Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Mengalami trauma


__ADS_3

Andini membuang napasnya kasar,pikirannya di penuhi oleh Danu.


Andini tampak tak bersemangat untuk hari ini.Ada rasa gelisah di relung hatinya,di perjalanan pulang menuju rumahnya Andini lebih banyak terdiam,ia mendengarkan lagu favoritnya dengan menggunakan headset.Sementara papa Anto dan mama Ratih tampak begitu bahagia,papa yang sedang mengemudi terlihat tersenyum saat mendengar mama Ratih menyanyikan lagu lawas kesukaan papa Anto.


Padahal biasanya mama Ratih selalu ngomel-ngomel kalau papa Anto bernyanyi,tapi hari ini mama Ratih terlihat sangat menikmati lagunya.


Andini memejamkan matanya,mencoba memperbaiki rasa sesak di hatinya.


Namun tiba-tiba "Braaaaaakkk",suara benturan keras itu menghentikan nyanyian mama ratih,tubuh Andini terpental ke depan sekuatnya.Andini membuka matanya dengan cepat.Terlihat mobil mereka sudah berada di tepi jurang.Mengalir darah segar dari kepala mama Ratih dan papa Anto.


Tubuh Andini gemetar,kakinya terasa lemas dan suara Andini seakan hilang seketika.Mama Ratih sempat tersenyum melihat andini menghampirinya.Tiada kata apapun yang tersisa,ternyata nyanyian tadi andalah suara terakhir dari mama Ratih.Dan senyuman yang terlihat dari wajah papa Anto juga senyuman terakhirnya.


Andini menatap sendu dua orang yang sangat di sayanginya.Kepergian mereka tepat di hadapan Andini,Andini masih berharap apa yang terjadi di hadapannya adalah mimpi.


Kedua tangan Andini menyentuh pipi nya,ia tersadar bahwa ini bukanlah mimpi saat banyak warga yang mulai datang menghampiri.


"aaaaaaaaaa uuuuuuwwaaaaaaa uuuuwwaaaaaa '' Andini menangis sejadi-jadinya,melihat papa anto dan mama Ratih di angkat oleh warga.


Air mata itu terus jatuh dengan begitu derasnya,melihat papa Anto dan mama Ratih di angkat kedalam ambulance.


Kecelakaan mobil yang merenggut nyawa kedua orang tua Andini,memberikan trauma yang sangat dalam bagi Andini.


Sejak hari itu Andini tampak menutup diri.Kini hanya Andra lah satu-satu nya keluarga yang ia miliiki.


"Gimana keadaan andini?",tanya danu menyentuh bahu andra.


"Andini sangat shock,dia tidak mau bicara apapun" Andra mengusap wajahnya.


"Dimana dia sekarang?",tanya Danu lirih.


'' Ada di dalam ruang rawat no 2 '' jawab Andra kembali mengusap wajahnya,menahan sesak di dalam dada.


Ingin rasanya Andra menangis meraung,cobaan kali ini benar-benar membuatnya juga hampir tak terkendali.Kehilangan dua orang yang paling berharga dalam hidupnya,tentu sangat menyakitkan.Ditambah lagi dengan melihat kondisi Andini yang menyedihkan.Suana suka pengantin baru menjadi duka terdalam bagi Andra.


Perlahan Danu membuka pintu ruangan itu,terlihat Andini duduk di sebuah ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong.Wajah pucat Pasih dan air mata yang terus mengalir tanpa henti.Danu mendekati andini dan meraih tangannya,terlihat beberapa luka lecet yang kini menghiasi kulit putih Andini.Dengan lembut Danu menyibak rambut yang menutupi wajah andini,namun Andini masih diam termangu tanpa ekspresi.Hanya ada air mata yang mampu mengutarakan segala pedih di hatinya.


"Dini,jangan seperti ini sayang.Kuatkan dirimu,aku yakin kau bisa melewati semua ujian ini",ucap danu mengusap ujung kepala Andini.

__ADS_1


"Masih ada aku disini Dini,aku sangat membutuhkanmu,berikan sedikit beban di hatimu untukku.Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini,bukankah aku sudah pernah katakan apapun yang terjadi aku tetap akan ada di sisimu" Danu menyangkutkan tangannya ke wajah mungil andini,namun tidak mengubah reaksi Andini.Lalu Danu merengkuh tubuh Andini erat,hatinya juga terasa sesak melihat wanita yang di cintai nya berubah seperti mayat hidup.Tubuh Andini terasa dingin,pelukan hangat Danu ternyata mampu membuat Andini bersuara, "Uwaaaaa uwaaa uwaaaa" suara tangis Andini pecah dalam pelukan danu.


"Menangislah sekuatnya jika itu bisa mengurangi beban di hatimu,aku ada disini untukmu,kita akan melewati masa duka ini bersama".Danu mencoba memberi kekuatan pada andini,mugkin saat ini Andini hanya butuh kasih sayang sebagai obat atas segala luka di hatinya.


Di balik pintu Steven dan Mela melihat ketulusan yang terpancar dari wajah Danu.Walau Steven sedikit cemburu melihat Danu memeluk andini,namun Steven bersyukur karna Danu terlihat begitu mencintai Andini.Kejadian ini membuat Steven yakin bahwa Danu bisa menjaga Andini dengan baik.


Mela menarik tangan steven,dan melangkah mendekati Andini.Mendengar ada keberadaan seseorang membuat danu melepas pelukannya dan menghapus air matanya yang sempat menetes.Danu menghapus air mata Andini dengan kedua tangannya,dan menyusut ingus Andini dengan tisu tanpa ada rasa jijik.


Danu merebahkan tubuh andini,dan menutupnya dengan selimut sampai ke atas dada.Danu terus memegang tangan Andini dan mengusap-usap kepalanya hingga ia terlelap.


Mela dan Steven memilih untuk meninggalkan mereka berdua.Karna sepertinya hanya Danu yang mampu menenangkan hati,sejak tadi Mela dan Steven mencoba untuk mengajak Andini bicara namun tidak berhasil.Tapi bersama danu,Andini bisa mengeluarkan suaranya walau hanya sebatas tangisan.Setidaknya itu bisa membuat Andini sedikit lebih baik hingga ia dapat tertidur dengan tenang.


"Kak Andra sabar ya,kami turut berduka cita atas kepergian kedua orang tua kakak" ucap Mela sambil mengulurkan tangannya,dan di ikuti oleh Steven. "Terimakasih ya,kalian sudah bersedia menemani Andini sejak tdi,oh ya bagaimana keadaannya sekarang?" Andra menatap gusar Mela dan steven.


"Andini sudah tertidur kak,kelihatannya Danu sangat mencintai andini dan Andini juga sepertinya nyaman berada di sisi Danu" ujar Mela.


Andra menganguk-angukkan kepalanya,sementara Steven tetap setia menjadi pendengar sejati.


Karena sudah larut malam Mela dan Steven langsung pamit pulang.


Andra mendekati Danu yang tampak tertidur di sisi Andini.Andini terlelap dengan posisi miring menghadap Danu dan tangan Danu menempelkan di pipinya seperti bantal yang nyaman bagi Andini.


Andra menyentuh baru Danu pelan,perlahan Danu membuka matanya.Danu tampak meringis kesakitan memegangi tangannya yang terasa kebas karena sudah beberapa jam di timpa oleh wajah Andini.


Dengan hati-hati Danu menarik tangannya agar tidak membangunkan Andini yang tampak sangat lelah.


"Kau pulanglah biar aku yang akan menjaga Andini disini",ucap Andra pelan.


"Tapi,aku masih ingin menemaninya di sini,kau saja yang pulang.Bukankah istrimu menunggumu di rumah?" jawab Danu sambil beranjak dari duduknya lalu menyentuh bahu Andra.Andra hanya menatap Danu tajam,hati kecilnya masih meragukan Danu.Memberi kepercayaan untuk menjaga Andini bukanlah hal mudah,apalagi mengingat kondisi kejiwaan Andini yang belum stabil.


"Percayalah padaku Ndra,mungkin masa laluku memang buruk tapi kali ini aku benar-benar mencintai Andini.Andini adalah satu-satunya wanita yang mampu mengubah hidupku menjadi lebih baik.Aku pasti akan menjaganya dengan baik pula".Danu mencoba meyakinkan Andra.


Akhirnya Andra pun memberikan kesempatan pada Danu,dengan berat hati Andra meninggalkan adiknya bersama Danu.Mengingat bahwa ia masih memiliki tanggung jawab lain yaitu istrinya,apalagi tadi ia tidak bisa menghadiri pengajian yang ada di rumah karna harus mengurus Andini.Beruntungnya ia memiliki istri yang bersedia mengurus acara itu hingga berjalan dengan sangat lancar.


Saat Andra tiba di rumah,terlihat sosok sita yang menunggunya dengan cemas.


"Mas,gimana keadaan Andini?" sita langsung menyambut kedatangan suaminya dengan sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

__ADS_1


"Hmmmm dia terliat sangat terguncang,tidak mau bicara,hanya air mata yang tak henti-hentinya keluar dari matanya.Untung ada Danu,kehadiran Danu sepertinya mampu membuatnya nyaman",Andra terduduk lemas di sofa,terbayang di mana ia sering menghabiskan waktu bersama papa anto dan mama Ratih di ruangan itu.Terbayang tawa ceria Andini saat berhasil mengganggunya,terbayang saat ia bermain gitar dan Andini bernyanyi bersama papa anto,terbayang saat mama Ratih sering membawa makanan untuk di mereka.


Melihat rumah itu sontak mengingatkan semua kenangan manis bersama keluarganya.Sita langsung memeluk suaminya yang tampak sangat sedih, "Huwaa huwaaa huwaaa" di pelukan istrinya Andra mencurahkan tangisnya yang tertahan sedari tadi.Dalam dekapan istrinya Andra menunjukkan betapa rapuhnya ia saat ini.


Sita berusaha menenangkan Andra dengan sentuhan kasih sayang nya.Sita pun kini tak dapat membendung air mata,seakan merasakan kepedihan yang sama.Selayaknya istri tentu pasti akan terluka melihat suaminya merasakan sakit.Ternyata awal rumah tangga mereka sudah di suguhkan dengan tragedi yang memilukan.


"Mas,sabar mas,mas harus kuat.Jika mas seperti ini lalu bagaimana dengan andini?,Andini sangat membutuhkan mas.Mas harus kuat agar Andini bisa segera membaik seperti semula.


Mendengar perkataan sita Andra langsung menghapus air matanya,mengingat Andini yang kini telah jadi tanggung jawabnya.


"Makasih sayang" ucap danu sambil mengecup puncak kepala istrinya. "Jangan bicara seperti ini mas,sudah sewajarnya seorang istri untuk mendukung suaminya dalam keadaan sesulit apa pun" sita memeluk suaminya dan memendamkan wajahnya di dada bidang Andra.


"Oh ya mamah sama papah mana?" tanya Andra mengedarkan pandangannya. "Mereka sudah pulang mas sore tadi,karena masih ada urusan yang harus di selesaikan di sana" jawab sita sambil bergelayut manja di bahu sang suami.


Beruntung nya Andra memiliki istri yang sangat memahaminya,sambil berjalan menuju kamar mereka Andra menghujani wajah istrinya dengan begitu banyak kecupan.


Malam itu berlalu dengan begitu tenang.Andra dan sita menikmati malam pertama mereka dengan suasana berduka.Sementara Danu begitu setia berada di samping Andini.Rasa cinta Andra yang begitu besar,mengalahkan rasa lelah di tubuhnya.Ini untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang mampu mengisi seluruh ruang di hati Danu.


Tidak terasa malam telah usai,Danu mencuci wajahnya yang terasa sangat berat karena harus terjaga sepanjang malam.


Tak lupa Danu mengirim pesan pada beri bahwa hari ini kemungkinan ia tak masuk kantor,Danu meminta beri untuk menunda semua jadwalnya hari ini.


Setelah sholat subuh,Danu kembali keruangan Andini.Andini terlihat sudah berposisi duduk di atas pembaringannya tadi malam.Tatapan nya kembali kosong,bahkan ia tak menyadari Danu mendekatinya.


Danu menggerakkan tangannya tepat depan wajah andini,namun mata Andini tak terlihat berkedip atau berbalik menatapnya.Andini menyentuh pergelangan tangan Andini namun Andini masih tak bereaksi.Tangan Andini kembali terasa dingin,hanya saja kini sudah tidak ada lagi air mata yang menetes di wajahnya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Danu sambil menyapu punggung Andini.Namun Andini masih terdiam membisu.Danu terus mencoba menyentuh dan menggosok-gosok tangan Andini yang semangkon terasa dingin.


"Dokter bilang,Andini mengalami trauma psikis akibat tragedi menyedihkan yang mengguncang jiwa nya" tiba-tiba suara Andra memecahkan kesunyian.Andra dan sita melangkah mendekati Andra yang tengah merasa cemas.


"Jika terus begini,kemungkinan besar Andini akan mengganggu kesehatan mental Andini.Secara tiba-tiba Andini akan ketakutan luar biasa,dan bisa juga akan sedih sampai seperti ini.Karena trauma yang ia alalami,kemungkinan ia akan mengalami kesulitan untuk tidur.Jika itu terjadi biasanya penderita akan mengalami kecemasan yang berlebihan dan kemungkinan sampai histeris".Jelas Andra sesuai dengan apa yang telah di sampaikan oleh dokter.


Danu hanya terdiam tak mampu mengatakan apapun.Tapi di hatinya sangat yakin bahwa Andini akan segera sembuh seperti semula.


"Dokter menyarankan agar Andini di bawa ke dokter spesialis kejiwaan.Dia membutuhkan beberapa terapi untuk memulihkan kekuatan mentalnya" sambung Andra lagi sambil membelai rambut adik nya.


"Bahkan dokter juga menyarankan untuk membawa Andini ke RSJ" ,mata Danu langsung terbelalak mendengar kata RSJ. "Maaf Ndra aku tidak setuju jika Andini di bawa ke RSJ,Andini tidak gila,dia hanya membutuhkan waktu untuk bisa menerima kenyataan terpahit dalam hidupnya",Andra tersenyum melihat Danu tampak tidak suka saat Andra secara tidak langsung menyebut Andini sudah tidak waras.Terlihat ada ketulusan yang terlukis dari wajah Danu.

__ADS_1


'' Tentu saja aku tidak mungkin membawanya ke RSJ,tapi aku juga tidak bisa membawanya pulang kerumah kami karna Andini akan lebih terguncang saat melihat tempat-tempat yang memiliki kenangan bersama papa dan mama.Bahkan rumahku yang ada di dekat kantorku juga memiliki kenangan bersama papa dan mama" ungkap Andra menatap pilu Andini.


"Kalau begitu ijinkan aku menikahinya" ucapan Danu kali ini mampu membuat Andra dan sita melotot kaget.


__ADS_2