
Suasana semakin menegang saat om Aldo menodongkan pisau ke leher Andini.
Keringat dingin bercucuran dari wajah Andini. Tangannya di bekap ke belakang,dan di paksa untuk berjalan menuju mobil matic Andini.
Tidak ada satupun yang berani bergerak. Jika ada yang melanggar peraturan itu. Maka tamatlah riwayat Andini.
"Cepat majukan mobilnya !" seru am Aldo geram.
"Aku tidak kuat menyetir,perut ku sakit om..... kemungkinan aku akan segera melahirkan" Keluh Andini jujur sambil memegangi perutnya.
"Jangan banyak alasan kamu,atau kau dan anakmu mau mati!" teriak om Aldo kuat.
"Ini beneran om,aku gak bohong...Aduuuuuhhhhhh tolong.....sakit.... " rintih Andini.
Rasa sakit di area perut dan pinggang nya semakin menderu.
Mendengar rintihan Andini membuat om Aldo bertambah panik. Terlebih saat ia melihat ada lelehan darah segar mengalir di kaki Andini.
"Ka-kamu beneran mau melahirkan?" tanya om Aldo kaget.
"Iya dong om masa aku bohong,udah kayak gini juga bagaimana bisa bohong" seru Andini sambil menarik rambut om Aldo.
Om Aldo semakin panik,saat Andini menarik-narik rambutnya karena menahan sakit.
Pikiran untuk membunuh wanita itu buyar seketika.
"Ayo om antar kan aku ke rumah sakit ,cepat....keburu berojol disini om Dede bayinya" rengek Andini sambil kembali menarik jaket om Aldo.
"Kamu itu tawanan aku, bagaimana bisa aku mengantarmu ke rumah sakit? polisi-polisi itu bisa menangkap ku " om Aldo kembali menodongkan pisau itu kearah Andini.
"Aku saja sedang menaruhkan nyawaku om, bagaimana bisa om menawanku. Tolong buka kaca mobilnya om udaranya terasa sesak, cepat om buka om..."
Andini menggedor-gedor kaca di sebelah nya. Rasa sakitnya sudah menghilangkan semua perasaan takutnya pada om Aldo.
Melihat wajah Andini yang terlihat begitu kesakitan,di tambah begitu banyak cairan bercampur darah yang mengalir , akhirnya....om Aldo mengumpat " Dasar sial,hari ini aku benar-benar sial" . Om Aldo merutuki dirinya sendiri sambil membuka kaca mobil dengan terpaksa. Entah kenapa kini hati nuraninya tersentuh saat melihat sakitnya wanita yang sedang ingin melahirkan.
Om Aldo mencondongkan tubuhnya,membuka pintu mobil dari dalam.
Tanpa ia sadari ,pisau di tadi ada ditangan nya sudah terlempar entah kemana.
Sakit di ujung perut Andini lagi-lagi menyerbu dengan kuat tangan Andini menjambak rambut lelaki itu hingga lelaki itu meringis kesakitan.
"Ommmm saaakittt...." rintih Andini lagi.
Om Aldo pun mengusap perut Andini dengan panik. "Pak polisi wanita ini sepertinya sudah mau melahirkan" seru om Aldo tanpa sadar.
Segerombol polisi itu langsung mendekati mereka.
"Jangan bergerak!" Seru polisi itu.
Replek om Aldo langsung mengangkat kedua tangan nya " Brengsek,,,," maki om Aldo saat mendapati tangannya langsung di borgol oleh seorang polisi.
Ia baru menyadari, bahwa ia sedang menyerahkan diri nya pada polisi.
Sementara Andini langsung di bopong oleh Danu ke dalam mobil sport nya.
"Ayo Steven...cepat lajukan mobilnya" seru Danu tegang. Ia memeluk tubuh Andini dan menggenggam tangan nya erat.
__ADS_1
"I-iya bang..."
Jawab Steven panik,saking paniknya ia sampai bingung bagaimana cara mengendarai mobil itu. Steven hanya memandangi setirnya dengan pandangan aneh.
"Sakiiiit mas......sakittt" rintih Andini sambil kembali menjambak. Kini rambut Danu yang menjadi sasaran nya.
"Hei Bulepotan ,ayo cepat.....kok malah bengong lu!" teriak Danu tidak sabar, melihat istrinya begitu kesakitan.
Mela menarik napas panjang, melihat dua lelaki itu.
"Udah biar gw yang nyetir" seru Mela sambil keluar dari mobil dan berganti posisi.
"Gak perlu mel gw bisa" jawab Steven dengan tangan gemetaran.
"Apanya yang bisa lu gemetaran gitu ! seru Mela lagi.
"Kenapa kalian malah rebutan setir? klien gak lihat kondisi Andini, kalau sampai terjadi apa-apa kalian harus tanggung akibatnya" bentak Danu marah.
Akhirnya Steven pun menurut,mereka berganti posisi. Mela yang menyetir mobil itu dan akhirnya mobil itu pun bergerak juga.
"Sakiiiittttt......" Keluh Andini lagi...
"Sabar ya sayang....tunggu sebentar lagi" ucap Danu sambil menciumi puncak kepala istrinya.
"Seperti nya si kembar udah mau keluar mas..." seru Andini sambil meremas tangan Danu.
"Jangan dulu sayang ..tahan dulu,kita belum sampai" ucap Danu dengan panik.
"Gak bisa aku tahan...." keluh Andini.
"Lalu gimana dong,? Steven cepat lu panggil dokter,suruh kemari" ucap Danu sambil mengusap-usap perut Andini.
"Halo dok,cepat kemari ini teman saya sudah ingin melahirkan" ucap Steven.
"Lu gila Steve,gw kan dokter hewan" jawab dokter itu dari ujung telpon.
"Oh iya..." Steven tersenyum kecut. Ia baru ingat,ia hanya memiliki nomor dokter hewan yang sering memeriksa kucingnya.
" gw gak punya nomor dokter nya" ucap Steven.
"Terus tadi yang lu telpon itu siapa? " Tanya Danu ,geram.
"Dokter hewan" jawab Steven lemas.
"Apa?" seru Danu dan Mela bersamaan.
Sungguh tidak di sangka karena terlalu panik membuat Steve jadi tulalit.
"Berani-beraninya lu manggil dokter hewan untuk istri gw,emang lu pikir istri gw apa?"
Danu menarik baju Steven dan hendak memukulnya.
"Mass...sakittt"
Namun mendengar rintihan Andini membuat Danu mengurungkan niatnya. Ia kembali memeluk wanita itu dan menyapu ujung perut nya.
"Maaf bang gw bingung" ucap Steven lemah.
__ADS_1
"Udah gak perlu berantem,biar gw yang telpon"
Mela menghentikan mobilnya dan menelpon rumah sakit terdekat.
Mela menghela napas panjang, seperti nya dalam kondisi Andini yang seperti ini ia harus melakukan sesuatu, pikir nya.
Mela membuka atas mobil secara otomatis dengan satu tombol.
"Lu mau ngapain?" tanya Danu heran.
"Seperti nya kita harus bekerja sama,Andini tidak dapat menunggu lagi" ucap Mela mencoba setenang mungkin.
Ia membuka pintu mobil,dan mengubah posisi Jog mobil.
Andini pun dengan replek mengubah duduknya dengan membelakangi Danu .
"Sudah mau keluar mel,aku tidak bisa menahannya" ujar Andini.
"Ok, tarik napas dari hidung keluar kan dari mulut" Mela memperagakan dokter yang belum lama ia tonton televisi. "Rileks jangan tegang,gunakan feeling saja" ucap Mela asal.
Andini mengikuti instruksi Mela, lalu ia mengejan. Dorongan sikembar begitu kuat, sehingga membuat Andini mengejan dengan sendirinya....
"hekkkkk....."
Andini mengejan sambil menggigit tangan Danu.
"Hekkkkk"..."Hekkkkk"..."Hekkkk"...
Tiga kali Andini menarik napas dalam-dalam dan mengejan.....
Oeeek,,,oekkk ....oekkkk
Akhirnya satu Beby keluar dengan selamat, Mela langsung menggendongnya "Alhamdulillah" ucapnya.
"BULAN" kata Andini sambil melihat bulan yang tepat berada di matanya.
"Iya dedek bulan terlihat sangat cantik" ucap Mela.
"Mel mau keluar lagi" ucap Andini sambil kembali mengejan seperti tadi.
"Apa? bagaimana ini? dokter belum datang" ucap Mela panik. Bagaimana tidak,ia juga sangat buta pengalaman tentang orang melahirkan. Menggendong satu bayi saja sudah membuat nya takut,kini mau di tambah satu lagi.
Dan oekkk....oooooekkk..oekkkk...
Mela langsung memberikan bayi di tangannya pada Danu ,dan dengan cepat mengambil satu bayi lagi....
"BINTANG..." ucap Andini.
"Ia memang sangat imut dan tampan seperti bintang di langit." jawab Mela sambil menggendong bayi laki-laki yang baru saja lahir.
Tidak lama kemudian,terdengar suara sirine ambulan. Dokter dari rumah sakit yang di telpon Mela akhirnya tiba.
Dokter itu langsung meraih kedua bayi-bayi itu dari tangan Danu dan Mela.
Dan dokter satu lagi, menggunting tali pusar yang masih menyatu dengan plasenta.
Alhamdulillah.... persalinan Andini berjalan normal dan lancar....walau hanya di tangani oleh dokter gadungan Mela dan suaminya Danu.
__ADS_1
Oh ya jangan lupa kan Steven juga,walau kehadirannya di situ tidak berfungsi,tapi ia juga menyaksikan proses hadirnya si kembar dari kejauhan.
"Selamat datang ke dunia wahai anak-anakku" ucap Danu dalam hati.