
Ma.... bolehkah aku menangis?
Andini menatap cahaya terang sang rembulan. Mungkinkah di sana lah saat ini mama dan papa nya tinggal?
Hatinya begitu sedih ,ia memeluk sikunya karena udara malam mulai menembus kulit putih miliknya. Di atas balkon tubuh kecil itu berdiri menengadah cahaya. Melawan getirnya kehidupan di alam semesta.
Sebisa mungkin ia mencoba untuk tersenyum,tapi hati kecilnya berhianat. Kerinduan itu benar-benar menyayat sudut relung terdalamnya.
Ma....di mana akan ku cari kasih setulus cintamu,pa bagaimana harus ku hadapi dunia tanpa hangatnya pelukmu.
Di tengah hari bahagia ini,aku merasa begitu banyak yang telah hilang. Tidak sempurna lagi kebahagiaan ini tanpa nama dan papa di sisi.
Rindu ini mencekik ku,,,,
Rindu pada mu bagai ingin memeluk udara,tidak akan pernah bisa. Tak bisa di sentuh tapi masih bisa kurasa. Masih bisa kurasakan kasih dan sayangmu yang telah mengalir dalam setiap darahku.
Berat....
Tiba-tiba kedua tangan melingkar ke pinggang Andini,tubuh Danu mendekap hangat Andini.
Dengan lembut Danu membalik tubuh Andini,dan menuangkan seuntai senyuman hangat di wajah teduh nya.
Kedua ibu jari Danu menyapu lembut pipi basah Andini. Lelaki itu seakan mengerti apa yang sedang mengusik hati wanitanya.
Akhir-akhir ini Andini memang terlihat sangat murung, bahkan sering kali ia memandangi foto almarhum kedua orang tuanya hingga ia tertidur.
Sudah bisa di tebak,wanita itu begitu merindukan kedua orang tuanya.
Jika saja masih ada di dunia,mungkin Danu bisa langsung mempertemukan mereka. Walau pun berada di ujung dunia sekalipun.
Tapi sayang,kali ini istrinya menginginkan hal takkan bisa di wujudkan oleh manusia. Danu hanya bisa mencoba menghangatkan sebuah ruang di hati Andini yang terasa kosong dan dingin.
"Sayang,istriku....." Danu mengecup lembut kedua pipi dan kening Andini.
Danu mengangkat dagu istrinya,dan menyesap bibir mungil itu dengan begitu manisnya.
Tubuh Andini bergetar, sentuhan lembut itu seakan membakar gairah nya. Walau sudah sering di lakukan,tapi tetap saja rasanya selalu membuat darah Andini berdesir kuat.
"Dini...mungkin selama nya aku tidak akan bisa menggantikan posisi papa dan mama di hati kecilmu. Tapi ijinkanlah aku mendekati posisi itu,selain menjadi suamimu dan ayah dari anak-anak mu aku juga ingin menjadi pengganti kedua orang tuamu. Aku ingin menjadi tempat untukmu bermanja,meminta,merengek dan semuanya hal yang sering kau lakukan pada mama dan papa. " Danu membenamkan wajah Andini kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Mungkin aku adalah suami yang sangat serakah,aku terlalu menginginkan begitu banyak jabatan di hatimu. Tapi aku sungguh tidak suka melihat mu merindukan orang lain,apalagi sampai bersedih begini....suamimu ini sangat egois bukan?" Danu mengecup ujung kepala Andini lembut.
Ujung bibir Andini tertarik membuat untaian senyuman.
Sungguh tidaklah salah, suaminya itu memang benar-benar egois. Tidak ada yang berubah,lelaki itu masih saja selalu marah jika Andini membagi kasih sayangnya untuk yang lain, teman dan bahkan kakak kandungnya sendiri.
Danu hanya ingin memiliki Andini nya sendiri,jika harus berbagi itu hanya pada sikembar. Sungguh menyebalkan bukan?
Tapi...
Seiring berjalannya waktu,Andini semakin memahami Danu. Bahkan ia semakin mencintai lelaki posesif itu. Danu tetaplah Danu,lelaki itu tetap akan menguasai apa yang sudah menjadi miliknya.
"Iya mas,kamu memang egois bahkan sangat egois. Tapi entah kenapa aku sangat mencintai suami egoisku ini" Andini berjinjit dan mengecup pipi Danu.
"Karena mas sudah meminta untuk menjadi pengganti orang tuaku,maka bersiaplah melayani semua permintaan anak nakal mu ini" bisik Andini ke telinga Danu.
"Siaaapp.....aku pasti akan melakukan semuanya,asalkan ada imbalan nya" jawab Danu dengan seringai licik nya.
Danu langsung memberikan serangan hangat di bagian wajah dan leher Andini.
Setelah sekian lama berpuasa,membuat lelaki itu sedikit buas. Tangan nakalnya mulai menjelajahi tubuh Andini.
Tanpa sadar kini tubuh Andini sudah terkulai di antas ranjang,semua pakaiannya sudah terbang entah kemana. Suaminya itu membuat nya berkali-kali melenguh dan mengerang.
uwa...uwa...uwa...
Suara bintang menangis begitu keras, repleks Andini langsung mendorong tubuh Danu yang sudah berada di atasnya.
Dengan cepat Andini meraih pakaian yang sudah berserakan di lantai,lalu segera menenangkan Bintang.
"Sial" umpat Danu kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Belum lagi pelepasan,namun permainan itu harus berhenti begitu saja. Tanpa peduli miliknya yang masih menegang.
Ia beringsut dari ranjang dan mendekati box sikembar, hanya memakai boxser.
Danu memeluk Andini dari belakang,lelaki itu masih berharap ada kelanjutan dari episode yang baru saja bersambung itu. Indra penciuman nya mengendus-endus tengkuk Andini.
"Mas....!!!" seru Andini sambil melotot.
__ADS_1
Bintang sudah tidak lagi menangis,tapi anak itu enggan untuk tertidur lagi. Matanya terlihat begitu jernih dan tersenyum melihat kekesalan ayahnya.
Yah aku tau,kau lah sekarang yang menjadi saingan berat ku. oke malam ini aku mengaku kalah padamu,tapi tidak untuk malam-malam selanjutnya
Gerutu Danu sambil melirik bintang yang sedang tertawa melihatnya. Danu menarik tubuhnya dari tubuh Andini. Melihat ekspresi sangar istrinya,harapan untuk episode selanjutnya ekspresi itu sudah menjelaskan bahwa ceritanya sudah bersambung dan ia harus menunggu episode selanjutnya.
Dengan kesal Danu menuju kamar mandi,ia harus melanjutkan episode selanjutnya sendiri. Untuk kesekian kalinya,Danu terpaksa membuang hasrat nya di kamar mandi.
Sementara bintang?
Bayi kecil itu mengayunkan kaki dan tangan nya dengan lincah. Seakan bersorak-sorai atas kemenangan yang sudah di raihnya.
"Kelihatan nya anakmu itu,terlihat begitu senang karena sudah berhasil menghancurkan momen indah kita" sindir Danu sambil meraih bantal yang ada di sisi Bintang.
"Mas...Bintang nangis karena haus"
Bela Andini sambil menatap teduh putranya.
"Apa hausnya tidak bisa di tunda dua menit lagi,kan udah tanggung tadi" keluh Danu lagi.
Andini hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Melihat wajah manis Danu yang sudah berubah menjadi masam.
Suaminya itu masih saja bertingkah konyol menurutnya.
Lalu tiba-tiba Danu terbangun dan mengubah posisinya.
Ia kembali mendekati Andini.
"Mas kamu mau apa? Bintang belum tidur?" seru Andini yang merasa curiga karena tubuhnya kini sudah berada di dalam pelukan Danu.
"Tenang saja,aku cuma mau peluk kok. Anak nakal itu tidak akan tidur sebelum aku tertidur lihat saja. Dia memang sedang memata-matai ku. Dasar nakal" gerutu Danu sambil membenamkan wajahnya ke tengkuk Andini.
"Mas jangan suka ngomong gitu ah,gak boleh. Kata-kata orang tua adalah do'a. Kalau bintang beneran jadi anak nakal gimana? kita juga nanti yang susah" Andini mengusap lengan Danu yang sudah melingkar di pinggang nya.
Danu tidak lagi menjawab,ia hanya mencoba menikmati aroma rambut dan aroma khas tubuh Andini . Hingga perlahan ia pun terbang ke alam mimpi.
Begitupun Bintang. Benar kata Danu , Bintang benar-benar tertidur setelah Danu tidur.
Andini pun mulai memejamkan matanya,stelah melihat kedua lelaki kesayangan terlelap.
__ADS_1
Malam ini bintang tidak tidur di dalam box,Bintang tidur Di samping Andini.