
Margaretha berlari secepat mungkin, dirinya benar-benar merasa malu. Sudah puluhan tahun bercerai dengan Fino. Berselingkuh? Fino sudah bebas darinya. Sudah berhak memilih pasangan hidupnya sendiri.
Namun, benar-benar dongkol, langkahnya kembali terhenti di depan deretan toko yang telah tutup. Dirinya hanya memikirkan rasa malunya saja. Namun, melupakan satu hal yang terpenting. Fino masih hidup, berarti kemungkinan besar Rion juga masih hidup.
Wajah wanita itu tersenyum, ingin rasanya melompat-lompat kegirangan. Tapi satu hal yang harus dilakukannya. Mengikuti langkah katak dan dedemitnya.
Margaretha kembali melangkah mundur kemudian berbalik. Berjalan mengendap-endap kembali ke area supermarket. Matanya menelisik, kedua orang yang ada di meja kasir sudah menghilang. Antrian telah bergerak, tapi dimana Fino dan wanita muda?
Dirinya mencari dalam kepanikan hingga area parkir bawah tanah supermarket. Sosok itu tidak terlihat juga. Sebuah tangan tiba-tiba terulur, menutup mulutnya, menariknya ke dalam sebuah mobil.
Tidak melihat dengan jelas orang tersebut. Apa orang suruhan Gerald? Namun, kala matanya memperhatikan lebih jelas, saat telah berada di dalam mobil. Barulah sosok itu terlihat, mantan suaminya.
Fino tersenyum hangat padanya, mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir supermarket.
"Aku..." Margaretha tertunduk memejamkan matanya sejenak. Tidak tahu harus berkata apa pada sang mantan.
"Kamu cemburu? Dia Vanessa, yatim-piatu, masih terlalu muda. Tidak mengerti mana perasaan suka pada orang yang dianggapnya seperti ayah. Dan perasaan suka antara pria dan wanita..." ucap Fino masih fokus mengemudi.
"Aku tidak cemburu. Sudah lebih dari 25 tahun kita bercerai jadi..." kata-kata Margaretha terhenti, Fino menyelanya.
"Aku menderita Leukemia stadium awal. Di usiaku ini, mungkin kemoterapi hanya akan terasa menyakitkan tanpa solusi kesembuhan. Karena itu, aku memberanikan diri untuk menemuimu... maaf..." ucapnya pada Margaretha.
Jemari tangan Margaretha mengepal, air matanya mengalir. Ini kesalahannya, bukan Fino, tapi kenapa harus Fino yang meminta maaf? Dan leukimia? Dirinya baru bertemu dengan Fino.
"Maaf sudah menyusahkanmu karena pernah menikah denganku. Maaf sudah menyusahkanmu karena dulu menjadi suami yang sakit-sakitan. Maaf sudah menyusahkanmu... jika aku pergi nanti, aku tidak ingin memiliki beban..." kata-kata dari Fino penuh senyuman. Seseorang yang merasa sudah cukup tegar jika dirinya dipanggil suatu saat nanti.
Mengapa demikian? Putra yang telah bahagia dengan keluarga kecilnya. Margaretha? Dirinya tidak tahu pasti, namun wanita yang dicintainya telah mendapatkan pasangan yang baik memiliki keluarga sendiri dengan tiga orang anak perempuan yang cantik.
__ADS_1
Hidup yang benar-benar indah dan sempurna bagi Fino. Mungkin karena itulah Tuhan memberinya penyakit ini. Bukan sebuah musibah, namun penanda betapa Tuhan menyayanginya. Hingga ingin dirinya segera kembali ke sisi-Nya. Tanpa sedikitpun beban, memberinya kesempatan untuk meminta maaf dan melihat orang-orang yang dicintainya lebih banyak, sebelum kembali ke sisi-Nya.
"Jadi Leukimia? Karena itu kamu menemuiku? Hanya untuk mengatakan kata perpisahan dan kata maaf?" tanya Margaretha padanya, dengan suara bergetar, air mata yang mengalir tidak terkendali.
Sebuah keajaiban baginya dapat melihat Fino masih hidup. Namun, hanya kembali menemuinya untuk mengatakan maaf dan selamat tinggal.
Fino tertawa kecil."Bukan hanya itu, aku masih mencintaimu. Walau aku tau, kamu sudah hidup bahagia bersama Gerald, aku ingin melihatmu sekali saja sebelum aku kembali bersembunyi. Di tempat yang bahkan akan sulit untuk menemukan batu nisanku nanti,"
"Bagaimana pun kamu satu-satunya orang yang aku cintai..." lanjut Fino.
Margaretha terdiam, masih menangis terisak. Inilah pria yang dibuangnya dulu. Fino yang mencintainya dengan tulus. Pria yang memiliki fisik lemah dari kecil, bukan orang yang populer, bukan juga orang yang berada.
"Apa tidak ada jalan untuk sembuh?" tanya Margaretha.
"Ada, cangkok sumsum tulang belakang. Tapi aku tidak ingin membebani putra kita. Jadi jangan katakan apapun jika bertemu dengannya..." pinta pria yang tidak terlihat pucat sedikitpun. Pria yang tersenyum menyembunyikan penyakitnya.
Apakah Fino terlihat seperti orang yang akan mati? Tidak, pria yang terlihat tersenyum hangat menghentikan laju kendaraannya di lapangan kosong. Matanya menatap Margaretha yang masih menangis terisak.
Jemarinya bergerak menghapus air mata Margaretha."Tersenyum! Ini mungkin pertemuan terakhir kita. Sebelum aku kembali menghilang..." ucap Fino tidak ingin membahayakan Rion dengan kemunculannya.
"A...aa...ang...." teriak Margaretha menangis seperti anak kecil."Fino bodoh!! Aku ingin bercerai, setelah dia membuat bis yang kamu tumpangi kecelakaan. Tapi tidak bisa!"
"Ja... jangan menangis ya?" Fino terlihat panik. Jika dipeluk, wanita ini istri orang. Jika tidak, Margaretha malah menangis semakin kencang.
"Aku tidak bahagia! Aku cuma pura-pura bahagia, menjaga gengsi di depanmu dulu! Dia kasar di tempat tidur, punya banyak wanita simpanan! Aku terlalu malu untuk bercerai, teman-temanku mengatakan kamu pengaruh buruk. Dan Gerald dari sisi manapun lebih baik!! Ibuku juga bilang begitu! Denganmu aku cuma bisa makan nasi kerupuk," komat-kamit mulut Margaretha mengatakan isi hatinya yang termakan kata gengsi selama bertahun-tahun.
"Tapi lebih baik makan nasi kerupuk dari pada makan hati. Semenjak Rion tidak ada dia ingin membunuhku. Mengancam jika aku mengajukan perceraian putri kedua dan ketigaku akan dibunuh karena tidak berguna untuk perusahaan. Aku juga akan mati jika tidak menemukan Rion..." lanjutan curhat dari istri teraniaya pada mantan suaminya.
__ADS_1
Fino mengenyitkan keningnya bingung harus bagaimana. Jika ini 25 tahun yang lalu dirinya mungkin sudah memeluk Margaretha, kehilangan logikanya. Namun, sekarang dirinya sudah cukup bijak dan dewasa. Bukan Fino yang mencoba bunuh diri bersama putranya karena pernikahan Margaretha, serta Silvia yang ingin memisahkannya dengan Rion.
Budak cinta stadium akhir itu mengepalkan tangannya."Aku sudah cukup bijak dan dewasa," menghirup napasnya dalam-dalam. Dirinya harus kembali ke tujuan awalnya, mengatakan perpisahan, lalu kembali bersembunyi. Mati dengan tenang, dengan hanya Rion yang akan mengunjungi pemakamannya.
Mungkin Margaretha hanya bertengkar kecil dengan Gerald. Tidak mungkin tiba-tiba menyukai dirinya kan? Lagipula ini istri orang...
"Aku lebih menyukaimu dari pada Gerald!! Aku menyesal!" teriakan Margaretha tiba-tiba dalam tangisannya. Merindukan mantan suaminya, yang dulu dikabarkan meninggal.
"Dia suamimu..." gumam Fino yang berusaha tidak tersenyum. Padahal sifat bucinnya masih benar-benar tersimpan rapat. Ingin melompat berteriak, berguling-guling saking senangnya.
"Aku sudah bertekad untuk bercerai semenjak kamu dikabarkan mengalami kecelakaan. Tidak ingin tidur atau berhubungan dengan dia. Karena..." Margaretha tertunduk sesaat.
"Karena apa?" tanya Fino, yang ingin mendengar kata-kata Margaretha lebih banyak lagi. Jantungnya berdegup lebih cepat, dirinya benar-benar senang.
Benar-benar bucin sejati, bukan dari apa yang dapat diberikannya pada Margaretha. Tapi dari betapapun disakiti perasaannya tetap bertahan.
"Karena aku merindukanmu..." kata-kata kekanak-kanakan yang jujur dari mulut Margaretha. Mulut yang biasanya yang penuh dengan gengsi tingkat tinggi.
"Sial!" umpat Fino, menarik tengkuk Margaretha. Melupakan kata istri orang, benar-benar sebuah kesialan baginya. Dirinya belum juga cukup dewasa, masih kekanak-kanakan. Namun, ini menyenangkan untuknya. Perasaan berdebar yang perlahan dirindukannya.
Bukan ciuman panas, namun ciuman yang hanya bergerak perlahan dalam tangisan.
Umur Fino yang mungkin pendek? Semua tidak dipedulikan olehnya. Fino saat ini masih hidup, hanya itu yang ada dalam fikiran Margaretha. Tidak terpaku dalam penyesalan mendalam lagi, membuat pria yang mencintainya dengan tulus terbunuh.
Fino menghela napas kasar."Aku mencium istri orang..." kata-kata dari mulutnya mengalihkan pandangannya, memukul-mukulkan kepalanya ke stir. Pertahanan diri sang katak tua benar-benar runtuh. Kebijakan di usia yang tidak lagi muda dikalahkan oleh kata 'bucin'.
"Kamu ingin membantuku berpisah dengan Gerald?" tanya Margaretha penuh harap.
__ADS_1
"Diam!" ucap Fino menenangkan diri, menghela napas berkali-kali. Tapi dirinya memang ingin lagi. Apa boleh? Tidak, itu istri orang...
Bersambung