Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Main Saudara-Saudaraan


__ADS_3

Di ruang rawat....


Perlahan Steven membuka kelopak matanya. Badan nya terasa sakit semua. Terlebih di area kepala dan tangannya .


Ia menatap langit-langit ruangan itu. Ruangan yang bernuansa putih ia cermati baik-baik.


Walau kamar rumah sakit,tapi kamar ini cukup mewah dari kamar yang biasa ia tiduri .


Melihat sosok laki-laki yang sedang terbaring di sofa ruangan itu. Ia baru mengingat apa yang telah terjadi padanya.


Bagaimana keadaan Andini ?


Dalam keadaan seperti ini lelaki itu masih saja mengkhawatirkan istri orang lain.


Steven mencoba untuk bergerak,namun tangannya terasa sangat sakit


"Auuuuu"


Mendengar suara itu Danu langsung terbangun dari tidurnya.


"Jangan banyak bergerak dulu,kamu mengalami patah tulang di tangan kamu" jelas Danu sambil mendekati ranjang Steven.


"Pak bisa tolong bantu aku duduk,aku lelah berbaring terus"


"Apa pukulan waktu itu masih kurang keras? Berani sekali lu nyuruh-nyuruh gw seperti ini. Dan lebih parah nya lagi berani sekali lu ngebuat gw harus menunggu lu di sini semalaman,emang lu pikir gw emak lu"


CercaDanu sambil menekan salah satu tombol yang ada di sisi ranjang itu hingga posisi Steven menjadi setengah duduk.


"Sudah?"


"Iya pak ,terimakasih "


"Apa sebegitu cintanya lu sama istri gw?sampai lu rela mengorbankan nyawa lu begini?"


Mendengar pertanyaan itu,membuat Steven sedikit tegang. Ia masih teringat dengan jelas bagaimana lelaki di hadapannya itu memukulinya saat itu.


Steven benar-benar bingung,bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Jika di jawab dengan jujur,mungkin lelaki itu akan memukulinya lagi. Jika tidak jujur,ia tidak tau harus mengatakan apa.


"Oke,baiklah kali ini aku beri kamu kesempatan untuk bicara denganku sebagai saudara atau teman. Katakanlah apa yang ingin kau katakan"


Danu menarik napasnya dalam,mempersiapkan hati untuk mendengar jawaban yang pasti akan menguji kesabarannya.


"Beneran nih Abag siap mendengarnya?" goda Steven.


"Lu itu ya...udah sekarat gini masih aja bisa ngeledek gw. Pake panggil Abang segala lagi" dengus Danu.


"Siapa yang ngeledek,,,,baperan amat. Katanya boleh ngomong seperti saudara tapi di panggil Abang gak terima. Ya masak gw panggil bapak,nanti dikira lu bapak gw lagi"


"Iya udah terserah lu dah mau panggil apa"


Steven tersenyum,ia tau betul bagaimana Danu berusaha menahan dirinya untuk tidak marah.


"Jangan tersenyum! ayo cepat katakan sebelum aku berubah perasaan"


"Berubah pikiran msksudnya?"

__ADS_1


"Ya suka-suka gw lah,mulut-mulut gw. Sudah jangan banyak protes,katakan saja"


"Tapi janji ya gak boleh marah?"


"Iya"


Steven menghirup napas dalam,mengatakan hal tentang Andini di depan suaminya yang pencemburu tentu membutuh kan nyali yang kuat.


"Andini.....


pertama kali bertemu dengannya di dapur hotel ,gw merasa ada yang beda dengan wanita itu. Setiap hari bertemu dan bekerja bersama membuatku semakin tau bahwa wanita itu sangat baik dan murah hati.


Entah kenapa gw mulai mengaguminya. Lama semakin lama rasa kagum itu menyentuh hati gw yang paling dalam. gw tidak tau sejak kapan pastinya,tapi gw mulai sering merindukannya dan tidak ingin melihatnya menangis"


Steven menjedda dan melirik lelaki itu,ia tampak sedang berusaha menahan kesal.


"gw hanya ingin melihat wanita itu tersenyum dan bahagia. Sungguh hanya itu yang gw inginkan"


"Dulu Andini sering kali terlihat sedih dan menangis,aku tidak tau kenapa hatiku merasa sakit dan sesak saat melihatnya seperti itu"


"Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat,satu tahun aku mengenalnya dan aku jatuh dan terperosok dalam perasaan mencintainya begitu dalam. Tapi sayang.....Andini bukanlah wanita yang peka untuk mengerti perasaanku.Dia terlalu polos untuk memahami sikapku dan aku terlalu pengecut karena tidak berani mengatakan perasaanku padanya"


"Hingga pada akhirnya aku tau bahwa Abang sudah berhasil mengisi seluruh ruang di hatinya...saat itu ada rasa sakit yang teramat menghujam hatiku.Tapi entah kenapa aku masih saja tidak bisa menghapus semua rasa itu"


"Abang tau kenapa aku bisa sampai ke pantai Bali waktu itu?..."


"Ya mana gw tau lah!"


Steven tersenyum kecut saat mengingat waktu itu.


"Ha apa lu bilang?" Danu menatap Steven tajam.


"Aku kan bilang suaminya Andini ,kenapa Abang marah? di sini kan posisinya lu itu masih sebagai Abang gw jadi gak perlu nge-gas lah"


"Dasar sialan lu,bisa aja lu memanfaatkan waktu untuk mencerca gw"


"Sekarang ceritanya mau di lanjutin gak?" tanya Steven sambil tersenyum puas. Kapan lagi ia bisa membuat lelaki itu kesal seperti ini. Steven merasa inilah saat yang tepat untuk membalas perlakuannya saat lelaki itu sengaja mengerjainya sewaktu di hotel.


"Ok terusin" lagi-lagi Danu mendengus kesal,tapi entah kenapa ia masih saja ingin mendengarnya .


"Pukulan itu sangat sakit,ingin rasanya gw balas untuk kembali memukul lelaki yang tidak seberapa tampan itu. Tapi sayang Andini menghentikan gw karena terlalu mencintai lelaki itu. Hingga gw harus rela menjadi babak belur karenanya"


" Setelah saat itu gw masih saja tidak bisa melupakannya,gw masih selalu merindukannya. Tapi.... gw sadar bahwa gw tidak ingin merusak rumah tangga dan kebahagiaan wanita itu"


"Yah gw memang menyayanginya....gw mencintainya tanpa sebab,dan menyayanginya tanpa alasan.....tapi sungguh gw tidak pernah sedikitpun berniat untuk merebutnya dari lu bang...yang gw inginkan cuma satu bang kebahagiaan Andini ....itu saja"


"Kenapa lu ngomong gitu? ceritanya kan gw abang lu di sini bukan suami Andini,jadi jangan hiraukan perasaan suaminya Andini. Lu bebas curhat apa aja,hari ini bonus besar-besaran buat lu "


Steven tersenyum miring,sungguh baru kali ini ia mengungkapkan perasaan nya pada orang lain. Dan parahnya itu pada suaminya Andini ,ini bener-bener gila menurutnya.


"Yah begitulah bang,,aku hanya ingin melihat Andini bahagia . Jadi tolong sampaikan pada suaminya,jangan menyakiti Andini....karena jika itu terjadi aku masih akan tetap memberikan pundakku untuknya"


"Haaa iya ntar gw sampaikan pada suaminya yang tidak terlalu tampan itu,lu tenang aja"


Ini pertama kalinya Danu mengatainya dirinya sendiri.

__ADS_1


Sungguh kehadiran Andini di antara mereka benar-benar telah mengubah keduanya . Steven yang tergolong pendiam kini bisa mengungkapkan perasaan nya secara gamblang kepada Danu. Dan Danu yang terkenal pemarah dan pencemburu kini bisa mendengarkan Steven serta mampu menahan emosi dengan sangat baik.


Kedua lelaki itu tersenyum,Danu menatap lelaki bule itu intens. Ada rasa iba di hatinya saat ia melihat kepala dan tangan lelaki itu terbalut perban dan mirisnya itu semua demi menyelamatkan nyawa wanita yang tidak bisa ia miliki. Kini Danu baru menyadari betapa tulusnya hati steven,ternyata berdamai seperti ini rasanya lebih baik daripada harus membencinya seperti yang ia lakukan sebelumnya.pikir Danu.


"Oh ya bang satu lagi... tolong katakan pada suaminya Andini jangan salah paham sama gw lagi,kasian Andini jika harus bersedih karena suaminya tidak percaya pada cintanya"


"Iya...iya..."


"Karena Andini itu wanita baik-baik,sekalipun gw ajak selingkuh dia gak akan mau"


"Iya iya"


"Katakan juga pada suaminya jangan egois,karena di dalam hubungan itu harus saling percaya"


"Iya iya...."


"Katakan juga------"


"Sudah-sudah terlalu banyak pesan ntar gw lupa. Lagian waktu jadi saudara-saudaraan sudah habis . Jangan berani-beraninya lagi lu mengatakan isi hati lu lagi...." ancam Danu.


Mendengar nya Steven justru malah tersenyum...misi membuat lelaki itu kesal benar-benar berhasil kali ini.


Setelah puas menertawakan Danu di dalam hati...akhirnya Steven baru teringat sesuatu. Kemana wanita yang sejak tadi ia bicarakan. Apa dia baik-baik saja?


Lelaki itu kembali mengkhawatirkan Andini.


"Dia baik-baik saja,sekarang dia ada di rumah...dia sedang hamil jadi tidak bagus bagi kesehatannya jika harus menunggumu di sini" ucap Danu seolah tau apa yang ada di pikiran Steven .


Akhirnya lelaki itu bisa bernafas lega setelah mendengar penjelasan Danu.


"Terimakasih Steve......lu udah menyelamatkan istri dan anak gw...gw gak bisa bayangin apa yang bakal terjadi jika gak ada lu di situ"


Walau berat dan ragu mengatakan itu,akhirnya Danu memang harus mengatakan nya. Lagi-lagi dalam hidup ini pertama kalinya ia mengucapkan terimakasih pada orang lain.


"Aku juga gak akan bisa hidup dengan tenang bang jika harus melihat Andini terluka di hadapanku"


"Main saudara-saudaraannya udah selesai kenapa masih panggil gw abang?"


"Gw tetap akan panggil lu abang,mulai hari ini. Karena baru kali ini gw bisa mengutarakan perasaan gw,itu hanya padamu bang" ucap Steven jujur.


"Jangan lupa,gw juga nungguin lu semalaman di sini" seru Danu penuh penekanan.


Lelaki itu masih saja tidak ingin jasanya di lupakan.


"Iya bang,gw masih menganggap lu abang juga karena supaya biaya administrasi rumah sakit ini di bayarkan" canda Steven...


"Hahahaha sialan lu..."


Akhirnya mereka pun mengobrol dengan santai..kejadian itu benar-benar sudah menghapus kesalahpahaman di antara mereka. Walau sedikit ketus tapi Danu juga merasa ternyata punya adik itu menyenangkan .Terlebih ternyata mereka memiliki hobi yang sama. Suka motor dan sepak bola.


Lalu tiba-tiba ponsel Danu berdering....


"Iya halo......bagus...aku tidak akan membiarkan si brengsek itu lolos! "


Danu kembali mengepal tangannya....emosinya kembali merasuki saat mendengar Beri mengatakan pelaku yang ingin sengaja menabrak Andini .. ---

__ADS_1


__ADS_2