Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Kalah


__ADS_3

Alexa masih menatap ke hadapan pintu yang tertutup. Tidak mengerti dengan tuan Grimm yang menolaknya begitu saja. Benar-benar sebuah penghinaan. Namun, asistennya cukup menyeramkan, seseorang bernama Hikaru.


Air matanya mengalir sampai saat ini, takut? Tentu saja, dirinya yang ingin memberontak, terus meminta pertolongan Grimm, hingga Hikaru jenuh, menariknya paksa ke balkon kamar. Balkon lantai 15 yang benar-benar menyeramkan. Bersiap akan melempar dirinya, hingga dirinya mengatakan untuk menyerahkan.


Hal yang terjadi selanjutnya? Tentu saja dilempar dari dalam kamar melalui pintu.


Tidak dapat menaklukkan seorang Grimm? Itu bukanlah Alexa. Melangkah pergi meninggalkan ruangan kamar yang di tempati Rion.


Masih dalam posisi ketakutan, trauma akan sosok Hikaru. Tapi masih penasaran pada sosok Grimm.


***


Hari sudah menjelang malam, ini adalah hari terakhir mereka di Filipina, mengingat pekerjaan yang telah selesai lebih awal. Mencari beberapa aset strategis, berinvestasi di beberapa perusahaan dan menangani kerjasama dengan beberapa partner bisnis. Itulah yang mereka lakukan.


Melelahkan? Tidak, sebuah galeri sudah dipersiapkannya untuk Sazi. Menatap ke arah jalanan yang mereka lalui, banyak yang ada di fikirannya saat ini. Tidak menyimpan dendam saat ini, namun ingin mempertahankan sesuatu yang dicintainya.


"Hikaru, apa yang harus aku lakukan saat sudah pulang nanti?" tanyanya menghela napas kasar.


"Menguasai atau dikuasai, lepaskan saja. Buat dia menjerit berkali-kali. Lagipula kalian terlihat saling menyukai," jawaban dari Hikaru, yang berada di kursi pengemudi.


Rion kembali menghela napas, kemudian menggeleng."Saat SMU, aku pernah mengajaknya untuk kawin lari. Kamu tau apa yang dikatakannya? Dia tidak bersedia, lebih mencintai dan memilih tunangannya..."


"Mau aku menyingkirkan mantan suaminya?" Hikaru mengenyitkan keningnya, masih setia tersenyum.


Rion tiba-tiba menoleh antusias padanya."Benar!! Kirim santet saja!!" kata-kata yang keluar dari mulut Rion membuat Hikaru hanya dapat menghela napasnya, berusaha tetap tersenyum.


"Tuan, tentang Gerald ayah sambungmu..." kata-kata Hikaru tiba-tiba dipotong.


"Dia yang mendanai mantan kelompokmu. Bahkan petinggi mantan kelompokmu, juga pernah memberikan jasa padanya," jawaban dari Rion, mulai meraih tabnya.


"Gerald, dia orang yang berbahaya dan..." Hikaru enggan melajukan kalimatnya.


"Aku tau, tapi jika aku mati, tidak lama kemudian kamu juga akan mati. Walaupun tidak ada cinta sehidup semati diantara kita," Rion tertawa kecil, membuka kemasan sandwich take a way-nya, mulai makan sembari membaca data beberapa laporan.


Begitu tenang? Hikaru masih setia tersenyum ganjil, sedikit melirik ke arah majikannya dari kaca spion bagian dalam mobil. Mungkin apa yang dikatakan Rion adalah kebenaran.


Jika Rion mati, tidak ada yang memiliki kekuasaan finansial untuk menanggung hidupnya. Tidak juga ada tempat baginya untuk bersembunyi, menjalani kehidupan yang normal. Jenuh dengan darah yang bergelimpangan? Itulah yang terjadi, kala Hikaru menyaksikan sendiri, kekasihnya menjadikan tubuhnya sebagai tameng peluru. Agar Hikaru dapat hidup.

__ADS_1


Darah itu membuatnya gemetaran hingga kini, darah dari wanita yang dicintainya. Sesuatu yang membuatnya ingin menjalani kehidupan normal. Mencari kekasihnya yang entah dimana saat ini. Wanita yang menghilang kala mengandung anaknya, dengan mulut dan dada mengeluarkan darah segar.


Rasa sakit yang benar-benar menghujam dirinya. Hanya Rion harapannya untuk tetap bertahan hidup, tidak kelaparan, memiliki dukungan finansial, agar mantan kelompok tempatnya mengundurkan diri tidak dapat menyentuhnya, satu lagi sebagai harapan untuk menemukan wanita yang dicintainya dan anaknya.


"Kamu benar, jika kamu tidak ada. Maka aku akan berakhir mati setelah kematianmu. Karena itu, kumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Agar kita dapat tetap hidup..." kata-kata dari mulut Hikaru, masih menunjukkan senyuman ganjilnya.


Kumpulkan uang sebanyak-banyaknya, agar ketika menemukan mereka, kami dapat bertahan hidup. Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu. Kumpulkan kekuasaan sebanyak-banyaknya... batinnya sedikit melirik ke arah Rion yang tengah melihat perkembangan harga saham di tab miliknya.


Putus asa akan kegagalan hidupnya? Itulah yang terjadi pada Hikaru saat pertama kali bertemu dengan Rion. Berhenti menjadi ketua kelompok pembunuh, demi mencari kekasih dan calon anak dalam kandungannya. Mungkin sebuah keberuntungan baginya, bertemu pemuda ini, mesin pencetak uang yang berusaha membangun kekuasaan.


Kaisar dan jenderalnya yang setia? Mungkin seperti itulah hubungan mereka. Bagaimana makmur kaisarnya, begitu juga akan terjaminnya kehidupan jendralnya.


Apapun yang diperlukan Rion akan disanggupi olehnya. Demi menemukan celah, agar suatu hari nanti dapat hidup normal dengan wanita yang dicintainya.


***


Tepat tengah malam, mereka telah sampai tanpa memberikan kabar. Rumah peristirahatan yang tidak begitu besar, namun juga bukan rumah yang kecil. Rion berjalan perlahan, sinar lampu malam yang redup terlihat.


Pintu kamar dirinya dibuka olehnya. Namun, tidak ada siapapun di dalam sana. Tangannya tiba-tiba lemas, apa Sazi telah mengingat segalanya? Apa dia kembali pada Dave? Lebih memilih pemuda itu lagi?


Air matanya tiba-tiba mengalir tidak terkendali, setelah 10 tahun ternyata masih sama. Dirinya harus menerima kekalahannya.


Bagaimana harus menguji hatinya lagi? Membuktikan pada Sazi, perasaannya lebih dalam dari pangeran impiannya (Dave).


Rion menghirup napas dalam-dalam, keluar dari kamarnya. Mengambil minuman di dalam lemari pendingin, terdiam seorang diri di balkon. Pandangan matanya sejenak beralih, menunju area gazebo kecil. Seorang wanita meringkuk tertidur dengan berbagai alat lukis di sekitarnya.


"Sazi?" gumamnya mulai dapat tersenyum. Memang lebih baik begini, ingatan wanita itu terhapus sebagian. Melupakan Dave yang dicintainya, tinggal di atas daun teratai hanya bersama seorang Rion.


Rasanya tidak sabaran untuk melangkah menemuinya, berjalan menuruni tangga lantai! dua.


Wanita itu akhirnya terlihat juga, dengan lukisan yang setengah jadi berada di dekatnya. Tangan, wajah dan kakinya terasa dingin, wanita yang benar-benar cantik, berhati polos, dibuang oleh pria yang dicintainya dan keluarganya sendiri.


"Maaf..." Rion tersenyum lembut padanya yang tengah tertidur. Mulai meraih tubuhnya, mengangkatnya perlahan, tidak ingin Sazi terbangun. Tidak dapat memberikan kehidupan seperti yang diberikan Dave, kehidupan yang mungkin lebih baik. Pernikahan yang diatur oleh dua keluarga dengan status sosial tinggi.


Merasa beruntung? Mungkin begitulah Rion saat ini. Bagaikan mengais-ngais sampah yang dibuang Dave, menemukan harta disana. Harta yang diidamkannya dari lama.


Tubuh yang diangkat olehnya, jemari indah dikotori cat air. Perlahan menapaki tangga, membuka pintu kamar yang setengah terbuka mendorong dengan salah satu kalinya. Kemudian menutupnya kembali, juga hanya dengan mendorong menggunakan salah satu kakinya.

__ADS_1


Suara pintu tertutup yang membuat Sazi terbangun."Rion?" gumamnya, menatap wajah pemuda yang masih mengangkat tubuhnya. Pemuda yang seharusnya pulang dua hari lagi.


Rion tersenyum menurunkannya di tepi tempat tidur. Kemudian duduk di sampingnya."Jangan terlalu lelah..."


Sazi mengangguk, perlahan tangannya terangkat, menyentuh pipi Rion."Kamu Rion yang sama? Rion yang memberikan 100 tangkai mawar biru?"


Pemuda itu tertegun sejenak, kemudian mengangguk.


"Aku mencintaimu..." kata-kata yang keluar dari mulut Sazi tiba-tiba."Aku memendam perasaan padamu dulu...aku..."


Kata-kata Sazi terhenti kala mata Rion semakin sayu menatap bibirnya, memposisikan bibirnya. Semakin mendekat padanya. Sedangkan Sazi perlahan memejamkan matanya, kala kedua bibir sudah saling bersentuhan.


Perasaan yang benar-benar sama, inilah Rion yang dilempar menggunakan tas ransel olehnya.


Jakun yang bergerak, terlihat di leher sang pemuda, kala dua pasang mata itu tertutup. Cairan tubuh yang menyatu dalam mulut mereka, bibir dan lidah yang bergerak perlahan.


Takut kehilangannya? Itulah perasaan Rion saat ini. Menyesap lebih dalam membuat Sazi menggerakkan lidahnya ke dalam mulut pemuda itu, membalas perlakuannya padanya.


Ini begitu indah, hatinya berdebar lebih cepat. Nyaman? Benar-benar nyaman, mungkin inilah saatnya menyerahkan harta paling berharganya pada pemuda ini.


Tangannya merambat membuka kancing kemeja suaminya. Menyentuh otot-otot dada Rion, tangan yang langsung menuju otot perut, mengikuti nalurinya.


Hingga Rion melemparkan kemeja yang kancingnya telah terbuka sempurna oleh Sazi. Kemeja putih yang kini teronggok di lantai. Sang pemuda yang telah bertelanjang dada, menatap mata itu lebih dalam, kala tautan mereka terhenti sejenak.


"Aku mencintaimu, jangan pernah pergi lagi..." kata-kata dari bibirnya, kembali menutup matanya. Menyatukan bibir mereka, penuh kegelisahan, menahan tengkuk Sazi, mencari satu titik untuk melenyapkan perasaan gelisahnya.


Bersambung


...Takut? Saat ini aku ketakutan, tempat dingin beralaskan daun teratai tidak akan membuatmu nyaman......


...Aku takut, putri secantik dirimu akan kembali mengejar sang pangeran......


...Mungkin ini klise, namun walaupun hanya katak buruk rupa. Hatiku yang kecil dimiliki olehmu sepenuhnya......


...Apa dia dapat setulus diriku? Jika iya, aku ingin melepaskanmu dalam senyuman... kembali menerima kekalahanku......


...Saat mengingatnya......

__ADS_1


...Tolong, jangan membuangku lagi......


Rion...


__ADS_2