
Villa luar kota yang dijaga ketat menjadi tujuannya. Tidak membawa apapun kecuali sekitar 15 lembar uang ratusan ribu. Banyak hal yang ada di pikirannya. Mengapa Gerald dan Jameson tidak dapat dihubungi? Apa benar dirinya dibuang? Tidak, tidak mungkin dirinya dibuang.
Kakak dan ayah yang begitu memanjakannya. Pintu depan villa dibuka, setelah penjaga memeriksa identitas Leony. Wanita itu masuk dengan cepat, menanyakan keberadaan ayahnya pada pelayan.
Villa yang cukup luas, bahkan bagaikan rumah besar di tepi tebing pinggir pantai.
"Tuan, nona Leony ingin bertemu..." ucap sang pelayan mengetuk pintu kamar.
"Masuk..." kata-kata dari mulut Gerland terdengar. Namun ada yang aneh, beriringan dengan suara erotis seorang wanita.
Pinta mulai dibukan pelayan. Pemandangan yang cukup biasa baginya. Seorang wanita berada di pangkuan ayahnya. Dengan bertelanjang dada, mengeluarkan suara erotis kala Gerald memainkan jemari tangannya, pada area sensitif bagian atas sang wanita.
"Ayah..." ucap Leony.
Sang wanita yang mungkin seumuran dengan Leony turun dari pangkuan Gerald. Hendak meraih pakaiannya. Namun, dengan cepat tangan Gerald menariknya."Kenapa turun?" tanyanya.
"Putrimu ada di sini, aku..." kata-kata sang wanita disela dengan ciuman.
Leony tertunduk diam sejenak, ayahnya biasanya akan mengusir wanita yang berhubungan dengannya kala dirinya ingin bicara. Namun, kini?
"Ayah, aku membutuhkan uang dan mobil untuk bepergian. Rion mengambil..." kata-kata Leony terhenti, menatap ke arah ayahnya.
Pria itu tiba-tiba bangkit dari sofa, berjalan mendekati putrinya. Rambut Leony ditariknya dengan kencang."Kamu seharusnya dapat lebih berguna jika ada di sisi Rion! Bunuh atau racuni dia!!"
"Ayah sakit!!" teriakan Leony.
Brak...
Suara benda terjatuh terdengar, wanita itu dihantam tangan Gerald, hingga tersungkur dengan sudut bibir mengeluarkan darah segar.
Tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar sebelumnya? Tentu saja, dirinya cukup cerdas di bidang akademis, walaupun memiliki paras yang tidak dapat menyaingi ke dua adiknya. Tapi kini apa kesalahannya? Hingga ayah yang dibanggakannya memukulinya.
Leony hanya tertunduk diam, derai air mata mengalir di pipinya.
"Apa gunanya aku memiliki anak sepertimu!? Jika tau dari awal akan seperti ini, Queen dan Desi akan lebih berharga jika dinikahkan dengan kalangan pengusaha," kata-kata dari bibir Gerald, meraih stik golf.
__ADS_1
Tidak, ini terlalu menyakitkan, tidak berguna lagi? Apa itu tolak ukur perasaan cinta ayahnya? Jika begitu,"Aku masih mengandung anak Mark! Mark sudah berjanji akan menikahiku jadi..."
Ayunan tongkat golf terhenti. Gerald membuang tongkat golfnya, mulai berjalan kembali duduk di sofa."Kamu hanya seorang pengemis. Benar-benar sebuah aib..." gumamnya melempar cek senilai 10 juta rupiah.
Jumlah uang yang sedikit bagi Leony. Dirinya harus bertahan hidup selama belum menikah dengan Mark, uang yang dulunya dapat habis dalam waktu satu hari saja.
"Ayah?" ucapnya menatap nominal cek yang diberikan.
"Ayah akan kembali menyayangimu. Jika kamu dapat merebut perusahaan milik keluarga Mark."kata-kata Gerald terhenti sejenak."Pelayan usir dia!!"
Seorang pelayan masuk, menarik Leony keluar dari ruangan Gerald. Leony yang hanya dapat tertunduk dalam tangisnya.
Pintu mulai tertutup, sang wanita malam mulai bertanya."Kenapa kamu kasar pada putrimu?" tanyanya.
"Karena dia anak Margaretha. Orang yang sudah membuat adikku bunuh diri..." Gerald tersenyum, mengingat luka yang ditorehkan menghancurkan keluarganya yang bahagia.
***
Semua dimulai puluhan tahun silam, ketika mayat seorang wanita ditemukan. Korban yang sudah dicari 2 hari di lautan oleh tim SAR. Hanya sandal dan sepucuk surat yang tertinggal di pinggir pantai.
Dari mana ini berawal? Seli, itulah nama adik dari Gerald. Adik yang masih berstatus mahasiswi.
Air matanya mengalir, membaca lembaran surat dari tulisan jemari tangan adiknya. Tubuh yang telah mendingin kini tertidur untuk selamanya berada di kamar mayat.
Jemari tangannya gemetar, masih memegang lembaran surat terakhir dari adiknya yang tertuju untuk Oka, kekasihnya.
...Oka, apa kamu mencintainya? Beberapa tahun kita menjalani hubungan, apa tidak berarti untukmu? Aku tau aku hanya berasal dari keluarga biasa. Bukan seorang nona muda sepertinya....
...Tapi menjalani hubungan dengan muridmu sendiri? Aku dikalahkan orang seorang bocah, hanya karena uang. Maaf harus pergi dengan cara seperti ini. Tapi, aku benar-benar tidak bisa, bahkan kesucianku sudah aku berikan padamu. Jadi apa yang kurang lagi......
...Hanya satu hal yang mungkin kurang, menghilangkan rasa sakitku. Aku memutuskan untuk tidur di laut. Kembalilah pada Margaretha, jika kamu menginginkannya....
Itulah isi surat yang dituliskan adiknya, tertinggal di atas sandal jepit tepi pantai. Deru angin mungkin menyisir rambut Seli kala itu, berjalan perlahan menuju ombak dalam tangisan. Bertahun-tahun menjalani hubungan, namun Oka memutuskannya hanya untuk mengejar seorang anak SMU dari keluarga konglomerat.
Margaretha yang saat itu sudah menjalani hubungan dengan Fino.
__ADS_1
Pakaian serba hitam dikenakan Gerald. Menyambut jenazah adiknya yang akan dimakamkan. Hingga satu lagi kabar duka didapatkannya. Ibunya yang tengah berada di rumah duka, mengurus konsumsi, meninggal akibat serangan jantung. Menahan rasa sakit dan lukanya seorang diri, ibu yang tidak tidur selama dua hari untuk menunggu kepulangan adiknya. Berharap sang adik pulang ke rumah, dan surat yang ditemukan di tepi pantai tidak benar.
Namun, surat itu nyata. Mayat Seli telah ditemukan, membawa ibunya yang meninggal terkena serangan jantung.
Saat itulah Gerald terduduk di lantai. Hanya ibu dan adiknya yang dimilikinya. Mengepalkan tangannya, berteriak menjerit dalam tangisannya.
***
Kini dua batu nisan ada di hadapannya. Air matanya telah mengering, mengurung diri di dalam kamar seorang diri. Mengingat betapa ramainya rumahnya dengan kehadiran ibu dan adiknya.
Suara tawa yang terdengar setiap hari, adik yang selalu malu dan tersipu membicarakan Oka, kekasihnya yang menjadi seorang guru honorer.
Tatapan kosong, terlihat sebilah pisau di atas meja. Sesuatu yang seakan berbisik mereka harus merasakan sakit, yang Seli rasakan.
Gerald meraih pisau, perlahan berjalan menuju dapur. Cup cake, yang selalu dibuatkan Seli untuk kekasihnya dibuat olehnya, tidak lupa membubuhkan sebotol penuh racun ke dalamnya. Bibir yang tersenyum, tidak terasa canggung lagi. Melakukan segalanya, hanya dua nama yang ada di benaknya Oka dan Margaretha.
Cup cake yang dibungkus rapi, mengatas namakan adiknya. Meletakkannya di meja guru milik Oka. Tidak mengetahui kematian Seli? Pemakaman memang diadakan di luar kota, mengingat hanya Seli yang mengontrak kamar untuk keperluan kuliahnya di kota ini.
"Dia tidak marah lagi?" gumam Oka tersenyum menatap ke arah cup cake di atas meja guru, mengingat Margaretha yang tidak bersedia kembali padanya. Lebih memilih Fino. Mungkin kembali pada Seli memang lebih baik.
Kembali pada Seli? Cup cake yang dikemas rapi itu memang akan membawanya kembali pada Seli. Kartu ucapan yang ditulis oleh Gerald, mengatasnamakan adiknya.
...Aku mencintaimu...
...Seli...
Hanya itu yang ada di kartu ucapan. Bungkus cup cake dibukanya. Perlahan Oka memakannya tanpa ragu sedikitpun. Namun racun dosis tinggi, dengan satu gigitan lambung dan tenggorokannya terasa terbakar, tubuhnya tiba-tiba kejang, mulut yang berbusa menarik perhatian banyak orang.
Seli... batin Oka merasakan rasa sakit menghujam seluruh tubuhnya. Apa Seli yang melakukan ini? Mengapa? Wanita lugu yang begitu baik. Namun diakhir hidupnya dirinya menyadari sesuatu, Gerald berdiri di samping pintu. Kemudian melangkah pergi.
Ini perbuatan Gerald?
Namun semua telah terlambat, kala napasnya hampir habis. Wajah Seli yang tersenyum terlihat, entah itu imajinasinya atau bukan. Sebuah kata maaf yang tersimpan, tidak dapat terucap kala bibir itu tercekat. Memejamkan mata yang tidak akan dapat terbuka kembali...
Bersambung
__ADS_1