
🍀🍀🍀🍀 Warning! Untuk mempercepat proses pengetikan, novel ini akan sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia. Mohon dimaklumi 🤗🍀🍀🍀🍀
Hari ini tetap gagal, wanita itu menghela napas kasar menyelimuti tubuh suaminya. Mendekapnya erat di tengah udara dingin malam. Wajah yang tengah terlihat kelelahan itu ditatapnya. Bibir Rion dikecupnya. Menghela napas kasar banyak hal yang ada di fikirannya.
Apa Rion tidak mencintainya karena dirinya terlalu agresif? Namun jika tidak agresif, bagaimana caranya untuk menjaga rasa kasih dari suaminya.
Air mata Sazi mengalir entah kenapa, banyak hal yang tidak diingatnya. Sebuah luka yang membuatnya menginginkan kasih sayang. Apakah Rion mencintainya? Hal itu masih ada dalam benaknya hingga kini.
Namun, rasa sakit yang nyata, terkadang kematian lebih baik, dari pada rasa sakit yang menghujam dadanya kini. Takut kehilangan Rion? Dimana Dini saat ini? Entahlah, dirinya kini hanya memiliki seorang Rion. Pemuda yang tengah tidur dengan tenang.
Menjadi apapun yang diinginkan Rion, itulah yang akan dilakukannya.
"Aku mencintaimu..." air matanya berurai, kembali mengecup bibir dingin pemuda yang telah tertidur dengan wajah damainya.
***
Pagi mulai menjelang, sudah beberapa hari mereka tinggal di rumah tersebut, seperti biasanya sarapan selalu terhidang di atas meja kala dirinya terbangun. Menatap ke arah istrinya yang tengah bersiap untuk registrasi, ke kampus pilihannya.
Benar-benar cantik, Rion tersenyum menatapnya dengan rambut yang masih acak-acakan.
Wanita yang mulai mengenakan sarung tangan wol yang cukup tebal. Rion bangkit, berjalan menuju lemari, mengambil syal dan penutup telinga berbentuk bulu. Memakaikannya pada Sazi menjaga wanita itu tetap hangat.
"Tunggu aku sarapan, aku akan mengantarmu. Jalan kita searah..." ucapnya mengecup kening Sazi.
Merasa disayangi? Itulah perasaannya saat ini. Benar-benar mencintai suaminya yang terlihat dewasa, selalu dapat membuatnya tidak pernah berpaling. Mungkin perasaan nyaman inilah yang dulu membuatnya mencintai Rion si roti bantet, menangis saat pemuda ini dinyatakan meninggal.
Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, tolong cintai aku... pinta Sazi dalam hatinya.
Rion duduk di atas sofa memakan sarapannya, di sudut bibirnya tertinggal mapple sirup. Wajah rupawan wanita itu mendekat, membersihkan bibir sang pemuda, menggunakan tissue basah.
Mata Rion tidak dapat beralih darinya.
Apa jika ingatanmu kembali, kamu akan tetap mencintaiku seperti ini? Maaf, sudah membohongimu...aku mencintaimu... batinnya.
***
Mobil perusahaan yang ingin bekerja sama dengannya mulai menjemput. Sazi masuk kedalamnya bersama Rion, sedangkan Hikaru telah duduk di kursi penumpang bagian depan, menyesap kopi hangat yang lengkap dengan penutupnya. Memiliki brand merek lambang biru di bagian depannya.
Kediaman yang telah terkunci mereka tinggalkan, kali ini seperti yang diharapkan Rion, Sazi bersikap seolah-olah bagaikan kekasih. Tidak memelas untuk berhubungan badan lagi. Menggenggam jemari tangannya penuh senyuman.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya melambaikan tangan, turun dari mobil, di area kampus yang terlihat memiliki arsitektur ala Eropa. Gerbang besar yang terbuat dari besi terlihat berdiri kokoh. Salju di pepohonan masih terlihat, dengan air mancur yang tidak berfungsi, akibat suhu yang terlalu ekstrim.
Mobil melaju meninggalkan wanita itu, wanita yang mulai berjalan memasuki kebudayaan baru. Melewati pintu utama yang cukup besar, berpapasan dengan beberapa mahasiswa.
Tidak ada banyak pembicaraan, atau sapaan. Dirinya berjalan sendiri mencari kantor rektor. Hingga salah belok sedikit, ada pasangan yang tengah berciuman di sudut lorong sepi. Membuatnya berbalik dengan wajah memerah.
Dirinya benar-benar merasa malu...
Sazi masih tetap melangkah mencari arah. Beberapa pemuda rupawan yang berbincang dekat tangga melirik ke arahnya. Bagaikan membicarakan dirinya dalam bahasa Spanyol. Bahasa yang tidak dimengertinya.
Pernahkah kalian melihat pria berdarah Spanyol? Mata coklat yang indah, tubuh atletis berbadan tegap, rambut yang terkadang agak kecoklatan. Mungkin bisa di bilang sebagian besar memiliki sifat romantis yang tinggi.
Apakah suatu kesalahan bagi Rion menyekolahkan anak kucingnya disini? Entahlah...
Seorang pemuda mendekatinya mulai berbicara menggunakan bahasa Inggris. Mungkin jika diterjemahkan inilah isi pembicaraan mereka.
"Pagi, bisa aku membantumu?" tanyanya, menampakan senyuman cerah dengan aura maskulin.
Sazi mengangguk."Aku ingin mencari jalan ke kantor rektor..."
"Namaku Andres, mau aku antar," ucapnya merebut map yang ada ditangan Sazi, berjalan mendahuluinya.
***
Hingga sampai ke depan ruangan rektor. Sazi dengan cepat merebut map yang dibawanya."Sudah aku bilang, aku bisa sendiri!!" bentaknya sengit.
"Tanda terimakasih?" tanya Andres.
"Apa?" Sazi mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Katakan namamu sambil mengulurkan tangan," ucapnya tersenyum.
Wanita itu mengulurkan tangannya menyangka dirinya akan berjabat tangan."Sazi..."
Namun tanpa diduga, jemarinya diraih, pemuda itu sedikit membungkuk, mencium punggung tangannya."Nama yang cantik..."
Sazi membulatkan matanya terkejut, wanita lemah lembut tanpa keahlian bela diri itu. Melepaskan ranselnya, menghantam wajah Andres dengan ransel yang lumayan berat, membuat pemuda itu jatuh tersungkur.
"Aku tidak tau kebudayaan disini!! Tapi aku wanita yang sudah menikah!!" bentak Sazi pada sang pria, kemudian masuk ke dalam ruangan rektor.
__ADS_1
Pria itu mengenyitkan keningnya, memegangi pipinya sendiri."Galak!!" geramnya kesal, berusaha untuk tersenyum.
***
Sementara itu di tempat lain, Rion memulai pertemuan bisnisnya. Seorang perwakilan perusahaan kontraktor yang cukup besar tengah menjelaskan tentang proyek pembangunan tower apartemen mereka. Serta target pasar kedepannya.
Rion menghela napas kasar, setelah membaca beberapa berkas kerjasama. Serta meninjau lokasi.
"Bagaimana tuan Grimm?" tanya sang perwakilan perusahaan pada Rion.
"Hikaru, hubungi CEO! Beri dia peringatan atas kebodohannya, proyek pembangunan macam apa yang akan didanainya," ucap Rion melemparkan berkas ke atas meja.
"A...apa maksudnya?" tanya perwakilan perusahaan yang akan bekerjasama dengan perusahaan milik Rion.
"Maksudnya, kerjasama ini akan dibatalkan. Kalian mengganti bahan baku sesuka hati. Arsitek yang juga berasal dari pihak kalian sendiri, terlalu arogan dengan pandangannya sendiri. Aku tidak akan mendanai proyek ini," Rion mulai bangkit hendak berjalan pergi.
Namun dua orang pria bersenjata menghadangnya.
"Tandatangani ini atau kamu akan mati..." sang perwakilan perusahaan pesaing, tersenyum menyeringai.
"Jangan tersenyum lagi, kamu tidak lihat kita akan mati, jika tidak tandatangan," keluh Rion melirik ke arah Hikaru.
"Kalau begitu tandatangan saja," jawaban Hikaru enteng, masih setia tersenyum, pada situasi apapun.
Rion mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar."Uang yang akan menghilang jika aku tandatangan cukup besar, sekitar 52 juta dolar..."
Senyuman di wajah Hikaru memudar, senjata api yang ditodongkan pada Rion segera ditendangnya. Mengunci pergerakan salah seorang pria yang bertubuh lebih besar darinya, bergerak cepat mematahkan lehernya.
Pemuda itu mungkin sudah lama tidak berolahraga. Menjegal kaki pengawal lainnya, menduduki, tubuhnya, kemudian membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai, hingga darah segar mengalir dari keningnya.
Hikaru mulai kembali tersenyum, merapikan jasnya. Berdiri di belakang Rion, setelah kedua orang tersebut, telah tergeletak kesulitan untuk bangkit.
Rion berbalik, menatap seorang pria dari perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya."Tamak..." cibirnya tersenyum, berjalan pergi diikuti Hikaru.
Beberapa saat mereka melangkah, hingga area tempat parkir. Tiba-tiba langkah mereka terhenti, seseorang berdiri di samping mobil mereka. Wanita cantik dengan tubuh indah menggoda, mengenakan pakaian kantor, namun terlihat ketat, dari ciri-ciri fisiknya bagaikan berkebangsaan Spanyol.
Seorang wanita yang menunduk pada Rion dan Hikaru."Tuan, perkenalkan nama saya Belinda, sekretaris yang direkrut Hikaru..."
Bersambung
__ADS_1