
Andini POV
Untuk yang kesekian kalinya, wanita itu mengirimkan pesan untuk ku. Kali ini rekaman percakapan nya dengan suamiku. Bisa kudengar dengan jelas,suamiku yang meminta pertemuan itu.
Tentu saja aku merasa marah, sangat marah. Baru saja ia meminta maaf,dan berjanji akan membuktikan kesungguhan nya. Tapi kenapa ia justru ingin bertemu dengan wanita itu di Club lagi.
Mendengar kata "klab biasa dulu kita nongkrong" rasanya aku ingin sekali membakar tempat itu.
Aku menarik k napas dalam, mengelus perut ku yang sudah membesar. Kulihat tubuhku di pantulan cermin. Yah tubuhku sudah tak seseksi dulu.
Tapi.....
Ini semua karena nya,dia yang membuat ku seperti ini. Kenapa aku yang harus menanggung nya sendiri? kenapa aku harus Berdiam mengurung diri disini?
Rasanya ini tidak adil bagiku. Sementara ia bisa berkencan dengan wanita lain sesuka nya.
Akan aku tunjukkan siapa Andini pada mereka.
Tiba-tiba keberanian itu datang begitu saja,entah kenapa aku tidak lagi ingin menangis. Dan aku juga tidak lagi bisa mengalah.
Dada ku bergemuruh, tanganku mengepal geram. Dengan penuh keyakinan aku meraih jaket dan tasku.
Lagi-lagi aku nekat menyetir dengan posisi perut yang sudah mentok di setir mobil.
Karena begitu marah,rasa sakit pinggang yang biasa aku rasakan seakan menghilang begitu saja. Hanya ada sepasang kekasih yang akan bersenang-senang di pikiranku. Terlebih skandal itu...itu bahkan terbayang semakin jelas di otakku.
Saat sampai di tengah perjalanan,ada sebuah mobil menghadang ku.
"CK ck.."
Aku berdecak kesal,siapa lagi?
Kalau bukan Steven. Lelaki itu selalu saja hadir di saat-saat seperti ini.
"Keluar..."
Awalnya masih bernada lembut. Tapi aku enggan untuk membuka pintu mobil ku.
"Keluar atau ku pecahkan kaca mobilmu" seru lelaki itu.
Aku sedikit terkejut, lelaki itu membentak ku? baru kali ini.
Akhirnya...aku membuka pintu mobil dengan pelan.
"Apa kau tidak bisa menghubungi ku? apa itu sulit bagimu? aku tidak tahu apa masalah mu. Tapi apa kau tau kalau yang sedang kau lakukan ini sangat berbahaya?"
"Tidak bisa kah kau menyayangi dirimu sendiri?apa kau tidak berpikir kau sedang membahayakan bayi mu sendiri? inikah tindakan seorang ibu?"
Lelaki itu memarahi ku tanpa jeda. Wajahnya terlihat begitu gusar dan emosi. Baru kali ini lelaki itu begitu marah padaku.
"Kenapa kau begitu peduli padaku? kenapa?" aku kembali membentaknya. Seperti waktu itu.
"Karena aku menyayangimu " serunya dengan penuh kuat.
"Aku tidak bisa melihat mu seperti ini,aku juga tidak ingin kau celaka. Hati ku terasa sakit setiap kali melihat mu seperti ini. Aku hanya ingin kau bahagia Andini. Entah kenapa itu sudah cukup bagiku...." lelaki itu menyentuh pundakku.
__ADS_1
Tidak ku sangka lelaki itu
mengunkapkn isi hatinya. Dan tidak kusangka ia memiliki perasaan yang begitu dalam untukku. Sungguh aku tidak pernah menyadari nya. Mungkinkah karena aku dia selalu menolak mela?
Padahal mereka terlihat begitu serasi.
"Bukan kah kau sudah berpacaran dengan Mela? " sontak pertanyaan itu muncul dari bibir ku. Bagaimana ia bisa bicara seperti itu, setelah menjadi pacar Mela.
Bagaimana jika Mela mendengar ini?
"Ayo ,aku antar pulang" ucapnya lirih. Tidak menjawab pertanyaan ku.
"Aku tidak mau pulang"
seruku sambil menepis kan tangan nya. "Aku tidak mau lagi menjadi Andini yang hanya bisa menangis " sambungku lagi sambil menyungutkan bibir.
Dapat aku lihat bagaimana ia menghela napas dalam. Masih berusaha untuk mencoba bersabar untuk ku.
"Jadi kamu maunya gimana?" Tanya nya dengan nada lembut.
Akhirnya aku menceritakan semuanya pada lelaki itu.
Lelaki itu mengusap kepala ku lembut " Aku akan menemanimu ke sana, keluar lah biar aku yang menyetir. " ia menarik tangan ku dan menuntunku ke jog mobil belakang.
Entah apa yang ada di pikiran nya, sampai sejauh ini dia selalu menuruti ku.
Dia memang berbeda karakter dengan mas Danu.
Sejak dulu dia selalu lebih bersabar menghadapi ku. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mencintai nya.
Yang bahkan sudah jelas-jelas aku tau bahwa dia adalah seorang Casanova.
Walau begitu,ia masih selalu perduli akan kebahagiaan ku. Entah terbuat dari apa hatinya itu.
Ia kembali ke mobil nya. Lalu menarik tangan seseorang dari dalam mobilnya.
"Hah Mela?"
Betapa terkejutnya aku melihat Mela saat itu. Mungkinkah dia mendengar pertanyaan Steven tadi?...
Sungguh aku jadi tak enak hati padanya.
Kini dia duduk di samping ku,tapi kali ini dia hanya diam dan menunduk kan wajahnya.
Pasti dia sedih,aku tidak tega melihat nya seperti ini. Apa aku terlalu egois? karena aku sudah membuat sahabat ku bersedih.
"Maaf kan aku Mel "
ucap ku lirih sambil memegang tangan nya. Mela masih terdiam dan membisu membuat ku semakin sedih.
"Jangan cemburu,gw memang pernah menyayangi Andini sebagai seorang lelaki. Tapi itu dulu..... sekarang gw masih tetap menyayangi Andini tapi sebagai sahabat. Karena saat ini gw sudah jatuh cinta pada pacar gw "
Jelas Steven sambil melirik Mela dari kaca spion.
Mela terlihat mendongak kaget mendengar ucapan itu.
__ADS_1
"Jangan memberi harapan palsu lagi" seru Mela.
"Kalau lu gak percaya, kita nikah saja besok" ucap Steven dengan santai.
"Ia setuju" saambungku antusias.
"Jangan bicara omong kosong " seru Mela sambil membuang muka.
Lalu tiba-tiba Steven menghentikan mobilnya di tepi jalan. Ia keluar dari mobil dan langsung mendekati Mela lalu mengecup bibirnya di depanku.
Hah? gila?
Steven benar-benar melakukan nya.
Awalnya Mela tampak kaget, tapi ia juga terlihat menikmati nya.
Dasar jahat mereka melakukan nya di depanku.
Aku memang ikut bahagia jika mereka benar-benar bersatu. Tapi....
"Hai ....ada gw di sini....hellow....?"
keduanya tersentak dan melepaskan ciuman itu.
Mela terlihat tersipu malu, sementara Steven tersenyum manis dan mengusap bibir Mela lembut dengan jemarinya.
"Aku mencintaimu..Mela.."
Ucap Steven dengan penuh keyakinan. "Maaf jika tadi aku melukai hatimu,aku dan Andini hanya sebatas teman. Andini adalah sahabat kita...." Steven menarik napas menjeda. "Aku bahkan baru sekali ini mencium wanita,yaitu kamu. Masih kah kau meragukan cintaku?"
Steven terlihat begitu cool saat mengucapkan nya. Karismatik nya berhasil membuat Mela tak bisa berkata-kata. Dia terlihat begitu senang. Wajahnya berubah memerah.
Mela menunduk malu,dan Steven mengecup keningnya dengan lembut.
Wah kali ini berasa seperti sedang melihat drama Korea. Aku sampai baper melihat aksi Steven.
Setelah Steven kembali duduk di depan. Mela langsung memeluk ku.
"Maaf kan aku Din. gw gak sepantasnya cemburu sama lu"
Akhirnya.....
Aku bisa bernapas lega. Karena dengan mudah dan cepat Steven berhasil mengikis jarak di antara kami.
Aku membalas pelukan nya dengan hangat. Kami berdua tersenyum dan kembali bercengkrama seperti dulu.
" Lain kali jangan melakukan nya di hadapan ku,terlebih di hadapan si kembar " ejekku...
Dia tersenyum malu, " Ah sialan lu" serunya sambil menepuk pundakku.
Di sepanjang perjalanan menuju ke club itu..Aku menceritakan semua isi hatiku pada mereka.
Mereka bersedia membantu ku,untuk menghadapi wanita itu. Dan mereka juga begitu antusias saat menyusun berbagai rencana selanjutnya....
Rasanya sedikit lebih plong,saat aku bisa berbagi kesedihan bersama mereka. Mereka adalah sahabat terbaik ku.
__ADS_1
Terimakasih tuhan sudah memberikan mereka untukku.