Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Sesampainya di klub,Andini melihat Danu masuk ke ruangan VVIP. Ia menempelkan sebuah kartu ke pintu ruangan itu.


"Ruangan itu hanya bisa di masuki oleh anggota klub yang memiliki kartu itu" Bisik Steven.


"Lalu bagaimana kita bisa masuk kedalam?"


Steven mengangkat bahunya, mendengar pertanyaan Andini?


Dan Mela?


Wanita itu... mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Terlihat seorang pelayan lelaki yang sedang memasukkan sebuah bubuk kedalam gelas minuman.


Mata Mela masih fokus pada pelayanan itu,ia masuk keruangan yang Danu masuki.


Setelah beberapa menit, pelayan itu keluar. Mela langsung mendekati nya.


Brakkkk....


Mela pura-pura menabrak pelayan itu,dan dengan cepat ia mengambil kartu berwarna gold itu dari lantai.


"Aduh...maaf" ucap Mela sambil merapikan pakaian nya kembali.


Untung saja karena cahaya remang, pelayan itu tidak menyadarinya.


"Tara ......gw punya ini....." Mela memperlihatkan kartu itu pada Andini dan Steven.


"Loh kok bisa? lu dapat itu darimana?" tanya Andini lirih.


"Hihihi Mela gitu loh,besok aja ceritanya" ujar Mela sambil terkekeh.


Sementara Steven memandang nya dengan tajam.


"Jangan curiga gitu.....yang jelas gw bukan anggota klub ini" jelas Mela pada Steven. Ia tau betul arti tatapan Lelaki itu.


Mela menarik tangan Steven, menggandeng nya dengan begitu mesra. Dan Andini mengikuti langkah kedua sahabatnya.


Setelah Mela menempelkan kartu berwarna gold itu ke layar sensor. Pintu terbuka secara otomatis.


Ternyata ruangan itu berisi begitu banyak pasangan lelaki dan wanita. Tapi anehnya tidak ada Danu disana.


Dengan DJ musik yang berdentum keras, para wanita berpakaian minim terlihat sedang berjoged dengan begitu sensual di atas panggung.


Banyak pasang mata lelaki yang duduk sambil menikmati tarian itu dengan segelas bir di tangannya.


Untung saja di sini cahaya nya remang,jadi orang-orang tidak memperhatikan perut ku yang buncit...


Andini mengusap perutnya lembut sambil tersenym menutupi kegusaran hatinya. Matanya terus bergerak kesana-kemari mencari-cari sosok Danu.


Untuk menghindari kecurigaan,Mela menarik Andini dan Steven ke sudut ruangan itu. Mereka duduk dengan santai seolah seperti pelanggan lainnya.


"Hei coba lihat deh di ujung sana.... bukankah itu Airin?" bisik Mela ke telinga Andini.


Bola mata Andini langsung menangkap sosok yang Mela maksud.


Terlihat Airin sedang berbisik pada seorang lelaki yang tergolong agak tua.


Bukankah itu om Aldo?


Tanya Andini dalam hati,ia masih ingat dengan jelas sosok lelaki itu pada saat di kafe waktu itu.


Bukankah ia adalah buronan polisi? Kenapa ia terlihat begitu akrab dengan Airin?


"kira-kira apa yang mereka bicarakan? " tanya Steven.


Andini dan Mela mengedikkan bahunya,sambil mengupas kacang kulit yang tersedia di atas meja mereka.


"Biar gw yang cari tau...lu temani saja Andini disini" ujar Mela sambil ngeloyor begitu saja mendekati Airin.


"Tapi----"

__ADS_1


Steven menghentikan ucapannya,karena melihat Mela yang dengan cepat sudah berada di dekat Airin.


Untung saja wanita itu tidak begitu mengenali wajah Mela.


Mela melihat dua gelas minuman di atas nampan yang di pegang Airin. Dia merasa gelas itu, pernah ia lihat sebelumnya.


Itukan gelas yang di bawa oleh pelayan tadi.


Dua gelas itu sengaja berbeda motif nya,karena pelayan tadi sudah memasukkan sesuatu pada salah satu gelas tersebut.


Jangan-jangan wanita itu ingin menjebak Danu


Mela dengan sengaja menabrak Airin hingga baju Airin basah terkena minuman.


"Kalau jalan pake mata dong" wanita itu langsung memekik sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke baju yang terkena noda.


"Maaf gw gak sengaja" ucap Mela pura-pura. "Sini biar gw bantu bersihkan" sambung Mela sambil meraih tisu di atas meja. Dan mencoba untuk membersihkan noda itu di baju Airin.


"Sudah-sudah jangan sentuh gw,jijik gw sama tangan kotor lu"


Airin menepis tangan Mela hingga tisu itu terpental ke lantai.


"Sombong amat lu"


Cibir Mela,ia merasa tidak terima akan hinaan Airin.


"Suda-sudah jangan ribut,lebih baik lu cepat bersihkan baju lu ke toilet. Dia sudah menunggu" seru om Aldo sambil menarik tangan Airin kasar.


"Huuuuh dasar wanita jadi-jadian" umpat Mela sambil mengepalkan tangannya geram.


Lalu dengan cepat Mela menukar isi dua gelas itu. Mela menyeringai licik, " Mampus lu,,,Mela di lawan" umpat Mela lagi.


Setelah itu Mela kembali duduk di dekat Andini dan Steven .


Mela membisikkan sesuatu pada Steven. Steven menganggukkan kepalanya tanda ia sudah mengerti.


"Din,gw sama Mela ke toilet dulu . Lu disini aja ya jangan pergi kemana-mana,BAHAYA!!" seru Steven sambil menarik tangan Mela.


"Udah cerita nya entar aja. Pokoknya lu jangan sampai pergi dari tempat ini,dan kalau ada apa-apa cepat hubungi gw ataupun Steven .ok?" sambung Mela.


"Ok deh" Andini mengacungkan jempolnya.


Mela dan Steven pun mulai melakukan aksinya.


Steven memukul tengkuk salah satu pelayan hingga pingsan.


Lalu Steven memapah pelayanan itu ke ruang toilet dan menukar pakaian nya dengan pakaian pelayan itu.


Sementara Mela?


Wanita itu membuntuti Airin yang sedang membawa nampan berisi minuman tadi ke sebuah ruangan yang berada di atas.


Setelah berada di ruang atas,Mela berdiri di balik tembok. Sebelah matanya mengintip,Danu yang sedang duduk di sofa ruangan itu.


Airin tampak mendekati Danu dengan begitu manja. Iya memberikan segelas minuman kepada Danu.


Entah apa yang mereka bicarakan,Mela tak dapat mendengar nya. Akan tetapi yang jelas ,kedua gelas itu kini sudah kosong tak tersisa. Airin dan Danu meneguknya hingga habis.


Danu tampak memberikan sebuah dokumen pada Airin. Dan wanita itu menandatangani dokumen itu.


Sekarang giliran Steven.


Lelaki itu mendorong meja yang berisikan beberapa jenis minuman termahal di klub itu.


Steven memasuki ruangan itu, seperti seorang pelayan.


"Maaf mas saya tidak memesan anggur" tegur Danu saat menatap Steven penuh curiga.


"Oh khusus malam ini,kami memberikan anggur gratis untuk pelanggan di classroom VVIP ini"


jawab Steven,sambil menuang anggur ke dalan gelas.

__ADS_1


"Sudahlah jangan mempermasalahkan hal kecil,lebih baik kita lanjutkan pembahasan tentang pernikahan kita" ucap Airin sambil bergelendot manja di sisi Danu.


Danu pun mengenyahkan perhatian nya pada sosok pelayan yang seperti ia kenal itu. Suara postur dan tubuh itu terasa tidak asing baginya. Namun kacamata ,kumis palsu dan sedikit tompel yang Steven kenakan membuat Danu mengenyahkan perhatian nya.


"Nikah itu masalah gampang,asal lu bisa membuat om Aldo berada di jeruji besi" ucap Danu tegas,sambil menarik tangan nya dari reengkuhan Airin.


"Gw udah jebak om Aldo seperti yang lu minta. Malam ini juga om Aldo akan segera di ringkus polisi karena kasus narkoba,dan selanjutnya gw serahin sama lu" wanita itu terlihat semakin agresif.


Walau terlihat sangat risih,Danu mencoba untuk memastikan kebenaran ucapan wanita itu.


"Nih kalau lu gak percaya"


Airin memperlihatkan video yang baru saja dikirim oleh anak buahnya.


Didalam video itu terlihat dengan jelas bahwa segerombol polisi sedang menggerebek tempat itu.


Di ruangan bawah,banyak para pelacur dan pria hidung belang sedang di ringkus polisi. Dan om Aldo berada di antaranya.


"Gw udah masukin satu bungkus bubuk sabu di sakunya. Polisi akan memberatkan hukuman nya setelah mendapatkan bukti itu. Dan gw juga udah menandatangani surat perjanjian bisnis perusahaan kita.Apa itu belum cukup?"


Airin mulai menyapu wajah Danu dengan telunjuknya,dan duduk di pangkuan Danu.


Steven menuang anggur lagi,sambil mendengar obrolan mereka.


Danu sengaja memberikan gelas yang sudah Steven tuang kepada Airin. Dan wanita itu pun dengan senang hati menghabiskan nya.


"Lu nikmati saja dulu minuman ini,gw mau lihat kondisi di bawah. Siapa tau polisi juga akan menggerebek tempat ini" ujar Danu sambil berdiri dan menyingkirkan tubuh Airin dari pangkuannya.


"Lu tenang saja....bukankah sejak dulu ruangan ini selalu aman dari polisi" ucap Airin sambil menarik tubuh Danu untuk menghadap ke arahnya.


Seperti nya obat perangsang yang Airin tujukan pada Danu mulai menyerang tubuhnya.


Wanita itu mulai merasakan panas di dalam dadanya.Hasrat birahinya sudah mulai tak bisa ia kendalikan.


Karena efek obat itu,hingga Airin tidak memperdulikan keberadaan Steven. Wanita itu terus bergelendot di tubuh Danu.


Danu mendorong tubuh Airin just hingga wanita itu tersungkur di atas sofa.


"Ada apa denganmu?" tanya Danu karena tidak biasa nya Airin senafsu itu padanya. Sampai tidak merasa malu ada orang lain di ruangan itu.


"Gw gak tau Danu , kenapa gw sulit sekali mengontrol diri. Apa mungkin karena gw terlalu mencintaimu Danu" jawab Airin sambil meraih tangan Danu.Namun Danu mengibas-ngibaskan nya.


Danu meraih berkas yang sudah di tandatangani oleh Airin.


"Danu,lu mau kemana?" teriak Airin


"Pergi...gw gak mau meladeni wanita gila seperti lu" cibir Danu sambil segera ingin meninggalkan tempat itu.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat tiba-tiba seorang wanita menabrak nya.


"Gawat...gawat Steve,Andini di jadikan tawanan di bawah"


ucap Mela dengan penuh kecemasan.


"Apa?" seru Danu dan Steven kompak.


"Kenapa lu ada di sini Mel?" tanya Danu heran.


"ini semua gara-gara lu Danu. Coba aja kalau sampai terjadi sesuatu pada Andini gw gak akan maafin lu" Hardik Mela.


"Dan lu?"


Mata Danu terbelalak kaget saat melihat Steven membuka kacamata dan kumis serta tompelnya.


"Apa-apaan ini?" tanya Danu pada Steven.


"Sudah penjelasan nya nanti saja , sekarang keselamatan Andini lebih penting" seru Steven.


Akhirnya mereka bertiga pun berlari dengan kencang meninggalkan tempat itu, meninggalkan Airin sendiri yang sedang berusaha melawan hasratnya sendiri.


Kini ia baru menyadari bahwa ia sedang terperangkap di dalam jebakan nya sendiri. SENJATA MAKAN TUAN....

__ADS_1


__ADS_2