Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Senyuman


__ADS_3

Walaupun sudah musim semi, hawa dingin masih terasa. Sazi mengeratkan pelukannya, berharap dapat meraba otot-otot dada dan perut yang proposional. Matanya masih tertutup sempurna, hingga menyadari satu hal...


"Kenapa bantet?" gumamnya merasakan sesuatu yang empuk bagaikan timbunan lemak jahat. Apa setelah berhubungan badan suaminya kembali ke rupa aslinya? Sang pangeran kembali berubah menjadi katak? Rion si roti bantet?


Matanya terbuka dengan cepat, menatap ke area sekitarnya. Tubuhnya masih tidak mengenakan sehelai benangpun, tertutup selimut putih tebal, dengan entah berapa tanda keunguan di tubuhnya hasil perbuatan Rion. Rambut panjang terurai, walaupun tidak tertata rapi, kecantikannya masih terlihat. Kulit putih dengan bibir dan mata yang indah, bentuk tubuh sempurna, walaupun dari segi bentuk tubuh tidak semenggoda Belinda.


Sungguh sebuah kesalahan besar Dave lebih memilih Alexa. Baru bangun pun wajah Sazi yang lebih rupawan terlihat jelas, mengingat semenjak bersama Rion dirinya begitu dimanjakan, walaupun bukan dengan biaya perawatan kulit mahal.


Rion sudah tidak ada di sana, yang dipeluknya hanya beberapa bantal yang ditumpuk memanjang. Sarapan berada di atas meja lengkap dengan segelas susu dan orange juice, tumpahan wine di lantai telah dibersihkan, bersama sisa makan malam mereka.


Dengan sebuah catatan.'Maaf, Hikaru menghubungiku, ada rekan sesama investor yang ingin bertemu denganku. Aku mencintaimu, belilah apapun yang kamu inginkan...' itulah isi catatan yang ditinggalkan bersama black card.


Sazi mengenyitkan keningnya, merasa dirinya bagaikan wanita bayaran. Setelah ditiduri langsung di tinggal dengan uang yang ada dalam rekening."Dasar bantet!!" teriaknya murka.


***


Sedangkan Rion menghela napas kasar, telah memakai setelan jas-nya, memijit pelipisnya sendiri dalam mobil yang melaju."Sial!" gumamnya menendang udara kesal.


"Kita akan untung sekitar 45 juta dolar, jika dapat bekerja sama dalam proyek selanjutnya..." kata-kata dari mulut Hikaru, masih melajukan mobilnya.


"Kamu bisa menemuinya sendiri!! Kenapa harus aku," geram Rion yang sejatinya masih ingin meminta jatah di pagi hari.


"Coba bayangkan jika aku bertemu dengan rekanmu sesama investor. Menyodorkan map padanya dan..." kata-kata Hikaru terhenti.


Dapat dibayangkan oleh Rion, Hikaru akan tersenyum lebar, mengerikan di hadapan rekan bisnisnya. Hingga akhirnya sang rekan bisnis merasa terintimidasi. Takut dan canggung, kontrak yang jika sedikit saja melenceng maka Hikaru akan mengeluarkan senjata api ukuran kecilnya, menodongkannya dengan wajah dingin tanpa senyumannya.


Rion hanya dapat menghela napas kasar, melirik ke arah Hikaru."Saat kamu punya pasangan nanti, aku akan menerormu di malam pertama," ancaman darinya.


"Maaf, tapi aku sudah tidak perjaka, anakku mungkin sudah berusia 5 tahun. Karena aku lebih tangguh di atas ranjang darimu..." kata-kata dari mulut Hikaru, membuat Rion terdiam sejenak, meraba pipi dan kening asistennya, kemudian mengendus mencari aroma alkohol disana.


"Kamu tidak mabuk kan?" tanya Rion curiga, memicingkan matanya, menatap Hikaru mulai tersenyum sendiri. Senyuman yang terlihat lebih manusiawi, senyuman yang terasa berbeda."Jadi, kamu benar-benar sudah punya anak!? Kamu bukan Chucky, boneka iblis tanpa hati!?"

__ADS_1


Hikaru mengangguk, menipiskan bibir berusaha tidak tersenyum, mengingat wanita yang membuatnya takluk. Pemuda pemalu dengan hati yang rapuh, senyuman dengan kesetiaan tingkat tinggi seperti Fino, begitulah ekspresi wajah Hikaru saat ini.


"Bucin..." cibir sang anak katak tidak tahu diri.


Perlahan Hikaru yang masih konsentrasi menyetir, menghela napas kasar menetralkan dirinya."Akan ada saatnya aku memerlukan bantuanmu..." ucapnya dengan raut wajah berubah. Bukan seperti Batman yang memakai topeng atau bagaikan Anabelle dengan ekspresi mengerikan. Tapi raut wajah dingin menyimpan masalahnya seorang diri.


"Aku akan menolongmu, katakan saja apa yang kamu perlukan."Rion tersenyum, mengambil tab dari tasnya, hendak mulai bekerja, membaca beberapa e-mail yang masuk.


"Yang aku perlukan? Mengangkatmu pada kekuasaan tertinggi..." jawaban dari Hikaru, mengangkat status Rion juga akan memberikan kekuasaan dan kestabilan finansial baginya. Tujuannya? Tentu saja untuk melindungi keluarga kecilnya, menikahi kekasihnya nanti.


***


Hari ini berjalan seperti biasanya, tiket, visa dan paspor semua telah diurusnya diam-diam, tapi bukan dengan tujuan Afrika Selatan. Seorang wanita yang masih sibuk dengan cat minyak dan kuas di tangannya. Lukisan realis? Itulah yang tengah dibuatnya, membayangkan rupa suaminya. Perlahan kuas itu menggores membelah warna pada kanvas.


Air matanya mengalir dalam senyumannya, statusnya saat ini telah menikah secara resmi. Rion yang mungkin terlalu bahagia, mengurusnya dengan cepat. Masih menyembunyikan segalanya dari Sazi. Semua kebohongan yang sejatinya telah diketahuinya.


Lukisan yang begitu indah, pemuda yang mengenakan setelan jas putih, dengan tubuh menghadap ke samping. Berdiri menonggakan kepalanya, memejamkan matanya, dengan setangkai mawar biru dikelilingi kunang-kunang di sekitarnya.


"Aku merindukanmu, maaf tadi harus meninggalkanmu..." Rion tersenyum, tidak melihat lukisan dirinya yang dibuat Sazi.


Perlahan tubuh wanita itu dibaliknya, air mata Sazi terlihat, segera diseka olehnya."Kenapa menangis? Apa aku menyakitimu?" tanyanya.


Sazi hanya menggeleng berusaha tersenyum memeluk tubuh Rion erat."Dasar suami br*ngsek! Bisa-bisanya kamu memperlakukan Istrimu seperti wanita penghibur..."


"Maaf, apa masih sakit? Mau ke dokter?" tanya Rion, mengelus rambutnya.


Sazi menggeleng."Sudah tidak sakit lagi..."


"Setelah mendapatkan inspirasi di Afrika Selatan, membuat beberapa lukisan. Bagaimana jika kita bulan madu ke Singapura?" tanya Rion, masih menyangka istrinya hanya akan tinggal di Afrika Selatan selama beberapa minggu.


Sazi mengangguk,"Kita akan berlibur..." ucapnya mengalungkan tangannya, mulai berjinjit memangut bibir suaminya.

__ADS_1


Pria yang mencintainya dengan sempurna, bukan rupa atau sifatnya yang sempurna. Tapi segala yang ada di hatinya, meninggalkan suami sebaik ini? Membohonginya?


Maaf... hanya satu kata itu yang ada kini, pemuda yang bahkan menyuapinya. Mengurusnya, membersihkan tubuhnya tanpa mengeluh sedikitpun. Mengganti pakaiannya yang dikotori kotoran dan urine kala dirinya mengalami depresi.


Bagaimana bisa ada pria sebodoh ini? Mencintai pasien rumah sakit jiwa dengan tulus? Entahlah... namun hanya Rion yang dimilikinya saat ini. Dirinya lebih memilih berbohong tidak ingin pemuda yang nyawanya selalu terancam ini terluka sedikitpun.


Hanya beberapa bulan, setelah itu dirinya hanya akan selalu ada untuk Rion. Pemuda yang kini tersenyum padanya, mengecup bibirnya beberapa kali usai pangutan panjang mereka terlepas.


"Aku ingin..." bisiknya pada Sazi.


"Aku harus ke galeri malam ini dan..." kata-kata Sazi terhenti, bibirnya dibungkam, sebuah ciuman yang terasa agresif, membuatnya limbung.


Tempatnya berada saat ini? Sebuah gazebo di belakang rumah.


"Rion hentikan, bagaimana jika ada yang melihat...shhh... Rion..." pintanya kala tangan itu masuk ke balik pakaiannya, memijat pelan area sensitif bagian atasnya.


"Kita akan membuat banyak katak!!" ucap Rion mengangkat tubuh Sazi ala bridal style. Menyadari istrinya menikmati hal yang dilakukannya.


"Katak?" Sazi mengenyitkan keningnya.


Rion mengganguk."Aku hanya katak di atas daun teratai yang mencintaimu. Kamu hanya boleh mencintaiku..."


***


Pasangan yang tengah berciuman dalam kamar mereka yang tertutup sempurna. Helai demi helai pakaian tercecer di lantai. Menikmati kebersamaan mereka, perlahan semua terlihat samar, kala tirai tipis di tempat tidur itu tertutup, menampakkan pasangan yang memulai menyatukan tubuh mereka.


Bunga mawar biru terlihat segar, berada di vas kaca yang langsung berhadapan dengan jendela, terkena terpaan sinar bulan purnama.


Kamu yang teristimewa? Mungkin itulah makna mawar biru yang indah. Membuat Rion hanya dapat mencintainya. Wanita istimewa, yang selalu mengisi hatinya, setelah mencintai selama bertahun-tahun, pada akhirnya perasaan itu berbalas.


Pemuda yang tidak menyadari, bukan Afrika Selatan. Namun, tujuan Sazi untuk pergi kembali ke negara asalnya. Meninggalkan Rion, yang mungkin akan kembali menunduk, tersenyum lirih seorang diri...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2