
Matahari dengan sinar menembus pepohonan. Dirinya terdiam, dengan beberapa pengawal berada di sekelilingnya. Menunggu sang supir yang mengatakan ingin buang air kecil.
Buang air kecil di antara rimbunnya semak-semak. Ini tempat yang berbahaya bagi Rion.
"Tuan, dia sudah pergi cukup lama, apa sebaiknya kita mengganti supir saja. Biar saya yang menyetir..." ucap sang pengawal.
Rion hanya terdiam, mulai menghitung dalam hatinya. Satu, dua, tiga, empat, lima...
"Tidak akan selamat..." keluhnya.
Supir pribadi, bahkan lima dari delapan pengawal yang menjaganya memiliki tato kupu-kupu hitam. Hal yang awalnya tidak disadarinya, baru mengetahui kala, mobil berhenti di dekat hutan.
Dirinya tidak dapat langsung bertindak, salah sedikit bergerak saja, maka akan menjadi sandra. Hikaru benar-benar ceroboh kali ini dalam merekrut pengawal baru.
Berpura-pura mengikuti alur, mengulur waktu, hanya itu yang dapat dilakukan Rion. Seharusnya para pembunuh bayaran segera bertindak, mungkin ketakutan dengan kemunculan Hikaru. Memastikan Hikaru tidak diam-diam mengikuti mereka.
Rion menghela napas kasar, jemari tangannya gemetaran saat ini. Pesan telah dikirimkannya pada Belinda, saat menyadari mobil terhenti di jalanan sepi. Pesan yang berisikan agar Belinda segera menghubunginya.
Menghubunginya? Apa yang ada di fikiran Rion? Dirinya memiliki rencana lain.
Suara panggilan dari Belinda tiba-tiba terdengar.
"Rion kamu dimana?" kata-kata dari Belinda tiba-tiba disela.
Dari nada suara Rion terdengar baik-baik saja walaupun sejatinya tidak."Apa? Kamu menemukan beberapa orang yang mengawasi di dekat hutan? Hikaru kamu membawa berapa orang?" tanyanya seolah-olah bicara pada asistennya.
Lima orang yang berpura-pura menjadi pengawalnya melirik. Mulai terlihat gentar dan gelisah, mungkin mereka akan mengulur waktu untuk membunuh Rion. Agar Hikaru tidak menyadari mereka hanya pengawal palsu. Menunggu orang-orang mereka datang lebih banyak lagi. Ketakutan akan predator ganas yang menerkam.
Belinda yang tengah menyetir mobil mengenyitkan keningnya. Perlahan dirinya mulai mengerti instruksi aneh dari Rion. Pemuda itu tengah berada di tepi jalan dekat hutan saat ini. Dalam keadaan bahaya.
"Jika kamu ada dalam situasi yang sulit katakan prajurit. Jika tidak katakan pengawal," perintah dari Belinda pada sang kaisar.
Rion berusaha tersenyum, menghela napas kasar."Prajurit-prajurit bodoh! Mereka kira dapat berhadapan dengan mudah. Kerahkan semua prajurit, kita ajari mereka bermain catur..." kata-kata darinya.
Wajah Belinda seketika pucat pasi, situasi yang tidak menguntungkan bagi Rion. Dirinya berusaha tetap menghubungi Rion. Sedangkan, mobilnya di hentikan di pinggir jalan.
Jemari tangan Belinda bergerak cepat, mengirim e-mail pada orang-orangnya. Dari kata-kata aneh, Rion saat ini dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Kata-kata Rion terjeda sejenak."Tau saat apa permainan catur berakhir? Saat rajanya yang terkepung. Walaupun Queen, King, Jack, kartu dengan nilai tertinggi, tapi lima hati saja dapat membalik keadaan dalam permainan poker..."
Belinda mengepalkan tangannya berfikir, kemudian bergumam sendiri."Raja yang dikepung, lima hati dapat membalik keadaan. Rion yang terkepung, ada lima musuh di dekatnya..."
Wanita itu kembali mendengarkan dengan seksama. Ingin mengetahui informasi tentang musuh lebih detail.
"Hikaru terkadang aku lelah dengan hidup ini. Reinkarnasi memiliki lambang teratai bukan? Tiga helai kelopak bunga teratai berguguran, terjatuh ke kolam. Itulah tema lukisan Sazi yang akan datang, mungkin sebaiknya ada semacam serangga indah di tema lukisannya. Selain itu aku ingin bermain ular tangga, berharap tidak tertelan dari kepala hingga ekornya. Ada buaya juga," lagi-lagi kata-kata ambigu diucapkannya, penuh tawa seakan bergurau.
Teratai? Tidak ada kelompok yang memiliki lambang teratai. Tapi serangga indah, kupu-kupu hitam, mungkin... batin Belinda memikirkan segalanya.
Semua informasi dicatatnya, tiga melawan lima orang. Dirinya kembali melajukan mobilnya, dengan kecepatan tinggi usai mengirimkan pesan pada Hikaru. Hingga Rion tiba-tiba mematikan panggilan, tanpa sebab.
Situasi yang cukup sulit untuk Belinda."20, tidak 15 menit lagi," gumamnya memperkirakan waktu dirinya sampai ke tempat keberadaan Rion saat ini.
Sekitar lima mobil pengawal ikut bergerak ke lokasi tujuan, menyusulnya dari kediaman utama.
Ini benar-benar sulit, satu tembakan di kepala maka semuanya habis. Bagaimana bisa dirinya seceroboh ini?
"Sial!!" umpat Belinda.
***
13 menit berlalu, mobil sport dengan kecepatan tinggi mulai terparkir di tepi jalan raya. Diikuti sebuah mobil Jeep dan dua mobil hitam lainnya.
__ADS_1
Belinda diam tertegun, menyisir keadaan sekitarnya. Hingga handphone Rion ditemukannya dengan noda darah melekat disana.
"Cari!! Kerahkan *njing pelacak!!" bentak Belinda, memberi perintah.
Perkelahian memang mungkin sempat terjadi, beberapa pohon berlubang dengan peluru yang bersarang. Namun pihak mana yang kalah? Entahlah, tidak ada satupun mayat yang tersisa di sana.
Tiga puluh menit penyisiran tidak ditemukan jejak sama sekali bahkan helikopter telah dikerahkan. Satupun mayat tidak ditemukan.
Seorang pria baru turun dari mobilnya berjalan mendekati Belinda yang tertunduk."Ketua..." ucapnya ketakutan.
"Kenapa kamu berangkat dengan mobil yang terpisah dengan Rion!?" tanyanya dengan nada dingin.
"I...itu... maaf..." kata-kata dari Belinda untuk pertama kalinya ceroboh dalam menjalankan misi. Mata wanita itu menelisik, mencari celah agar tidak disalahkan."Aku melakukan hal yang sering kamu lakukan dengan nona,"
Hikaru menghela napas kasar, semalam tidak mendapatkan apapun, seperti prediksinya tamu bulanan Hany datang. Bahkan dirinya harus mengganti sprei yang terkena noda darah, tengah malam. Memijit perut wanita itu yang kram, benar bergadang penuh. Belum lagi mempersiapkan bekal serta mengantar putranya ke sekolah.
Hikaru menghela napas kasar, mengalihkan pembicaraan."Rion tidak bodoh, petunjuk apa saja yang ditinggalkannya?"
"Musuh berjumlah lima orang, sedangkan pengawalnya berjumlah tiga orang. Dia mengatakan serangga indah, mungkin lambang kelompok black butterfly. Tapi satu yang aku tidak mengerti Rion mengatakan akan bermain ular tangga berharap tidak tertelan dari kepala hingga ekornya, juga ada buaya" kata-kata dari mulut Belinda."Dia selalu mengatakan dirinya katak, apa dia tertangkap oleh Gerald? Berharap tidak dibunuh?"
Hikaru menggeleng, berfikir berada saat."Buaya? Apa hewan eksotis daerah ini?" tanyanya.
Belinda meraih phonecellnya, mencari tentang data yang ditanyakan Hikaru."Buaya air asin (buaya muara)"
"Rion melarikan diri ke sungai, menyusuri hutan. Dia memberikan tempat pertemuan di muara sungai, dekat laut. Sungai di daerah ini, meliuk bagaikan ular, takut tertelan dari kepala hingga ekor, dia mengikuti arus ke muara. Kerahkan orang-orang kita untuk menyusuri anak sungai terdekat! Siapkan juga untuk orang-orang kita agar berjaga di muara sungai..." perintah Hikaru. Belinda tertunduk kemudian bergerak dengan cepat mengatur bawahannya.
***
Apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa puluh menit yang lalu...
Rion menelan ludahnya sendiri, hanya tiga melawan lima berarti mampus. Istrinya resmi akan menikah dengan Dave, setelah pemakaman dirinya. Ditambah dengan pasukan pembunuh bayaran lain yang bersembunyi.
Kenapa dirinya mendorong Hikaru pergi menemui istrinya? Seharusnya dirinya menahan Hikaru. Penyesalan memang selalu datang terlambat bukan? Jika datangnya cepat, maka akan menjadi pendaftaran.
Rion menelan ludah menahan malunya."Kalian cukup tampan," ucapnya mengedipkan sebelah matanya, bagaikan gay.
"Tu...tuan..." sang pengawal menelan ludahnya berdidik ngeri, geli sendiri menatap wajah Rion.
Rion dengan sengaja menarik dasi sang pengawal kemudian berbisik di telinganya."Dengar dua orang yang didapanmu orang-orang kita. Selebihnya musuh yang menyamar. Aku akan tetap ada disini, mereka tidak berani bergerak menunggu bala bantuan untuk membunuhku. Mengira Hikaru ada di hutan ini. Jadi bawa dua orang di depanmu, beri pengarahan pada mereka untuk agar kita melarikan diri ke arah aliran sungai..." ucapnya, menghisap leher sang pengawal menyempurnakan aktingnya.
Sang pengawal benar-benar merinding antar jijik dan kegelian dengan perlakuan majikannya.
Rion menahan malunya, yang penting dapat hidup setelah ini."Lain kali kita check in ya? Istriku tidak akan tau." Ingin rasanya Rion muntah, benar-benar mual atas tingkahnya sendiri.
Sedangkan beberapa pembunuh bayaran, melihat ke arah lain, sedikit menjauhi Rion. Benar-benar prilaku menyimpang, apa dia trans? Entahlah, yang jelas kepalanya dan kepala Hikaru memiliki harga yang tinggi.
Pengawal yang digoda Rion mulai berjalan, memberikan kode jari berkomunikasi dengan kedua rekannya tanpa bicara. Sudah terbiasa menghadapi situasi yang lebih berbahaya dari ini.
Jantung pemuda itu berdegup cepat, namun bukan karena jatuh cinta pada sang pengawal. Tapi lebih karena ketakutan, melangkah mundur, sedangkan ketiga pengawalnya mendekatinya.
Rion mengepalkan tangannya dirinya tidak dapat membawa phonecell, karena sinyalnya akan terlacak dengan mudah. Karena itu.
Bug!!
Phonecell dengan lambang apel dilemparkannya, sekuat tenaga. Tepat mengenai kepala salah satu dari mereka. Menyisakan darah segar yang mengalir dari kepala salah satu pembunuh bayaran.
Ketiga pengawalnya, menariknya melarikan diri. Adrenalin yang benar-benar terpacu, lebih mengerikan daripada menaiki wahana halilintar. Jas anti perlu yang selalu dikenakannya ketika berpergian, digunakan untuk melindungi kepalanya.
Berlari dengan cepat bersama pengawalnya.
Dor!! Dor!! Dor!!
__ADS_1
Suara tembakan terdengar nyaring, saling bersahutan bagaikan sepasang suami-istri yang bertengkar dalam cacian dan makian.
Hingga trio warkop DKI itu bersembunyi di balik batu besar bersama sang anak katak."Kalian fokus menembak saja!! Aku akan menjadi petugas pengisi peluru!!" ucap Rion yang tidak memiliki keahlian berkelahi sedikitpun.
Mengambil senapan cadangan mereka, mengisi peluru, menukar dengan yang kosong. Hanya itulah tugas sang kaisar, karena dia tidak seperti kaisar lainnya yang menunggangi kuda dengan gagah berani memimpin peperangan lalu berakhir mati.
Benar-benar kaisar yang sok jagoan. Dirinya belajar dari sejarah. Harus menjadi kaisar modern yang lebih cerdas.
CEO sempurna yang bisa berkelahi dan tembak menembak? Itu bukanlah gayanya. Jika bisa melarikan diri, lebih baik kabur dari pada terluka parah atau mampus.
"Kita harus menyerang..." ucap salah satu pengawalnya."Atau salah satu dari kita menahan mereka. Dua lainnya membawa tuan melarikan diri,"
"Tidak bisa, kalian bukan bekal timun mas yang aku lemparkan untuk menghadang raksasa. Kita kabur bersama, bagaimanapun caranya..." ucap Rion antusias.
"Tapi bagaimana?" sang pengawal menghela napas kasar, masih terlibat baku tembak.
Rion berfikir sejenak, kemudian tersenyum.
***
Jas abu-abu? Itulah yang membedakan Rion dengan ke-tiga pengawalnya yang menggunakan jas hitam. Suara tembakan masih terdengar. Diselingi dua orang yang melarikan diri salah satunya menutupi kepalanya menggunakan jas abu-abu, satu lagi menggunakan jas hitam.
Para kelompok pembunuh bayaran kembali berfokus mengejar pria ber-jas abu-abu dan seorang pengawal ber-jas hitam. Mengejar mereka menyusuri turun ke arah anak sungai.
Tidak menyadari segalanya? Tentu saja, posisi kini berbalik. Mereka mengepung dua orang itu ke arah aliran sungai. Namun, terlalu berfokus juga tidak baik bukan? Melupakan dua orang lainnya yang entah berada dimana.
Para pembunuh bayaran mengepung mereka, pria ber-jas abu-abu mulai memperlihatkan wajahnya. Bukan sang kaisar, hanya pengawal yang melarikan diri memakai pakaian rajanya.
"Bukan Rion!! Cari dia!!" perintah sang pimpinan kelompok.
"Terlambat," pengawal ber-jas abu-abu, tersenyum.
Dor!! Dor!! Dor!!
Suara letupan senjata api terdengar dari atas tebing tempat Rion dan seorang pengawal yang memiliki keahlian menembak jarak jauh berada. Mengenai empat diantara mereka tepat di kepala.
Sementara Rion sang perencana pembunuhan duduk di belakang penembak jitu, menutup telinga dan matanya sendiri. Adegan yang terlalu sadis bagi anak baik sepertinya.
Sang pengawal yang memiliki keahlian menembak mengenyitkan keningnya."Kamu yang merencanakan untuk membunuh mereka. Kenapa kamu yang ketakutan?" tanyanya.
"Jangan menyebutkan dosa-dosaku..." Rion menghela napas kasar.
Masih tersisa dua orang, dua orang pengawal Rion yang berada di pinggir sungai dan dua anggota kelompok pembunuh bayaran berkelahi disana.
Perkelahian yang cukup sengit. Salah satu dari pengawal Rion bahkan terluka.
"Tembak saja!!" Rion memukul kepala sang sniper.
"Maaf!!" ucap sniper bagaikan bengong menatap adegan action dari atas tebing.
Dor!! Dor!!
Dua nyawa melayang, Rion dan sang sniper segera turun mendekati dua pengawal lainnya.
Trio warkop akhirnya berkumpul, bersama dengan Rion."Ayo kembali ke mobil..." salah seorang pengawal ingin memimpin jalan.
"Mereka sudah sempat meminta bala bantuan untuk membunuh kita. Jika kita kembali, kita akan mati dalam perjalanan. Aku sudah menghubungi Belinda agar kita bertemu di muara sungai." Rion menghela napas kasar.
"Jadi kita berjalan sekitar 20 kilometer?" tanya salah seorang pengawal mencari di google map.
"Kamu bawa handphone!? Kemarikan handphone kalian!!" perintah Rion cerewet.
__ADS_1
Mereka memberikan phonecell mereka. Seperti sudah diduga phonecell dilemparkan cukup jauh."Nanti aku belikan lagi ..." lanjut Rion.
Salah seorang dari mereka mengenyitkan keningnya masih penasaran."Tuan apa anda benar-benar pecinta sesama jenis?" tanyanya ragu, berjalan menyusuri sungai, tiga pria yang menjaga jarak dari Rion.