Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Menginginkan


__ADS_3

Di tempat lain...


Mobil yang dikendarainya mulai terparkir, identitas, paspor atas nama Grimm semua sudah dikantonginya. Sedikit melirik ke arah istrinya.


"Sudah kelihatan menyedihkan?" tanya Sazi merubah ekspresi wajahnya.


Rion mengenyitkan keningnya."Kamu seharusnya merasa beruntung sudah dilecehkan oleh pria sepertiku..."


"Bantet..." Sazi tertawa kecil, mencubit pipi suaminya, namun tiba-tiba merasa tidak puas."Sayangnya pipi bakpaomu sudah menghilang,"


"Omong-omong ekspresimu kurang menyedihkan," ucap Rion tersenyum lembut, membenahi anak rambut istrinya.


"Lalu?" tanya Sazi bagaikan meminta saran, tentang bagaimana ekspresinya nanti saat menemui Dini. Berpura-pura sebagai korban pelecehan Rion.


"Begini, bayangkan jika kamu sedang menghadiri pemakaman orang yang paling berarti bagimu..." instruksi dari Rion, tersenyum menatap ke arah istrinya.


Sazi terdiam sejenak mencoba berfikir, entah kenapa bukan orang lain. Pemakaman Rion-lah yang terbayang di benaknya. Menatap wajah suaminya yang mendingin tanpa mengeluarkan sepatah katapun, tidak ada senyuman hangat atau napas disana. Tubuh tidak berjiwa yang akan terkubur dalam tanah.


Air matanya mengalir begitu saja, tangannya gemetar menyentuh pipi Rion yang masih tersenyum kepadanya."Kamu kembali ke Spanyol ya?" pintanya tiba-tiba.


Rion menggeleng."Aku akan menemanimu,"


Sazi menghela napas kasar, kembali menangis terisak. Tidak ingin kehilangan suaminya. Seperti kata-kata Hikaru, ini adalah tempat yang paling berbahaya bagi Rion.


"Kenapa menangis seperti ini? Berhenti menangis ini hanya akting..." lanjut Rion menghapus air mata Sazi.


"Rion, kalau kamu mati, aku ingin dikubur di sampingmu," jerit Sazi sesegukan bagaikan anak kecil.


"Aku Orion, rasi bintang yang akan terus ada di langit. Tidak akan menghilang dengan mudah. Kita akan tua bersama nanti..." ucapnya tersenyum.


"Bertiga..." Sazi tertunduk, mungkin terpengaruh ucapan Hikaru dirinya merasa serba salah.


"Bertiga?" Rion mengenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Ada kecebong... kecebong yang berkembang..." gumam Sazi tertunduk.


"Anak katak..." Rion mulai tertawa, awalnya menganggap itu lelucon. Namun sejenak tawanya terhenti, mengamati Sazi yang menatap serius ke arahnya."Jadi benar-benar anak katak!?" tanya Rion lagi memastikan.


Sazi mengangguk, mengelus perutnya yang rata."Sudah sekitar lima minggu..."


"Anak katak? Aku akan jadi ayah...?" tanya Rion lagi memastikan pendengarannya.


"Jangan panggil anak kita, katak lagi..." Sazi memukul bahu suaminya.


Rion tertawa, tidak tau harus bagaimana, dirinya benar-benar bahagia. Memeluk tubuh Sazi erat."Aku akan menjadi ayah yang baik, menyediakan semua yang dibutuhkan anak kita. Akan menemani dan menjaga kalian dengan mempertaruhkan nyawaku, berusaha sebaik mungkin sampai aku mati..." janjinya penuh senyuman.


"Janji harus ditepati, jaga dan temani aku hingga tua nanti..." ucap Sazi.


Rion tidak menjawabnya, hanya tersenyum mengeratkan pelukannya. Dirinya benar-benar bahagia saat ini.


***


Dini menghela napas kasar, semua orang sudah berkumpul di sana menunggu kedatangan Grimm. Semua orang dengan raut wajah tegangnya, kecuali Frederic. Ini cukup menguntungkan bagi bisnisnya. Memiliki menantu Dave sudah cukup bagus. Tapi siapa sangka Dini berhasil melempar Sazi ke atas ranjang Grimm.


Sedangkan Dini berfikiran hal yang berbeda. Menginginkan Sazi dijadikan istri, berharap Grimm akan dapat membantunya merebut semuanya kembali.


"Kenapa melempar Sazi ke ranjang Grimm? Dia tidak akan benar-benar bisa merebut perhatiannya," kata-kata dari mulut Alexa yang mengepalkan tangannya.


Kesal? Tentu saja, andai dirinya tidak terikat dengan Dave. Mungkin lebih baik memiliki Grimm yang memiliki status lebih tinggi, tanpa embel-embel perusahaan keluarga yang melekat.


Jika dirinya tau semudah itu menjerat Grimm, mungkin sudah dilakukan olehnya sebelum Dini.


Pintu perlahan terbuka, Sazi hanya menunduk dan menangis dalam wajah tanpa riasan. Memakai pakaian mewah, namun raut wajahnya nampak suram.


"Itu keluargamu... mereka ingin menjeratku denganmu. Tapi berakhir menjualmu padaku," kata-kata dari Grimm, berucap dengan suara rendah di belakang Sazi. Tersenyum, menarik wanita itu di hadapan keluarganya. Wanita yang masih terlihat trauma dengan hal yang menimpanya.


Rasa trauma yang sejatinya, membuat pasangan suami-istri itu kecanduan. Benar-benar aneh, antara wanita yang menangis bagaikan mengalami trauma berat dengan pria yang bagaikan sudah terbiasa menikmati tubuh banyak wanita.

__ADS_1


"Grimm, ini keluargaku Dave, Alexa, Dini..." kata-kata Fredric disela.


"Tidak perlu basa-basi dimana proposalnya?" tanya Grimm duduk berhadapan dengan mereka, menarik Sazi untuk duduk di sampingnya.


"Ibu..." panggil Sazi masih saja menangis tertunduk.


Dini mengepalkan tangannya, jika Sazi berada di samping Grimm mungkin hati pemuda itu akan luluh perlahan. Menjadikannya istri sah, itulah yang ada di fikirannya saat ini. Tapi apa Grimm bersikap buruk pada Sazi?


"Kamu sudah makan?" tanya Dini iba. Sazi tertunduk kemudian mengangguk.


"Dia sudah makan..." Grimm menghela napas kasar, menatap proposal yang diberikan Fredric."Kalian ingin aku menjadi investor. Tapi perencanaan proyek ini masih seperti sampah!" geramnya, melempar proposal ke atas meja.


"Kamu sudah sepakat akan menyetujui kontrak sebagai kompensasi Sazi yang..." kata-kata yang keluar dari mulut Fredric terhenti menatap Grimm yang bagaikan ingin membatalkan kesepakatan jika dirinya tidak dapat menjaga sikap.


"Kalian menjual putri kalian senilai puluhan juta dollar? Kalian masih waras? Harga wanita muda berusia 20 tahuan yang masih perawan hanya 10 ribu dolar! Putri kalian bahkan sudah berusia 30 tahun! Aku akan rugi puluhan juta dollar jika tanda tangan begitu saja!! Aku bukan tipikal orang yang mengingkari kata-kataku. Tapi buat juga sesuatu yang masuk akal..." sinis Grimm


Rion mulutmu benar-benar berbisa, membandingkan harga keperawanan istrimu begitu rendah. Memangnya kenapa kalau aku perawan hingga usia 30 tahun!? Kamu juga menikmatinya kan... batin Sazi menahan kekesalannya. Ingin rasanya mengambil tas koper yang paling besar kemudian melemparkannya tepat ke atas kepala suaminya.


"Lalu apa maumu?" Fredric mencoba untuk bersabar, menghadapi pemuda di hadapannya.


"Aku akan memberikan nilai investasi yang lebih besar, bebaskan tanah yang terletak di pusat kota. Buat pusat perbelanjaan hanya untuk brand-brand ternama. Aku akan menghubungi beberapa brand untuk bekerja sama," jawaban dari Grimm.


"Tapi akan lebih menekan biaya kalau membeli tanah luas di pinggir kota untuk..." kata-kata Fredric disela.


"Kamu ingin membuka toko di kuburan?" tanya Grimm memijit pelipisnya sendiri.


"Tanah walaupun harga belinya 10 juta per are jika terletak di kuburan maka hanya akan menjadi pemakaman. Kecuali kamu punya koneksi untuk mengembangkan perumahan di area sekitarnya. Jika tidak lebih baik menjadi membeli tanah yang harganya mencapai 500 juta per are tapi terdapat di tempat strategis,"


"Cari lokasi yang dekat dengan pemukiman elite. Maka market pasar barang-barang branded yang akan laku. Harga sewa outlet dapat meningkat dengan tinggi..." ucap Grimm meminum minuman dingin yang dibawakan pelayan. Matanya menelisik, meraih berkas, membaca kembali isi berkas yang amburadul.


Jadi begini suaminya jika sudah mulai serius bekerja? Wajah Sazi yang tertunduk diam-diam kagum pada suami yang dapat dibanggakannya.


Alexa menghela napas kasar melirik ke arah ayahnya kemudian berbisik di telinga Fredric."Ayah aku menginginkannya..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2