Bukan Wanita Mandul

Bukan Wanita Mandul
Jeruk Bali


__ADS_3

Terimakasih author ucapkan untuk para pembaca yang masih setia dengan cerita BWM ,,,😘😘😘😘😘


Semoga suka terus ya sama ceritanya.......


Maaf jika story' ini masih memiliki banyak kekurangan...karena author masih tahap belajar...


Terimakasih juga karena sudah memberi semangat up kepada author ....jangan lupa like,vote dan sertakan komen ataupun kritik yang membangun...sehingga selanjutnya author bisa memperbaiki,,🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Semoga suka......


**************


Sesuai janjinya,usai dengan semua pekerjaan Danu datang menjemput Andini. Namun kali ini sudah menjelang malam Danu baru tiba.


Untung saja Danu benar-benar sudah membuat sebuah kamar di toko roti Andini. Kamar dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Sehingga Andini bisa istirahat dengan nyaman di kamar itu.


Danu memandang wanita itu dengan intens. Cantik itu sudah pasti,karena di mata Danu Andini selalu saja terlihat cantik.


Karena merasakan hembusan nafas seseorang yang semakin dekat,perlahan Andini pun membuka kelopak matanya.


Kedua ujung bibirnya tertarik membentuk simpulan senyum yang sempurna.Ketika ia melihat sosok lelaki yang sedang ia tunggu sejak tadi kini sudah ada tepat di depan matanya.


Bukanya terbangun,tapi Andini malah justru meraih tengkuk lelaki itu hingga kedua bibir mereka bersentuhan. Tanpa menunggu waktu lama akhirnya tubuh mungil Andini pun sudah terjerembab dalam pelukan lelaki tampan itu.


Sejenak mereka biarkan waktu bergerak tanpa jarak di antaranya.


"Besok kita ke dokter ya? Beri sudah mengatur jadwalnya dengan dokter spesialis kandungan" ucap Danu sambil mengelus perut Andini.


"Kok tiba-tiba?" Andini membalik badannya hingga menghadap wajah lelaki itu.


"Tiba-tiba gimana?...kita kan baru sekali ke dokter. Kata Beri ibu hamil harus sering-sering cek-up ke dokter untuk memantau perkembangan bayi yang di kandungnya" ujar Danu sambil kembali mengeratkan pelukannya.


"Oooo... Mas Beri orangnya kebapak an ya?"


"Ya jelas lah diakan udah punya anak,lagian dia juga mengalami momen ini lebih dulu jelas saja dia lebih tau dari aku..."


"Loh mbak Ica udah melahirkan mas?kok mas gak pernah ngomong sih sama aku" seru Andini sambil berbalik dan mendorong tubuh Danu hingga menjauh.


"Ya kamu kan GK pernah tanya,lagian gimana mau ngomong kamu nya aja selama ini jauhin aku terus " jawab Danu.


"Oh jadi maksudnya mas nyalahin aku?" ucap Andini sewot


Waduh salah ngomong nih gw


"Ya bukan gitu maksud aku sayang...." Danu meraih tangan Andini


"Kenapa mas nyalahin aku....hiks hiks padahal kan itu mau nya anak kamu mas" tangis Andini pun langsung pecah begitu saja "Huaaaa Huaaaa Huaaaa ...."


Tukan.....nangis....


"Iya maaf...semua itu karena anak kita"


"Kenapa mas nyalahin anak kita,tega banget sih kamu mas,dia belum lahir aja udah kamu salah-salahin"


lah terus gw mesti nyalahin siapa ? Beri ?


"Ya sudah jangan menangis lagi...maafin aku,semua memang salahku..." kedua tangan Danu menangkup wajah Andini..danmenghapus air matanya lembut "Maaf.... Maafin aku" ucap Danu lagi...


Mau bagaimana lagi?


Jika sudah begini mengucap maaf adalah cara termudah untuk membuat wanita hamil itu merasa lebih baik. Walaupun Danu tidak merasa telah melakukan kesalahan tapi asal wanita itu bisa lebih baik ya sudah lah.. cuma bilang maaf ini apa susahnya.


Dan ternyata benar permintaan maaf itu sudah seperti mantra mujarab untuk menghentikan tangis Andini. Wanita itu langsung kembali berada di pelukan Danu.


Mengalah bukan berarti kalah kan?


Mengalah demi orang yang kita cinta ternyata berfaedah. Yah begitulah...Andini kini memang berubah menjadi sensitif tapi juga mudah tersentuh.


Hari sudah semakin larut tapi Andini masih enggan untuk pulang. Ia kembali meminta sesuatu yang pada suaminya .


Ya mau gimana lagi?


Walau Danu merasa sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Tapi karena istrinya itu ingin makan jeruk Bali terpaksa ia harus berkeliling pasar mencarinya.

__ADS_1


Dan entah kenapa kali ini jeruk itu sangat susah untuk di dapatkan. Sudah hampir seluruh pedagang buah ia datangi tapi hasilnya nihil.


Jika saja Andini tidak ikut bersamanya,mungkin ia sudah memerintah Beri atau orang lain untuk mencari buah itu. Karena hari ini benar-benar melelahkan baginya.


Kini Danu kembali memarkirkan mobilnya di sisi jalan tepat di depan pedagang buah.


"Mas aku ikut" ucap Andini sambil membuka seatbelt nya dan keluar mobil dengan cepat. Walau sudah berkali-kali kecewa tapi wanita itu masih tampak bersemangat.


"Pelan-pelan" seru Danu...ia menghela napas dalam melihat Andini yang bergerak seakan tidak ada kehidupan di perutnya.


"Iya-iya...maaf" Andini melebarkan senyumnya dan langsung memperlambat gerakan kakinya sembari meraih tangan Danu yang sudah menatap nya dengan tajam


"Selamat malam mas mbak?mau cari apa?" sambut pedagang itu ramah.


"Jeruk Bali nya ada mas?" tanya Andini cepat


"Waduh mbak maaf,mbak nya kurang cepat. Baru saja di beli oleh mas-mas bule yang pake jaket coklat itu" pedagang itu menunjuk seorang lelaki di sisi jalan yang sedang menenteng kresek biru di tangannya.


"Mas.....?" Andini menarik-narik baju kemeja Danu dengan wajah sedih.


"Huh ....." Danu membuang napasnya kasar....


Apa maksudnya,apa aku harus mengejar lelaki itu?


Ternyata betul kata si bocil waktu itu ....wanita hamil itu memang menyebalkan.


Akhirnya Danu benar-benar berlari menuju lelaki itu. Ini pertama kalinya ia mengejar-ngejar orang demi sebuah jeruk.


"Mas..." Danu menyentuh bahu lelaki itu dengan napas sedikit terengah


Dan mata Danu langsung terbelalak saat lelaki itu menoleh ke arahnya.


"Loh lu?" seru Danu.


"Pak Danu!" mata biru lelaki yang berkulit putih itu juga langsung terbelalak saat melihat wajah Danu.


Sial...kenapa harus dia sih ?


"Itu apa?" tanya Danu sambil menunjuk kantong kresek yang ada di tangan lelaki itu.


"Jeruk apa?"


"Jeruk Bali "


"Ngapain lu malam-malam beli jeruk Bali segala? Aneh banget..."


"Suka-suka gw lah"


"Loh Steven?"....seru Andini yang tiba-tiba sudah berada tidak jauh dari mereka.


Bola mata Steven langsung mencari-cari suara yang tidak asing lagi baginya.


"Andini ......awas.......!!!!" teriak Steven saat ia melihat sebuah mobil sedang melaju sangat kencang ke arah wanita itu.


Steven langsung berlari mendekati Andini....begitupun dengan Danu.


Dengan cepat Steven menarik tangan Andini kuat hingga ia langsung terjatuh ke pelukan Danu.


Dan braaaakkkk......


Mobil itu menabrak tubuh Steven hingga ia tersungkur ke jalanan.


"Sayang kau tidak apa-apakan?" tanya Danu penuh khawatir.


"Gak mas..aku GK papa. Tapi Steven mas...."


Andini menunjuk-nunjuk lelaki yang sudah tergeletak di jalanan.


Betapa paniknya Danu dan Andini saat mendapati Steven berlumuran dengan darah..


"Steven....bangun...." teriak Andini sambil memangku kepala Steven ... lelaki itu masih sempat tersenyum kepada Andini yang tengah mencemaskan nya.


"Mas...cepat cari bantuan" teriak Andini

__ADS_1


"Iya iya aku akan telpon Ambulance"


"Kelamaan mas kalau nunggu ambulance"


"Ya udah kalau gitu aku telpon Beri" di dalam pikiran Danu yang bisa bekerja dengan cepat adalah Beri.


"Kok mas Beri sih mas....? protes Andini sambil menangis,di saat genting begini kenapa suaminya itu malah ingin menelpon asistennya yang mungkin sedang tertidur pulas.


"Ya terus gimana aku bingung jadinya? kamu jangan nangis dong. Aku kan jadi gak bisa mikir"


"Ja jangan nangis Din ,,gw gak papa kok" ucap Steven lirih sambil memegang tangan Andini.


"Eh lu ya dasar brengsek..udah sekarat juga masih cari kesempatan sama istri gw" sarkas Danu saat melihat tangan istrinya di sentuh oleh Steven.


"Mas marah nya nanti aja..cepat bawa Steven ke mobil kita,bawa ke rumah sakit.." seru Andini panik melihat wajah Steven yang semakin pucat karena banyak darah yang keluar.


Akhirnya dengan bantuan orang-orang di sekitar situ Danu mengangkat tubuh Steven ke mobil nya.


****


Di rumah sakit....


Andini duduk sambil meremas-remas tangannya.Sedih,khawatir dan takut bercampur aduk jadi satu.


Bagaimana tidk,lelaki yang sedang berada di ruang ICU itu telah menyelamatkan nyawanya. Jika terjadi sesuatu pada lelaki itu,mungkin Andini akan merasa bersalah seumur hidupnya.


Sementara Danu ?


Lelaki bertubuh kekar itu sedang sibuk dengan ponselnya . Ia mengutus Beri untuk mengusut dalang dari kejadian ini. Karena ia yakin mobil itu memang sengaja ingin menabrak Andini.


Wajah Danu penuh amarah...


Bagaimana tidak ,ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya itu.


"Sayang...jangan khawatir,tidak akan terjadi apa-apa padanya" Danu meraih tangan Andini dan mencoba menenangkannya.


"Mas...tapi semua ini karena aku mas" Tangis Andini kembali pecah di pelukan Danu.


"Jangan menyalahkan diri sendiri ini bukan salahmu....dan aku tidak akan membiarkan pelakunya hidup dengan tenang" Danu mengusap ujung kepala dan punggung Andini.


Walau ada rasa tidak rela melihat istrinya mengkhawatirkan lelaki lain,terlebih itu Steven .


Tapi mau bagaimana lagi,kali ini ia harus berlapang dada karena jika saja Steven tidak melakukan itu,Danu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Andini.


"Bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Andini langsung pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Alhamdulilah keadaan pasien sudah stabil,ia akan segera kami pindahkan ke ruang rawat inap..Hanya saja ia sedang tidak sadarkan diri karena efek obat yang baru saja di suntikkan"


"Alhamdulilah.." ucap Andini penuh syukur.


"Sayang kamu dengar sendiri kan apa kata dokter...dia baik-baik saja. Lebih baik kamu pulang ya sama mang udin,kamu juga butuh istirahat ,apalagi kamukan sedang hamil" jelas Danu.


"Tapi mas,masak iya sih Steven kita tinggal di rumah sakit sendirian?"


"Nanti biar aku yang nemenin dia di sini..Tapi kamu pulang ya biar bisa istirahat dengan nyaman,kasian baby kita" bujuk Danu sambil mengusap perut Andini.


Andini mengangguk setuju,walau bagaimanapun ia juga harus memikirkan kesehatan si dedek.


"Terimakasih mas"


"Untuk apa?"


"Untuk semua pengertiannya ,Karena kamu udah mau jagain Steven"


"Sayang...aku bukan lelaki yang tidak punya hati,walaupun sebenernya aku masih kesel sih sama si bulepotan itu. Tapi dia udah nyelamatin istri dan anak aku. Aku berhutang nyawa padanya" ucap Danu jujur.


"Kamu gak perlu khawatir Rin dia lagi...aku akan menjaganya dengan baik..percayalah" Danu menangkupkan kedua tangannya di wajah Andini.


"Iya mas aku percaya kok sama kamu" Andini langsung kembali memeluk Danu.


"Ya sudah ayo aku antar ke mobil ,mang Udin udah nungguin tuh"


Andini melepas kan pelukannya,dan menuruti kata-kata suaminya itu.

__ADS_1


Didalam hatinya ia sangat bersyukur karena telah memiliki suami yang sangat peduli dan sayang padanya


__ADS_2