Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Tidak Pernah Ada


__ADS_3

Dave tidak menjawab saat itu terdiam menatap ke arah Alexa. Cinta pada pandangan pertama? Apa benar? Banyak pertanyaan yang ada di benaknya.


Malam semakin larut, Dave saat ini telah memegang jabatan sebagai wakil direktur perusahaan milik keluarganya. Mengapa tidak bergabung ke perusahaan milik almarhum Herry? Itu karena kedua orang tuanya ingin mengikat kerjasama setelah pernikahan.


Memiliki tiga orang kakak berotak cerdas, namun dirinya-lah yang akan dipilih sebagai ahli waris perusahaan keluarganya. Karena menikahi Alexa yang merupakan anak Fredric, pewaris perusahaan milik almarhum Herry, untuk menggabungkan dua perusahaan besar nantinya, setelah mereka memiliki keturunan.


Sebenarnya tidak masalah bagi orang tua Dave untuk mengganti pernikahan Sazi dengan Alexa, mengingat Sazi yang tidak mendapatkan warisan apapun.


Hari ini dirinya dan Alexa melangkah memasuki kamar, Dave mengenyitkan keningnya, memang sedikit aneh baginya. Alexa yang walaupun lulusan luar negeri, tapi memiliki nilai yang rendah, mendapatkan jabatan direktur di perusahaan milik almarhum Herry secara langsung, tanpa seleksi.


Lebih aneh lagi baginya, beberapa dokumen perusahaan dan perencanaan proyek yang dibuat Alexa pernah dibacanya, lumayan berantakan. Tapi dapat menenangkan beberapa tender.


Dave menghela napas kasar, mendapatkan balasan pesan dari manager HRD perusahaan milik almarhum Herry. Balasan dari pesannya yang menanyakan tentang bagaimana Alexa dapat langsung diterima sebagai direktur lima tahun lalu.


Hanya satu kalimat yang menjadi balasan dari sang manager HRD. 'Sazi yang saat itu selaku putri tunggal almarhum Herry, memohon pada CEO'.


Merundung? Apa ini sifat merundung dari Sazi? Apa selama ini dirinya salah?


Sepasang suami istri yang tidak banyak bicara. Lebih banyak diam, tidak seperti dulu Alexa akan manja atau mengadu padanya. Istri yang memunggunginya, memakai baju tidur hampir transparan. Bahkan tidak mengenakan pakaian dalam bagian atas. Tersenyum membaca beberapa notifikasi di handphonenya.


Kemudian mulai bangkit, meraih jaket terusan yang sepanjang lutut, serta dompet dan kunci mobil.


"Sudah malam, mau kemana?" tanya Dave pada Alexa.


Alexa menghentikan langkahnya, berjalan mendekati Dave, mengecup bibirnya sekilas."Aku ada urusan bisnis, ada klien yang komplain tentang proposal,"


"Tapi tidak selarut ini..." Dave menatap matanya, memegang lengannya, mencari kebenaran tentang kata-kata Mickey.


Alexa melepaskan tangan Dave, yang menahan lengannya, mengecup bibirnya kembali."Kita sudah saling mengenal selama 7 tahun. Kamu tidak mempercayaiku? Aku hanya mencintaimu. Cinta tanpa kepercayaan tidak akan bertahan. Kita saling mencintai aku tidak mungkin mengkhianatimu,"


Kata-kata yang terucap dari bibir Alexa membuat Dave terdiam. Menatap ke arah Alexa yang pergi meninggalkannya di kamar seorang diri.


Diam? Dave mengingat kata-katanya setiap kali menenangkan Sazi. Menyembunyikan hubungannya dengan Alexa. Apa semua itu berbalik padanya? Entahlah...


Dave hanya terdiam, 2 setengah tahun ini wajah Sazi masih sering terbayang. Brownies strawberry yang entah dibelinya dimana, dirindukan olehnya. Mencari ke beberapa outlet tidak menemukan yang rasanya sama.


Gadis yang bagaikan mengetahui apa saja yang disukainya tanpa diminta. Malam ini dirinya terdiam entah kenapa, banyak hal yang menggangu fikirannya.


Tidak dapat tidur sama sekali, kembali mengerjakan tugas kantornya menyibukkan diri. Hingga tanggal hari ini pada dokumen dibacanya. Dave mengenyitkan keningnya, ini adalah hari ulang tahun Sazi, yang dahulu selalu dirayakan oleh almarhum Herry.


Hingga usia Sazi yang ke 17 tahun, Dave mengingatnya karena pesta selalu diadakan. Tapi mungkin sudah lama, semenjak Sazi berulang tahun ke 18 tidak ada yang mengingatnya, karena almarhum Herry yang tengah berobat di Singapura tidak dapat mengadakan pesta untuk putrinya.


Tidak satupun hari ulang tahun Dave yang dilupakan Sazi. Semua selalu dirayakannya, setiap tahunnya membawa brownies strawberry yang disukainya, serta hadiah untuknya.

__ADS_1


Tangan Dave mengepal, air matanya mengalir. Dirinya tidak pernah mengetahui apa yang disukai Sazi. Perayaan ulang tahun yang norak? Tapi rasa kue itu dirindukannya.


Mungkin Sazi memiliki kebaikan dalam dirinya. Itulah anggapannya kini dalam hati yang melunak. Mungkin dirinya terlalu kejam pada Sazi yang memperhatikannya.


Bibirnya tersenyum, akhirnya setelah tiga tahun Dave ingin menjenguk Sazi sebagai teman masa kecil. Teman? bahkan hubungan mereka sekarang lebih buruk dari seorang teman.


Namun, dirinya kini menemukan alasan untuk kembali melihat wajah Sazi, yang sejatinya dirindukannya. Wanita yang hanya diam, memeluk sebuah lukisan dengan tatapan kosong tiga tahun lalu. Seorang wanita yang ditarik paksa ke dalam ambulance menuju rumah sakit jiwa. Dengan bau pesing di celananya, rambut yang acak-acakan tanpa senyuman sama sekali.


***


Pagi menjelang, Alexa belum pulang juga, nomor phoncellnya tidak aktif. Ini sudah sering terjadi, pernikahan yang awalnya karena sesuatu yang mereka sebut dengan cinta, kini bagaikan hanya berdasarkan ego.


Dave yang memerlukan Alexa agar lebih dianggap oleh keluarganya. Dan Alexa memerlukan Dave suami rupawan dari keluarga kalangan atas.


Dave mulai menata penampilannya, menyemprot tubuhnya dengan parfum, mengenakan setelan jas terbaik yang dimilikinya. Pemuda yang perlahan keluar dari kamarnya, melangkah menuruni anak tangga.


Fredric menatap ke arahnya."Mau kemana?"


"Keluar, menghadiri ulang tahun teman. Aku akan pulang sore nanti..." jawaban dari Dave hendak melangkah pergi.


"Sudah minta ijin pada Alexa?" tanya Fredric pada menantunya.


Dave menghela napas selalu saja seperti ini. Alexa yang selalu pulang tidak menentu sama sekali tidak ditegur. Sedangkan dirinya? Keluar satu jam saja tanpa meminta ijin, Fredric akan menatap sinis ke arahnya.


Frederick menatap tajam pada Dave yang sudah mulai berjalan menuju garasi. Melajukan mobilnya pergi. Takut? Tentu saja, tidak ingin Dave keluar tanpa sepengetahuan Alexa.


Mengetahui, Alexa yang kerap menjalin hubungan dengan kliennya. Menasihati putrinya? Sudah pernah dilakukan olehnya, namun Alexa berdalih, Dave tidak akan mengetahuinya. Andai saja Alexa dan Dave sudah memiliki keturunan untuk mengukuhkan kedudukannya, Fredric tidak akan secemas ini.


Namun, satu laporan kesehatan yang disembunyikannya. Obat kontrasepsi dan narkotika yang kerap di konsumsi putrinya dahulu berpengaruh pada kesuburannya. Hingga sekarang, Alexa akan kesulitan untuk memiliki keturunan, sesuatu yang tidak diketahui oleh Dave.


***


Aneh? Benar-benar aneh, Dave membeli kue ulang tahun serta kado untuknya. Hanya bertemu sekali saja dengan pasien yang mengidap gangguan kejiwaan. Tapi kenapa dirinya berpenampilan seperti ini? Mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan Sazi.


Mobil mewah yang melaju menuju rumah sakit jiwa Bakti. Berhenti di tempat parkir rumah sakit, matanya menelisik, terdapat pembangunan secara besar-besaran di rumah sakit jiwa yang dahulu tidak begitu besar itu.


Mendapatkan investasi atau donatur? Mungkin itulah yang terjadi, Dave kembali melangkah menuju meja resepsionis. Membawa kotak berisikan kue berukuran sedang, serta sebuah kado berisikan syal yang dikemas rapi, mungkin dapat menjaga Sazi tetap hangat di musim hujan.


"Permisi saya keluarga pasien yang bernama Sazi. Dia ada di kamar nomor berapa ya...?" tanya Dave pada sang resepsionis.


"Maaf, tidak ada pasien bernama Sazi disini..." sang resepsionis, tersenyum ke arahnya. Mengikuti perintah pemegang setengah saham rumah sakit ini. Donatur yang memperluas rumah sakit, bahkan membangun gedung baru.


"Tidak ada pasien yang bernama Sazi!? Bisa coba periksa lagi. Dia mulai dirawat 3 tahun lalu, jadi..." kata-kata Dave disela, sang resepsionis berpura-pura memeriksanya lagi.

__ADS_1


"Maaf, tidak pernah ada pasien yang bernama Sazi, saya sudah memeriksanya kembali. Anda mungkin mendapatkan informasi yang salah, karena sudah tiga tahun yang lalu. Mungkin orang yang anda cari memasuki rumah sakit jiwa lain..." ucap sang resepsionis berusaha tersenyum tenang.


Dave terdiam sesaat, wanita itu menghilang? Tidak pernah berada disini..."Sazi?" gumamnya menjatuhkan kue yang dibawanya, kini dirinya menyadari benar-benar merindukannya.


***


Hari ini adalah hari ulang tahunnya, angin berhembus menerpa kulitnya, rupa cantiknya benar-benar terpancar, sudah beberapa minggu, Rion merawatnya dengan baik. Membersihkan kulitnya, memakaikan produk perawatan wajah, terkadang memesan jasa penataan rambut untuknya.


Wanita yang kini memakai mini dress berwarna hijau muda. Masih terdiam dengan tatapan kosong.


Duduk seorang diri di bangku taman, bukan rumah yang besar. Namun rumah peristirahatan yang cukup nyaman. Dengan beberapa varietas tanaman mawar biru di bagian halaman belakangnya.







Rion tersenyum usai membaca beberapa laporan perusahaan yang dikirimkan padanya. Menutup laptopnya, berjalan mendekati Sazi.


"Sebentar lagi kamu akan sembuh. Ini hari ulang tahunmu. Sekaligus hari menghapus rasa pahit di hidupmu. Maaf, aku mengambil keputusan untuk merubah ingatanmu... agar kamu tidak melukai diri sendiri lagi...aku mencintaimu..." ucapnya mencium punggung tangan Sazi, yang masih terdiam menatap ke arah satu titik.


"Tuan..." seseorang menunduk memberi hormat.


"Kamu mengatakan dapat menyembuhkannya dalam waktu singkat. Apa merubah ingatannya akan menyakitinya?" tanya Rion menatap seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam.


Pria itu tersenyum,"Hikaru, yang merekomendasikanku. Dulu aku bekerja pada Hikaru. Aku bisa merubah ingatan terkadang memanipulasinya. Ini ilegal, tapi dapat menyembuhkan secara instan. Efek sampingnya, jika ingatannya kembali, kondisi kejiwaannya akan lebih buruk atau dapat sembuh secara permanen,"


"Berikan perhatian padanya, mungkin kondisinya saat ingatannya kembali akan sembuh total..." lanjutnya.


"Hipnoterapi seharusnya tidak bisa sejauh ini. Ini ilegal, tapi kemampuannya tidak dapat diragukan. Namun, jika setelah ingatannya kembali kondisi mentalnya..." Hikaru terlihat tertunduk ragu tetap tersenyum ganjil, menatap ke arah Rion.


Rion tersenyum."Jika kondisi mentalnya memburuk. Aku akan tetap menghabiskan hidupku untuk merawatnya..."


Jawaban dari anak katak yang sejatinya sama saja dengan ayahnya.


Bagaimana dengan kehidupan Fino saat ini? Pria itu membuka bisnis waralaba, menjual berbagai makanan yang diminati anak muda.


Memiliki belasan outlet, duda tua keren itulah dirinya yang tidak tertarik pada satu wanita pun. Menatap putranya dari jauh yang mencium tangan wanita dengan gangguan kejiwaan itu berkali-kali."Bucin..." cibirnya tidak tau diri, sampai saat ini masih menggunakan foto mantan istrinya sebagai wallpaper handphonenya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2