Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Ini Benar-Benar Gila


__ADS_3

Di Andin's bakery.....


Andini tidak bis bekerja seperti biasa...


Badannya terasa lemas,karena perutnya kosong. Sejak muntah-muntah tadi pagi ia tidak berselerah untuk makan apapun.


"Bu Andin,,ibu kelihatannya kurang sehat,lebih baik ibu istirahat dulu" ujar Lela asisten Andini.


Andini mengangguk pelan,wajahnya terlihat pucat.


"Aku tinggal dulu ya....kamu bisakan menghandle semuanya?"


"Baik Bu...insya Allah saya bisa!"


Jawab Lela dengan seulas senyuman,mendengar jawaban itu membuat Andini merasa lega. Mungkin ini sudah saat nya ia harus mempercayakan toko pada Lela.


Andini menyadari,bahwa kondisinya sudah tidak seperti dulu lagi. Ia harus lebih memprioritaskan kesehatan dan keselamatan calon baby yang ada di perutnya.


"Oh ya tolong sampaikan sama mang udin,untuk menyiapkan mobil saya mau keluar sebentar"


"Baik Bu.." jawab Lela sambil membungkukkan sedikit badannya dan langsung pergi menemui mang Udin.


******


Atmaja group....


Danu berkali-kali menatap ponselnya dengan kesal. Sejak tadi ia tidak fokus dalam bekerja. Saat menghadiri meeting tadi, ia juga hanya mengandalkan Beri untuk menghandle semuanya.


Sial....


Berkali-kali ia mengumpat ,karena berkali-kali juga Andini tidak mengangkat telpon darinya.


"Nu...Danu....ada kabar baik" tiba-tiba Beri datang dan langsung nyerocoos.


"Lu gak bis ketuk pintu dulu ya?,gw ini bos lu. Dasar bulet...!" Seru Danu sambil melempar ponselnya ke arah Beri.


Dan seperti biasa,Beri selalu saja dengan sigap menangkap benda pipih itu. Jangan sampai barang berwarna hitam itu hancur,karena pasti si bos akan meminta ganti rugi kepadanya.


"Suka banget lu lempar-lempar ponsel,ini mahal bro?" ucap Beri sambil mengusap-usap ponsel Danu dengan ujung lengan kemejanya.


"Ya awas aja kalau sampai ponsel gw rusak. Lu harus-----"


"Ganti rugi....karena semua itu gara-gara gw sudah buat bos Danu Brahmana Atmaja kesal" sambung Beri dengan nada penuh penekanan. Laki-laki itu sampai hafal akan kalimat andalan Danu saat suasana hatinya sedang buruk.


"Nah lu da tau..." Dengus Danu


"Ya udah hafal gw...." jawab Beri sambil meletakkan ponsel Danu di atas meja,lalu ia menarik kursi yang ada di seberang Danu dan mendudukkan tubuhnya di sana.


"Kenapa lu?" tanya Beri.


Beri juga faham betul,akan ekspresi wajah sahabat nya itu. Jika sang bos sudah menekuk wajahnya dan mudah tersulut emosi,pasti itu menyatakan bahwa ada masalah emergency di hatinya.


Beri menautkan alisnya...menatap intens wajah bos sekaligus sahabat nya itu.


"Kesel gw Ber...." ucap Danu lirih.


"Ya gw tau kalau lu itu lagi kesel,tapi kenapa?" Beri kembali memperbaiki duduknya,mencari posisi ternyaman untuk mendengar sesi curhat Tan Danu.


"Eh coba deh cium gw bau gak sih?" seru Danu sambil mengendus-ngendus kedua sisi bahunya.


"Idih ogah gw cium lu,emang lu pikir gw lelaki apaan?",Beri mengedik kan bahunya geli,membayangkan ia harus mencium pipi,kening atau bibir Danu.


"Sialan lu,,,gw juga ogah kali kalau harus di cium versi otak lu" seru Danu seolah mengerti apa yang ada di pikiran Beri. "Maksud gw cium aroma tubuh gw,,,blo'on...." sambung Danu sambil menyentil jidat Beri.


"Hihihihi kira'in.....cium....pake rasa gitu..." Beri tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Idih najis gw...eh lu denger ya walaupun gw berubah jadi homo,gw juga pasti pilih-pilih laki-laki lah gak mungkin sama pria buntal kayak lu. Heran gw kenapa Ica bisa mau sama lu. Dia liat lu itu dari sisi mananya ...?" ejek Danu dengan seringai liciknya.


"Stop,udah...cukup sesi menghinanya. Sekarang mau di cium gak nih?" protes Beri,sembari menaikkan sebelah ujung bibirnya.


"Ya udah buruan...cium. Tunggu apa lagi? " seru Danu masih dalam level kekesalan tingkat sepuluh.


Beri beranjak dari duduknya dan mendekatkan Indra penciumannya ke tubuh Danu.


"Hmmmmm seperti biasa wangi maskulin khas seorang Danu" jawab Beri sambil menarik tubuhnya dan seperti posisi semula. " Emang kenapa? tidak percaya diri? itu kan bukan lu banget" ujar Beri sambil melambaikan sebelah tangannya.


"Mmmmm Andini bilang gw bau" ucap Danu sambil mengetuk-ngetuk meja dengan jemari nya.


"Kenapa?"


"Tau tuh,,setelah muntah-muntah dia dengan jelas mengatakan tidak suka mendengar suara gw,tidak mau Deket gw, dan yang bikin lebih keselnya dia bilang gw bau. Dia sampai muntah-muntah lagi saat gw deketin .Padahal kan gw mandi seperti biasa,pakai sabun dan menggosok gigi " Jelas Danu lirih dan menghela napas berat.


"Kenapa Andini sampai muntah-muntah?apa kau membuatnya sakit lagi?" tanya beri dengan tatapan curiga. Beri masih mengingat dengan jelas bagaimana kondisi Andini saat di Bali waktu itu.


"Gila lu,Ya gak lah,emang iya sih gw yang bikin Andini muntah-muntah tapi bukan karena sakit seperti yang lu pikir"


"Lalu apa?" tanya Beri penasaran.


"Kata dokter Andini positif hamil" ucap Danu lirih.


"Sungguh?" Wajah Beri berubah berbinar ,mendengar kabar baik yang selama ini sudah ditunggu oleh banyak orang di sekitar mereka.


"Iya" Danu mengangguk dengan tersenyum bangga.


"Wah selamat ya bro,akhirnya tendangan lu tokcer juga" Beri mengulur kan tangannya penuh antusias .


"Ah sialan lu" Danu menapik ukuran tangan Beri. "Bukan itu yang mau gw bahas,tapi masalah keanehan Andini tadi" ujar Danu kembali kesal,mengingat kejadian tadi pagi.


"Hmmm kalau Andini hamil,mungkin itu semua karena pengaruh baby yang ada di perutnya. Kalau setau gw wanita hamil akan mengalami mood swing yang berbeda-beda. Mungkin juga karena anak lu males liat lu gara-gara lu sering nyakitin emaknya.." jelas Beri dengan tawa yang tertahan.


Bukan gw yang gak paham tapi lu aja yang gak bisa menerima kenyataan kalau anak lu itu ogah punya bapak kayak lu...buaya darat setengah tobat...


Beri mencebikkan bibirnya...sambil mencibir dalam hati.


Tok tok tok....


Pembicaraan mereka pun terputus karena mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk" jawab Danu sambil membenar kan posisi duduknya.


Mata Danu langsung terbelalak lebar,saat melihat papi Yoga masuk keruangan nya dengan membawa seorang wanita.


"Airin?" Seru Danu kaget,melihat sosok wanita jelmaan yang sudah berhasil membuat ia dan istrinya bertengkar tadi malam. "Ngapain lu ke kantor gw?" Dengus danu kesal.


"Papi yang ajak Airin kemari,om Ferdi meminta papi untuk membantu Airin mengembangkan sayapnya di dunia bisnis. Kebetulan Airin ingin bekerja di perusahaan kita sekaligus sebagai proses belajar mengasah bakatnya,jadi papi harap kamu dan Beri bisa membimbing Airin" jelas Papi yoga sambil menyentuh kedua ujung bahu Airin.


"Kenapa harus aku pi? kenapa gak papi aja? aku banyak pekerjaan pih!" seru Danu tegas.


Bagaimana jika Andini tau Airin bekerja dengannya?mungkinkah akan terjadi perang dunia kedua di antara mereka?


"Pokoknya papi gak mau tau,urusan Airin papi serahkan sama kamu dan Beri. Papi yakin kalian bisa membantu Airin. Oh ya....bukanya sekretaris kamu lagi ambil cuti?....kalau begitu kamu bisa jadi kan Airin sekretaris kamu untuk sementara waktu " ucap papi Yoga .


Jika menyangkut urusan kantor papi yoga bukanlah atasan yang suka di bantah. Apa yang sudah menjadi keputusannya harus di lakukan dengan baik.


Danu menghela napasnya dalam,posisinya membuat ia jadi serba salah. Papa Airin adalah sahabat sekaligus rekan bisnis papi Yoga sejak dulu. Sangat tidak mungkin rasanya jika harus menolak permintaan papa Airin. Tapi di satu sisi bagaimana jika Andini tau.....?


Satu masalah yang sudah ia buat karena Airin saja belum terselesaikan,di tambah lagi dengan masalah baru harus bekerja bersama Airin yang otomatis akan membuat Danu setiap saat akan bertemu dengan wanita itu.


Sedangkan Airin?


Tentu saja wanita itu merasa di atas angin. Karena satu rencananya sudah berjalan dengan mulus,lewat tangan papi Yoga.

__ADS_1


Airin paham betul Danu tidak akan bisa membantah perintah papinya.


Ia tersenyum penuh kepuasan,,,


Ini adalah awal baru bagi kita Danu....


Akan aku tunjukkan siapa Airin di depan istrimu....


Tidak ada yang bisa mengambil apa yang sudah aku inginkan....


"Ber antar Airin keruangannya,beritahu ia apa tugasnya"


"Asyiap bos.....!" jawab Beri degan posisi sigap. "Mari nona Airin saya antar" ucap beri sopan.


"Tapi om...Airin maunya di ajarin sama Danu langsung biar Airin cepat paham" protes Airin dengan nada manja.


"Pi aku lagi banyak pekerjaan,lagian aku udah punya istri pi,bagaimana kalau sampai istriku melihat kami berdua,takut Andini akan salah paham" ucap Danu jujur. "Lagian Airin kan di sini untuk belajar,jadi tidak perlu memilih siapa yang akan jadi gurunya,menurutku Beri juga bisa di andalkan kok" Sambung Danu lagi.


"MMM ok ok. Airin om percaya kamu itu wanita yang cerdas,kamu pasti bisa menerima pelajaran dengan mudah walau siapapun gurunya. Om ras Beri juga memiliki skill yang bagus" bujuk papi Yoga pada Airin.


Melihat sikap Airin pada Danu. Membuat papi Yoga langsung mengerti apa niat terselubung wanita itu. Terlebih papi Yoga juga tau hubungan mereka di masa lalu. Sebagai seorang ayah,papi Yoga juga harus mempertimbangkan alasan Danu tadi.


"Ya sudah Om tinggal dulu ya Airin,selamat datang di Atmaja group,semoga kamu suka di sini" ucap papi Yoga sambil menyentuh pundak Airin. "Oh ya di perusahaan ini memiliki beberapa peraturan,om harap kamu membaca dan mempelajari peraturan di kantor ini. Karena om sangat menjunjung kedisiplinan. Jadi semua orang yang ada di kantor ini wajib menaati peraturan yang ada,tanpa terkecuali" jelas papi Yoga lagi. Lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Mari non...." ucap beri dengan tangan mempersilahkan.


Dengan berat hati Airin melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruangan Danu. Ia mencebikkan bibirnya,hatinya masih tidak bisa menerima penolakan Danu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Setelah kepergian Beri dan Airin dari ruangannya,Danu kembali fokus pada ponselnya.


Pikirannya masih di penuhi oleh sang istri,apalagi tadi ia meninggalkan istrinya dalam keadaan seperti itu.


Apa bener Andini tidak mau bicara denganku itu karena anak kami?


Rupanya omongan beri tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Mas aku baik-baik saja. Maaf tidak bisa menerima telponmu,karena melihat fotomu di ponsel aku saja sudah membuatku mual. Apalagi mendengar suaramu,aku gak kuat mas..."


Danu menghela napas dalam,saat membaca pesan chat dari Andini. Mood swing yang di alami Andini benar-benar membuatnya frustasi.


"Mas aku sudah ada di rumah,aku pengen makan martabak telor yang ada di ujung jalan Deket kantor kamu. Tapi aku pengennya mas yang beli langsung....!"


Membaca pesan kedua Andini membuat Danu langsung tersenyum. Andini memintanya untuk membeli martabak,berarti sudah tidak marah lagi.


"Ok sayang,siap aku akan segera pulang membawa pesanan"


Balas Danu dengan seuntai senyum yang terbingkai di wajahnya.


"*Iya sudah,cepat ....! aku tunggu!"


"Oh ya nanti kalau sudah sampai rumah,letakkan saja martabaknya di depan pintu kamar. Jangan titipkan sama bik iyem dan jangan masuk kamar,aku tidak mau muntah-muntah lagi karena melihat wajah mas. Dan jangan bersuara,jika sudah sampai kirim pesan saja*...!"


"Wahat??????"..... mata Danu langsung terbelalak kaget melihat pesan tidak masuk akal itu dari Andini. Pupus sudah harapan Danu untuk bisa ngobrol dan menatap wajah istrinya.


Gila....


Ini benar-benar gila.-


Bahkan seorang kurir saja masih bisa bertatap muka dan berbicara saat mengantar pesanan.


Tapi Andini?.....


Wanita itu bahkan tidak ingin mendengar suaranya,sampai-sampai harus meletakkan pesanan di depan pintu. Apa itu masuk akal?....


Terus sampai kapan mereka harus berkomunikasi hanya lewat chat saja?

__ADS_1


__ADS_2