
Sesuai permintaan Andini,Danu meletakkan martabak telor di depan pintu kamar mereka.
"Sayang martabaknya sudah aku letakkan di depan pintu"
Lagi-lagi Danu menarik napas dalam,sepertinya ia harus benar-benar memerlukan lebih banyak stok kesabaran.
Andini keluar menatap punggung Danu. Ada rasa bersalah tumbuh di sudut hatinya,melihat sosok laki-laki yang selalu berusaha menuruti semua maunya.
Terlepas dari sikapnya saat bertemu barisan para mantan termasuk Airin. Danu adalah sosok lelaki yang baik dan sangat bertanggung jawab serta penuh perhatian.
Belum penuh satu hari ia tidak melihat wajah suaminya. Tapi entah kenapa rasa rindu itu sudah menyelimuti hati.
Ia rindu sentuhan lembut lelaki itu,rindu canda tawanya dan rindu kehangatan sikapnya.
Nak kenapa kau tidak menyukai ayahmu....?
Andini mengusap-usap perutnya,sambil memakan martabak telor yang terasa begitu nikmat baginya.
Setelah menghabiskan satu porsi martabak,Andini menguap dan menggeliat. Kelopak matanya mulai terasa berat.
Andini merebahkan tubuhnya di atas sofa,tanpa menunggu waktu lama ia pun langsung beralih ke alam bawah sadarnya.
Danu merengkuh tubuh Andini lembut,dan memindahkannya di atas ranjang mereka.
Tanpa Andini sadari,ternyata Danu sedari tadi sudah memperhatikannya dari cela pintu kamar mereka yang sedikit terbuka.
Danu menatap wajah istrinya lekat,menyibak rambut rambut yang menutupi wajah Andini.
Cantik.....
Di mataku kau lah wanita tercantik yang ada di duniaku....tidak ada yang bisa menggantikan mu...
Andini.....istriku.....
Terimakasih karena kamu selalu sabar dalam menghadapi ku....kadang aku selalu marah tidak jelas,bahkan setiap hari aku merepotkan mu untuk mengurus segala keperluanku....Dan tidak jarang justru aku yang selalu manja padamu...bukan sebaliknya...
Maaf.....maaf karena aku selalu memberimu luka yang sama.
Mungkin.....
saat ini,Allah telah menghukum ku....lewat anak kita. Walau berat tidak bisa dekat denganmu...tapi aku akan berusaha bersabar,,,menjalani momen ini.
Tetap lah kuat istriku....kata orang melewati masa 9 bulan kehamilan itu tidak mudah....walau aku tidak bisa merasakan yang namanya hamil,tapi melihatmu muntah-muntah dan tidak berselera makan itu sudah cukup membuktikan bahwa itu memang tidak mudah. Jika bisa,rasanya aku ingin sekali menggantikan sakit mu. Setiap kali melihat mu menahan rasa mual,rasanya hatiku berdenyut ngilu....semoga kau dan anak kita sehat selalu...
Danu mengecup puncak kepala Andini pelan,membaringkan tubuhnya di sebelah sini dan merengkuh tubuhnya dengan lembut.
Tanpa sadar Andini membalas pelukan itu,pelukan yang selalu berhasil membuatnya merasa nyaman. hingga pada akhirnya..... mereka pun tenggelam pada dunia mereka sendiri.
Setelah beberapa beberapa menit,Danu tersadar karena getaran ponsel di saku celananya. Dengan malas ia meraih ponsel itu, namun matanya langsung terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Perlahan Danu menarik sebelah tangannya yang ada berada di bawah kepala Andini. Ia mengibas-ngibas kan tangannya yang terasa sedikit kebas karena sedari tadi harus menopang kepala sang istri.
Pelan-pelan ia beringsut dari ranjangnya,agar tidak mengganggu wanita yang tengah tenggelam di dalam bawah sadarnya.
"Iya Pi" jawab Danu saat dirinya sudah berada di balkon kamar nya.
"Cepat keruangan papi ada yang ingin papi bicarakan soal Airin" seru papi Yoga dari ujung telponnya.
"Pi bisa tidak kita bicaranya di luar saja,aku juga ingin membicarakan sesuatu pada papi" ujar Danu sambil memasukkan sebelah tangannya ke saku celana.
"Kenapa harus di luar?" tanya Papi Yoga penasaran,mengajak papi Yoga bicara di luar kantor,itu bukan hal yang biasa di lakukan putranya.
__ADS_1
"Aku ingin kita bisa ngobrol dengan santai aja pi" ujar Danu lirih. Kali ini Danu ingin bicara sebagai anak papi Yoga,bukan sebagai bawahan papinya.
"Ok! serlok aja tempat " jawab papi Yoga,lelaki paruh baya itu juga berpikir hal yang sama. Sejenak ia juga ingin melepas ikatan formal diantara mereka. Dan itu tidak akan bisa ia lakukan jika berada di kantor.
Papi Yoga menghela nafas dalam,menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin di bicarakan oleh putra semata wayang nya itu.
Sementara Danu juga bertanya-tanya di dalam hati. Ada apa lagi dengan Airin? rasanya sangat malas jika harus membahas wanita itu.
Danu kembali menatap ke arah ranjang,terlihat wanita yang sangat ia cintai masih terpejam. Ia mengecup lembut kening Andini,lalu menarik selimut sampai ke atas dada Andini. Berat rasanya harus meninggalkan Andini. Namun ia memang harus pergi sebelum wanita itu bangun,karena Danu tidak ingin melihat Andini harus merasakan mual lagi karena melihat wajahnya.
Huh padahal wajahku begitu tampan ,tapi kenapa anakku tidak suka?
Danu mendengus dalam hati,sambil menatap dirinya yang terlihat nyaris terpahat sempurna dari pantulan cermin.
Setelah beberapa menit kepergian Danu....
Andini menggeliat,ia mulai beranjak dari alam bawah sadar nya.
Kenapa tadi sepertinya aku merasa berada seperti di peluk mas Danu...?
Batin Andini sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.
Ah mungkin tadi itu hanya mimpi....jelas-jelas tadi aku lihat mas Danu sudah pergi...
Andini memejamkan matanya kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Tapi kenapa aku ada di ranjang? bukankah tadi aku di sofa?
Andini melihat sofa yang tadi ia duduki saat makan martabak. Iya masih tidak mengerti apa yang sudah terjadi,seporsi martabak itu seakan langsung membiusnya hingga ia tidak bisa mengingat apapun setelah itu.
Aaah sudahlah....mungkin aku yang lupa sudah berpindah ke atas ranjang.. Oh tuhan,kenapa aku jadi pikun begini ....?
Setelah mandi dan merasa fresh Andini turun ke lantai bawah. "Bik Iyem ......" teriak Andini memanggil pembantu yang selalu siap siaga melayani nya.
"Iya non...." jawab bik Iyem lalu muncul dari ruangan dapur.
"Bik temani aku ke kebun belakang yuk"
"Mau apa non?" tanya bik Iyem heran,tidak biasanya majikannya itu minta ke kebun.
"Mmmmm gak papa bik,cuma pengen liat-liat aja" jawab Andini simple.
"Oh ya begitu ,ya sudah ayo mari non...." ucap bik Iyem dengan seulas senyuman ramah.
"Oh ya bik memang di kebun belakang ada tanaman apa aja?" tanya Andini tiba-tiba ia penasaran dengan isi kebun yang sama sekali belum pernah ia datangi.
"Mmmm banyak non,ada tanaman sayur-sayuran dan juga buah-buahan " jelas bik Iyem sambil mengiringi langkah Andini.
"Kalau tanaman buahnya,ada buah apa aja?"
"MMM buah mangga,rambutan,jambu, jeruk dan..... apa lagi yah? bibik lupa...." ucap bik Iyem sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hahahaha ya sudah bik,nanti juga Andini bakalan tau " Andini meraih kedua pundak bik Iyem sambil tertawa,melihat ekspresi bik Iyem yang berusaha mengingat-ingat jenis pepohonan tapi tidak berhasil membuat Andini tergelitik.
Saat sampai di kebun,Andini melihat barisan pepohonan yang di sebutkan bik Iyem tadi. Mata Andini berbinar memandang penuh takjub. Ternyata di sana ada 3 buah jenis pohon mangga yang berukuran tidak terlalu tinggi,namun memiliki buah yang lumayan berhasil membuat rantingnya mentiung ke bawah. Dan bersyukurnya semua pohon memiliki buahnya.
"Waaah di sini terasa sejuk ya bik ,udaranya segar..." Andini menghirup udara segar yang tidak tercemari oleh polusi. "Buahnya juga segar-segar" ucap Andini sambil menyentuh buah mangga yang berkulit kuning bersemu merah.
"Iya non,kalau tidak ada pekerjaan bibik juga sering kesini. Disini mah enak,apalagi kalau sambil memetik buah langsung dari pohon nya" ujar bik Iyem sambil meraih gunting yang biasa iya gunakan untuk memetik buah.
__ADS_1
"Wah kalau begitu... Andini juga mau metik buah langsung..." seru Andini penuh antusias sambil meraih gunting dari tangan bik Iyem.
Ini pertama kalinya ia berada di kebun,melihat deretan pepohonan yang berukuran kecil dan berbuah lebat membuatnya bersemangat untuk memetik buah sesuai dengan seleranya. Bik Iyem hanya mampu menatap heran pada Andini yang tiba-tiba suka berkebun. Karena ternyata bukan memetik buahnya saja,tapi Andini juga minta di ajarin untuk menanam bibit sayuran yang ada di sana.
Di tempat yang berbeda,Danu melihat papi Yoga sudah duduk di meja VVIP sebuah kafe yang ia sherlok ke papinya. Ternyata lelaki paruh baya itu telah sampai terlebih dahulu di banding Danu.
"Sudah lama Pi? " Tanya Danu sambil duduk di seberang papi Yoga.
"Yaaa lumayan" jawab papi Yoga sambil menyeruput kopinya.
"Memang ada apa dengan Airin?" Danu langsung menanyakan hal yang berhasil membuatnya penasaran sedari tadi.
"Airin itu sengaja di utus oleh om Aldo untuk merusak hubunganmu dengan Andini" jawab papi yoga langsung pada intinya. Yah begitulah laki-laki memang tidak suka berbasa-basi saat bicara dengan sejenisnya.
"What?" Mata Danu langsung terbelalak,dan menatap papi Yoga intens,seolah menuntut penjelasan lebih.
"Papi dapat kabar dari orang-orang papi..." Papi yoga mengeluarkan foto-foto Airin saat bersama om Aldo.
"Danu meraih beberapa lembar foto itu,dan menatapnya penuh nanar " Lalu kenapa papi malah wanita jadi-jadian ini jadi sekretaris ku?" tanya Danu yang tidak masih tidak mengerti apa maksud papinya.
"Begini...walau bagaimanapun om Aldo adalah saudara papi satu-satunya. Papi hanya ingin bisa bicara dengannya secara langsung.Papi ingin mendengar apa alasan yang membuatnya tega mengkhianati papi. Dan hal itu hanya bisa papi lakukan dengan menggunakan Airin. Hanya Airin yang tau semua Hal tentang om Aldo"
"Dan papi juga ingin tau,apa motif Airin dan om Ferdi membantu om Aldo. Semua ini tidak bisa papi lakukan sendiri...papi butuh bantuan mu,karena cuma kamu yang bisa menangani Airin" jelas papi Yoga sambil kembali menyeruput kopinya.
"Oh jadi maksud papi,kita ikuti permainan mereka? "
"Iya,terkadang kita harus pura-pura bodoh untuk mengetahui strategi lawan" ujar papi yoga sambil kembali menyeruput kopinya.
Danu mengangguk-angguk kan kepalanya. Yah begitulah...tidak mudah menjadi orang yang sukses di dunia bisnis. Banyak yang akan mencoba untuk menghancurkan ,bahkan di dalam bisnis tidak mengenal saudara dan sahabat bagi orang-orang yang picik. Semua akan mereka lakukan demi menggapai apa yang mereka inginkan.
"Oh ya apa yang ingin kau bicarakan dengan santai sama papi?" sekali lagi tanpa basa-basi papi Yoga langsung mengalihkan pembicaraan pada topik yang berbeda.
"Andini hamil Pi.." ucap Danu sambil menghembuskan napas berat.
"Wah bagus dong,berarti sebentar lagi papi bakal jadi kakek" ucap papi Yoga dengan mata berbinar. "Seharusnya kamu mengucap syukur,bukan malah menekuk muka gitu" imbuh papi Yoga,saat melihat wajah Danu seperti pakaian yang belum di setrika.
Danu menarik napas dalam,dan menceritakan apa yang terjadi antara ia dan Andini karena Airin. Danu pikir soal Airin memang harus ia ceritakan pada papi Yoga,karena Danu yakin pertemuan dengan Airin kala itu juga termasuk dalam rencana persekongkolan om Aldo ,Airin dan papanya.
Awalnya papi yoga menanggapi cerita Danu dengan serius,tapi .... saat Danu menceritakan keanehan Andini yang tiba-tiba tidak menyukai semua hal tentang nya membuat papi Yoga langsung tergelitik.
"Hahahaha .... Andini itu mirip ibu kamu,waktu lagi hamil kamu dulu" tawa calon kakek itu pecah seketika mendengar cerita dari Danu.
"Benarkah?".... tanya Danu semakin di hujam rasa penasaran.Selama ini papinya tidak pernah menceritakan masa ia dalam kandungan,begitupun mami margaret.
"Iya itu benar,bahkan dulu papi sampai harus berkomunikasi lewat surat pada ibumu,walaupun kami tinggal satu rumah. Ibumu langsung muntah-muntah saat melihat wajah papi. Orang hamil memang suka aneh" papi yoga tersenyum nyeleneh,saat mengingat momen itu.
"Apa mami juga pernah mengatakan papi bau?" tanya Danu lagi,ia tidak pernah menyangka bahwa ia ternyata senasip dengan papi nya.
"Tentu saja,ibu kamu itu sampai pakai masker dan kaca mata hitam saat bertemu papi" seru papi yoga lagi.
"Lalu sampai berapa lama pi?"
"Mmmmmmm lima bulan kalau tidak salah"
"Apa lima bulan?"
Mata Danu langsung terbelalak. Ia tidak bisa bayangkan harus menghadapi situasi ini selama lima bulan. Satu hari saja ia tidak bisa dekat dengan Andini sudah membuatnya Frustasi.
Bagaimana papi Yoga bisa melewati itu selama lima bulan?
__ADS_1