Bukan Suamiku

Bukan Suamiku
Like Father Like Son


__ADS_3

Andres terdiam menghapus air matanya. Berjalan kembali entah melanjutkan langkahnya kemana.


***


Kamar yang ditempati Rion...


"Ini enak..." ucap Rion menyodorkan sepiring steak yang dipesannya pada Hikaru.


Pemuda yang mengenyitkan keningnya menatap pasangan yang bagaikan tengah berbulan madu."Aku menyewa tim rescue untuk mencarimu di aliran sungai selama 3 hari. Kamu tidak merasa bersalah padaku..."


"Aku katak, tidak akan mati jika jatuh ke air," jawaban santai dari Rion, menyodorkan sepiring steak lainnya pada Sazi, yang diambilnya dari troli yang ditinggalkan petugas restauran hotel, di kamar.


Sazi menipiskan bibir menahan tawanya, sejenak kemudian, melirik ke arah Hikaru yang tersenyum ganjil ke arahnya. Bagaikan mengatakan, ini salahmu!


Wanita yang tengah hamil muda itu tertunduk ketakutan. Meletakkan garpu dan pisau steak-nya.


"Rion, ada kesalahan dalam pembagian keuntungan. Mereka melanggar kontrak, lebih baik kamu segera menghubungi David. Karena jika aku yang berhadapan dengannya, maka..." kata-kata Hikaru disela Rion.


"Maka kamu akan menghujaninya dengan belasan luka tembakan." Rion menghela napas kasar, meraih phonecellnya yang disodorkan Hikaru."Aku akan merampok uangnya hingga tidak bersisa, melalui jalur hukum..."


Hikaru masih tersenyum menatap ke arah Rion yang pergi ke balkon guna melakukan panggilan internasional. Berbicara dengan partner bisnisnya. Inilah mengapa seorang jendral memerlukan kaisar.


Tentu saja kesetabilan emosi yang tinggi diperlukan untuk mengembangkan bisnis. Dari segala sisi Rion memiliki semuanya. IQ, EQ, dan SQ yang tinggi. Pengendalian emosi yang dapat memanipulasi orang bagaikan bonekanya.


Sangat sulit menemukan orang seperti ini. Dengan mengangkatnya ke status yang tertinggi. Dirinya juga mendapatkan segalanya untuk keluarga kecil yang ingin dimilikinya nanti.


"Itu...em... maaf..." ucap Sazi tertunduk memulai pembicaraannya dengan Hikaru.


"Ini tempat yang paling berbahaya bagi Rion. Kamu tau kamu dapat membunuhnya, dengan memancingnya kemari!?" sinis Hikaru, sembari mengiris daging.


"Aku sudah mengingat semuanya. Aku..." kata-kata yang terucap dari bibir Sazi disela.


"Lalu?" tanya Hikaru bagaikan tidak peduli.


"Aku ingin tetap disini, mengambil semua yang seharusnya menjadi milikku," ucap Sazi tertunduk mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Rion adalah sasaran pembunuh bayaran dengan nilai tertinggi. Banyak orang menginginkan kepalanya. Terutama di negara ini, ayah tirinya menginginkan kematiannya. Apa tidak apa-apa jika kamu hidup tanpa suami?" tanya Hikaru, mengunyah makanannya dengan tenang."Jasad Rion yang ditemukan tanpa kepala, kamu dapat menerimanya?"


"Aku...bujuk Rion untuk kembali ke Spanyol sendirian..." pinta Sazi.


Hikaru menggeleng."Dia tidak akan kembali tanpamu. Jadi kita kembali ke Spanyol bersama-sama. Aku akan memesankan tiket untuk penerbangan besok,"


Sazi mengepalkan tangannya, tidak menyadari betapa berbahayanya hidup suaminya jika tetap berada disini."Aku sedang hamil, bisa menunda untuk sebulan saja. Setidaknya, jika tidak balas dendam, aku hanya ingin mengunjungi makam ibu kandungku. Bersama Rion dan anak yang aku kandung..." pintanya.


"Jika karena ini Rion mati, aku juga akan menguburmu bersamanya. Sebagai bekal makam, agar dia tidak sendiri di akhirat..." ancaman yang terasa mengerikan dari mulut itu. Pemuda yang kembali memakan potongan kentang di hadapannya.


Takut? Tentu saja, namun dirinya ingin tetap egois. Rion akan baik-baik saja selama Hikaru berada di sini. Itulah keyakinannya, dirinya hanya perlu balas dendam secepat mungkin.


"Jika Rion mati, aku juga akan mati bersamanya..." kata-kata dari mulut Sazi pada Hikaru.


Hikaru menghentikan aktivitas makannya, menghela napas kasar. Meraih koper yang dibawanya."Ini data penting perusahaan yang harus diaudit Rion. Aku sudah kenyang..."


Hikaru menghela napas kasar, meninggalkan ruangan. Tidak menunggu untuk berbicara dengan Rion yang tengah menghubungi partner bisnisnya.


Sazi hanya terdiam, berusaha tersenyum mengelus perutnya yang rata. Menatap wajah seorang pemuda yang tengah berada di balkon.


***


Beberapa orang penagih hutang kembali datang. Putra kecilnya tengah tertidur, seorang anak perpaduan berdarah Indonesia-Jepang.


Hany itulah nama wanita itu, hamil tanpa memiliki suami. Naas bukan? Ini berawal dari dirinya yang bekerja menjadi buruh pabrik di luar negeri. Bertemu dengan si br*ngsek, sialnya jatuh cinta dengan si br*ngsek yang mengatakan dirinya hanya bekerja sebagai pengantar makanan. Terhanyut napsu menghasilkan anak berwajah malaikat yang sama br*ngseknya.


Sama br*ngseknya? Tentu saja, membangunkan ibunya yang pemalas pukul 5 pagi dengan menyiram menggunakan air dingin.


Tidak ingin ibunya didekati duda tetangga sebelah, dan anak pak lurah yang notabene seorang perjaka tua. Hingga selalu mengucapkan kata-kata pedas menancap di hati. Anak yang hanya mencintai ibunya.


Mungkin lebih mudah jika Hany menikah lagi, bekerja sambil mengurus anak cukup berat baginya. Belum lagi bayaran tunggakan sekolah yang menumpuk. Membuatnya, menghela napas, anak pak lurah cukup tampan juga. Jika tidak, duda tetangga sebelah mungkin akan dapat mendidik Hiruma (nama anak Hany) dengan baik.


Banyak hal yang berkutat di fikirannya sebagai ibu tunggal. Bukan janda, juga bukan perawan. Jemari tangannya yang membelai rambut putranya terhenti, mengingat ayah dari anak ini.


Si br*ngsek yang membawa wanita penghibur ke kamarnya. Tidak akan mempertemukan Hiruma dengan ayahnya? Tentu saja, bibit si br*ngsek, akan menjadi lebih br*ngsek jika bertemu dengan ayah br*ngseknya.

__ADS_1


Tok... tok...tok...


Suara pintu kamar kost diketuk terdengar. Mungkin itu duda tetangga sebelah yang sering memberikan bakso sisa dagangannya untuk putranya. Tidak menjalin hubungan kasih, hanya saja mungkin jika perasaan perlahan dapat tumbuh, maka dirinya dapat memiliki pasangan. Seperti sandal jepit swallow yang berwarna putih hijau seharga 13 ribu di warung dekat rumah, sandal yang memiliki pasangan, dirinya juga berhak memiliki pasangan bukan?


Dengan senyuman mengembang, wanita itu merapikan pakaiannya, memperbaiki tatanan rambutnya, bahkan menyelipkan rambut di belakang telinganya. Tidak tampan, duda tetangga sebelah bekerja sebagai pedagang bakso keliling, berusia 14 tahun lebih tua darinya. Berpenghasilan tidak tetap, tapi siapa yang peduli yang terpenting dapat menyayangi Hiruma dengan baik.


Pintu dibukanya bersiap untuk tersenyum pada Sutoyo, sang duda brewokan. Tapi senyuman di wajahnya hilang, menatap seorang pria berpakaian rapi di hadapannya.


Lebih tampan dari Sutoyo? Tentu saja. Tapi pria br*ngsek, tetap saja pria br*ngsek. Jemari tangannya mengepal berusaha untuk tersenyum.


"Maaf cari siapa? Anda mungkin salah rumah!!" bentaknya, hendak membanting pintu di hadapan Hikaru. Namun dengan cepat pemuda itu menahan pintu, memaksa untuk masuk.


Dan benar saja, berhasil masuk. Tenaga Hany tidak ada apa-apanya.


"Keluar!!" bentak Hany.


Hikaru mengenyitkan keningnya, menutup pintu yang masih terbuka."Kamu bersikap genit pada pria mana lagi? Setiap kali bersikap genit, maka rambutmu akan kamu selipkan di telinga..." sinisnya menatap tajam, dengan mata menelisik.


"A...a...aku duda tetangga sebelah sering... jadi..." kata-kata gugup bagaikan dari istri yang dipergoki akan berselingkuh terdengar dari bibirnya. Hingga menyadari sesuatu, Hany berucap dengan tegas."Untuk apa aku menjelaskan padamu. Dasar br*ngsek keluar..." tegasnya lagi.


Hikaru menatap sinis, kemudian tersenyum berjalan mendekatinya. Memojokkannya ke dinding kamar kost."Kamu tidak mencintaiku?" tanya si br*ngsek.


"Tidak..." tegas Hany, berusaha mendorongnya. Hingga dari pintu yang tertutup terdengar suara ketukan.


"Hany, apa Hiruma sudah tidur?" suara Sutoyo terdengar.


Hikaru melepaskan tubuh Hany yang ditahannya. Berjalan mendekati pintu.


"Jangan..." pinta Hany, berusaha menghentikan Hikaru.


Perlahan pintu dibukakan Hikaru. Menatap duda tetangga sebelah yang membawa semangkuk bakso sisa barang dagangannya.


"Kamu siapa?" tanya sang duda menatap sang pemuda berpakaian rapi, berdarah Jepang.


"Ayah kandung dari anak yang..." kata-kata Hikaru terhenti. Hany menutup mulut Hikaru dengan cepat, menggunakan tangannya, tidak ingin dirinya kehilangan salah satu calon ayah pilihan dari anaknya yang br*ngsek.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2