Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Keluarga


__ADS_3

Gerland mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Ketakutan? Tentu saja petugas kepolisian akan segera sampai untuk menangkapnya. Semua laporan kejahatannya telah diserahkan Hikaru. Pemuda yang tertegun diam saat ini.


Matanya menelisik menatap ke arah Gerald, yang telah dilumpuhkan petugas kepolisian. Diikuti dengan Jameson yang masih setengah sadar akibat pengaruh narkotika.


Hal tidak terduga terjadi, Jameson tiba-tiba tertawa. Kemudian melawan petugas kepolisian, berlari menuju balkon. Pria yang melompat dari lantai tiga masih dalam imajinasinya terkena pengaruh narkotika dosis tinggi, mengingat beban pekerjaan dan menjaga image sempurnanya, narkotika lah yang selama ini menjadi pelariannya.


"Jameson!!" teriak Gerald, berlari ke arah putranya. Bukankah sesuai janji? Tubuh yang benar-benar remuk terkena tepian kolam renang. Walaupun hanya jatuh dari lantai 3, namun posisi jatuh Jameson menyebabkan kematiannya. Terjadi banyak pendarahan di tubuhnya.


Perlahan dirinya mendekati putranya yang memiliki wajah menyerupainya. Sebuah sumpah yang benar-benar mengerikan. Mungkin Anggara yang tidak dapat membawanya, kini membawa putranya pergi. Sebagai kesalahannya karena telah mengingkari janji.


"Jameson!!" teriaknya terisak dalam tangisan, memeluk tubuh putranya yang telah tidak bernyawa. Hatinya bergetar, setelah ibu dan adiknya hanya Jameson yang ada di hatinya.


Air matanya mengalir, hanya Jameson yang benar-benar dianggap keluarga olehnya. Tidak ada yang lain, tubuh itu diguncang-guncangnya namun percuma roh telah meninggal raganya yang mendingin.


Tidak ada yang tersisa disana kecuali sebuah penyesalan. Menangis tertunduk terisak, pria yang bergerak cepat merebut senjata api polisi. Mengarahkan tepat pada kepalanya sendiri.


"Hentikan!!" pinta sang petugas kepolisian.


Gerald menggeleng, dirinya sudah dikalahkan oleh Anggara. Membalas dendam ibu dan adiknya? Bahkan putranya ikut mati. Dirinya benar-benar terjerat sebuah sumpah.


Dor!


Suara nyaring senjata api terdengar, menembus tengkorak kepalanya. Dirinya terjatuh ke kolam renang dalam tangisan.


Dendam akan menimbulkan dendam lainnya, sebuah rantai yang tidak akan pernah dapat putus. Terus menyambung bagaikan api yang membakar segalanya.


Mata yang terbuka kala tubuh itu jatuh ke dasar kolam. Semua hanya karena Margaretha, orang yang menyebabkan kematian Sely. Tapi apa benar? Itulah keyakinan yang dibawa Gerald hingga mati. Dengan tubuh menyentuh dasar kolam.


Tidak ada penyesalan yang tersisa, hanya wajah berselimut dendam. Sebuah dendam yang dianggapnya tidak terbalaskan.


***


Di tempat lain Margaretha mulai membuat kue perlahan. Membuat hiasan yang begitu menawan. Matanya menelisik menatap ke arah menantunya.


"Apa sulit?" tanyanya tersenyum.

__ADS_1


Sazi menggeleng, kembali membuat hiasan bunga mawar. Menghias sebuah kue indah perlahan bersama.


Ini adalah kue ulang tahun untuk ayah mertuanya.


Lilin mulai dinyalakan, kala malam menjelang. Fino terdiam menatap ke arah mereka. Wajahnya Margaretha terkena pantulan cahaya lilin. Dirinya sudah cukup bahagia...


Tidak ada lagi hal yang dimintanya. Tidak ada lagi keinginannya, hingga suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita cantik berdiri di depan pintu membawa bunga mawar.


Perlahan pintu dibukakan Margaretha.


"Tante keriput..." ucap Vanessa penuh senyuman, masuk ke dalam rumah tidak tau malu.


Margaretha mengepalkan tangannya, seumur hidupnya tidak pernah memiliki saingan untuk memperebutkan Fino. Tapi kini? Ada bocah yang bahkan hampir seumuran dengan putranya, menyukai Fino.


Sikap yang benar-benar berbeda."Oppa (kakak dalam bahasa Korea)!" panggilnya, mencoba mendekati Fino.


Namun dengan cepat Margaretha menarik tangannya."Dia milikku," tegas sang tante tua.


"Tante sudah keriput, lihat aku masih berbody! Wanita karier, pramugari yang," kata-kata Vanessa tiba-tiba disela.


"Tidak, aku mencintaimu..." Vanessa berusaha tersenyum, berjalan mendekatinya.


Namun, Fino menggeleng."Aku hanya menjagamu ketika sakit sama seperti orang tua menjaga putrinya. Kamu hanya takut kehilanganku, seperti kamu kehilangan ayahmu,"


Vanessa terdiam jemari tangannya gemetar, masih teringat jelas di benaknya kala almarhum ayahnya pergi dengan wanita lain. Meninggalkannya seorang diri dengan neneknya dalam apartemen kecil.


Wanita yang menghapus air matanya."Jangan mencari alasan untuk menolakku. Aku mengerti, tapi tidak ingin mengerti. Jika kamu menyukai Tante tua ini, boleh kita tetap berteman?" tanyanya.


Fino mengangguk."Aku berteman dengan bocah..." gumamnya tertawa.


"Jaga jarak!!" Margaretha menyela diantara mereka.


Segalanya berjalan seperti semula. Seolah-olah melepaskan semua dendam dan pengkhianatan. Tertawa, menertawakan seorang Margaretha yang tidak akan menggunakan harga dirinya di kesempatan kali ini.


*

__ADS_1


Semua berjalan lancar, kecuali seorang pemuda yang tengah berusaha keras menurunkan berat badannya.


Bug!


Ben terjatuh dari treadmill."Sial!" teriaknya yang baru hanya turun 500 gram. Belum berani menemui Queen. Benar-benar berusaha bagikan author yang bergadang untuk update.


Hingga handuk terjatuh di atas kepalanya, pemuda itu menonggakkan kepalanya. Gadis rupawan dengan pakaian olahraga."Kita olahraga bersama, aku stres setiap hari melihat kakakku menempel dan bermanja-manja dengan istrinya..." Queen menghela napas kasar.


Perlahan Ben tersenyum, segera bangkit dari lantai. Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal."Aku..."


"Aku belum menyukaimu, tapi sudah peduli padamu. Kakakku mengatakan cinta bisa tumbuh dari rasa kepedulian," ucapnya tersenyum.


Ben berbalik pergi tidak berkata apa-apa pun. Pergi ke kamar mandi yang terdapat di gym pribadinya.


"Apa dia marah?" Queen mengenyitkan keningnya.


Namun, hal yang berbeda terjadi, suara teriakan terdengar dari dalam sana diiringi suara tawa."Queen mau olahraga denganku!!" teriaknya bagaikan author yang naik lencana.


Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menipiskan bibir menahan tawanya."Mungkin tidak akan sulit belajar menyukainya. Kakak Leony sudah menikah, apa sebaiknya aku juga menikah di usia muda..." gumamnya.


*


Pernikahan Leony? Ini adalah malam pertamanya. Pernikahan sederhana yang berlangsung tertutup. Keluarga Mark tidak menghormatinya seperti dulu. Tidak dapat protes sama sekali. Kematian Gerald dan Jameson? Semua tidak diketahui olehnya.


Sang ayah tidak pernah menghubunginya lagi, usai memperlakukannya dengan buruk. Gaun murah yang dibeli secara online melekat di tubuhnya.


Ini adalah makan malam pertama setelah pernikahannya. Makanan Prancis yang selalu disiapkan keluarga Mark setiap dirinya datang tidak ada lagi. Hanya makanan Chinese yang memiliki citarasa pedas. Tidak menyukainya, dirinya enggan menyentuh namun perutnya benar-benar lapar.


Tangannya meraih sendok, kesulitan jika harus menggunakan sumpit. Mengambil potongan daging di hadapannya. Namun...


"Kamu tidak menghormati suamimu!? Mark yang akan bekerja keras membiayai hidupmu!!" cibir wanita yang kini resmi berstatus ibu mertuanya, memindahkan piring yang berisikan setumpuk daging, ke dekat putranya."Kamu makan sayur saja, dasar menantu tidak berguna. Bahkan orang desa lebih berguna darimu. Bisa melayani suaminya!!" komat-kamit mulut itu mengomel.


Leony hanya tertunduk dan terdiam. Melawan? Dirinya tidak memiliki kemampuan untuk itu. Air matanya mengalir, inikah tempat yang dinamakan keluarga?


🍀🍀🍀🍀 Kalau sempat jangan lupa mampir "Silent"🍀🍀🍀🍀😁

__ADS_1



__ADS_2