Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Tidak Suka Semua Hal tentangmu


__ADS_3

"Mas aku lelah,aku pengen segera pulang dan istirahat" ujar Andini lirih.


"Iya sayang kita akan segera pulang" jawab Danu mengusap pipi Andini lembut.


"Terus gw gimana?" tanya Airin tiba-tiba memajukan kepala nya mendekati Danu.


"Terserah lu mau nya gimana?" seru Danu sambil mendorong kepala Airin dari tubuhnya,tidak ingin membuat kesalahpahaman yang sudah tumbuh di hati Andini berkembang biak. Apalagi mengingat istrinya itu sedang hamil,seperti yang di katakan dokter tadi. Perasaan sang ibu,akan mempengaruhi tumbuh kembang janin. Melupakan keberadaan Andini tadi sudah cukup membuat Danu merasa bersalah. Ia tidak ingin menambah luka di hati istrinya lagi.


"Makanya mbak nikah atau minimal punya pacar.Jadi gak nyusahin suami orang" Andini kembali bergelayut manja di lengan Danu.


"Oh jadi maksud lu gw nyusahin gitu? ......" Seru Airin dengan rahang yang sudah mengeras. Kekesalan nya semakin bertambah saat ia tidak mendapatkan pembelaan dari laki-laki itu. " Stop.....! " teriak Airin kuat. Niat hati ingin membuat Andini terbakar cemburu tapi justru malah dirinya yang tidak kuat menahan kesal karena Danu sama sekali tidak melihatnya.


"Iya iya gak perlu berteriak juga kali...gw gak tuli" Dengus Danu sambil menutup telinga Andini. Berharap anaknya tidak perlu mendengar suara melengking itu.


Danu meminggirkan mobil di sisi jalan. " Lu mau ngapain di tempat sepi gini? " Tanya Danu sambil mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.


" Gw mau turun, bukanya tadi istri lu bilang gw udah nyusahin lu" Dengus Airin sambil membuka pintu mobil.


"Ini sepi loh Rin,yakin lu mau turun disini?" ujar Danu sambil membuka kaca pintu mobilnya.


"Gw lebih baik turun disini daripada harus semobil dengan istri lu yang sok itu" seru Airin sambil melipat tangannya di bawah dada.


Ayo Danu bujuk...tarik tangan gw...suruh istri lu minta maaf ke gw....


"Ya udah terserah lu deh,lu yang minta di turunin di sini. Kalau ada apa-apa jangan salahin gw... " Danu menutup kaca mobilnya lalu pergi begitu saja.


Airin menghela nafas dalam,menghirup oksigen begitu banyak berharap bisa menyejukkan hatinya yang seakan terbakar.


Karena ia harus benar-benar menyaksikan perubahan Danu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Jika dulu laki-laki itu selalu berusaha memenuhi kemauannya,tapi sekarang....laki-laki itu selalu mengindahkan keinginan sang istri.


Ternyata Airin salah besar,karena sudah menyepelekan posisi istri Danu.


Benarkah ia Danu yang dulu Airin kenal?


"Danuuuu........ Brengsek lu....." Teriak Airin mencurahkan kekesalannya sambil menghentakkan kakinya ke tanah.


Sungguh hatinya seakan tercabik,saat mendapatkan perlakuan acuh dari laki-laki yang dulu pernah mencurahkan seluruh perhatian untuknya.


Airin menghapus buliran bening yang menetes begitu saja di pipinya. Ini pertama kalinya air mata Airin jatuh untuk seorang laki-laki.


"Jemput gw di pinggir jalan budisetia,cepat!" seru Airin pada seseorang yang ada di balik ponselnya.


******


Di rumah besar Andini...


Andini membuka pintu mobil,dan menutupnya dengan kasar. Sejak kepergian Airin dari mobil Danu,langsung mengubah raut wajah Andini. Wajah manis dan adegan kemesraan tadi hanya Andini tunjukkan pada Airin sebagai bentuk peringatan pada wanita itu bahwa Danu adalah suaminya.


Rupanya ucapan Mela waktu itu masih ia ingat dengan jelas. Bahwa ia harus mempertahankan haknya sebagai istri,terlebih sudah ada baby di rahim Andini.


Sial...


Umpat Danu dalam hati. Ia bukan lelaki tidak peka yang tidak mengerti akan perubahan sikap istrinya.


Melupakan istri saat bertemu teman wanitanya,sudah pasti membuat sang istri kesal. Jika ia yang ada di posisi itu,mungkin ia tidak akan sanggup lagi untuk tersenyum seperti yang Andini lakukan tadi. Dan yang lebih parahnya lagi mungkin ia sudah menghajar teman lelaki Andini hingga babak belur.


Danu mengusak rambutnya kasar.


Pikirannya sangat kacau,tidak tau mesti berbuat apa.


"Halo...." Danu menerima telpon dari Andra dengan suara berat.


"Mana adek gw?kenapa ponselnya tidak aktif?" Andra langsung menanyakan Andini karena entah kenapa perasaan tidak enak sejak tadi.


"Di kamar,mungkin baterainya habis" jawab Danu dengan suara malas.


"Kalian lagi berantem ya? lu apain adek gw?" tanya Andra penuh curiga.


Gila aja,kakak yang satu ini selalu terasa kalau adiknya sedang sedih.

__ADS_1


"G gak kok,kita baik-baik saja!" seru Danu gugup.


"Coba kasi in ponselnya sama adek gw,gw mau ngomong"


"Iya bentar,gak percaya amat sih lu"


Danu melangkahkan kaki menuju kamar,tubuhnya kembali tegang dengan jantung yang berdegup kencang.


Gimana kalau Andini cerita soal Airin?


Andra bisa ngamuk sama gw....


Aaaaaah bener-bener apes deh gw....


Saat ia membuka pintu,,,,terlihat Andini sedang menyusun bantal untuk membenamkan kepalanya yang terasa berat.


Ia menghela napas dalam,hatinya merasa lelah. Setiap kali ia harus di uji dengan hadirnya wanita lain di dalam pernikahannya. Baru saja ia merasa bahgia,melambung ke atas awan karena berita kehamilannya.Tapi kini ia merasa seperti jatuh dari langit ketujuh,perasaannya benar-benar hancur.


Andini menghirup udara banyak-banyak,berharap bisa melapangkan dadanya yang sejak tadi terasa sesak.


Sakit?.....


Tentu saja.Hati wanita mana yang tidak sakit,ketika suaminya melupakan nya karena wanita lain.


Mungkin baginya senyuman tadi itu seperti plester,yang hanya bisa menutupi luka namun rasanya tetap saja sakit.


"Sayang...nih Andra telpon" Danu menyodorkan ponsel nya ke hadapan Andini.


Andini meraih ponsel itu,ia kembali menarik napas dalam. Mencoba menata hati agar tangisnya tidak pecah saat mendengar suara sang kakak.


"Halo kak,apa kabar?" sapa Andini dengan nada suara sebiasa mungkin.


"Kabar kakak baik,gimana kabar kamu,kenapa ponsel kamu tidak bisa di hubungi?" seperti biasa Andra langsung memborong pertanyaan.


"Alhamdulillah Andini juga baik-baik aja kak,maaf ponsel Andini mati karena baterai nya lowbet " Andini menghela nafas berat,menahan sesak di dalam dadanya. Ingin rasanya ia menangis,mencurahkan segala beban di hatinya.


"Beneran ....? kamu gak bohongkan?" tanya Andra penuh curiga. Laki-laki itu memang tidak mudah untuk di kelabuhi.


"Bahagia...apa pura-pura bahagia?" ujar Andra masih penuh curiga.


"Kakak....aku bener-bener bahagia. Kakak tau gak...aku tadi sama mas Danu habis ke dokter. Dan kata dokter aku positif hamil" seru Andini menyuarakan kabar kehamilannya dengan begitu girang.


"Benarkah?.....Alhamdulillah,,,akhirnya......Allah menjawab semua do'a-do'a kita" Andra terdengar sangat bahagia mendengar kehamilan Andini. Lalu ia terdiam....entah kenapa firasatnya mengatakan bahwa Andini tidak dalam keadaan baik. Hatinya masih merasa tidak enak,walau sudah mendengar kabar baik itu.


"Kaaaak...?"


"Hmmmm"


"Kenapa diam?"


"Hah?"


"Kakak kenapa?"


"Oh gak papa,selamat ya dek...sebentar lagi kamu akan jadi ibu...." Andra mengenyahkan segala pikiran buruknya...


"Iya,makasih kak" lagi-lagi Andini mengusap air matanya kasar...menahan perih dihatinya.


"Ya udah ya kak,Andini mau istirahat, udah malam "


"Ya sudah...kamu jaga kesehatan ya dek,apalagi sekarang sudah ada baby di perut kamu"


"Iya kak iya,Assalammualaikum?"


"Waalaikum salam"


Andini meletakkan ponsel Danu di atas meja,ia menarik selimut sampai ke atas dada,tanpa ingin melihat wajah lelaki yang sedari tadi menatapnya lekat.


"Sayang-----"

__ADS_1


"Maaf mas aku sedang tidak ingin mendengar suaramu!" seru Andini dingin.


Danu menarik napasnya dalam.......


"Maafkan aku....."


Danu menyentuh Pucak kepala Andini lembut.Namun wanita itu masih tak bergeming. Sikap Danu tadi,seakan membuka kembali luka lama di hatinya.


"Aku tidak sengaja .....jangan terlalu di pikirkan,kasian anak kita. Jika kamu sedih begini,maka ia juga akan sedih" Danu memeluk tubuh Andini,wanita yang masih membelakanginya tanpa kata.


"Dan Terimakasih......karena kamu tidak mengadukan ku dengan Andra. Aku janji aku tidak akan mengulangnya lagi"


Maaf lagi...dan janji lagi...tapi kau juga selalu mengulangnya lagi...aku lelah mas....


Andini tidak merespon pelukan itu. Walau Danu dapat merengkuh tubuhnya,tapi tidak untuk hatinya.


*****


Pagi ini ....


Andini mengerjakan tugasnya seperti biasa. Namun kali ini dia hanya diam.


Rumah mereka mendadak menjadi sunyi,hari ini tiada suara jeritan Danu yang biasa terdengar setiap pagi. Tiada Omelan Andini yang biasa Danu dengar setiap pagi.


Meja makan yang biasa menyaksikan obrolan hangat mereka saat sarapan. Kini ruangan itu menjadi begitu hening.


Danu menyantap setangkup roti dengan mata yang masih tertuju pada sosok wanita di hadapannya. Ia baru menyadari bahwa istrinya sekarang terlihat lebih kurusan.


Setelah menghabiskan setangkup roti,Andini tiba-tiba kembali merasakan mual. Dengan cepat ia berlari menuju wastafel yang ada di ruangan itu. Begitu juga dengan Danu.


"Ueeeek uuuek....ueeeeek" ......Andini memuntahkan seluruh isi perutnya.


Danu memijit punggung Andini pelan, "Apa rasanya sakit? " tanya Danu penuh khawatir .


Sakit....?


Rasa mual ini bahkan belum seberapa sakitnya,di banding sikap mu tadi malam mas....


Andini menepis tangan Danu dan kembali duduk di tempat semula. Setelah berhasil memuntahkan semuanya,membuat tubuhnya terasa lemas.


"Ayolah Dini....jangan seperti ini,diam tidak akan menyelesaikan masalah.Aku kan sudah mengakui kesalahanku dan aku juga sudah minta maaf....jika kau tidak suka,kau boleh marah dan mengomel sepuasmu atau pukul saja aku. Aku terima. Asal jangan diamkan aku seperti ini" Danu mendekati istrinya ,menatap wanita itu dengan sendu.


"Maaf mas,kumohon jangan bicara lagi. Aku tidak mau mendengar suaramu uk-----" Andini kembali berlari menuju wastafel sambil menutup mulutnya yang ingin muntah. Perutnya kembali terasa seperti di aduk-aduk.


Dengan sigap Danu langsung kembali memijit bahu Andini pelan. Sungguh ada rasanya ia tidak tega melihat kondisi wanita yang sangat di cintai nya seperti ini.


"Apa perlu aku panggil dokter?".... lagi-lagi Danu bertanya dengan penuh kecemasan.


"Stop...! jangan bicara denganku lagi,aku semakin mual" Andini kembali menjauhi Danu.


Danu langsung melotot, Hah apa hubungan suaraku dengan rasa mual nya ?


Danu mencoba menyentuh kepala Andini tapi kali ini Andini langsung menepisnya.


"Bau apa ini?" Andini mengendus-ngendus aroma yang menyeruak ke hidungnya, "Kenapa kau bau sekali mas,kamu mandi tidak pakai sabun ya...atau kau jangan-jangan kamu juga tidak menggosok gigi...ukk----" perut Andini kembali seperti di kocok-kocok saat mendapati aroma tidak sedap itu berasal dari tubuh sang suami.


Gila....


Aku bau? benarkah?


Bukankah aku tadi mandi seperti biasa. Lalu kenapa Andini mengatakan itu...?


"Pergilah mas,hari ini aku tidak mau satu mobil denganmu. Aku akan pergi ke toko di antar mang Udin" seru Andini tanpa melihat wajah lelaki itu.


"Ja--"


"Mas ku mohon,jangan bicara lagi.Aku benar-benar gak kuat"


Huuh Danu menghembuskan napasnya kasar Jangan bekerja,,,istirahat saja di rumah,jika kau mau aku bisa menemanimu...tapi ku mohon jangan bekerja...aku tidak ingin kau dan anak kita kenapa-napa

__ADS_1


"Aku baik-baik saja,asal tidak dekat denganmu dan tidak mendengar suaramu mas. Jangan khawatir,pergilah ke kantor. Aku akan meminta mang Udin untuk mengantarku" Andini membuang muka,sungguh entah kenapa hari ini ia benar-benar tidak suka semua hal tentang lelaki itu.


Dengan berat hati Danu meninggalkan Andini,ini pertama kalinya ia berangkat kerja tanpa Andini. Ia melangkahkan kaki penuh dengan kebimbangan,sebegitu marahkah istrinya kali ini? Hingga ia tak Sudi melihat wajahnya,mendengar suaranya,apalagi dekat dengannya.


__ADS_2