Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Secret Of The Cat


__ADS_3

Apartemen mewah yang cukup besar dibelinya. Dirinya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur menatap langit-langit kamar. Hanya tinggal seorang diri...


Wanita yang mulai memasuki kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Berjalan menuju balkon hanya mengenakan jubah mandinya saja, sudah dua hari dirinya kembali. Kesepian? Itulah yang tersisa, wanita yang kini tidak memiliki satu keluarga pun lagi. Kedua orang tuanya sudah meninggal, sedangkan Rion saat ini masih berada di Eropa.


Handphonenya tiba-tiba berbunyi, Sazi mengangkatnya tanpa ragu. Salah satu pelayan rumah telah berhasil di suapnya memberikan berbagai informasi padanya. Termasuk Dave yang sering memasukkan obat tidur ke dalam minuman Alexa, Dini yang diam-diam mencarinya tanpa sebab, serta pengacara keluarga yang kerap datang.


"Ada apa?" tanyanya yang tengah meminum air putih dingin.


"Nyonya (Dini) saat ini pergi ke perusahaan, sebaiknya nona (Sazi)..." kata-kata sang pelayan disela.


"Aku akan menunjukkan diri..." ucap Sazi menghela napas, mematikan panggilannya. Mulai mengganti pakaiannya.


Memakai pakaian lusuh, membawa ijazah SMU-nya. Tidak berpenampilan berlebihan, cukup terlihat menyedihkan. Sang wanita yang mulai keluar dari apartemennya, tidak menyadari dirinya diperhatikan dari jauh.


Bingung harus bagaimana? Begitulah Andres saat ini, mengikuti Sazi menuju Afrika Selatan. Namun, wanita itu malah pergi kembali ke negara asalnya. Melaporkan pada Hikaru? Maka dirinya akan ditendang, dengan senyuman aneh yang menghilang dari wajah Hikaru.


Bule Spanyol yang kini meminum Javanese coffee with milik, di cafe terbuka, menyuguhkan pemandangan jalanan yang eksotis, life music khusus berada di hadapan mejanya. Istilah lainnya meminum kopi susu ABC di warung pinggir jalan dengan seorang waria selaku pengamen yang diberinya uang 2000 rupiah.


"Iiih...bule ganteng, perkasa tapi pelit..." ucap sang waria, mencubit pinggang Andres.


Andres memijit pelipisnya sendiri, menghela napas kasar."Mau mati?" tanyanya menatap tajam.


"Ganteng-ganteng jangan galak!! Ngegemesin ah..." ucap sang waria bertambah genit, mengedipkan sebelah matanya.


Brak...


Andres menggebrak meja, membuat sang waria pergi melarikan diri."Galaknya, cus... kabur..." Sang waria berlenggak lenggok masih dengan krincringannya, memakai sepatu hak tinggi berlari cepat.


Sedangkan pemuda itu kembali menatap ke arah Sazi. Melindunginya adalah prioritas Andres saat ini. Sang playboy tanggung yang hingga hari ini masih sendiri.


Seorang anak mendekatinya, membawa alat musik berupa ukulele, bernyanyi dengan suara merdu."Ibu-ibu, bapak-bapak, punya anak bilang aku. Aku yang tengah malu pada teman-temanku, karena cuma diriku yang tak laku-laku..."


"Pergi!!" teriak Andres lebih emosional lagi, meletakkan jimat bergambar tokoh proklamator di dahi sang anak. Mungkin karena uang kecilnya sudah habis.

__ADS_1


"Makasih mas bule! Semoga cepat punya anak!" Sang pengamen menaruh selembar uang tetap di dahinya. Namun menepuk-nepuk dahi sendiri, pergi dengan penuh senyuman.


Andres bertambah kesal lagi, mengepalkan tangannya berusaha untuk tersenyum."Tahan... setelah ini, cari pacar yang cantik. Asalkan jangan Belinda..." gumamnya, kembali fokus menatap Sazi yang berjalan ke halte bis.


Tidak memiliki uang untuk membeli mobil? Tidak mungkin, pendapatan galerinya yang terdapat di Eropa cukup besar. Belum lagi hasil lukisannya sendiri yang bernilai tinggi, serta uang bulanan dari Rion. Tapi wanita itu lebih memilih menaiki bis? Apa tujuannya?


Andres segera menaiki mobil sewaan yang diparkirkannya di pinggir jalan, setelah membayar tahu isi dan pisang goreng, sebagai pengganti cheesecake yang sempat ditanyakannya di warung tersebut.


Melajukan mobilnya, menghela napas kasar, mengikuti tujuan bis. Sangat penasaran dengan apa yang dilakukan wanita itu. Bagaimana jika hal yang membahayakannya?


Dapat dibayangkan olehnya Rion yang murka setelah melihat Sazi terluka, memberi perintah."Hikaru, kebiri, kemudian bunuh dia..." kata-kata Rion dalam imajinasinya.


Sedangkan mantan ketua pembunuh bayaran yang sekarang menjadi asisten seorang Rion. pasti menariknya ke ruangan gelap, menyiksanya sebelum membunuhnya. Mati muda sebelum menikah? Andres tidak ingin itu, dirinya hanya ingin menikah dengan Belinda, maaf salah wanita selain Belinda.


***


Pada akhirnya wanita itu turun di halte dekat perusahaan yang cukup besar. Berjalan membawa map hendak melamar pekerjaan.


Berjalan seorang diri, beberapa staf senior yang berpapasan dengannya, berbisik menggunjingkannya.


"Iya, itu Sazi kan? Mungkin dia menjadi tidak waras karena menjadi anak durhaka. Hingga ayahnya sendiri memutuskan memberikan segalanya pada keponakannya, Alexa..."


"Salah, dia menjadi tidak waras karena Dave menceraikannya di malam pertama. Lebih memilih Alexa yang cantik dan elegan..."


"Cepat jauhi dia, nanti kita diserang. Namanya juga tidak waras, dapat menyerang semua orang,"


"Aku dengar-dengar dia menjalani pergaulan bebas seperti wanita malam. Karena itu almarhum pak Herry tidak mengakuinya,"


"Bukan, aku dengar-dengar Alexa yang mengurus pak Herry ketika sedang sakit. Sedangkan Sazi hanya bersenang-senang dengan teman-temannya yang sebagian besar pecandu narkotika..."


Begitulah beberapa staf yang melewatinya berbisik membicarakannya. Orang-orang yang tidak mengetahui kejadian sebenarnya. Bagaikan menebak sebuah gambar dari puzzle yang tidak sempurna.


Mungkin sebuah gambar puzzle dimana seekor singa bermain dengan pawangnya, sembari diberikan ayam hidup sebagai makanan singa peliharaan sang pawang.

__ADS_1


Jika potongan puzzle ayam menghilang, maka akan terlihat bagaikan singa menerkam pawangnya yang terluka parah mengeluarkan darah, padahal sejatinya tidak, sang singa hanya bermain bersama pawangnya, sambil memakan bangkai ayam yang meneteskan darah segar.


Begitu juga dengan yang terjadi saat ini, orang yang tidak mengetahui apapun akan mulai bergosip, bercerita dengan berbagai bumbu yang ditambah-tambahkan.


Sazi berusaha tersenyum, saat ini berada di depan meja resepsionis. Menahan semua perasaan sakitnya, menggengam erat cincin pernikahannya dengan Rion yang kini dijadikan bandul kalung. Mungkin sebagai penyemangat dirinya agar tidak merasakan sakit lagi.


Memiliki sebuah harapan, Rion yang mencintainya. Memiliki satu orang saja yang mencintainya, membuatnya dapat menahan rasa depresi dan tidak percaya dirinya.


"Aku ingin melamar pekerjaan," kata-kata dari Sazi penuh senyuman. Matanya diam-diam menelisik, mencari keberadaan Dini.


"Ijasah terakhir?" tanya sang pegawai resepsionis, enggan membawanya ke ruangan bagian HRD.


Benar-benar perlakuan yang berbeda, dulu saat dirinya ke kantor perusahaan milik ayahnya sang pegawai resepsionis akan menyambutnya, berlari tergesa-gesa membuatkan minuman untuknya, bahkan memberikan oleh-oleh padanya setiap kali liburan. Menginginkan kenaikan jabatan dari Herry.


Sedangkan saat ini? Pegawai resepsionis yang terlihat memainkan handphonenya, menadahkan tangannya meminta ijasah terakhir Sazi.


"Master of the art (setara S2 seni rupa), aku kuliah di Spanyol. Surat-surat penting masih berada di sana..." jawaban darinya.


"Dasar gila." Sang pegawai resepsionis tertawa kencang.


"Kalau kamu kuliah di Spanyol. Berarti aku alumni universitas Harvard, memiliki gelar Doctorate (setara S3)..." suara tawa pegawai resepsionis menyebalkan itu kembali terdengar.


"Aku lulusan S1 seni rupa, kuliah di universitas yang terbilang murah. Jadi pendidikanku yang dapat dipergunakan untuk melamar kerja hanya SMU," kata-kata dari mulut Sazi.


Sang resepsionis kembali tertawa,"Bodoh! Bahkan adikku yang hanya lulusan diploma, ijasahnya lebih berguna di bandingkan ijasahmu! Kamu tidak diterima di sini, karena Alexa pasti akan..."


Plak...


Satu tamparan dilayangkannya, tepat mengenai wajah sang sekretaris."Kamu!!" sang sekretaris menunjuk Sazi penuh kekesalan.


Sazi mendekatinya kemudian berucap dengan suara kecil,"Karena aku gila dan tidak berpendidikan. Maka hukum yang tidak dapat menjerat orang gila, akan membuatku bebas untuk membunuhmu. Mengulitimu hidup-hidup sedikit demi sedikit,"


Badan sang pegawai resepsionis tiba-tiba gemetar, ketakutan dengan wajah pucat, hingga terjatuh dari kursi putarnya.

__ADS_1


Sedangkan, Andres yang hendak masuk menghentikan langkahnya, menipiskan bibir menahan tawanya. Mendengar samar ancaman dari Sazi yang sejatinya, selalu gemetaran setiap bertemu dengan Hikaru.


Bersambung


__ADS_2