Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Belajar mencintai


__ADS_3

Cuaca hari ini sangat tidak mendukung.Langit tanpak begitu gelap.Namun Andini tampak bersemangat,pertemuan Mela dan Steven hari ini harus berkesan.Pikir Andini.


Andini mengotak-atik ponselnya.Memastikan semua yang sudah ia siapkan akan berjalan dengan lancar.


"Gimana?" Andini mengirim pesan chat pada Mela.


"Iya,gw udah minta ijin sama bos.Setelah jam makan siang gw bisa pergi." balas Mela.


"Ok baiklah,biar aku jemput"


"Apa tidak merepotkanmu?"


"Tentu saja tidak.Gw ini pengangguran,jadi tidak memiliki kesibukan,yaa itung-itung lu bikin gw jadi punya kegiatan lah."


"Oke deh istri GM......gw mah nurut aja,kalau gak nurut takutnya di pecat hihihi"


Terukir simpulan senyum di ujung bibir Andini.Menjadi istri Danu sudah seperti mendapat kan paket komplit.Selain kaya dan tampan Andini juga mendapat bonus mertua yang sangat menyayanginya.


"Selamat siang istriku....." panjang umur,yang lagi di omongin muncul.Danu mengecup ujung kepala Andini dan bibirnya lalu duduk di sebelah Andini.


"Mas,ada mas Beri pun....." Andini menyentuh bibirnya,ia merasa malu karena Danu menciumnya di hadapan Beri.


"Halah Beri gak ngeliat,jadi gak usah di pikirkan.Iya kan Ber?"


"Mata gw masih sehat kencleng" gumam beri dalam hati sambil tersenyum kecut.


"Iyaaaaaa kan Ber?" kali ini Danu sambil melotot.


"Iya gw nggak liat apa-apa kok.Cuma cuplikan adegan mesum aja"


"Beriiii...." seru Danu dengan tatapan tajam.


"Hahahaha santai bro,gak usah ngegas.Gak di kantor,gak di kafe ngegas terus gak capek apa" beri tergelak sambil meraih buku menu yang ada di depannya.Melihat Danu kesal tentu membuat senang.Karena saat di kantor Danu juga selalu membuat beri kesal.Terlebih saat ia memaksa untuk membuat Steven mau menghadiri makan malam yang sudah di rancang Andini.


"Memang iya mas,mas Danu suka ngegas?" tanya Andini penasaran.


"Beeee gak suka lagi.Tapi suka banget,salah sedikit aja langsung pijak gas" Bisik beri lirih sambil menutup wajahnya dengan buku menu yang ada di tangannya.


Plak sebuah kotak tisu langsung mendarat ke arah Beri.Namun dengan sigap beri menangkisnya dengan buku menu yang masih di tangannya.


"Makanya kalau kerja itu yang bener,biar biar atasan lu gak marah" dengus Danu.

__ADS_1


"Ah udah ah jangan berantem" Andini menghentikan ocehan mereka.


"Oh ya mas gimana urusan steven?"


"Beres...." Danu mengacungkan jempolnya.


"Cih ya beres lah gw yang beresin.Lagian Andini tuh ada-ada aja.Pengantin baru tapi malah sibuk ngurusin orang.Bukanya sibuk bulan madu" gerutu beri dalam hati.


"Makasih sayang" Andini mengusap-usap pipi Danu dengan gemas. "Makasih suami aku...." Danu langsung menyodorkan pipi nya seraya minta imbalan.Setelah menatap beri yang tengah sibuk memilih daftar menu, cup dengan cepat Andini mengecup pipi Danu.Sehingga membuat Danu tersenyum penuh kemenangan.


Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi bumi.Selesai makan siang,dengan berat hati Danu harus meninggalkan Andini dan kembali ke kantor.


Begitu banyak pesan yang ia tinggalkan sebelum pergi.Andini hanya memberi anggukan di sertai senyuman.Hati bahagianya tak bisa ia tutupi setelah mendapat begitu banyak perhatian dari sang suami.


Setelah menempuh 20 menit perjalanan menuju hotel,akhirnya sampai juga di tempat tujuan.Terlihat Mela sudah melambai-lambaikan tangannya di depan gedung itu.


Dengan cepat pak suto keluar dari mobil dan menjemput Mela dengan menggunakan payung.Kebetulan Danu belum memiliki sopir untuk Andini.Jadi Danu mengutus pak suto untuk menemani Andini kemanapun ia pergi.


Hujan yang semakin lebat membuat baju Mela sedikit basah.


"Yah baju lu basah Mel"


"Cuma sedikit,kenak angin entar juga kering"


"Ke salon biasa pak?" jawab Andini cepat.


Pak suto pun langsung melajukan mobil menuju tempat yang sudah di sebutkan oleh Andini.Salon yang sudah sering ia kunjungi bersama mami Margaret.


Dalam perjalanan Andini dan Mela bercerita banyak hal.Sudah lama tidak bertemu membuat mereka tidak pernah kehabisan bahan untuk ngobrol.Mela menceritakan tentang suasana hotel,para teman-teman disana,pak Hendro yang suka marah-marah dan tentu tidak lupa tentang Steven yang masih bersikap dingin padanya.


Sementara Andini bercerita tentang pernikahannya.Walau hanya di hadiri oleh pihak keluarga tapi mahar yang di berikan oleh Danu memang patut ia banggakan.Dan berhasil bikin Mela melongo,karena takjub.


Selain itu Andini juga bercerita tentang wanita yang ada di Club malam itu.Mengingat adegan itu membuat Andini menjadi sedih.


"Kenapa lu diem aja lakik lu di sosor sama wanita jalang seperti itu,kalau gw jadi lu udah gw tabok tu perempuan.Eh Din lu itu jangan terlalu lemah.Lu harus tunjuk kan kalau lu itu bukan wanita yang bisa di perlakukan seenaknya.Lu harus melawan.Pak Danu itu super duper tampan,ramah dan kaya lagi.Pasti di incar oleh banyak kaum wanita.Lu harus melawan untuk mempertahankan hak lu menjadi istri.Jangan sampai di sosor orang lagi,nangis lagi deh"


"Bila perlu lu panggil gw,Mela si anak Medan yang tak gentar membela kebenaran.Dengan senang hati gw bakal jadi'in pergedel tu wanita jalang" Mela meremas-remas tangannya sendiri,karena merasa geram membayangkan wanita yang di sebutkan oleh Andini.


Andini menanggapi ucapan Mela dengan serius. "Terimakasih Mel,lain kali seperti saran lu.Gw bakal bejek-bejek wanita yang udah berani mengganggu suami gw" Andini meremas ujung tas nya,sambil menirukan ekspresi Mela.Kali ini ucapan Mela telah memberi semangat baru bagi Andini.


Menyaksikan aksi gemas Mela dan Andini pada orang yang entah dimana keberadaannya,membuat pak Suto tergelak.Apalagi yang menjadi topik pembahasan mereka adalah tuan yang sedari kecil sudah ia kenal.Pak Suto menahan tawanya saat membayangkan wanita-wanita yang selama ini mendekati tuan mudanya di unyel-unyel oleh Andini.Itu bakalan jadi hal yang menarik pikir pak Suto.

__ADS_1


Setelah beberapa menit akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.Mela mengedarkan pandangan dengan tatapan takjub.


"Din mending kita cari salon lain aja deh" Mela tiba-tiba menghentikan langkahnya,dan menarik lengan Andini. " Loh emang kenapa?Lu gak suka ya sama tempatnya?" tanya Andini menerka-nerka. "Bukan nya gak suka Din,tapi di liat dari tempat nya yang semewah ini pasti biaya nya mahal" ucap Mela sambil melirik-lirik sekitar mereka.Tampak wanita-wanita berkelas atas yang sedang menikmati fasilitas salon. "Gw mana sanggup membayar tagihan nya" sambung Mela lagi dengan berbisik ke telinga Andini.


"Tenang aja.Gw yang bayarin." Andini menepuk-nepuk bahu Mela.


"Se seriusan Din ?" tanya Mela gugup.


"Ya iyalah,apa pernah gw bohong sama lu" jawab Andini dengan penuh percaya diri.


"Tapi ini pasti mahal Andini ...."


"Lu lupa gw ini sekarang adalah istri GM ?"


"Hahahaha iya iya gw lupa.Istri bos mah bebas,mau ngabisin uang seberapapun"


"Taraaaaaa " Andini menunjukkan Mastercard berwarna gold miliknya.Siapa bilang Andini tidak goyah setelah melihat kartu dambaan setiap wanita itu.Hanya saja waktu itu saatnya tidak tepat untuk meloncat kegirangan karena ia masih marah pada Danu.


"Andini....ini kan kartu dengan limit tanpa batas! Lu beruntung banget Din.Pak Danu memang is the best" Mela menyentuh kartu itu dengan pandangan takjub.Selama ini dia hanya bisa melihatnya di namun kali ini ia benar-benar sudah menyentuhnya.


"Let's go ..... jadi lu gak perlu mengkhawatirkan tagihan lagi hihihi"


Mela merasa beruntung memiliki teman seperti Andini.Selain baik hati,kini dirinya juga kecipratan oleh kekayaan keluarga Atmaja.


******


Steven POV


Mendengar Andini sudah sah menjadi milik orang lain membuatku seakan susah untuk bernafas.Dia benar-benar memilih laki-laki itu sebagai suami nya.Terang saja,ia memang lebih kaya dari aku.Tapi jika di lihat dari segi fisik.Aku tidak kalah tampan dari nya,hanya saja nasibku tidak sebaik dirinya.


Sebenarnya aku kesal dengan si gendut itu.Ia terkesan memaksaku,apalagi si gendut itu di utus oleh Danu brahmana Atmaja.Orang yang pernah menggunakan kekuasaannya untuk mengerjaiku.Tapi........ entah kenapa saat ia menyebut nama Andini.Bibir ku terasa kaku,tidak sanggup untuk mengucapkan kata "TIDAK".Walau sudah lama tidak bertemu dengannya,tapi ia masih bertahta di hatiku.Sehingga mendengar namanya saja sudah langsung menghipnotisku.Benar-benae aneh,kenapa aku masih mencintainya.Jelas-jelas dia sudah menjadi milik orang lain,terlebih dia tidak pernah mencintaiku.


Cinta yang bertepuk sebelah tangan memang menyedihkan.Tapi aku tidak pernah bisa membencinya.Hasrat ituu....hasrat untuk ingin memenuhi setiap keinginannya masih membelengguku.Walau yang dia ingin kan adalah hal yang tidak aku suka.


Sejak dulu dia selalu menjodohkan ku dengan Mela.Wanita gesrek yang selalu terang-terangan mengejar ku.Walau berkali-kali aku tolak,tapi dia tidak pernah putus asa.Sebenarnya dia wanita baik-baik.Tapi......dia belum bisa menggeser posisi Andini di hatiku.


Kini....untuk sekian kali nya,Andini memintaku untuk memberi kesempatan pada Mela.Dan untuk kesekian kalinya aku menuruti keinginan Andini.


Jika di pikir-pikir Mela memang cukup cantik.Tapi..... yaa lebih cantik Andini lah.Hati kecilku masih mendambakan sosok Andini.Seolah ingin mengenyahkan kenyataan bahwa wanita itu sudah menjadi istri seorang Danu Brahmana Atmaja.Orang yang memiliki kekuasaan paling kuat di Atmaja group.Mendengar namanya saja sudah membuat orang merasa ngeri,apalagi jika ia tau aku menginginkan istrinya.Bisa-bisa di penggal kepalaku.


Setelah berpakaian rapi,aku melihat pantulan bayanganku di cermin.Tubuh tinggi,kulit putih dan mata biru milikku.Aku memang tampan,pantas saja wanita gesrek itu masih terus mengejar ku.Apakah aku harus belajar membuka hati untuk nya?....

__ADS_1


Kata orang lebih baik di cintai daripada mencintai.Tapi tentunya lebih baik lagi jika saling mencintai.


Tidak ada salahnya belajar untuk mencintainya.


__ADS_2