Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Semua Akan Indah Pada Waktunya


__ADS_3

"Mas berhenti sebentar...." Andini menepuk-nepuk pundak Danu.Lalu menutup mulut dengan sebelah tangannya.Perutnya terasa seperti di aduk-aduk.


"Loh kenapa?" tanya Danu cemas,melihat wajah Andini yang sudah memerah menahan mual di perut nya.


Setelah motor itu terhenti di sisi jalan, Andini langsung melompat dan membungkukkan badannya. "Mmmm Hoek Hoek Hoek" semua isi perut Andini keluar begitu saja.Tenggorokannya terasa pedas,dan perutnya terasa sakit akibat tekanan saat ia mengeluarkan semua makanan yang ada di perutnya.


"Kamu kenapa sayang?".... tanya Danu panik sambil memijit-mijit pelan punggung Andini.


Setelah muntah,Andini merasa lemas.Wajah wanita itu berubah pucat,matanya merah berair dan dahinya di penuhi oleh keringat dingin.


Danu membuka helm yang ada di kepala andini,kedua tangan Danu menangkup wajah pucat Andini. "Kamu kenapa sayang?" tanya Danu lagi.


"Gak papa mas,mungkin penyakit lambung aku kambuh" ucap Andini lemas.


"Gak papa bagaimana?kamu sudah muntah-muntah seperti ini.Ayo kita segera ke dokter" ujar Danu sambil meraih benda pipih dari saku jaketnya.


"Jangan mas aku gak papa,aku sudah biasa seperti ini ketika penyakit lambung aku kambuh.Aku gak suka rumah sakit,kita pulang aja.Biasanya di balur minyak kayu putih juga ntar sembuh sendiri" Jelas Andini.


"Beneran nih kamu gak papa?" Danu menyipitkan matanya,menatap lekat wanitanya. Hatinya berdenyut ngilu,saat melihat wanita yang sangat ia cintai meringis kesakitan.


"Ya udah sini kamu duduk dulu,biar aku telpon mang Udin untuk jemput kita.Kita gak mungkin pulang menggunakan motor dalam keadaan begini" Danu mendudukkan Andini di atas motor yang sudah ia cagak kan.Sebelah tangannya masih memeluk tubuh Andini.Dan sebelahnya lagi menempelkan benda pipih itu ketelinganya.


"Halo mang udin,tolong jemput kami di pinggir jalanan kota ya.Cepat!" Seru Danu pada mang Udin.Dan ia langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban dari lelaki paruh baya itu.


"Sayang,apa masih terasa mual?" tanya Danu penuh khawatir.


"Gak mas,cuma lemes aja" jawab Andini lemah.


"Ya udah sambil menunggu mang udin,gimana kalau kita minum teh hangat di situ. Biar kamu lebih enakan" Tawar Danu sambil menunjuk pedagang kaki lima yang berada tidak jauh dari mereka.


Andini menganggukkan kepalanya pelan,lalu mencoba untuk berdiri tegak.


"Kamu yakin masih kuat jalan?" Tanya Danu sambil menyentuh kedua pundak Andini,karena tubuh Andini terlihat sempoyongan. "Atau biar aku gendong aja" tawar Danu dengan tatapan teduh.


"Gak ah malu,lagian aku masih kuat kok" ujar Andini pelan.Namun kaki Andini terlihat gemetar,tidak kuat menopang berat badannya.Energinya benar-benar terkuras karena muntah-muntah tadi.


Dengan cepat Danu langsung membopong tubuh Andini tanpa harus meminta persetujuannya lagi.Hal itu tentu saja membuat wanita itu terkejut,karena tiba-tiba tubuhnya sudah berada di atas kedua lengan kokoh Danu.


"Mas turunin aku,aku malu di liatin banyak orang" Andini meronta,memukul-mukul pundak Danu dengan sisa tenaganya.Namun Danu tidak memperdulikan hal itu, "Jangan banyak bergerak,atau aku akan mencium mu di sini" Tubuh Andini langsung terasa kaku,mendengar seruan Danu.


Tentu saja Andini tau,Danu tidak main-main dengan ucapannya.


Andini menghela nafas dalam,dan melingkar kan kedua tangannya di leher Danu.


Lalu apalagi?


Dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang lelaki itu.Menahan rasa malu karena jadi sorotan oleh banyak mata yang ada di sekitarnya.


Ada yang menatap mereka dengan tatapan haru,karena merasa melihat adegan romantis.Dan ada pula yang menatap jijik karena merasa mereka melakukan hal yang tidak wajar di depan umum.


Lalu bagaimana dengan Danu?


Tentu saja pria itu tidak perduli dengan semua itu.Danu bukan lelaki perasa,yang mendengarkan ocehan orang lain.


"Anjir....mesra banget..om..." salah seorang remaja menatap takjub pertunjukan itu.


"Om...jika ada adegan dewasa nya mohon di cut ya...kami masih di bawah umur" canda seorang lelaki remaja itu.Dan langsung mengundang tawa dari para teman-temannya.


"Dasar generasi micin.." jawab Danu sambil tersenyum miring. Dan mendudukkan Andini di kursi tidak jauh dari para remaja itu.


Danu menegakkan tubuhnya,melirik para remaja itu yang masih asyik tertawa.


"Hei lu" seru Danu mengacungkan telunjuk ke arah remaja laki-laki yang memanggilnya om. "gw om?" tanya lelaki muda itu sambil menunjuk dirinya sendiri. ",Iyalah,siapa lagi yang ketawa nya paling kenceng di antara kalian?" ujar Danu menjedda " cepat kesini" Danu menunjuk kursi di sebelahnya.

__ADS_1


Dengan ragu ragu remaja laki-laki itu mendekati Danu.Ada rasa takut yang mulai menyelimuti hatinya.


Mungkinkah Danu marah karena candaan recehnya?


"Maaf om gw tadi cuma bercanda,jangan di ambil hati" ucap lelaki remaja itu dengan wajah tertunduk.


"Maaf...maaf....enak aja lu bilang maaf,gw bukan bukan om lu" sarkas Danu.


"Mas...." Andini menarik tangan Danu,dengan kepala yang masih terasa berat.Suara lantang Danu membuatnya semakin pusing.


Danu menoleh kearah wanitanya,menatap teduh Andini dengan penuh kasih.


"Mas ngomongnya jangan keras-keras kepala aku pusing" rintih Andini sambil memijit kepalanya pelan.


"Tante sakit?....wajah Tante pucat?wah jangan-jangan Tante hamil?" ucapan itu mencelos begitu saja dari mulut lelaki remaja itu.


Danu langsung menatap tajam lelaki remaja itu.


Benarkah Andini tengah hamil?,,,bukankah muntah-muntah adalah salah satu ciri-ciri wanita yang sedang hamil.


Sejenak pikiran Danu bertanya-tanya.


"Jangan asal ngomong lu...anak kecil kok tau-tau an soal hamil segala" sarkasnya lagi.


Jujur setelah mengetahui masa lalu Andini,ia tidak ingin terlalu berharap lebih...walau jauh di lubuk hati nya Danu juga sangat menginginkan keajaiban itu datang.


"Maaf om...kakak saya juga seperti itu,dia sedang hamil mudah...wajahnya pucat dan selalu muntah-muntah seperti Tante ini" ujar lelaki remaja itu.


Benarkah ucapan si bocil ini?


"Oh ya kasih ini om,biar hangat." lelaki itu menyodorkan minta kayu putih kepada Danu.


Danu langsung meraih minyak itu dan menggosokkan di tengkuk Andini. "Lu itu cowok,tapi nongkrong kok bisa bawa ginian? " tanya Danu sambil menggosok pundak Andini lembut.


"Huh dasar generasi micin" sarkas Danu lagi.


Dan setelah beberapa menit,Andini merasa sudah agak mendingan.


"Mas,,,aku laper..." ucap Andini sambil memegangi perutnya.Entah kenapa tiba-tiba ia merasakan sangat lapar.


"Iya minum ini dulu,biar perut kamu terasa hangat.Ntar kita baru cari makan" ucap Danu lembut sambil menyodorkan teh hangat ke bibir Andini.Lalu Andini mengangguk dan menyeruput teh itu perlahan.


"Om mending cepat cari makan deh,sebelum tiba-tiba laper si Tante ilang" ujar lelaki remaja itu.


"Lu bocil tau apa sih,jangan suka ngajarin yang lebih tua" seru Danu sambil memegangi gelas teh hangat yang tengah di seruput Andini.


"Beeeuuu... om belum tau aja,seberapa ngeselin nya wanita hamil.Yang suka berubah-ubah mod nya...sumpah demi gebetan gw om...itu bener-bener ngeselin seperti kak----"


"Ah brisik lu,pusing gw....udah sana pergi" Sela Danu sambil mendorong pelan tubuh lelaki itu pelan.Kepalanya menjadi pusing mendengar ocehannya.


"Yeee si om di bilangin ngeyel...nanti kalau sudah prustasi jangan cari gw..." cibir lelaki itu sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Eh tunggu..." Danu meraih dompetnya dan menarik beberapa lembar kertas berwarna merah " ini untuk mengganti minyak yang lu kasi tadi" seru Danu sambil menyodorkan uang itu.


"Wahh om ini kebanyakan...." ucap lelaki remaja itu dengan mata penuh binar..dan langsung menyerobot uang itu.


"Katanya kebanyakan,tapi di sosor juga..." Sarkas Danu dengan tersenyum mengejek.


"Ckk ini namanya rejeki anak Sholeh om,gak boleh di tolak,pamali kata ibu gw mah" jawab lelaki remaja itu dengan senyum sumringah.


"Terserah lu dah...udah sana pulang jangan lupa beli minyak kayu putih buat kakak lu" ucap Danu sambil terkekeh,anak jaman now memang pandai bicara.pikir Danu.


" Iya om,terimakasih. Sumpah demi gebetan gw,om baik banget,ganteng lagi" seru lelaki remaja itu lalu segera menghilang dari pandangan danu,Tampa memperdulikan teman-temannya yang memanggil dirinya.

__ADS_1


"Hah dasar anak micin,dapat uang langsung kabur" Dengus Danu.


"Hmmmm.... dia lucu ya mas?" Andini menarik kedua ujung bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


"Lucu apanya,terlalu banyak omong iya" cerca Danu dengan senyuman kecut.


"Tapi mas,benarkah wanita hamil itu mengesalkan?" tanya Andini penasaran.


"Idih mana aku tau..." Danu hanya mengedikkan bahunya acuh. "Udah ah jangan terlalu di pikirin ucapan anak micin itu" Seru Danu sambil mengamit tangan Andini.


"Mbak berapa?" Tanya Danu sambil kepada pemilik warung itu. " Lima ribu mas" jawab seorang wanita itu ramah.


Danu menarik selembar uang lima puluh ribu dan memberikannya pada wanita pemilik warung itu.Lalu menarik tangan Andini dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


"Mas kembalian nya?" teriak wanita pemilik warung itu.


"Udah buat mbak aja" seru Danu,tanpa menoleh.


"Wah terimakasih banyak " ucap wanita itu penuh syukur.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil yang sudah di antar oleh mang Udin.


Karena kondisi Andini yang tidak memungkinkan,jalan-jalan mengelilingi kota dengan motor harus di ubah dengan menggunakan mobil.


Malam ini.....


Andini terlihat bahagia,rasa mual yang ia rasakan hilang seketika saat ia melihat semangkok bakso yang sangat ia inginkan.Andini menyantap bakso itu dengan lahap.


"Pelan-pelan makan nya.... gak bakal aku minta" ujar Danu sambil mengusap bercak saos di ujung bibir Andini.


Andini menganggukkan kepalanya pelan.Dan masih terus menikmati baksonya yang sangat terasa lezat baginya.


"Kenapa harus makan ginian sih?kan gak sehat" ucap Danu sambil menyodorkan segelas air putih ke hadapan Andini.


Andini meneguk air itu sedikit lalu melanjutkan makannya lagi hingga habis tak bersisa.


"Sayang kita ke dokter yuk" seru Danu tiba-tiba,ucapan si bocil itu ternyata masih berputar-putar di kepalanya.


"Untuk apa? aku kan sudah sembuh" jawab Andini santai.


"Hmmmm periksa aja, siapa tau kamu beneran hamil"


"Tapi.....aku takut mas" Andini langsung menunduk sendu.


"''ffTakut kenapa?"


"Mmmmm takut kalau mas bakal kecewa nantinya...."


Danu menyelipkan rambut ke daun telinga Andini lalu mengusap pipi wanita itu lembu..."Sayang...apa pun hasilnya aku pasti bisa menerima. Dan itu tidak akan mengurangi rasa sayangku padamu.Aku percaya bahwa anak itu adalah titipan terindah dari Allah.Jika hari ini belum bukan berarti tidak kan?


Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a namun hasil tetap ada pada kuasa-nya.


Bisa jadi dalam penantian ini Allah


menginginkan kita untuk terus memperbaiki diri dan belajar lebih tentang makna kesabaran.


Tapi yakinlah semua akan indah pada waktunya" Danu tersenyum lembut dan menatap penuh keteduhan.


Rangkaian kalimat itu seperti sihir.


Seketika kegusaran di hati Andini lenyap begitu saja.


Andini tersenyum dan membenamkan kepalanya dalam pelukan Danu.Bersandar di dada bidang lelaki itu,terasa begitu nyaman.Apalagi saat menghirup wangi parfum yang sangat ia sukai,seakan membiusnya dalam kenyamanan.

__ADS_1


__ADS_2