Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Jika


__ADS_3

Seperti sebuah jalan yang telah ditakdirkan, Margaretha terdiam menatap foto Fino yang diam-diam disimpannya. Air matanya mengalir, jemari tangannya mengepal, menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


Merasa bersalah? Itulah yang menghujamnya selama beberapa tahun, usai mengetahui penyebab kematian mantan suaminya. Ini mungkin kesalahannya, putranya harus berpura-pura bodoh, agar tidak terpisah dari ayah kandungnya. Dan sekarang, kedua orang pria itu telah berada di dasar sungai. Mayat yang tidak pernah ditemukan, bahkan tidak ada makam untuk dirinya meminta maaf.


Dendam yang diam-diam tersimpan membuatnya lebih tegas pada Gerald. Mempertahankan kehidupan kedua putrinya yang tidak memiliki bakat akademik menjadi prioritasnya. Andai saja...andai saja ... dirinya tidak meninggalkan Fino, mengikuti egonya ini tidak akan terjadi.


Hari ini tetap sama pria itu membawa wanita yang berusia lebih muda ke rumahnya. Wanita yang tentunya lebih cantik, memakan makanan malam di hadapannya. Anak yang tidak berpihak pada ibunya? Itulah Leony, anak pertamanya. Menganggap sikap sang ayah adalah hal yang wajar. Matanya menelisik mengamati kedua adiknya. Kembali makan dengan tenang.


"Sayang, aku mau menjadi istri kedua..." kata-kata yang keluar dari wanita muda yang dibawa Gerald, membuat semua orang menghentikan aktivitas makannya. Terkecuali Margaretha, yang masih makan dengan tenang.


"Untuk menikah tidak bisa, tanpa seijin Margaretha," Gerald tersenyum sinis, melirik ke arah istrinya.


Aira (sang wanita muda) menatap ke arah Margaretha."Aku akan menjadi madu yang baik, membantu mengurus keuangan rumah dan..."


Margaretha menghentikan aktivitas makannya sejenak menghela napas kasar."Karena kalian saling mencintai, maka menikahlah. Pembunuh dan wanita bayaran memang cocok..." ucapnya acuh kembali makan dengan tenang.


"Ibu!!" Leony tiba-tiba membentak ibunya. Tidak terima dengan kata-kata sang ibu yang bagaikan menghina ayahnya."Jika ibu tidak menolak berhubungan dengan ayah di tempat tidur, ayah tidak akan mencari wanita lain!! Ibu masih memikirkan si gendut dan mantan suami ibu kan!? Biarkan mereka membusuk di neraka!! Ibu yang sudah seperti wanita penghibur, istri yang tidak setia, menikah dengan ayah, tapi memikirkan pria lain!!"


Queen (anak ke dua Margaretha) yang sedari tadi memendam amarahnya mulai bangkit. Melempar gelas di hadapannya hingga pecah berkeping-keping."Ibu yang melahirkanmu, tapi kamu bersikap seolah-olah lahir dari rahim wanita ini,"


"Tapi ini kesalahan ibu!! Ibu beruntung bertemu dengan pria sesempurna ayah. Tapi masih memikirkan pria lain yang sudah membusuk dalam tanah," ucap Leony, tidak kalah sengit."Lagipula pendidikan kalian, biaya sekolah, walaupun selalu peringkat terkahir, seharusnya kalian berterimakasih pada ayah sudah menyekolahkan kalian,"


"Jika menurutmu ibu dan kami begitu beruntung, aku mendoakanmu agar kamu mendapatkan pria sebaik ayah. Agar kamu menjadi bodoh dan dihajar setiap mendapatkan nilai buruk!!" air mata Queen mengalir tidak dapat ditahannya lagi, Desi (putri bungsu Margaretha) hanya dapat tertunduk diam, ikut tertunduk menangis terisak.


Tangan Leony terangkat hendak menampar Queen. Tapi dengan cepat Margaretha memegang pergelangan tangannya.


Plak...

__ADS_1


Satu tamparan dilayangkannya pada putri sulungnya."Laporkan aku ke kantor polisi atas tindakan KDRT. Kamu sudah cukup pintar kan? Setelah itu aku akan menyeret ayahmu ke penjara atas tindakan tuduhan yang sama karena kerap memukuli adik-adikmu,"


Kesal? Tentu saja, Gerald bangkit melempar mangkuk kaca ke arah Margaretha. Namun wanita itu dapat menghindarinya.


"Aku bilang menikahlah!! Kalian pasangan yang serasi. Aku sudah mengalah karena tidak mencintaimu lagi, kamu yang ingin mempertahankan rumah tangga ini karena warisan dari ayahku. Jika aku mati sekarang, Leony belum cukup umur untuk menjadi pewaris, benar bukan? Karena itulah, aku dan ibuku (Silvia) masih hidup hingga sekarang," ucap Margaretha menatap ke arah Gerald.


Gerald tersenyum."Tentu saja, hanya Leony dan Jameson yang pantas..."


Margaretha menggeleng, menatap lukisan besar almarhum ayahnya saat masih muda."Rion yang pantas," air matanya mengalir, mengingat tidak pernah mencintai putranya yang seumur hidupnya harus berpura-pura bodoh.


Tangan Gerald mengepal, cemas? Tentu saja, mayat Rion dan Fino tidak pernah ditemukan. 193? Itulah IQ remaja itu, ada kemungkinan Rion menemukan cara menyelamatkan diri.


Rasa cemas yang masih mengganjal, hingga dirinya meletakkan nama Rion sebagai sasaran target pembunuh bayaran selama 8 tahun. Walaupun tanpa hasil, namun dirinya yakin saat Rion muncul maka akan langsung dapat dihabisi dengan cepat. Tanpa jejak sedikitpun.


"Apa kamu pernah bertemu dengannya? Si bodoh gemuk sudah mati..." kata-kata yang keluar dari mulut Gerald, yang sejatinya, ketakutan, ragu dengan ucapnya sendiri.


"Rion sudah mati! Kakak bodoh yang jelek! Kenapa ibu masih mengagungkannya! Ada aku di sini, aku yang berhak atas keluarga ini!" Leony masih memegangi pipinya yang terasa kebas akibat tamparan ibunya."Kamu tidak lebih dari seorang wanita yang tidak setia memikirkan pria yang sudah mati. Lebih buruk dari wanita malam. Jika bisa memilih aku tidak ingin terlahir dari rahimmu,"


Entah kata-kata apa yang diucapkan Gerald agar Leony membenci Margaretha. Namun, memang segala fasilitas hanya disiapkan untuk Leony, membuatnya merasa istimewa, bagaikan seorang ratu yang selalu diagungkan. Sedangkan kedua adiknya adalah budak atau pelayan. Margaretha yang selalu membela kedua adiknya, membuat Leony semakin membenci ibunya.


Seberapapun Margaretha menyayanginya, namun kasih sayang itu terbagi pada Queen dan Desi. Sedangkan kasih sayang ayahnya hanya tertuju padanya. Membuat dirinya hanya mencintai sang ayah, menganggap apapun yang dilakukan ibu dan adik-adiknya adalah perbuatan buruk.


Margaretha mengangguk, tanpa ekspresi. Seorang anak yang tidak pernah berpihak padanya. Bahkan ada kalanya mengambil uang di brankas Silvia hanya untuk gaya hidupnya yang bagaikan sosialita berpenghasilan tinggi. Ada kalanya, dirinya merasa gagal sebagai seorang ibu, kala putrinya sendiri sempat mendorong dirinya dari tangga hanya karena pertengkaran kecil.


"Aku tidak pantas melahirkan wanita terhormat sepertimu. Panggil Aira ibu, mulai sekarang, dialah ibumu," ucapnya mulai bangkit.


Tangan Leony mengepal, ini kesalahan ibunya, bukan kesalahan dirinya. Seorang ibu yang lebih berpihak pada adik-adiknya yang bodoh."Baik! Bibi Aira, ibu kandungku mulai sekarang!!"

__ADS_1


Margaretha kembali mengangguk, dirinya sudah menyerah."Aku hanya ingin mengingatkanmu. Rumah ini, perusahaan, aset, semua diwariskan turun-temurun oleh ayahku. Jika darahku tidak ada dalam tubuhmu. Kamu tidak memiliki hak untuk tinggal di rumah ini."


Plak...


Tangan Leony gemetar ini bukan pertama kalinya dirinya menampar Margaretha. Tapi tidak sang ibu selalu mengalah, tapi kali ini mengapa tidak mengalah padanya?


"Queen, kamu dan Desi ada khursus menyanyi hari ini. Kita tidak boleh terlambat..." kata-kata yang keluar dari mulut Margaretha penuh senyuman, meraih kunci mobilnya. Seakan pipinya tidak terasa kebas sama sekali.


Menangis? Dirinya sudah terlalu lelah untuk menangis. Menasehati juga sudah, untuk pertama kalinya dirinya menampar Leony untuk mendidiknya agar tidak menyakiti Queen dan Desi. Tapi entah berapa kali putri yang terlahir dari rahimnya itu telah menamparnya. Sakit? Tentu saja, bukan di pipinya, namun hatinya yang terluka. Entah bagaimana caranya mendidik seorang anak yang dimanjakan Gerald.


"Tanpa uang ayah kalian tidak akan bisa khursus! Jadi hormati ayah!" perintah Leony pada kedua adiknya.


"Ini warisan milik almarhum putraku (Rion), jadi kamu harus berterima kasih seumur hidupmu padanya. Ayahmu? Dia hanya parasit di keluargaku. Dia yang tidak ingin bercerai, dengan mengancam akan membunuh adik-adikmu. Jika aku dan adik-adikmu mati nanti. Itu adalah perbuatan ayahmu..." ucap Margaretha, menarik tangan Desi, melangkah diikuti Queen.


"Rion sudah mati, tidak bisakah ibu bangkit?" tanya Jameson, tengah mengiris daging di hadapannya.


"Kamu tau kan? Ayahmu sendiri yang membunuhnya, jangan bicara omong kosong dengan kata-kata menginginkan kasih sayang dariku..." Margaretha sedikit menengok ke belakang, kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan kediaman.


Takut? Dirinya sudah tidak takut lagi, hanya 2 tahun lagi kesempatannya untuk hidup. Kala usia Leony menginjak 24 tahun, maka putrinya itu sudah dapat memegang kendali perusahaan. Sesuai wasiat ayahnya, yang menginginkan cucu laki-lakinya memasuki perusahaan, saat berusia 24 tahun. Tapi Rion sudah tidak ada, Leony yang menggantikan posisinya. Anak perempuan kesayangan Gerald.


Saat itu dirinya, Silvia, dan kedua putrinya yang lain sudah tidak berguna lagi bagi Gerald. Mungkin... mungkin saja dirinya akan bernasib sama seperti Rion dan Fino. Mati besama ibu dan kedua putrinya.


"Ibu..." Queen tiba-tiba memeluknya kala telah berada di dalam mobil.


"Ibu tidak apa-apa, hanya saja, jika ibu tiba-tiba meninggal, kalian harus melarikan diri dari rumah. Bersembunyilah! Cari kakak kalian Rion, jika suatu keajaiban dia masih hidup. Dia akan dapat menolong kalian..." ucapnya dengan air mata mulai mengalir, mendekap tubuh Queen erat, mencemaskan kedua putrinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2