukai temanmu yang sudah meninggal?" tanya Fino menatapnya.
Tangan Sazi mengepal, kemudian tersenyum, menitikkan air matanya."Aku menyukainya, tapi saat SMU aku sudah memiliki tunangan. Tidak disangka dia meninggal di usia yang begitu muda. Jika saja... jika saja dia Rion yang sama, aku..."
Fino menghela napas kasar."Mereka orang yang sama, jadi mulai sekarang sayangilah dia,"
Sazi membulatkan matanya, menatap ke arah pria di hadapannya."Tapi..." ucapnya masih ragu.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, menatap orang-orang yang lalu-lalang di depan outlet miliknya."Aku yang memintanya menjadi gemuk dan bodoh. Karena tidak ingin dipisahkan darinya. Rupawan dan pintar adalah sebuah berkah sekaligus anugrah baginya,"
"Rion yang seharusnya menjadi pewaris keluarga ibunya. Tapi tidak disangka, hanya dengan menjadi jelek, gemuk dan bodoh mereka tidak memperhatikan putraku selama bertahun-tahun. Hingga mereka mulai menyadari, kebohongan Rion. Kami harus segera melarikan diri. Beberapa kali berganti kendaraan. Pada akhirnya, berhasil melarikan diri. Kami turun di perjalanan, sebelum bus mengalami kecelakaan..." jelas Fino, berusaha tersenyum, menunduk, mengingat kembali tempatnya berasal, masih merindukan mantan istrinya hingga kini.
Jadi benar-benar Rion yang sama? Wajah Sazi tersenyum, pada akhirnya dirinya menepati keinginannya. Menikah dengan si roti bantet. Mungkin karena ini juga dirinya dulu melanggar kesetiaannya pada Dave.
Wajah yang benar-benar tersenyum cerah. Mulai meraih phonecellnya, memesan beberapa helai saringan tahu untuk menghiasi tubuhnya di ranjang saat suaminya kembali nanti. Saringan tahu? Tentunya bukan saringan tahu biasa, saringan tahu dengan harga yang tidak murah. Memiliki banyak tali, menonjolkan lekuk tubuh indahnya.
"Memesan pakaian untuk malam pertama, aku akan membuatkan banyak cucu untuk paman. Atau boleh aku panggil ayah mertua?" jawaban Sazi menatap ke arah mertuanya.
Fino menghela napas kasar, bagaimanapun ini harus diluruskan olehnya. Sebelum anak di luar nikah itu terlahir, jemari tangannya mengepal, mungkin saja memang sudah ada janin di perut wanita di hadapannya, mengingat bagaimana obsesi Rion terhadap Sazi.
"Sebenarnya kalian, belum..." kata-kata Fino dipotong.
"Ayah mertua jangan khawatir, aku akan menjaga dan menyayangi Rion dengan baik. Aku adalah tipikal wanita yang setia jika sudah berkomitmen, jadi karena itu juga, aku akan belajar menjadi menantu yang baik. Ayah mertua bisa membayangkan cucu-cucu yang akan terlahir. Wajahnya akan mirip aku dan Rion..." Sazi menatap penuh harap ke arah ayah mertuanya.
Fino tertegun, terdiam sejenak, wajah Sazi yang rupawan dipadukan dengan wajah putranya. Imajinasi liarnya mulai tercipta, lusinan orang anak rupawan berusia lima tahunan menyerbu outletnya, memanggilnya kakek. Anak-anak yang makan dengan manis, menunjukkan hasil gambar krayonnya. Bahkan dapat mengerjakan perhitungan soal matematika sulit, seperti Rion kecil dulu.
__ADS_1
Hidup yang benar-benar bahagia sebagai seorang kakek. Biarlah putranya berbuat dosa, yang penting outlet dan rumah mereka dipenuhi dengan anak-anak rupawan yang menggemaskan.
"Paman akan membuatkan hidangan laut yang banyak saat Rion pulang nanti. Katanya asparagus mengandung afrodisiak (peningkat g*irah). Atau sebaliknya sup ginseng agar tahan lama. Red wine harus ada ..." ayah laknat yang mulai tertawa, menginginkan anaknya berbuat dosa terindah demi lusinan cucu yang rupawan menyerbu outletnya. Diikuti dengan Sazi yang tertawa malu-malu.
Mengapa tidak melaksanakan pernikahan saja. Tidak ingin Sazi yang baru saja keadaan membaik kembali mengingat segalanya, mencurigai pernikahan yang kembali diadakan. Wanita yang tidak menyadari masa lalu pahit yang telah dilaluinya.
***
Sementara itu di tempat lain. Tepatnya di negara lain, dua orang sedang saling menatap, duduk berhadapan.
"Tuan Grimm Ripper (Dewa kematian memakai jubah hitam, hanya kerangka didalamnya, membawa senjata tongkat, dengan sabit besar diujungnya) ternyata berasal dari negara yang sama denganku..." seorang wanita karier berpakaian ketat duduk di hadapannya.
Grimm Ripper? Itu adalah nama julukan khusus untuk berbisnis yang dibuat Hikaru untuk Rion. Tentu saja, untuk alasan keamanan pemuda itu. Pemuda yang menjadi tempat baginya untuk mencari uang saat ini.
Rion memijit pelipisnya sendiri, menatap proposal yang diberikan Alexa."Ini dibuat olehmu sendiri dan timmu?"
Dengan cepat Alexa mengangguk, menatap ke arah pemuda rupawan di hadapannya. Filipina menjadi tempat mereka berada saat ini, melakukan kerjasama bisnis.
Semua sudah diatur oleh Alexa, seperti biasanya. Tidak akan ada pria yang tidak takluk oleh pesonanya.
"Maaf, jika ada kesalahan, aku harap ini tidak akan mempengaruhi kerjasama kita..." gumamnya meminum minuman di hadapannya.
"Aku ke toilet sebentar..." lanjut Alexa pergi berjalan beberapa langkah. Kemudian dengan sengaja menjatuhkan dompetnya. Mulai membungkuk memungutnya, bagaikan dengan sengaja memperlihatkan bagian belakang, paha putih mulusnya.
Klien kali ini benar-benar rupawan dan masih muda. Memiliki bisnis sendiri, berbeda dengan Dave suaminya, yang masih harus bersaing dengan saudara-saudaranya yang lain untuk memperebutkan kekuasaan.
__ADS_1
Bisa dibayangkan olehnya bagaimana tubuh atletis di balik jas dengan wajah rupawan itu. Wajah pemuda yang mungkin akan meracau kenikmatan atas ulahnya nanti di atas ranjang.
Bersambung