
Danu POV
Hari ini pagi-pagi sekali aku berangkat mengikuti pak Ronal karna secara tidak sengaja aku mendengar pak Ronal berbincang dengan seseorang dan sepertinya mereka membuat janji untuk bertemu di sebuah cafe.Saat di meja makan kulihat papi masih marah padaku,bahkan ia masih enggan menatap wajahku yang tampan ini.Ingin sekali aku menyapa papi seperti biasanya,namun mengingat sikap papi yang sama sekali tidak percaya padaku masih membuatku kesal.Satu Minggu tidak bicara dengan papi rasanya tidak nyaman,tidak ada teman main catur dan nonton bola.Kalo sama beri,nonton bola suka ketiduran main catur dia bukan lawan yang seimbang,kalah melulu jadi gak seru.Beri itu serunya kalau di ajak hangout,apalagi ketempat makan wah antusias banget tuh.
Karena satu Minggu mogok bicara sama papi,hal itu membuat mami curiga dan terus bertanya ada masalah apa aku dengan papi.Aku selalu bilang tidak ada apa-apa,tapi tentu mami sangat tau kalau aku sedang berbohong.Secara mami kan ibu yang memiliki insting yang tajam pada anaknya.Untung saja beri gak pernah datang kerumah sejak kejadian itu,kalau sampai mami mengintrogasi beri sudah dipastikan semuanya pasti di ungkap beri dengan detail.
Karna beri tuh paling gak bisa menyembunyikan sesuatu dari mami,bener-bener payah.Ternyata papi juga gak ceritain masalah ini sama mami,untuk hal ini mestinya aku berterimakasih sama papi.Karna gak kebayang deh kalau mami tau ,bisa-bisa dia ngomel gak ada habisnya.
Setelah selesai sarapan aku langsung pergi dengan terburu-buru karna takut terlambat.Sebenarnya aku bisa saja sarapan di cafe yang akan aku datangi,tapi mami suka ngomel-ngomel kalau aku pergi tanpa sarapan.Males banget kalau harus diomelin mami pagi ini,bisa-bisa bakalan ribet.Karena mami kalo ngomel suka nahan aku untuk dengerin Omelan nya yang panjang kali lebar.
Saat di cafe ternyata masih terlihat sepi,hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati kopi pagi.Aku memilih tempat yang dipojok,agar bisa mengamati siapa yang baru datang.Setelah beberapa menit,akhirnya Penantian ku berbuah manis.Terlihat pak Robin memasuki ruang cafe itu bersama om Aldo.Melihat om Aldo sungguh membuatku terkejut.Apa mungkin om Aldo lah yang berada di balik semua ini? hatiku terus bertanya-tanya.Apalagi mereka duduknya terlalu jauh denganku,tentu aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Dengan kesal aku mengalihkan pandanganku kearah pintu masuk,eh ternyata tidak disangka aku melihat seorang berpakaian kasual dengan sepatu putih dan tas kecil yang tergantung di pundaknya.Entah kenapa walau penampilannya biasa saja tapi di mataku dia sangat cantik.Rambut panjangnya yang tergerai dan jepitan rambut yang terselip manis di sisi kepalanya menambah keanggunannya.
Dia duduk tepat di dekat meja om Aldo dan pak Ronal.Ingin sekali aku mengirim pesan padanya untuk merekam pembicaraan mereka,tapi apalah daya aku tidak memiliki nomor ponselnya.
Pandanganku kini beralih padanya,aku hanya sesekali melirik om Aldo dan pak Robin untuk memastikan bahwa mereka belum beranjak dari tempat duduknya.
Kulihat seorang pelayan membawa segelas orange juse kemejanya.Sepertinya dia adalah wanita yang sangat peduli dengan kesehatannya.Sudah dua kali bertemu di cafe dan dia selalu memesan minuman yang berbahan dasar buah.Pantas saja kulitnya tampak segar dan halus.
Dia meletakkan ponselnya lalu menyedot sedikit minuman itu.Sungguh rasanya aku begitu iri dengan sedotan itu yang bisa menempel di bibir merahnya.Sedangkan aku,jangankan bibirnya menyentuh tangannya saja bisa-bisa aku kena tabok.
Masih teringat dengan jelas di benakku, bagaimana dia memberiku ultimatum untuk tidak mengikutinya,di saat awal pertemuan kami.Dia benar-benar tidak menyukaiku,yang benar saja pria tampan seperpeck aku di tolak mentah-mentah sama dia.Bisa turun pamor ku sebagai cowok Casanova kalau gini.
Tak terasa pak Ronal dan om Aldo sudah mulai beranjak dari tempat duduknya.Mereka bersalaman tanda menyepakati sesuatu lalu berjalan menuju keluar.
Ingin rasanya aku mengikuti mereka sampai sesi selanjutnya.Tapi apalah daya,wanita ini benar-benar menarik ku seperti magnet.Aku bukanya mengikuti mereka tapi malah menghampirinya.Aku menyapanya seperti biasa dengan sebutan calon istri dan langsung menarik gelas serta menyedot pipet bekas bibirnya.Ada peribahasa mengatakan '' tidak ada rotan akar pun jadi '', tidak dapat bibirnya bekas bibirnya pun jadi lah.
Hahhahhaha ternyata kali ini dia marah karna aku menyedot minumannya,dia menuntut ku untuk membayar minuman yang sudah aku minum.Dia memasang wajah seram untuk menakuti ku,tapi bagiku justru malah terlihat menggemaskan.Dia menjuluki ku kadal buntung,dari julukan Casanova turun drastis jadi kadal buntung ditambah kere lagi.Lengkap sudah ,dia benar-benar mengubah identitas ku dalam sekejap.Aku lelaki tampan yang kaya dan disukai oleh banyak wanita,kini menjadi kadal buntung kere di matanya.Tapi anehnya,mendengar suaranya sudah membuat aku senang,aku tertawa bahagia mendengar ia mengatai ku sesuka hatinya.Ya aku pikir ini lebih baik,daripada waktu itu dia hanya diam dan ngacangin aku.Setidaknya kali ini dia sudah menganggap ku ada.
Aku sempat bertanya tentang om Aldo dan pak ronal,tapi tentu saja dia tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka obrolkan,secara dia kan tidak mengenal mereka.Namun setelah mengingat-ingat dia mengatakan bahwa '' yoga brahmana tamatlah riwayatmu '' ,mendengar itu sontak membuatku langsung teringat pada papi dikantor.Sebelum pergi aku menyempatkan untuk menyedot habis minumannya,sekedar untuk menggodanya.
Dan seperti dugaan ku dia kesal dan menuntut ku intuk membayar minuman itu.Sepertinya dia benar-benar kapok karna semalam dia harus membayar semua makanan yang aku dan beri pesan.Aku berkata tidak bawa uang dan pergi berlalu begitu saja.Tapi tentu saja dia tidak percaya dan malah menganggap ku gak punya uang.Padahal aku berharap dia akan mencari ku untuk menuntut uangnya.Masalah tentang dia pikirkan nanti,hari ini selesaikan dulu masalah di kantor,ucapku dalam hati.
Kulihat jam di tangan ku sudah menunjukkan pukul 9.15 pasti rapat itu sudah di mulai.Untung saja aku sudah menyerahkan semuanya pada beri,aku yakin beri bisa menghandlenya.Tapi papi,papi bisa tambah marah jika aku tidak hadir dalam rapat itu,pasti aku di anggap selalu menyepelekan masalah.Dengan cepat aku menstater motorku dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Namun saat aku sudah berada sekitar 200 meter dari tempat itu tiba-tiba aku melihat wanita itu dari kaca spion,ia sedang menunduk sambil memegangi lututnya.Karna penasaran aku langsung memutar motorku dan mendekatinya.Dan yaaa,betapa terkejutnya aku saat dia menyodorkan ponselnya dan berkata bahwa ia tidak sengaja merekam pembicaraan mereka.Wah sepertinya dia adalah Dewi Fortuna ku hari ini.
Aku langsung menyambar ponsel dari tangannya dan membawa kabur ponselnya,mungkin dengan ponsel ini aku bisa mendekatinya nanti.Pikiran nakal ku masih muncul di saat-saat mendesak seperti ini.Kulihat dari spion dia tampak berteriak memanggil-manggil ku,aku hanya tersenyum membayangkan ia meneriaki ku seperti mami.Bagsimsna ya, jika memiliki dua wanita yang super bawel dirumah, gak kebayang deh betapa rame nya itu rumah hahahaha.
Saat tiba di kantor,aku langsung keruangan papi.Kulihat beri yang sudah menekuk wajahnya tanda ia sudah kenak semprot oleh papi .Wajah papi terlihat marah,tanpa basa basi aku langsung menyerahkan rekaman yang ada di ponsel wanita itu.Dan akupun terkejut mendengar percakapan om Aldo dan pak Ronal.
Benar-benar tidak disangka om Aldo orang yang paling papi percaya tega mengkhianatinya.Ini pasti sangatlah menyakitkan untuk papi.Dan aku juga gak menyangka bahwa selama ini pak Ronal telah menukar laporanku.Pantas saja papi selalu marah-marah padaku.Rupanya mereka sengaja mengatur suasana ini untuk menghancurkan keluargaku.
Papi tampak marah dan ingin langsung mendatangi om Aldo.Aku langsung menahannya karna tidak ingin kalau sampai papi membuat keributan dikantor.Tentu itu akan menodai harga diri papi sebagai presiden direktur di kantor ini.
Dengan beberapa pengertian akhirnya papi menuruti kata-kataku,untuk pertama kalinya aku berhasil mengatur papi sesuai keinginanku.Karna biasanya papilah yang selalu mengaturku sesuai keinginannya,tidak peduli aku menyukainya atau tidak.Karna papi sudah terbiasa mengontrol bawahannya saat di kantor jadi ia pun suka mengontrol ku seenaknya saja.Tapi walaupun begitu sebagai anak aku tetap menghargainya walau kadang sering melenceng dari segala perintah dan aturannya hihihihihi.
Karena papi sudah mulai bisa mengontrol emosinya,aku pergi untuk mencari mami dan pak Suto yang entah dimana keberadaannya.Ponsel pak Suto tidak aktif,sementara ponsel mami tidak diangkat.Saat aku tanya pembantu di rumah rupanya ponsel mama ketinggalan di kam-ar dan ponsel pak Suto sedang di carger,pantas saja tidak bisa di hubungi.Seharian aku dan beri berkeliling jalanan,beri menghubungi semua teman mami namun tidak ada yang tau keberadaan mami.
Saat senja menjelang,seorang mengatakan bahwa mami memesan banyak kotak makanan hari ini.Dalam benakku langsung terpikir pasti mami pergi ke panti-panti jompo untuk membagikan makanan seperti biasa saat ada hari spesial.
'' Ini tanggal berapa ber? '' tanyaku pada beri yang sedang memainkan ponselnya.
'' Hmmmm tanggal 12 Februari '' jawab beri yang tampak sedikit berfikir.
Mataku melirik kearah beri yang begitu serius dengan ponselnya.Tiba-tiba aku baru tersadar,bahwa sedari tadi aku yang menyetir mobil dan beri malah enak-enakan bermain dengan ponselnya.Wah aku sudah seperti supir si beri hari ini.Karna kesal aku sengaja menginjak rem mendadak dan membuat jidat beri terbentur bagian depan mobil.
'' Danuuuu,gimana sih lu nyetirnya? sakit tau '' keluh beri sambil mengelu-elus jidatnya.Aku keluar dari mobil dan langsung menariknya keluar.Beri yang sudah faham pun langsung tersenyum cengengesan.Aku merileks kan tubuhku di jog penumpang sebelah beri yang kini telahengemudi.Rasanya sangat lelah tapi aku tidak bisa tidur karna mami belum ditemukan.
Setelah menghampiri beberapa panti jompo,ternyata tidak juga menemukan mami.Namun ada satu petugas panti jompo yang terakhir kami datangi mengatakan bahwa mami tadi memang datang kesitu.Tapi ia sudah pergi beberapa jam yang lalu.Hatiku sedikit lega,mendengar mami baik-baik saja.Tapi kenapa orang rumah tidak ada yang mengabariku.Apa mungkin mami belum sampai kerumah,padahal menurut penjelasan petugas di panti jompo tadi mami sudah pergi 3 jam yang lalu seharusnya sudah tiba dirumah.Mungkin mami mampir ke suatu tempat untuk membeli kado ulang tahun papi.Aku hanya bisa mencoba untuk berpositif thinking.
Hari sudah gelap,senja telah berganti menjadi malam.Ditengah perjalanan aku melihat kerumunan orang di tepi jalan depan sebuah minimarket.
'' Ber,ada apa itu kok sepertinya ribut-ribut.Apa ada kecelakaan ya '' ucapku sambil terus membuyarkan pandanganku di sekitar kerumunan itu.Namun tidak ada jawaban dari beri,karna ia pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
'' Eh ber,berhenti disitu,itu ada mobil mami '' ucapku sambil menepuk-nepuk pundak beri.Melihat mobil mami terparkir disisi jalan itu membuat jantungku berdetak kencang penuh khawatir.Setelah mobil berhenti,dengan cepat aku langsung keluar dan menyibak orang-orang yang ada di kerumunan itu.
Dan ternyata benar dugaan ku,kulihat mami tang tengah di papah oleh pak suri dengan baju yang sudah terkena noda darah.
'' Mami.... '' aku menjerit dan langsung berlari mendekap mamiku.
__ADS_1
'' Ada apa mi,kenapa leher mami berdarah ? '' tanyaku penuh khawatir.
'' Mami tidak apa-apa,ini hanya sedikit tergores benda tajam.Panjang ceritanya,ayo antar mami ke dokter ,biar nanti mami jelaskan di mobil '' ucap mami sambil mengelus-elus pipiku.
Karna terlalu panik aku langsung menggendong mami menuju mobil.
'' Ber,ayo cepat kerumah saakit.Mami berdarah Ber '' ucapku sambil memasukkan mami kedalam mobil dengan hati-hati.
Sepanjang perjalanan kerumah sakit mami bercerita tentang kejadian tadi,ternyata dia di tolong oleh seorang wanita pemberani dan kakaknya.Mami bilang wanita itu sangat cantik,dan mami terlihat sangat antusias menceritakan sosok wanita itu padaku.Namun aku tidak terlalu meresponnya,aku hanya berfikir jika bertemu dengan wanita itu aku akan mengucapkan banyak terimakasih padanya karna sudah menyelamatkan mami kesayanganku.
Seperti biasa mami yang suka ngomong tidak ada hentinya,masih terus memuji-muji wanita itu.Dalam keadaan sakit saja mami masih bisa bicara sebanyak ini.Apalagi kalau sehat,wah benar-benar bikin telinga aku sering kerasa sakit.
Dirumah sakit,mami langsung diperiksa oleh dokter.Syukurlah dokter bilang luka mami tidak terlalu dalam,hanya sedikit tergores saja.Setelah di perban dan diberi resep mami diperbolehkan pulang.Saat kami berjalan keluar,terlihat papi sudah ada di lobi.Rupanya pak Suto sudah mengabari papi tentang kondisi mami.
'' Danu,gimana keadaan mamimu? '' tanya papi yang sudah berada di sebelah mami,tapi banyaknya ke aku.Seperti gak bisa tanya orangnya langsung.
'' Kata dokter mami harus banyak istirahat dirumah,tidak boleh keluar rumah selama satu Minggu '' ucapku asal.Dan tentu saja langsung diprotes oleh mami karna tidak mau jika papi akan mengurungnya sampai satu Minggu.
'' Dasar anak nakal,dokter tadi tidak bilang gitu '' ucap mami sambil memukul punggungku.
'' Mami,sakit tau....lagian disini banyak orang jangan memukuliku seperti anak kecil '' aku mendengus kesal,karena malu diliatin banyak pasang mata.
'' Lagian kamu suka sekali mengada-ngada '' ucap mami lagi namun tidak memukulku seperti tadi.
'' Ya seharusnya papi tuh yang di pukul,papi kan bisa tanya langsung ke mami,kenapa harus tanyanya ke aku '' protesku dengan kesal.
" Oooo jadi kau tidak suka papi bertanya padamu,papi membesarkanmu tanpa mengeluh,tapi kini menjawab pertanyaan papi saja kamu sudah mengeluh.Bagaimana nanti kalau papi sudah tua,apa kau tidak mau mengurus papimu ini? ''
Akhirnya aku diserang oleh pasutri yang tidak lain adalah papi dan mamiku.Pembahasannya pun mulai berbuntut panjang.
'' Ya aku ini kan bukan kurir penghantar pesan ,lagian siapa bilang papi tidak pernah mengeluh.Setiap hari papi dan mami selalu mengeluh tentangku.Dan lihat saja nanti kalau papi sama mami sudah tua,aku akan masukin papi ke panti jompo biar papi sama mami bisa banyak temennya.Jadi masa tua papi tidak akan kesepian '' ucapku menggoda mereka dan langsung pergi menjauh karna tidak mau kena serangan mami dan papi lagi.
'' Dasar anak nakal,berani-beraninya kamu masukin kami ke panti jompo '' ucap mami sambil melempar dompet nya kearahku dan dengan sigap aku langsung menangkapnya.
'' Itu tuh akibat kau selalu memanjakannya '' ucap papi memulai perdebatan seperti biasa,aku langsung menarik tangan papi dan mami karna tidak ingin semua orang yang ada di lobi rumah sakit menyaksikan perdebatan sengit mereka.
__ADS_1
Saat tiba dirumah ,aku langsung masuk ke kamarku.Karna kan sudah ada papi yang selalu siaga mengurus mami.Walau sering berdebat tapi sesungguhnya papi sangat adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.Dan tentu saja aku tidak mungkin mengirim mereka ke panti jompo setelah usia mereka renta.Tapi aku pasti akan mengurus mereka,seperti mereka mengurus dan menyayangiku di waktu kecil hingga sebesar ini.