Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Kejahatan


__ADS_3

Di tempat lain...


Andres merasakan sekujur tubuhnya dirileksasi. Pegawai spa memijat tubuhnya yang tengkurap, dengan aroma terapi yang menyebar ke seluruh ruangan.


Pijatan yang benar-benar membuat rasa penatnya menghilang. Biarlah Sazi dan Rion bersenang-senang di dalam perangkap Dini. Dirinya juga harus berlibur walaupun sehari saja.


Hingga ada hal yang aneh, ukuran tangan pegawai spa yang notabene seorang pria berubah, menjadi jemari seorang wanita. Apa pergantian sift? Dirinya tidak salah, ini tangan seorang wanita.


Masih tetap tengkurap menikmati segalanya. Hingga hal yang aneh terjadi, pijatan di bagian pinggangnya mulai turun. Lebih aneh lagi, seseorang yang memijitnya tiba-tiba duduk di punggungnya. Menempelkan tubuhnya di punggung Andres. Dua benda berukuran cukup besar berada di punggungnya. Ukuran yang benar-benar pas baginya.


Apa wanita ini menggodanya?


"Kamu seorang wanita? Mau jadi pacarku? Kita bisa menyewa hotel malam ini, atau melakukannya disini saja..." tanya sang playboy yang selalu bernasib sial, masih dalam posisi tengkurap. Kali ini menurut ukuran tubuh yang sesuai dengan kriterianya, dirinya akan dengan bangga melepaskan keperjakaannya.


Cukup memalukan memang baginya. Bagaikan sebuah kutukan, selalu gagal mendekati wanita selain Belinda. Wajah, kecerdasan, dompet yang cukup, rumah, kendaraan, semua telah dimilikinya. Kecuali pasangan hidup.


Wanita itu mencium punggungnya, merayap turun, sedikit menyingkap kain yang menutupi tubuhnya. Jantung Andres berdegup cepat, darahnya berdesir hebat.


"Aku ingin, jika kamu sudah memiliki kekasih, aku akan membayarmu untuk melakukan one night stand. Jika tidak, jadilah pacarku, aku akan membahagiakanmu..." tawarannya.


"Kita lakukan disini saja," suara Belinda terdengar di punggungnya. Andres segera melihat ke belakang.


Pantas saja ukuran bagian depannya pas dan jantungku tidak dapat dikondisikan ... batin Andres, menatap wanita yang memiliki cincin yang sama dengannya di jari kelingking mereka.


"Turun!!" teriak Andres.


Belinda tertunduk kecewa, turun dari punggung Andres."Kamu tidak ingin kita melakukannya? Aku sudah siap..." ucapnya dengan harga diri serendah mungkin. Setelah menyuap pegawai spa yang asli untuk pergi, sebelumnya.


"Aku sudah bilang, aku tidak bisa denganmu. Aku akan mencari wanita cantik dan menikahinya. Hidup bahagia dengannya, sebaiknya kamu cari pria lain," bentaknya, yang kini bertelanjang dada, hanya dengan kain menutupi bagian bawah tubuhnya diikatnya asal. Menampakkan tubuh putih proposional, pria Spanyol dengan wajah maskulin yang rupawan.


Belinda mengepalkan tangannya, entah sudah berapa kali dirinya ditolak."Aku mengerti, aku akan mencari pria lain..." kata-kata darinya terdengar begitu menusuk. Pada akhirnya setelah belasan tahun Belinda menyerah.

__ADS_1


Air mata wanita itu mengalir, terduduk seorang diri.


Tangan Andres gemetar, ingin menyeka air matanya. Namun, baru saja jemarinya terangkat, wanita cantik tegas itu mengangkat wajahnya. Menghapus air matanya sendiri."Jangan bersikap baik lagi padaku. Itu hanya akan membuatku salah paham..." ucap Belinda menepis tangan Andres.


Belinda menghela napasnya, menenangkan dirinya, kemudian mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan."Kita tidak memiliki hubungan lagi sekarang. Kita mulai dari awal, perkenalkan aku Belinda rekan kerjamu. Hikaru berada di kamar 205 menunggumu,"


"Tidak usah terlalu formal..." Andres berjalan, tanpa membalas jabatan tangan Belinda. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Belinda akan melupakannya, mencari pria lain? Bukankah ini yang diinginkannya.


Dua orang yang saling memunggungi dengan air mata yang tidak dapat dihentikan mereka. Tidak mengerti bagaimana dapat berakhir seperti ini. Sepasang cincin perak yang serupa masih bertengger di jari kelingking mereka hingga saat ini.


***


Tidak menemukan jejak Rion? Cukup sulit memang. Pemuda ber-IQ 193 yang menyembunyikan dirinya, bahkan beberapa kelompok penumbuh bayaran yang mencarinya, kehilangan jejak.


Jikapun Hikaru masih menjadi ketua kelompok pembunuh bayaran juga pasti tidak akan dapat menangkap dengan mudah sang pemuda yang lebih licin dari belut.


Bukankah Rion sudah pernah hampir terbunuh oleh kelompok penumbuh bayaran di Spanyol dan selamat karena bantuan Hikaru? Sejatinya tidak, jika Hikaru tidak adapun, Rion mungkin akan mengirimkan pesan pada kantor kepolisian. Kemudian kembali menyembunyikan diri dengan identitas baru.


Itulah mengapa, Rion yang dipilihnya. Menemukan Rion sejatinya tidak sulit. Rion membahayakan dirinya untuk bertemu dengan Sazi. Jadi di samping Sazi-lah saat ini keberadaannya.


"Kenapa menuruti keinginan Sazi!?" suara Hikaru terdengar.


"Maaf..." hanya itu kata yang terucap dari bibir Andres.


"Dimana Rion?" Hikaru menghela napas kasar, memijit pelipisnya sendiri.


"Di lantai 3 dia aman bersama Sazi," jawaban dari Andres.


"Kemari..." Hikaru memintanya mendekat. Takut? Itulah yang ada dalam hati Andres, lebih mendekat. Dan benar saja...


Brak...

__ADS_1


Dalam hitungan kurang dari 3 detik dirinya roboh. Bagian dadanya diinjak."Bertindak tanpa berfikir. Kekuatan finansial kita belum cukup. Tapi kamu membawa Rion ke sarang penyamun?"


"Maaf, aku tidak tau dia akan menyusul. Jika hanya Sazi maka..." kata-katanya terhenti. Hikaru berjongkok masih dengan satu kakinya yang menginjak dada Andres.


"Maka apa? Maka kamu dapat bergerak sesuka hati!?" ucapnya menepuk-nepuk pipi Andres.


"Aku hanya..." kata-kata Andres kembali terhenti, menatap Hikaru yang mulai bangkit dari berjalan menuju pintu keluar.


Namun, sejenak langkahnya terhenti."Belinda menganggap hubungan kalian belum berakhir. Tegaskan padanya jika kamu ingin mengakhiri semuanya. Agar dia dapat menemukan pria lain. Tapi jika kamu masih mencintainya, katakan juga dengan tegas..." ucap Hikaru meninggalkan Andres yang mulai menjerit menangis seperti anak kecil.


"Aaaangg...sakit. Kamu menginjakku terlalu kencang..." suara teriakan dari kamar 205 terdengar, sebelum Hikaru menutup pintu.


Bukan rasa sakit karena injakan Hikaru sejatinya. Namun rasa sakit karena masih mencintai Belinda, tapi tidak dapat memilikinya...


***


Hikaru menghela napas, berjalan menelusuri lorong hotel yang sepi. Seorang petugas house keeping mendorong troli masuk ke dalam lift yang sama dengannya.


Pemuda itu merogoh sakunya, mengeluarkan earphone. Hendak menghubungi seseorang menggunakan bahasa asing.


Sang house keeping menunduk menggerai rambutnya hingga hampir menutupi seluruh wajahnya. Tangannya gemetar, wajah rupawan yang tegas berdiri di sampingnya.


Jantungnya berdegup cepat, ketakutan akan sosok yang berada di sampingnya. Pria yang memiliki banyak wanita simpanan, benar-benar seorang pria br*ngsek.


Seorang pria yang dengan santainya membawa wanita penghibur ke dalam kamarnya. Karena itulah satu hal yang harus dilakukan sang house keeper.


Kabur.... batinnya melarikan diri dengan cepat segera setelah pintu lift terbuka. Tidak ingin bertemu dengan pria br*ngsek itu lagi, mendorong troli secepat mungkin.


Sedangkan Hikaru mengenyitkan keningnya. Satu detik pertama pemuda itu masih diam, di detik ke dua mulutnya merapat. Hingga detik ketiga...


Sang pemuda tertawa lepas, tersenyum, senyuman yang benar-benar terlihat tulus."Dia masih bodoh..." gumamnya, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, gemas.

__ADS_1


Benar-benar sebuah kebetulan, dirinya saat ini, juga ingin berbuat dosa. Melecehkan seorang wanita, menabur benihnya lagi, mungkin malam ini kejahatan yang akan dilakukannya...


Bersambung


__ADS_2