
"Mas bagas......." Teriak Kiara,sambil melempar barang yang ada di ruangan itu.Tanpa peduli keberadaan ibu Marina disana.
"Uwaaaa uwaaaaaaa uwaaaaaa " tangisan baby key memenuhi ruangan itu.
"Tenang nak,jangan seperti ini.Jika ada masalah kan bisa di bicarakan baik-baik" ibu Marina mencoba menenangkan Kiara sekaligus baby key yang sudah ada dalam pelukannya.
"Aku sudah cukup bersabar Bu atas perlakuan mas Bagas padaku.Selain dia tidak pernah memperdulikan ku mas Bagas juga tidak pernah peduli pada Keyza anaknya sendiri" ucap Kiara dengan intonasi marah.
"Apa ibu tau?mas Bagas bahkan masih mencintai perempuan MANDUL itu!" seru Kiara dengan telunjuk yang sudah menuding-nuding ibu Marina.
"Jaga ucapan mu Kiara.Jangan pernah mengatakan Andini seperti itu." bentak ibu marina,tidak bisa menerima cacian yang Kiara ucapkan untuk Andini.
"Yah ibu dan anak sama saja.Kalian selalu saja membela wanita Mandul itu" Amarah Kiara semakin menyulut.
"Plak" sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Kiara. "Itu untuk Andini.Karena kau sudah berani menghinanya lagi di hadapanku dan ibu".Dan "plak" sekali lagi tamparan keras itu mendarat ke pipi Kiara. "Ini untuk ibuku.Karena kau sudah berani bertidak tidak sopan pada ibuku".
"Mas kau.......kenapa kau jahat sekali padaku?" Kiara memegangi kedua pipinya yang memerah dengan air mata berlinang.Rasa sakit di pipi tidaklah seberapa di banding rasa sakit yang ada di hatinya.
Bagas yang ia kenal sebagai seorang lelaki yang lembut dan penyayang kini berlaku kasar padanya.Bahkan sampai menamparnya.
"Kau yang membuatku seperti ini.Bukanya sudah ku katakan jangan lagi menghina Andini ku seperti itu.Apalagi membentak ibuku,ibu yang melahirkan dan membesarkanku" Tangan Bagas mengepal,rasanya ia ingin sekali menonjok wanita yang ada di hadapannya.Tapi masih ia tahan,dan akhirnya......"Bug" ia menonjok dinding hingga tangannya berlumur darah.
"Hahaha Andini mu?...sadar mas sadar.Andini sudah meninggal kan mu dan menikah dengan laki-laki lain.Dia bukan milikmu lagi." Kiara mengguncang tubuh Bagas dengan kedua tangan berada di pundak Bagas.
Bagas menepis tangan Kiara kasar. "Itu semua karena aku terlalu bodoh sudah tergoda oleh wanita jalang sepertimu.Wanita yang tega mengkhianati sahabatnya sendiri." Tatapan benci Bagas semakin mengkoyak-koyak perasaan Kiara.Bagaimana tidak,lelaki yang ia cintai sejak SMA kini menghinanya dengan keji.
"Sudah jangan bertengkar,semua bisa di bicarakan dengan baik.Tidak perlu pakai emosi seperti.Kasian keyza.Dia membutuhkan kasih sayang kalian." Ibu Marina mencoba melerai pertengkaran Bagas dan Kiara sambil menenangkan baby key yang sedari tadi masih menangis.
"Sudahlah.Ibu jangan sok baik.Bukanya ibu senang jika melihat rumah tanggaku dan mas Bagas hancur seperti ini.Toh ibu juga hanya menyayangi Andini.Menantu kesayangan ibu itu.Tapi asal ibu tau,walau mas Bagas berpisah denganku.Andini tidak akan pernah kembali dengan anak ibu.Karena Andini sudah menikah dengan laki-laki lain.Yang jauh lebih kaya dari anak ibu".Kiara menghapus air matanya kasar,dan tersenyum sinis pada ibu Marina.
"KIARA......" bentak Danu sambil mengangkat tangannya.Emosinya semakin meledak karena Kiara tidak lagi menghargai ibunya.Namun tangan Bagas terhenti saat mendengar "Jangan nak,jangan seperti ini.Kiara adalah istrimu,ibu dari anakmu.Kamu tidak pantas bersikap kasar padanya.Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk menjadi lelaki tempramen.Jika ada masalah selesaikan secara baik-baik,jangan seperti ini.Ibu mohon Bagas....kamu sudah dewasa.Bijaklah dalam bersikap.Terlebih sudah ada Keyza di antara kalian." Tangisan ibu Marina akhirnya pecah.Ibu mana yang sanggup melihat rumah tangga anaknya hancur.Apalagi ini sudah untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Tangisan baby key dan ibu Marina melemahkan hati Bagas.Ia memandang dua wanita itu dengan tatapan sendu.Dua wanita yang harus ikut merasakan akibat kesalahan yang ia dan Kiara lakukan.
Sementara Kiara semakin memupuk kebenciannya untuk Andini.Ia selalu berpikir kehancuran rumah tangganya itu disebabkan oleh Andini.Hati kerdilnya,terus mengotori pikirannya sendiri.
"Awas kau Andini.Jika aku hancur.Maka aku juga akan memghancurkanmu.Sejak dulu kau memang selalu merampas kebahagiaanku."
Kiara mengepalkan tangan nya.Menyimpan amarah begitu besar kepada Andini.
"Kiara lebih baik kau pergi,kumohon jangan membuat keributan di sini.Ijinkan aku untuk menenangkan diri.Nanti setelah pikiranku tenang kita bisa bicarakan tanpa emosi.Ku mohon" Bagas menangkupkan kedua tangannya,membunuh emosi yang merongrong jiwanya.
Menyudahi pertengkaran yang tiada ujung di antara mereka.Tak ingin membuat sang ibu semakin sedih akan keadaan rumah tangganya.
Dengan kesal Kiara meninggalkan rumah ibu Marina.Perasan sedih dan dendam memenuhi relung hatinya.Tiada teman,untuk mencurahkan keluh kesahnya.Tiada pundak untuk nya berbagi penderitaannya.
Sesungguhnya,ia mulai merasakan kehilangan sosok sahabat yang dulu ada untuknya.Tapi rasa cemburunya kepada Andini,membuat pikirannya semakin picik.Mengenyahkan setiap sisi baik dari dirinya.
Di kamar bagas....
Ini pertama kali nya ia menggendong putrinya.Tubuhnya yang tegang dan kaku tentu membuat baby key semakin menangis.Ibu Marina tampak tergesa-gesa membawa sebuah dot untuk Keyza.Tidak di sangka Kiara begitu tega meninggalkan anaknya begitu saja.
Setelah minum susu,baby key akhirnya tertidur.Wajah mungilnya terlihat merah karena menangis,Bagas menyapu ujung rambut hitam kriting milik baby key.Dengan lembut Bagas menggoyang-goyangkan tubuhnya,berusaha membuat baby key merasa senyaman mungkin.
"Udah bobok?" tanya ibu Maria lirih.Bagas menganggukkan kepalanya.
"Sini..." ibu Marina menepuk bantal sebagai isyarat untuk meletakkan baby key di situ,di ranjang bagas.
Pelan-pelan Bagas memindahkan kepala baby key ke atas bantal yang sudah di siapkan ibu Marina.Dengan intens ia menatap putri kecil yang berdosa.Ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya.Karena masalahnya dan Kiara membuat putri kecilnya harus menerima akibatnya.
"Nak apa benar yang di katakan oleh Kiara tadi?" ibu Marina menatap pilu putra keduanya.
"Yang mana?" Tanya Bagas kembali,tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Semuanya" seru ibu Marina.
"Iya Bu,aku memang akan segera bercerai dengan Kiara" ucap Bagas berat.
"Apa?" mata ibu Marina langsung terbelalak kaget.Karena sejatinya ibu Marina memang tidak mengerti apapun.
Ibu Marina memang sempat curiga saat Bagas pulang kerumah dalam keadaan mabuk.Tapi ia pikir Bagas dan Kiara hanya bertengkar biasa,karena Bagas tidak pernah bercerita pada ibu Marina.
"Kenapa?apa yang terjadi?" ibu Marina menatap Bagas tajam.
"Aku tidak bisa mencintai Kiara buu.Hatiku masih mencintai Andini." ungkap Bagas jujur.
"Jika kau tidak mencintai Kiara kenapa kau menikahinya dan meninggalkan Andini?"
"Ya itu karena Kiara hamil,dan aku harus bertanggung jawab akan hal itu.Dulu obsesi ku untuk memiliki anak membuatku terjatuh di lembah kenistaan bersama dengan kiara.Tapi sekarang aku sadar itu hanya sebuah obsesi,bukan cinta.Sikap Kiara yang sangat kasar dengan Andini membuatku semakin muak dengannya" Bagas meremas ujung seprei mengingat sikap Kiara yang selalu merendahkan Andini.
"Kenapa kau tidak pernah membicarakannya dengan ibu?"
"Maaf Bu aku hanya tidak ingin membuat ibu sedih"
"Lalu apa kau pikir sekarang ibu bahagia?"
"Maaf Bu ....Maafkan aku" Bagas menundukkan wajahnya sedih.
"Kesalahan terbesar yang kau lakukan dengan mengkhianati Andini.Tentu memang harus kau bayar dengan mahal.Karena Allah pasti membalas rasa sakit yang kau berikan.Bukankah ibu sudah katakan hukum karma itu pasti akan berjalan.Tapi tidak di sangka karma datang secepat ini."
"Tuhan menciptakan penyesalan itu agar kita menyadari bahwa semuanya tidak dapat di ulang.Sekarang coba lihat Keyza.Ibu mohon pikirkan kembali keputusanmu,Keyza butuh orang tuanya.Nak setiap rumah tangga itu pasti akan ada ujiannya,siapapun pasangan hidupmu pasti kalian akan di uji.Jangan memutuskan sesuatu karena marah.Marah itu hanya akan memperkeruh akal dan pemahamanmu.Bukankah sekarang kamu sudah menjadi ayah? maka bijak lah dalam mengambil sebuah keputusan."
"Pikirkan tentang tanggung jawabmu sebagai ayah"
Bagas memeluk ibunya..... "Ibuuuuu"
__ADS_1
Pelukan penuh kasih dari sang ibu mampu membuat Bagas menjadi tenang.Karena sejatinya,ibu lah yang paling bisa memahami anak-anaknya.