
Pemuda itu tersenyum, merangkul ibunya. Melangkah meninggalkan panggung. Membenci ibunya? Iya, Rion membencinya, dirinya bukan malaikat yang turun ke bumi. Ibu yang hampir membuat ayahnya bunuh diri, ibu yang meninggalkannya demi status nona muda.
Namun, wanita ini tetaplah ibunya. Ikatan darah yang terasa, menatap derai air mata di pipi sang ibu yang mengalir deras. Hatinya yang dingin terasa sakit entah kenapa.
Tetap merangkul bahu sang ibu."Jangan menangis..." ucap putranya.
Aku merasakan sakit saat kamu menangis, padahal hanya wanita kaya yang meninggalkan ayahku. Karena itu jangan menangis... pinta Rion dalam hatinya, menahan rasa sakit yang menghujam dadanya. Mengepalkan tangannya, tidak tega jika satu tetes saja air mata yang mengalir dari wajah wanita yang dibencinya. Benar-benar aneh, ibu yang dibencinya meluluhkan hatinya hanya dengan air mata yang bukan disebabkan olehnya.
"Maaf, sudah mengecewakanmu dan Fino," ucap Margaretha tertunduk.
Rion tersenyum, merangkul ibunya semakin erat. Mungkin sebagai wujud cinta pada sang ibu yang meluluhkan dendam di hatinya."Kamu tetap ibuku..." jawaban darinya, membuat Margaretha terdiam, menatap ke arah putra yang berjalan merangkulnya.
Kasih ibu sepanjang masa? Memang benar namun, ada kalanya rasa kasih anak yang diberikan Tuhan juga sama besarnya. Rion menghela napas kasar, dengan setetes air mata yang mengalir. Merasakan tatapan penuh kasih dari ibunya lagi, setelah puluhan tahun kepergian sang ibu ke rumah besar keluarganya.
Hatinya terasa nyaman... Wanita bodoh yang melahirkanku. Aku akan menjagamu, hingga Tuhan menjemputmu. Tidak mengijinkan air matamu menetes lagi. Karena aku berasal dari darahmu, tumbuh dengan menyerap nutrisi tubuhmu. Karena itu jangan menangis lagi... akulah putra yang akan melindungimu... janjinya melupakan rasa sakit hatinya.
***
Desi dan Queen dikawal beberapa orang pengawal Rion. Berjalan meninggalkan ballroom, dua orang yang saling menoleh. Mengikuti langkah kaki kakak mereka.
Punggung kokoh yang ditatapnya, mungkin inilah yang akan menjadi tempat mereka berlindung.
"Kakak..." ucap Queen, kala mereka telah sampai ke dalam mobil minibus. Hikaru kini berada di kursi pengemudi, Rion kursi penumpang bagian depan. Serta ibu dan kedua adiknya berada di kursi penumpang bagian belakang.
"Tunggu sebentar..." kata-kata dari mulut Rion yang tengah mengangkat panggilan menggunakan earphonenya. Berbicara menggunakan bahasa asing.
Sedangkan Hikaru mulai melajukan mobilnya. Sama seperti Rion terlihat menghubungi seseorang menggunakan bahasa asing namun dengan nada yang lebih dingin.
Hingga ke dua orang itu melepaskan earphonenya. Menghentikan sambungan telephone-nya.
"Pengamanan di jalan raya sudah kamu atasi?" tanya Rion pada Hikaru.
__ADS_1
"Lima orang sniper di jembatan penyebrangan. Paku-paku di area hutan berikut pembunuh bayaran yang bersembunyi masih dibereskan orang-orang kita." jawabnya.
Rion menghela napas kasar, mobil mulai melewati area hutan jati. Suara beberapa tembakan terdengar. Bahkan salah satu pembunuh bayaran roboh pinggir jalan. Membuat Queen yang berada dalam mobil menjerit ketakutan.
"Kakak orang itu!! Tolong orang itu!! Orang itu berdarah!!" teriaknya histeris.
"Rion hentikan mobilnya! Ada orang yang..." kata-kata Margaretha disela.
"Jika kita menolongnya maka dia akan memenggal kepalaku. Mereka adalah orang suruhan Gerald, sudah bertahun-tahun, namaku diletakkan dalam daftar sasaran pembunuh bayaran dengan bayaran tertinggi," ucap Rion mulai menyalakan tabnya.
Hikaru menghela napas kasar."Sepanjang perjalanan kita, ada lima kelompok berbeda yang menginginkan kepala Rion. Yang menghabisi mereka adalah bawahan kami,"
Tangan Margaretha tiba-tiba gemetar, tidak begitu mengerti dengan situasi saat ini. Namun, suara tembakan masih terdengar nyaring, membuat bising sepanjang perjalanan mereka kala melewati hutan jati."Apa Gerald begitu mengerikan?"
Hikaru mengangguk."Dia memiliki jaringan besar dalam penjualan kokain dan heroin. Dari luar dia mungkin hanya pengusaha biasa dengan status sedikit lebih rendah dari keluargamu. Tapi kenyataannya tidak, beberapa kasino ilegal dimilikinya. Pelelangan wanita untuk kebutuhan biologis kalangan atas. Dia tidak memiliki kekuatan finansial legal, tapi kekuatan finansial ilegal cukup besar..."
"Ja... jadi?" ucap Queen terbata-bata.
"Kakak tidak takut mati?" tanya Desi menatap ke arah kakaknya.
Rion menggeleng."Aku sudah menikmati tubuh Sazi. Matipun aku tidak apa-apa..." kata-kata gurauan dari sang katak membuat mereka menghela napas bersamaan.
***
Kembali ke ballroom hotel...
"Rion?" gumam Dave mengepalkan tangannya. Masih teringat di jelas di benaknya, seorang pria gemuk yang selalu mengintai dan mengikuti Sazi.
Sementara Sazi, masih berada di ballroom, duduk berdampingan dengan Andres yang baru saja tiba. Kedua orang itu masih bisa duduk makan beberapa hidangan dengan tenang. Dengan prinsip yang dipegang teguh dalam hati mereka, kundangan ke pesta harus menikmati hidangan dengan sebaik-baiknya.
Bagaikan jika bisa dibungkus lebih baik bungkus saja. Benar-benar prinsip yang ada dalam hati setiap lapisan masyarakat, entah kenapa hidangan katering pesta lebih enak daripada duduk di warteg pinggir jalan.
__ADS_1
Perhatian Dave teralih pada Sazi. Berjalan mendekatinya, namun seseorang menghampirinya terlebih dahulu.
"Dari awal kamu tahu Grimm dan Rion adalah orang yang sama kan!? Dasar wanita munafik!! Rion menyukaiku sejak SMU, jadi..." kata-kata yang keluar dari mulut Alexa terhenti.
Plak...
Suara tamparan terdengar cukup kencang. Wajah dingin Sazi terlihat menatap tajam padanya. Bukan seseorang yang mudah ditindas seperti dahulu.
"Sudah selesai?" tanya Sazi, menampakkan aura dingin mendominasi.
Sial sakit!! Wajah Alexa terbuat dari apa!? Kenapa keras seperti batu kali... batin Sazi yang menahan rasa sakit di tangannya usai menampar Alexa dengan seluruh tenaga yang dimilikinya.
Bertahan dengan raut wajah datar, padahal aslinya mati-matian menahan rasa sakit.
Alexa meraba pipinya yang memerah terasa kebas. Tidak dapat menerima segalanya hendak menyerang Sazi.
"Mau aku buat cacat?" tanya Andres yang masih makan dengan tenang. Membuat wajah Alexa seketika pucat pasi mengingat pertarungan antara ikan teri dengan hiu putih raksasa.
Wanita itu mundur selangkah, kembali menghela napasnya. Jika tau tentang status sosial dari si bantet dirinya mungkin akan menahan rasa jijik, lebih baik mendekati Rion daripada Dave yang tengah dalam proses perceraian dengannya.
"Sazi, dengar! Rion hanya mencintaiku dari awal." Kata-kata dari mulut Alexa. Berusaha menggoyahkan Sazi, namun kata-kata lain yang terucap dari mulut Andres.
"Mereka sudah menikah dari awal." jawaban dari Andres, mulai menghentikan aktivitas makannya."Aku bukan psikolog, tapi pengawal yang dibayar Rion untuk menjaga istrinya..."
"Kamu dan Rion?" Dave tiba-tiba datang menyela.
"Kami menikah di Spanyol. Dia yang menyembuhkanku dua tahun lalu. Aku mencintainya." Sazi menghela napas kasar, tidak ada gunanya menyembunyikan segalanya.
Tidak dapat menerima? Tentu saja, dirinya yang lebih unggul dari Sazi harus dirinya yang lebih unggul. Jemari tangan Alexa meraih pisau steak. Mata iri dengki itu terlihat begitu tajam. Seakan ingin melahap wanita di hadapannya. Jemarinya terangkat, menginginkan menembus kulit daging manusia di hadapannya.
Bersambung
__ADS_1